Ezra masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan yang campur aduk. Keputusannya sudah bulat, ia sudah memikirkan hal ini bahkan untuk waktu yang sangat lama.
Saat melihat suaminya masuk ke dalam kamar, Marie menaikkan sebelah alisnya dan berjalan menghampiri Ezra yang duduk di atas sofa yang ada di dalam ruang kamar itu.
"Ada apa?" tanya Marie sembari menyentuh bahu Ezra dengan lembut.
Ezra menoleh menatap Marie, "Aku menunjuk Morrigan sebagai penerusku."
"Morrigan? Ta - tapi kenapa?" tanya Marie.
Padahal seingat Marie, Ezra sudah mempersiapkan segala tahtanya untuk Rodion, tetapi keputusannya berubah tiba - tiba di malam mereka sebelum mengumumkannya ke bangsa elf yang lain melalui White Festival.
"Aku menemukan sesuatu saat aku makan malam bersama Azriel," ujar Ezra.
"Azriel? Maksudnya bangsa Noblesse itu?"
"Iya."
"Kenapa?"
Ezra menghela napasnya, "Aku sebenarnya tidak mau membicarakannya sekarang. Perasaanku campur aduk."
"Apa Rodion dan Morrigan tau alasanmu itu?"
"Tidak, mereka berdua tidak tahu. Aku lelah. Aku mau tidur." Ezra pun berusaha beranjak dari posisi duduknya.
Marie beranjak dari duduknya kemudian menuntun Ezra ke arah tempat tidur.
"Aku tahu ini melelahkan, sebaiknya istirahat. Masih ada mentari besok untuk membahasnya, dan sebaiknya kau harus memberitahu alasan ini kepada anak - anakmu," ujar Marie.
"Ya. Besok," jawab Ezra.
Ezra pun menidurkan tubuhnya di atas tempat tidur yang sangat besar di tengah ruangan itu. Menatap langit kamarnya sebelum akhirnya terlelap.
Setelah terlelap, barulah Marie ikut tidur di sampingnya sembari memeluk Ezra dengan erat.
Ezra dan Marie bukanlah pasangan muda lagi. Mereka sudah menikah selama lebih dari 9000 tahun. Selama itu juga mereka menghabiskan waktu bersama, melewati berbagai suka maupun duka.
Di pernikahan mereka yang berusia 2000 tahun, barulah Marie mengikuti saran salah satu bangsa blood elf jika mereka bisa memiliki seorang anak dari darah daging mereka yang lahir dari dalam tubuh Marie persis seperti yang terjadi pada manusia.
Benar saja, Marie mengandung. Setelah Rodion lahir dan dewasa, Marie kembali mengandung, tepatnya 700 tahun setelahnya. Dan kini ia memiliki 2 orang anak laki - laki dan 2 orang cucu laki - laki yang ikut tinggal bersamanya di Istana Tessitura.
* * * * *
Di tengah gelapnya malam dan suasana sepi Istana Tessitura, tiba - tiba saja Ezra merasakan ada suatu energi yang mengusiknya hingga terbangun.
Ezra bahkan sampai terduduk saat merasakan energi itu.
"Energi apa ini?" gumam Ezra kemudian beranjak keluar dari kamar dan meninggalkan istrinya yang sedang tertidur lelap.
Di sisi lain, sebuah sinar gelap tampak memancar dengan kuat dari salah satu ruangan yang terletak di kamar utama salah satu anak Ezra, Rodion.
Cahaya itu terus memancar keluar dan bahkan semakin besar seiring bertambahnya waktu. Namun beberapa saat setelahnya tiba - tiba saja . . .
Syut !
Cahaya itu menghilang tanpa jejak.
Di dalam sana, Rodion tampak membaca sebuah buku dengan lambang aneh di atasnya. Mata Rodion berubah menjadi hitam dan begitu juga pada ujung jari kukunya yang turut menghitam.
Tepat di sisi kirinya, Esme pun melakukan hal yang sama. Rambutnya bahkan sampai ikut bertebrangan karena membaca isi buku itu.
Mata Rodion perlahan kembali memutih dan kembali normal seperti sedia kala. Begitu juga dengan Esme yang kembali seperti semula.
Rodion mengambil napas dalam dan membuangnya secara perlahan sembari menatap istrinya.
"Sudah pastikan anak kita tidur?" tanya Rodion.
"Dia tidur dengan tenang dalam sihir hangatku," balas Esme.
"Bagus."
Rodion kemudian beranjak dari duduknya dan hendak keluar. Namun dengan cepat ditahan oleh Esme .
"Tunggu," cegah Esme.
Rodion menoleh ke arahnya dan menatapnya.
"Kenapa?" tanya Rodion.
"Kamu yakin tentang ini?" tanya Esme.
"Aku yakin. Aku sudah mengatakannya," jawab Rodion dengan tegas.
"Tapi kita mempelajari ilmu sihir ini hanya agar kita bertambah kuat saja dan berburu hewan - hewan liar yang ada di hutan dengan mudah, bukan untuk melakukan hal semacam ini. Aku tau apa yang mau kamu lakukan."
Rodion memegang bahu Esme dan menatapnya dengan lekat.
"Aku harus melakukannya, Esme. Akulah yang akan menjadi Raja di Tessitura. Bukan Morrigan dan bukan orang lain. Bukankah aku sudah berjanji kepadamu? Aku akan menjadi Raja dan kau akan menjadi satu - satunya Ratu dalam hidupku dan juga bagi bangsa elf lainnya."
Esme terdiam. Ia kembali teringat dengan janji itu. Sebenarnya Esme tidak menuntut Rodion untuk mengabulkannya. Berubah status dari bangsa elf biasa ke bangsa high elf saja sudah merupakan hal yang luar biasa besar bagi Esme.
"Baiklah jika itu keinginanmu. Aku akan menerimanya. Pastikan tidak untuk meninggalkan jejak," ujar Esme.
Rodion menganggukan kepalanya, "Tentu saja."
Setelahnya, Rodion pun keluar dari kamarnya dan menghampiri kamar Morrigan bersama istrinya, Lara.
Sebelum masuk ke dalam kamar Morrigan, Rodion tampak membangun sebuah perisai yang menghalangi agar siapapun tidak bisa keluar dan masuk dan agar energi sihirnya tidak terdeteksi oleh siapa pun yang ada di dalam istana.
Di tengah kegelapan, Rodion berusaha menajamkan penglihatannya dan akhirnya menemukan Morrigan yang sedang terlelap di sana.
"Maafkan aku tapi aku harus melakukan ini," ujar Rodion kemudian mengarahkan tangannya ke arah wajah Morrigan dan mengeluarkan cahaya berwarna hitam pekat.
Merasakan ada sesuatu yang menganggunya Rodion pun tersadar dan terbangun. Ia tersentak dan langsung loncat dari tempat tidurnya.
Lara yang terusik pun ikut terbangun dan terkejut saat melihat ada orang lain di kamarnya. Dengan satu jentikan jari, Lara menyalakan lampu di kamar dan semuanya terlihat dengan jelas sekarang.
"Kakak?" gumam Morrigan saat melihat Rodion yang ada di kamarnya.
Namun penampilan Rodion berbeda dari biasanya. Penampilannya tampak berantakan dan terkesan gelap.
"Matilah, Morrigan. Aku harus menjadi Raja di Tessitura," ujar Rodion kemudian mengarahkan tangannya dan menembakkan cahaya itu ke arah Morrigan.
Syuh !
Morrigan dengan cepat menghindar. Kemudian menoleh ke arah cahaya yang dilempar oleh Rodion tadi.
Kursinya berubah dan terbakar seketika. Mata Morrigan pun membulat dan kembali menghindar.
"Kakak! Sadarlah!" pekik Morrigan yang berusaha menyadarkan Rodion.
Namun nihil, usahanya sia - sia saja karena Rodion sudah dalam pengaruh sihir hitam. Sihir yang diperoleh dari buku Dark Elf yang entah didapatkan dari mana.
Syuh ! Syuh ! Syuh !
Beberapa kali Rodion menembakkan sihirnya namun dengan cepat Morrigan menghindar. Sampai akhirnya Rodion geram dan mengeluarkan sebuah kekuatan hitam yang besar dan menembakkannya ke arah tempat tidur hingga tempat tidur itu terbakar tak bersisa.
Suara anak laki - laki membuat Morrigan dan Lara tersadar, jika anak mereka sepertinya menyadari dan juga terusik akan hawa gelap yang terpancar dari sihir hitam itu. Terlebih eksistensinya sangat besar dan cukup mengusiknya.
Morrigan dan Lara saling bertatapan dan sadar jika Rodion berganti haluan dan justru berjalan ke arah anak mereka. Tangan Rodion terulur ke arah sebuah pintu yang terhubung langsung dengan kamar anak mereka.
"Ayah? Ibu?" panggil anak mereka.
"Tidak. Jangan anakku!" pekik Lara dan seketika melompat ke arah sihir yang dilempar ke arah anaknya.
Anak mereka yang baru saja terbangun langsung terkejut saat Lara yang melompat begitu saja di depannya dan menghilang seketika. Matanya membulat dan ia pun berusaha kabur.
Rodion menyeringai dan kembali mengarahkan tangannya tapi tiba - tiba saja . . .
Sihirnya tidak berfungsi dan Rodion menoleh ke arah Morrigan.
Ezra muncul dari balik lemari dengan tangan yang menahan pergerakan tangan Rodion.
"Inilah ketakutanku selama ini. Aku sudah tahu kau mendapatkannya saat berburu hewan di hutan, tapi ternyata kau malah menyimpannya dan mempelajarinya," ujar Ezra.
Rupanya selama ini Ezra tahu jika Rodion yang merupakan anak pertamanya menyimpan sebuah buku dari bangsa Dark Elf dan mempelajarinya. Awalnya Rodion mempelajarinya hanya untuk kebutuhan sihir dalam berburu tapi lambat laun rasa penasarannya bertambah besar.
Sampai akhirnya Ezra memutuskan memberikan tahtanya kepada Morrigan, bukan kepada Ezra.
"Rodion. Lihatlah yang kau lakukan, kau membuat Morrigan kehabisan sihirnya dan Lara, mati karenamu," ujar Ezra.
Mata Rodion perlahan kembali normal. Tubuhnya terasa kaku saat kekuatan sihir Ezra mendominasi dirinya.
"Akh!" pekik Rodion saat dengan paksa terduduk di lantai.
"Sudah cukup menyakiti anakku. Pergilah bersama sihir hitammu itu," ujar Ezra.