****
Arumi dan Arya bermain dengan Yuka. Arya menggendong Yuka dipangkuannya. Sedangkan, Arumi mengikuti langkah Arya di belakangnya.
"Uncle, kita mau kemana?" tanya Yuka sembarienatap wajah kosong Arya.
Yuka terheran-heran dengan tatapan Arya padanya, apalagi dia tidak menjawab pertanyaan darinya.
"Uncle, are you okay?" tanya Yuka sekali lagi.
Arya terperanjat kaget saat tangan mungil Yuka menyentuh pipinya dengan lembut. Yuka menatap Arya dengan teduh, seolah tak ingin melihat pamannya sendiri seperti tadi.
"Kenapa Yuka?" Arumi juga mendengar apa yang mereka perbincangkan.
"Uncle," jawab Yuka sambil memeluk leher Arya dengan posesif.
"Arya, kamu baik-baik aja kan?" tanya Arumi dengan cemas.
"Aku baik-baik aja kok. Yuka lagi manja aja. Nah, Yuka, kita mau main kemana lagi?" kata Arya yang berusaha menyembunyikan sesuatu dari Arumi. Tapi, dia tidak bisa melakukannya, sebab Arumi itu seorang psikiater.
"Bohong," jawab Arumi dengan satu kata.
"Aunty, mending kita ajak Uncle jalan-jalan yuk!" Arumi padahal sedang menunggu jawaban dari Arya, tapi Yuka mengalihkan perhatiannya.
"Ayo! kita jalan-jalan ke taman!"
"Uncle, aku mau turun," pinta Yuka. Arya sedikit membungkukkan badannya untuk menurunkan Yuka dari pangkuannya.
"Biar aku aja yang nyetir," kata Arumi dengan cepat, seolah bisa mengetahui apa yang akan Arya katakan padanya.
"Padahal aku juga bisa," kata Arya. Dia sungguh tidak ingin dianggap sebagai pria yang lemah. Arumi menyadari tatapan matanya Arya saat mendengar perkataan yang dia ucapkan tadi.
"Yaudah, kamu aja yang nyetir. Tapi, hati-hati ya," pesan Arumi sambil berbelok ke arah kiri dimana dia akan duduk di sana. Yuka sudah sedari tadi nangkring di kursi belakang, dia juga sudah memasang sabuk pengaman sendiri.
Selama perjalanan tidak ada satupun percakapan diantara mereka. Yuka yang sibuk menatap jalanan dibalik kaca mobil yang tertutup setengah. Tibalah mereka di sebuah taman yang sedang ramai pengunjung. Karena sepertinya sedang ada bazar.
Ada banyak pedangang juga. Arumi menuntun Yuka, dia melihat ke arah Arya dengan cemas, pasalnya Arya sudah lama tidak berada di dalam keramaian seperti ini.
"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Arumi pada Arya dengan hati-hati.
Arya sedikit tersentak dengan pertanyaan Arumi.
"Aku baik-baik aja. Yuka, mau main kemana nih?" ujar Arya sambil membawa Yuka ke dalam pangkuannya. Arumi merasa senang, Arya jadi lebih ekspresif setelah adanya Yuka.
"Yuka mau lihat mainan di sana!" tunjuk Yuka pada pedagang yang menjual aneka mainan untuk anak-anak.
Arya dan Arumi berjalan menuju pedangang mainan itu berada. Entah mengapa, mereka bertiga jadi pusat perhatian para pengunjung. Padahal, tak ada hal aneh yang mereka bertiga lakukan. Arumi merasa seolah jadi seorang selebriti saja.
Oh, mungkin karena wajah tampan Arya dan Yuka. Arumi tidak masalah dengan hal itu, tapi dia khawatir Arya akan merasa sedikit terganggu.
Sesampainya di sana, Yuka langsung turun dari pangkuan Arya. Dia melihat-lihat mainan yang dia sukai. Diam-diam Arya tersenyum melihat aksi Yuka yang menggemaskan.
"Yuka mau mainan yang ini boleh?" tanya Yuka pada Arya dan Arumi yang ada di belakangnya.
"Pilih semua yang Yuka suka," jawab Arumi sembari mengelus rambut coklat Yuka.
"Asyik!"
"Nanti uang kamu habis gimana?" tanya Arya.
"Gapapa, itung-itung aku ngasih hadiah buat Yuka," kata Arumi dengan senyuman manisnya yang khas.
"Hadiah? Ini hari ulang tahun Yuka?" tanya Arya dengan raut wajah yang nampak bingung.
"Bukan, hadiah buat Yuka karena buat kamu ketawa terus dari tadi," jawab Arumi. Yang tanpa disadari, jawaban itu memberikan arti yang berbeda untuk Arya. Dia semakin menjadi suka pada Arumi.
"Semuanya berapa, Pak?" tanya Arumi pada pedagangnya.
"150 ribu neng," jawab si pedagang itu. Lalu, Arumi mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dan dia berikan pada pedagangnya.
"Kembaliannya ambil aja buat bapak," ujar Arumi dengan senyuman manisnya.
"Terima kasih banyak neng, mudah-mudahan neng dan keluarga selalu sehat," ujarnya dengan tulus.
"E—em kami bukan sepasang suami istri," jawab Arumi mencoba meluruskan.
"Ah, masa sih neng? Itu jelas-jelas anaknya mirip sama neng sama si abangnya," celetuk seseorang pembeli di samping Arumi.
"Ehehe, si bapak bisa saja. Semoga bapak dagangannya lancar terus ya." Arumi menanggapinya dengan jawaban seperti itu dengan senyuman di wajahnya. Dia juga berpamitan dengan pedagang itu dengan sopan.
"Iya neng, makasih do'anya, semoga do'a yang baik berbalik ke neng juga," jawab si bapak pedagang dengan wajah yang berseri-seri.
"Aunty! Tadi si bapak bilang apa?" tanya Yuka dengan wajah yang polos.
"Dia bilang kamu mirip sama Uncle kamu hehe," sahut Arumi yang memang faktanya tadi si bapak bilang kalau Yuka mirip dengan Arya.
"Abis ini mau pulang langsung?" tanya Arya seraya menjawil pipi Yuka.
"Iya, pulang langsung aja hehe. Yuka mau tidur siang," ujarnya dengan cepat.
"Yaudah, kita pulang!" Arya tiba-tiba menggendongnya dan berbicara dengan sedikit keras.
Itu hal yag baru Arumi lihat. Dia senang, perlahan-lahan, Arya ada perubahan meskipun tidak secara bersamaan dan langsung berubah begitu saja.
"Uncle," bisik Yuka ditelinga Arya.
"Hem?"
"Aunty, senyumin Uncle barusan," bisiknya lagi.
"Haha masa sih?" Arya bertanya dengan wajah sedikit kikuk.
"Kata Mommy, bohong itu gak baik."
"Senyum ke kamu kali."
Arumi sedari tadi tidak terlalu mendengar apa yang sedang mereka bicarakan, dia sibuk membalas pesan yang datang dari Kakaknya di w******p.
"Sekarang biar aku aja yang nyetir ya," putus Arya yang langsung nyelonong memasuki kursi kemudi.
"Sebentar, kamu punya SIM gak?" tanya Arumi dengan cepat.
Arya menepuk jidatnya, dia juga baru ingat, bahwa dia baru pertama kalinya keluar rumah setelah sekian lama mengurung diri selama bertahun-tahun lamanya.
"Aku punya SIM, tapi kayaknya itu harus di perbarui lagi. Yaudah deh kamu aja," Arya kembali turun dari kursi kemudi dan duduk di belakang bersaam Yuka.
"Besok-besok, kamu harus perbaiki semua berkas-berkas hehe."
******
"Ini, Aruminya ngapain aja sih dirumah pasiennya?" tanya Ayah Arumi dengan sedikit kesal. Sebab dia tidak enak dengan tamu yang sedang menunggu kedatangan Arumi pulang.
Tak lama setelah berbicara seperti itu, suara salam dengan suara lembut terdengar oleh seluruh anggota keluarga yang sedang berkumpul di ruang tamu. Betapa kagetnya Arumi saat melihat ada tamu dirumahnya. Memang, tadi kakaknya sempat memberitahu ada tamu. Tapi, tidak mengira bahwa itu adalah Vernon si dokter yang berdarah campuran beserta keluarganya.
"Oh, ternyata ini nak Arumi. Wah pasti sangat sibuk ya hehe," gumam seorang wanita berhijab dengan wajah kebarat-baratan.
"Tadi, ada kendala sedikit waktu mau pulang hehe. Maaf bikin kalian menunggu lama."
.
TBC