BAB 7

1081 Words
Keesokan harinya . . . . . Acara White Festival pun dimulai. Sebuah acara yang untuk pertama kalinya di adakan dalam sejarah bangsa elf. Dimana Raja akan menyerahkan tahtanya kepada penerusnya melalui sebuah pemberian resmi yang diperlihatkan kepada bangsa elf lainnya termasuk bangsa blood elf. Karena banyaknya orang yang berdatangan, Ezra pun memutuskan mengadakan acara White Festival di tengah hutan Avalon. Hutan dengan kekuatan magis yang luar biasa dan tempat dimana para bangsa elf memilih untuk menyembuhkan dan mengembalikan kekuatan sihir mereka. Entah itu setelah berperang, sakit dan berperang sekali pun. Satu persatu bangsa elf berdatangan termasuk bangsa blood elf yang dengan gagahnya datang dalam sebuah pasukan lengkap dengan pakaian mereka yang serba berwarna merah. Bangsa elf lokal tampak menatap kehadiran blood elf yang tak biasa, beberapa di antaranya bahkan sampai menyingkir karena juga tak mau bersentuhan dengan bangsa blood elf yang memiliki kekuatan sihir dengan mampu mengubah apapun menjadi apapun. "Selamat datang di White Festival," sapa Ezra saat melihat sekelompok bangsa blood elf yang baru saja datang. Salah satu dari mereka yang merupakan pemimpin bangsa blood elf berjalan maju dan berjabat tangan dengan Ezra. Sontak saja seluruh bangsa elf yang lihat langsung membulatkan matanya karena mereka berjabatan dan bisa saja Ezra berubah. Tetapi rupanya Ezra juga memiliki sedikit ilmu sihir dari bangsa blood elf, yang membuatnya tidak akan berubah meski hanya melalui sentuhan. Bahkan demi mengundang bangsa blood elf agar bisa melihat penyerahan tahtanya, Ezra menyebarkan sihirnya ke sekitar area White Festival serta beberapa jalur lainnya agar aman dan terhindar dari sihir blood elf yang dikeluarkan secara tidak sengaja. "Terima kasih sudah mengundang kami, kami tidak menyangka jika kami akan diundang ke acara penting seperti ini," ujar Oliver, sang ketua bangsa blood elf. Oliver Margeaux adalah seorang laki - laki dan merupakan darah asli blood elf. Darah blood elf lahir dari kekuatannya sehingga menjadi Oliver sebagai ketua blood elf terkuat, tertua dan abadi. Ia adalah teman dekat Ezra. Mendirikan blood elf dengan harap bisa melindungi bangsa high elf agar terhindar dari bahaya. Itu juga yang menjadi blood elf memiliki kekuatan tak terkalahkan namun dengan akal yang waras karena demi melindungi keluarga bangsawan elf serta bangsa elf lokal lainnya. Berbeda halnya dengan bangsa dark elf, mereka adalah bangsa yang bahkan tak pernah dibentuk dan ditemukan dengan cara yang tidak disengaja. Mereka mempelajari ilmu sihir hitam melalui sebuah buku bernama dark elf yang ditemukan di sebuah tempat bernama Lawson. Sebuah tempat yang berada di penghujung dan berada di balik pegunungan Helion yang terkenal mematikan. Buku itu dipelajari oleh mereka yang haus dengan kekuatan. Dan entah mengapa bagi mereka yang mencari kekuatan untuk menguasai dan memenangkan sesuatu, pasti akan datang dengan mudahnya. Seperti halnya yang terjadi pada Rodion. Awalnya Rodion menggunakannya untuk keperluan berburu, dan seketika berubah ke arah bagaimana Rodion yang terobsesi untuk menjadi seorang Raja. Hingga buku itu memanggilnya dan memberikan kekuatan gelap yang besar kepadanya. "Tentu saja aku mengundangmu untuk datang. Kau adalah teman dekatku sejak belasan ribu tahun," balas Ezra. Ya, memang benar. Ezra dan juga Oliver adalah teman dekat sejak dulu. Hanya saja mereka terpisah dengan keadaan mereka yakni bangsawan elf dan blood elf. "Sepertinya hanya bangsa elf yang datang," ujar Oliver. "Aku mengundang bangsa vampire tapi sepertinya mereka sedang sibuk. Katanya mereka ada urusan untuk memilih Raja selanjutnya. Sepertinya anak pertamanya yang bernama Krys akan ditunjuk oleh Talfaern," balas Ezra. "Oh ya aku ingat dengan Krys. Satu anak perempuan lainnya bernama Feyre bukan? Dia seorang manusia yang diubah menjadi vampire. Aku mendengar banyak kisah Feyre." "Ya begitulah. Aku juga tidak terlalu dekat dengan bangsa vampire. Selama ini lebih sering berkomunikasi melalui Azriel, sang Noblesse." Ezra pun mengajak Oliver masuk ke dalam dan menempati tempat duduk yang telah dipersiapkan untuknya serta bangsa elf yang lainnya. Akhirnya acara yang ditunggu pun dimulai. Galnariel adalah seorang tangan kanan Ezra. Ia adalah satu - satunya orang memiliki kepercayaan luar biasa dari Ezra. Lahir dari bangsa elf yang miskin dan dengan keterbatasan ekonomi yang menumpuk tidak menjadikan Galnariel menjadi anak yang merasa terbatas. Buktinya, Galnariel bisa masuk ke akademi elf dan lulus dengan nilai terbaik. Mendapatkan penghargaan langsung dari Ezra dan bekerja di sisi Ezra sampai ribuan tahun berlalu. "Terima kasih atas kesediaanya untuk datang ke acara White Festival. Di sini, Tuan kami, Ezra Sie Tessitura akan memberikan tahtannya secara resmi kepada Morrigan yang telah ditunjuk menjadi Raja selanjutnya atas kehendaknya. Kepada Morrigan dan juga Tuan Ezra, saya persilakan untuk berdiri di tengah - tengah lingkaran," ujar Galnariel. Ezra pun melangkahkan kakinya ke tengah - tengah dan begitu pula dengan Morrigan. "Selamat siang semuanya. Aku ucapkan selamat datang. Seperti yang sudah aku katakan, aku menunjuk anakku Morrigan menjadi Raja yang selanjutnya," ujar Ezra. Beberapa elf yang tadi malam tidak datang ke istana atas panggilannya tampak bingung. Kemudian Ezra menyebarkan sihirnya dan informasi alasan dirinya memilih Morrigan. Para elf tersentak ketika tahu Rodion yang merupakan anak pertamanya mempelajari buku dark elf. "Itulah alasanku memilih anakku. Butuh waktu pulihan tahun untuk memikirkannya sampai aku akhirnya memutuskan jika Morrigan - lah yang pantas menjadi penerusku. Maka dari itu, aku turunkan tahtaku kepada anakku, Morrigan Sie Amhlaibh." Ezra kemudian memberikan sebuah tongkat serta mahkota yang menjadi tanda jika Morrigan adalah Raja elf yang selanjutnya. Semua orang bertepuk tangan dan bahkan Morrigan tampak berkaca - kaca karena ia kini telah menjadi Raja sekarang. Walau dalam hatinya, meski dengan tahta sekali pun ia merasa dirinya kosong lantaran istrinya yang mati karena Rodion. "Sekaligus aku ingin mengucapkan bela sungkawa mendalam atas perginya Lara dalam insiden tadi malam," ujar Ezra. "Terima kasih, Ayah," ujar Morrigan. Elf yang lain juga bersimpati atas kepergian Lara. Dan tadi pagi, Morrigan mengantarkan Lara ke peristirahat terakhirnya bersama anak mereka, Fingolfin Sie Amhlaibh. "Untuk mengenang kejadian tadi malam, aku memutuskan jika acara White Festival akan selalu diadakan setiap 100 tahun. Acara ini akan menjadi acara pertanda untuk melewati sesuatu yang berat menuju ke hal yang baru dan lebih baik lagi," ujar Ezra. Para elf bersorak ramai mendengarnya. "Dan selanjutnya, aku menyerahkan kekuasaanku secara penuh kepada anakku. Morrigan." Ezra segera menyingkir dari tengah - tengah kemudian menepi. Morrigan memegang tongkatnya dan membetulkan posisi mahkota kepalanya. Ia mengedarkan pandangannya, menatap setiap wajah orang - orang yang akan ia pimpin selama ribuan tahun ke depan. "Aku akan berusaha menjadi Raja yang baik dan bijak," ujar Morrigan. Suara riuh dan tepuk tangan langsung menggema meramaikan hutan sekitarnya. Bahkan burung - burung yang bertengger di dahan sampai berterbangan. Perjalanan Morrigan dimulai. Ia akan memimpin kerajaan Tessitura untuk waktu yang lama, sebagai Raja. Raja yang akan menjadi panutan bagi bangsa elf.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD