BAB 4

1131 Words
5000 tahun yang lalu . . . Istana Tessitura, Lacoste Sebuah istana nan megah dengan hamparan taman yang luas membentang di tengah hutan yang hijau. Di dalamnya, terdapat beberapa bangsa elf dari kalangan biasa yang tampak berlalu lalang. Bukan tanpa alasan, mereka adalah pekerja di dalam istana yang megah itu. Beberapa di antaranya bekerja sebagai pelayan, dan ada pula yang bekerja sebagai seorang tukang kebun serta juru masak. "Sudah siap?" tanya seorang elf dengan baju berwarna merah muda sebagai tanda dia adalah pemimpin di divisi dapur. Elf lain yang bertugas membuat hidangan makan malam tersenyum dan menganggukan kepalanya. Ia telah berhasil membuat makanan pertamanya untuk para bangsa High Elf. "Sudah selesai. Aku tinggal menatanya di piring," jawab elf wanita itu kemudian menyiapkan makanan untuk 3 orang. "Bagus. Langsung sajikan di atas piring dan sampaikan padaku, biar aku yang mengantarkannya ke ruang makan," balas wanita itu. "Baik Bu Ella," balas elf itu kemudian kembali fokus memasak. Ketua divisi dapur bernama Ella itu kembali beranjak pada sisi lainnya. Memastikan minuman kesukaan Raja serta kedua anaknya tersaji dengan baik. "Dimana buah strawberry - nya?" tanya Ella yang terheran karena minuman itu tidak ada hiasan berwarna merah sama sekali. Karena Raja mereka, Ezra Sie Tessitura adalah salah satu orang pecinta buah - buahan terutama stawberry, alhasil hampir di setiap hidangan manis akan selalu ditambahkan buah berwarna merah itu. "Sudah ditambahkan di makanan penutup, Bu. Tadi Lydie mengatakan tidak perlu menambahkan strawberry lagi," jawabnya. Ella menaikkan sebelah alisnya, "Baiklah kalau begitu ganti dengan kiwi atau beri yang lain," titah Ella. Satu persatu piring yang telah disiapkan oleh sang juru masak makanan utama yang bernama Grace itu akhirnya tersaji dengan rapi. Kemudian setelahnya, pembuat hidangan penutup juga ikut menyerahkan maha karya masakannya. Terakhir, sang pembuat minuman meletakkan minumannya. Ella tersenyum senang karena makanan itu tersaji dengan tepat waktu. "Terima kasih atas kerja kerasnya. Aku akan berikan kritikan langsung jika ada, semoga semuanya diterima malam ini dengan baik," ujar Ella kemudian mendorong kereta meja yang membawa makanan di atasnya keluar dari bagian dapur. Ella terus membawanya sampai berhenti di bagian sebuah ruang makan dengan pintu kayu yang menjulang tinggi ke atas. Dengan satu kali ayunan tangan, pintu pun terbuka dan Ella kembali mendorong kereta meja itu ke dalam. Sesampainya di dalam, Ella segera menggerakan piring - piring beserta gelas berisi hidangan itu ke atas meja dengan rapi. "Akhirnya selesai," ujar Ella. Hari ini adalah hari yang ditunggu oleh Ella. Mungkin tak hanya Ella saja, melainkan juga Ezra - sang Raja Tessitura. Sekitar 50 tahun yang lalu, Ezra mengumumkan untuk menambah 1 hari sebagai hari keputusan pemilihan penerus Raja selanjutnya yang ditandai dengan istilah White Festival. Tapi tentunya, sebelum melakukan White Festival itu diperlukan pembahasan mendalam lebih dulu sebelum akhirnya Ezra mengumumkan penerusnya. Karena Ezra adalah Raja pertama otomatis banyak agenda yang baru dibuat pertama kali dan mungkin akan diturunkan kepada penerusnya yang selanjutnya. White Festival pun tersebar ke seluruh penjuru bangsa elf karena mereka penasaran dengan siapa yang akan menjadi pemimpin kerajaan Tessitura yang selanjutnya. Selama hampir 10.000 tahun hidup, Ezra menjalankan tugasnya dengan baik sebagai Raja yang bijak. Di samping itu, Ezra merupakan bangsa high elf pertama yang mengemukakan tentang sebuah kerajaan. Sampai akhirnya Ezra ditunjuk sebagai Raja karena sifatnya yang bijak dan kekuatan sihirnya yang melampaui semua orang. Berdasarkan pemungutan suara dari bangsa elf biasa, dark elf hingga blood elf, Ezra pun naik tahta sebagai Raja bangsa elf. Ezra Sie Tessitura selanjutnya menikah dengan seorang bangsa elf biasa bernama Lakelyn Marie atau yang biasa dipanggil dengan nama Marie. Marie melahirkan 2 putra tampan bernama Rodion dan juga Morrigan. Kelahiran kedua putranya tentu mendapat sambutan yang luar biasa. Apa lagi selama ini seluruh bangsa elf adalah makhluk yang diciptakan dari intisari sihir. Dan dengan kelahiran Rodion serta Morrigan, menunjukan jika bangsa elf bisa memiliki dan melahirkan seorang anak yang lahir dari darahnya dan dari tubuhnya tanpa melewati proses magis yang memakan banyak kekuatan sihir. "Selamat malam, Ella," sapa Ezra yang baru saja tiba di tengah ruang makan bersama dengan kedua anaknya di belakang mereka. Ella tersentak kemudian menundukan kepalanya sembari berjalan mundur, "Selamat malam juga, Tuan Ezra," balas Ella. Ezra tersenyum melihatnya kemudian duduk di tempat yang telah disediakan. Di belakang Ezra, Rodion serta Morrigan ikut duduk bersama dengan Ezra. Pembicaraan antara seorang Raja bangsa elf dengan anaknya pun dibuka. Mereka hanya berbicara bertiga karena tak ingin keturunan asli dari keluarga kerajaan mendengarnya termasuk Marie. Ya, Marie berdiam di kamar menunggu keputusan Ezra sebagai Raja. Kemudian ada juga Esme yang merupakan istri dari Rodion serta Lara yang merupakan istri dari Morrigan. Baik Rodion maupun Morrigan, keduanya sama sama telah memiliki seorang anak elf laki - laki yang baru menginjak 20 tahun. Karena usia mereka yang masih muda juga, Ezra tak akan mengizinkan kedua cucunya untuk ikut dalam pembicaraan rencana White Festival itu. "Sepertinya aku akan makan dulu, aku tertarik dengan makanan utama ini," ujar Ezra kemudian mulai menyantap makanannya. Makan malam pun dimulai. Beberapa pelayan tampak berdiri di samping pintu agar bisa dengan cepat membantu kebutuhan Raja beserta calon penerusnya. Setelah Ezra mulai makan, Rodion dan Morrigan pun ikut menyantap makanannya. Karena Ezra, Rodion dan Morrigan tampak diam saja dan menikmati makanan, Ella yakin jika makanan itu diterima di lidah para bangsa high elf. Trak ! Ezra tiba - tiba saja meletakkan alat makannya di atas piring dan menatap kedua putranya. Mendengar suara itu, Rodion dan Morrigan pun berhenti makan dan ikut menatap Ezra. "Selagi makan sebenarnya Ayah sudah memikirkan ini," ujar Ezra. Rodion dengan semangat menunggunya. Terlebih ia sangat yakin jika dia akan menjadi penerus Ayahnya yang selanjutnya. Ia sudah hidup cukup lama dan ia tahu bagaimana sistem kerajaan para bangsa vampire serta bangsa manusia yang menurunkan tahtanya kepada anak laki - laki pertama mereka. Sebelum melanjutkan pembicaraan, Ezra tampak mengambil sesuap makanan penutup dengan hiasan buah strawberry asli yang masih segar dan berwarna merah kemudian menyesap minuman yang tersaji di hadapannya dan kembali menatap Rodion serta Morrigan secara bergantian. "Morrigan," panggil Ezra. "Ya, Ayah?" balas Morrigan kemudian menundukan kepalanya. "Ayah memilihmu sebagai penerus Ayah," ujar Ezra. Rodion membulatkan matanya saat mendengar ucapan Ayahnya. "A - aku? Tapi kenapa Ayah? Kak Rodion kan -" "Tidak ada penolakan. Ayah sudah memikirkan hal ini dengan matang." Rodion tampak tak terima dan akhirnya bersuara, "Ayah, aku ini anak pertama. Bukankah seharusnya diberikan kepadaku?" tanya Rodion. Ezra tak berkata apapun lagi. Ia kemudian beranjak dan melangkahkan kakinya meninggalkan tempat makan. Tak lama setelahnya, Rodion pun ikut beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Morrigan. Sedangkan Morrigan sendiri tampak kebingungan. Ia tak mengerti mengapa Ayahnya memilihnya. Padahal sudah jelas Rodion lebih pantas. Usia Rodion dan Morrigan bahkan terpaut sampai 700 tahun yang artinya Rodion lebih banyak pengalaman hidup dibandingkan dengan dirinya. Tak hanya Morrigan dan Rodion saja yang bingung, Ella dan pelayan lain ikut kebingungan dengan keputusan yang diambil oleh Raja mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD