Ezra mengepalkan tangannya kemudian mengarahkan tangannya ke arah Rodion dan tiba - tiba saja . . . . .
Blam !
Rodion terlempar sampai mengenai lemari di sudut hingga hancur.
"Masuklah ke dalam kamarmu," titah Morrigan kepada anaknya yang tak ingin melihat kejadian ini. Meskipun sudah terjadi, mungkin sepertinya Ezra akan menindak lanjuti tentang hal ini.
Anak Morrigan yang melihatnya tersentak dan buru - buru masuk ke dalam kamarnya kemudian menguncinya.
Rodion merintih kesakitan. Tak berapa lama kemudian, Esme tampak muncul di ambang pintu dengan mata yang kehitaman. Ezra menatapnya dan meringis, "Ternyata kau juga mempelajarinya?" tanya Ezra kepada Esme.
Ezra melangkahkan kakinya menghampiri Esme, dan belum sempat sampai ke Esme, tiba - tiba saja Esme menembakkan sihir hitam yang ia pelajari bersama Rodion barusan.
Untung saja Ezra bisa membaca gerak - gerik Esme sehingga bisa dengan mudahnya menghindari serangan Esme yang mendadak.
Kursi kayu yang ada di ruangan Morrigan bahkan sampai hancur terkena sihir itu.
Kesal dan lelah dengan semuanya, alhasil Ezra mengeluarkan kekuatan sihirnya dalam jumlah yang cukup besar dan menahan Rodion serta Esme hingga tak bisa berkutik. Tubuh keduanya pun terangkat ke udara dalam keadaan terikat dengan sihir Ezra yang begitu kuat.
Ezra membawa Rodion serta Esme keluar dari kamar Morrigan dan diikuti dengan Morrigan di belakangnya. Sebelum Morrigan pergi, Morrigan tampak menoleh dan melihat sebuah cincin kawin yang terbuat dari bahan serpihan bulan yang terukir dengan namanya dan nama Lara di atas sana.
Perasaan sedih menghantui Morrigan, saat ia sadar istrinya pergi untuk selamanya berkat melindungi anak mereka dan juga melindunginya dari serangan Rodion.
Tak lama kemudian, Ezra, Rodion, Esme dan juga Morrigan tiba di aula utama kerajaan. Satu persatu penjaga keluar dari tempat penugasan mereka di malam hari, bahkan beberapa di antaranya ada yang terbangun karena mendengar suara keributan dari kamar Morrigan.
Mereka tersentak saat melihat Rodion dan Esme yang diikat dengan sihir kuat Ezra dan dibawa secara paksa.
"Apa yang terjadi?" bisik salah seorang penjaga yang kebingungan dengan apa yang terjadi.
Penjaga yang lain pun menggelengkan kepala. Bahkan mereka semua tak tahu apa yang terjadi.
Ezra menyebarkan kekuatan sihirnya dan memanggil seluruh elf yang tinggal di sekitar istana serta membangunkan para penghuni kerajaannya. Termasuk para pelayan dan juga anggota keluarganya.
Marie yang rupanya ikut terbangun langsung turun ke aula dan tersentak saat melihat anaknya berada di udara sembari terikat dengan sihir Ezra.
"Astaga!" pekik Marie kemudian berlarian ke arah Ezra dengan mata yang berkaca - kaca.
"Apa yang terjadi?" tanya Marie.
Ezra menoleh kemudian mengusap bahu Marie, "Maafkan aku. Aku gagal menjadi Ayah yang baik dan bijak untuk anakku," ujar Ezra.
Para pelayan dan juga masyarakat lain yang tahu tentang Rodion sebagai anaknya pun berkumpul di aula di tengah malam yang dingin.
Dengan perasaan mengantuk, mereka mengikuti perintah Raja mereka dan mendengarkan seluruh ucapannya.
"Malam ini aku menemukan anak pertamaku, Rodion beserta istrinya menggunakan sebuah kekuatan yang dilarang untuk digunakan di dalam istana para bangsawan elf," ujar Ezra mulai berbicara di hadapan banyak orang.
Orang - orang mulai mendengarnya dengan seksama, tak jarang juga mereka yang ikut terkejut saat melihat Rodion yang berada di udara dan diikat oleh Ezra seperti seorang tawanan yang akan menerima hukuman berat.
"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri jika Rodion dan Esme mempelajarinya selama 80 tahun terakhir. Aku berpikir aku tidak akan mengambilnya karena itu bisa mereka gunakan ketika berada di hutan untuk berburu. Seperti yang kalian tahu, Rodion sangat suka berburu terutama hewan - hewan dengan kekuatan magis untuk dijadikan hidangan lezat bagi kalian semua. Agar kalian yang tidak pernah mencicipinya bisa ikut merasakannya," ujar Ezra lagi.
Semua orang menganggukan kepalanya, Rodion adalah seorang pemburu dan dia sangat ahli dalam hal itu. Memang dalam 80 tahun terakhir Rodion sering mengumpulkan hewan magis untuk dimakan.
Namun hasil tangkapannya tak pernah dinikmati sendiri. Ia juga akan berbagi kepada para pelayan istana, penjaga istana dan juga bangsa elf yang tinggal di sekitar Istana Tessitura. Bahkan jika ada 1 orang saja yang tidak kebagian, Rodion akan berburu lagi dan memastikan orang itu mendapatkan bagiannya.
"Namun sayang, buku dark elf yang mereka temukan rupanya lebih menguasai mereka sampai di 10 tahun terakhir Rodion menggunakan kekuatannya untuk menyakiti bangsa blood elf yang tanpa sengaja berpapasan dengannya dan meminta untuk adu kekuatan sihir. Kekuatan itu terus memanggilnya dan menawarkan tawaran yang besar," ujar Ezra.
Marie memegang kedua tangannya sembari mendengarkan ucapan Ezra, karena suaminya sama sekali tak pernah mengatakan hal ini kepadanya. Ezra hanya menyimpannya sendiri dan tak ingin membuat Marie khawatir.
"Sampai akhirnya malam ini, aku membuat keputusan besar. Keputusan yang tidak akan aku sesali."
Semua orang tampak menunggu ucapan Ezra selanjutnya.
"Dengan ini, aku akan membuat Rodion, Esme beserta anak mereka untuk menjadi tawanan kerajaan. Aku akan menempatkan mereka di penjara kegelapan paling bawah dengan penjagaan yang sangat ketat," ujar Ezra.
Semua orang membelalakan matanya mendengarnya. Bagaimana bisa Ezra yang terkenal menyayangi anaknya justru secara tiba - tiba memenjarakan anaknya.
"Perbuatannya sudah tidak bisa dimaafkan. Aku berpikir untuk memaafkannya tetapi jika melepaskannya mungkin akan menjadi bertambah buruk. Maka dari itu aku meminta kepada kepala penjaga istana untuk mengirim anakku ke penjara kegelapan di bawah tanah paling terdalam," titah Ezra.
Seorang penjaga dengan pakaian yang kaku berjalan menghampiri Ezra dan menundukan pandangannya untuk menyapa Ezra.
Ezra kemudian menurunkan Rodion dan juga Esme dan memberikannya kepada kepala penjaga itu. Meski Ezra menurunkan Rodion dan Esme, nyatanya sihir Ezra pun tidak terlepas sama sekali.
Sihirnya masih melingkari tubuh Rodion dan Esme serta menutup mulut mereka dengan rapat karena tak mau lagi mendengar pembelaan apapun.
"Anaknya berada di kamar. Aku yakin mereka juga mengajarkan buku itu kepada anaknya," titah Ezra.
"Baik, Tuan!" balas sang ketua pengawal kemudian membawa Rodion dan Esme pergi dari sana.
Sebelum pergi meninggalkan aula, sang ketua penjaga bebrisik kepada beberapa rekannya untuk menjemput anak mereka yang ada di kamar.
Setelah kepergian Rodion dan juga Esme, Ezra menatap Marie dan meminta Marie untuk mengambil buku itu dengan kekuatannya sendiri.
"Tolong ambilkan bukunya. Aku tahu kau pernah melihatnya tetapi kamu berusaha melindungi anakmu sendiri, kan?" titah Ezra.
Marie membulatkan matanya. Memang benar jika selama ini ia sudah tahu tetapi ia pikir akan baik - baik saja, karena Rodion adalah anak pertamanya yang bijak dan tidak akan menggunakan buku itu untuk keperluan yang buruk.
"Tunggu sebentar," ujar Marie kemudian mengambil buku itu ke dalam kamar Rodion dan kembali ke aula.
Kekuatan sihir Marie sebagai seorang Ratu bisa dibilang tidak bisa menyeimbangi kekuatan Ezra. Meski begitu, Ezra pun sering menyuntikkan kekuatan sihir miliknya kepada Marie agar Marie bisa memantaskan dirinya di sisinya.
"Ini," ujar Marie sembari menyerahkan buku itu kepada Ezra.
Di dalam kamar Rodion tadi, sebenarnya Marie masih bisa merasakan sisa kekuatan sihir gelap yang mengitari dan tersebar di dalam kamar. Dengan kekuatan Marie, Marie pun menetralisir ruangan kamar Rodion sehingga sihir itu tidak akan mengusik siapapun yang masuk ke dalam sana.
"Terima kasih," ujar Ezra.
Ezra mengulurkan tangannya, menunjukan buku bangsa dark elf, menerbangkannya ke udara dan . . .
Shush !
Dengan sekali jentikan, Ezra membakar buku itu dihadapan banyak orang. Ezra melakukannya sebagai bukti jika ia tak akan menyimpan buku itu untuk keperluannya sendiri dan sebagai bukti jika ia menghancurkannya di depan rakyatnya.
"Urusan Rodion beserta keluarganya akan menjadi urusan keluarga kami. Aku menunjukan kejadian malam ini hanya ingin kalian tahu dengan pilihan aku selanjutnya, di White Festival besok," ujar Ezra.
Seketika semua orang tersadar jika besok adalah acara White Festival. Acara yang paling ditunggu oleh seluruh bangsa elf.
"Maaf sudah mengganggu jam tidur kalian. Karena malam ini aku membangunkan kalian, aku akan memajukan waktu acara dari jam 9 pagi menjadi jam 10 pagi," ujar Ezra.
Semua orang bertepuk tangan antusias.
Namun di sisi lain, Morrigan justru terdiam. Ia akhirnya tahu alasan Ayahnya yang menunjuknya sebagai Raja. Tetapi rasa ketakutan tiba - tiba menghantuinya.
Ezra bahkan tak menggubris kematian istrinya sedikit pun.
"Apa ini akan dibahas hanya bersama keluarga saja?" gumam Morrigan di tengah suara kericuhan para bangsa elf yang ada di aula kerajaan di waktu tengah malam.