Perasaan apa ini?

3271 Words
"Ternyata masih ada orang sebaik kamu yang bersedia membantu adik saya, andai kamu jadi adik ipar saya. Saya akan sangat senang sekali," gumam Farah. Yang masih bisa didengar jelas oleh indra pendengaran Arumi. Bahkan Arumi tidak tahu harus menjawab apa. Yang dia lakukan hanyalah tersenyum untuk menanggapi ucapannya. "Saya akan pulang ke rumah, karena sudah ada Bunda. Senang bisa ngobrol sama Dokter cantik ehehe, semoga lain kali kita bisa ngobrol lagi ya," kata Farah sebelum pergi dari hadapan Arumi. "Iya semoga saja ya Mbak," balas Arumi dengan lantang karena Farah sudah melangkah sedikit jauh. Setelah Farah benar-benar sudah pergi, Arumi berjalan menuju ke ruang rawat inap Arya. "Loh Kak Farah gak ikut ke sini lagi?" tanya Arya keheranan melihat ketidak hadiran Farah sang Kakak. "Dia pulang dulu, nanti juga ke sini lagi kok," jawab Arumi. "Arumi ... eum," gumam Arya sambil memainkan ujung baju yang dia kenakan. Agaknya dia sedang gugup. Tapi berusaha mengatakan sesuatu pada Arumi. "Iya ada apa?" "Apa anu eum, boleh gak, aku mau minta di ajarkan bacaan sholat dan ngaji sama kamu," pintanya dengan polos seperti seorang anak kecil yang minta diberikan uang jajan pada Ibunya. "Boleh dong!" seru Arumi. "Tapi apa gapapa di sini?" "Gapapa kok, aku akan mulai ajarin bacaan sholat dulu ya, kamu cuman lupa mungkin ya, Insyaa Allah pasti bakalan inget lagi nanti," tukas Arumi. "Sepuluh tahun aku melupakan kewajiban sebagai seorang muslim hiks ... aku malu tapi ... aku malu sama Bunda. Dan ... aku ... aku juga sadar, banyak orang yang masih sayang dan peduli sama aku, bahkan mereka ngasih semangat buat terus menjalani hidup, termasuk kamu," ujar Arya sambil mulai menangis. "Kalo nangis, aku gak bakal mau ngajarin!" kata Arumi dengan pura-pura tegas, seolah memberi ancaman. Mungkin itu caranya agar Arya berhenti menangis. Ternyata itu ampuh, mendengar ucapan itu, buru-buru Arya menyeka air matanya. "Tadi kelilipan hehe maaf," elak Arya. Tak perlu bicara seperti itu pun Arumi tahu Arya menangis bukan kelilipan. Arumi mulai mengajarkan Arya membaca bacaan sholat. Layaknya seorang guru yang mengajar muridnya. Begitulah kelihatannya mereka. "Nak Arumi, Ibu mau ke rumah dulu sebentar. Kamu nemenin Arya dulu gapapa kan? Sebentar kok," kata Farisa. Arya sedang membaca tulisan yang Arumi berikan tadi. Dia terus mengulangnya beberapa kali. "Iya gapapa bu," jawab Arumi. "Makasih ya nak," kata Farisa dengan tulus. Entah yang keberapa kalinya Farisa berterima kasih. Selepas Farisa keluar, ada seorang yang masuk. Dan ternyata itu Joni, Dokter yang menangani Arya di rumah sakit ini. "Lagi ngapain nih? Tumben baca sesuatu," kata Joni sembari basa-basi seraya mengosongkan badannya melihat kertas yang ada di tangan pasiennya. Arya meletakkan selembar kertas yang tadi dia dapatkan dari Arumi. Lalu beralih menatap Jeno. "Kepo banget. Ya gapapa lah, lagi pengen baca aja sih. Udah boleh pulang bukan Dok?" jawaban Arya malah seperti itu. "Gak tau, makannya sini periksa dulu," bujuk Joni dengan bahasa yang santai. Arya pasrah saja diperiksa oleh Joni. Selama kurang dari satu minggu ini, Arya memang susah jika mau diperiksa. Sampai akhirnya Joni melakukan berbagai cara. Hingga mereka pun dekat layaknya seorang teman. "Iya bawel, cepet periksa! Aku mau cepet pulang," ujar Arya sarkastik. Joni pun mulai memeriksa kondisi Arya. "Sudah membaik. Awas ya, jangan pernah lakuin minum obat berlebihan lagi. Sayangi diri sendiri, apalagi kamu masih muda. Eh tunggu kamu umurnya berapa tahun sih?" tanya Joni setelah sekian lama menangani Arya, dia baru menanyakan hal ini. Sebetulnya, Arumi pun tidak tahu berapa umur Arya sampai sekarang. Dia jadi merasa terwakilan atas pertanyaan Joni. Arya nampak berpikir keras, mengingat berapa umurnya sekarang ini. Dia menghitung dengan menggunakan jarinya. "Cocok loh kamu jadi psikiater hehhe," celetuk Arumi untuk Joni. "Gak ah, jadi dokter umum aja udah cukup hahah," jawabnya dengan tawa ringan. "Baru 27 tahun, emang kenapa sih nanya umur?" kata Arya lagi. Tunggu! 27 tahun? Itu artinya Arya seumuran dengan Arumi. Sungguh diluar dugaan, Arumi kira dia lebih muda darinya. "Wahh kita seumuran dong!" seru Joni. Lagi-lagi seperti menyuarakan isi hati Arumi. "Iya," jawab Arya dengan sangat singkat. "Arumi, bisa bicara sebentar?" tanya Joni tanpa embel-embel dokter. Arumi terlihat ragu, dia takut Arya kembali seperti beberapa waktu lalu saat ditinggalkan sendiri. "Saya akan suruh suster buat temenin, lagian cuman sebentar kok," jelas Joni sambil meyakinkan Arumi. 'Jika aku bisa, aku ingin berani mengatakan yang sebenarnya. Tapi, aku malu. Aku bahkan tidak berpendidikan seperti dia'—Arya membatin dalam hatinya. ***** "Iya gak papa silahkan dokter pergi," kata Arya dengan nada dingin pada Arumi. "Sebentar aja kok, kan ada suster yang temenin," ujar Arumi mencoba memperbaiki suasana hati Arya yang ia rasa sedang tidak baik. Tak ada jawaban lagi dari Arya. **** Arumi mengikuti kemana Joni pergi. Sampai mereka berhenti di taman rumah sakit. Mereka berdiri dengan sedikit ada jarak, kira-kira setengah meter. "Saya senang, melihat pasien saya ada perubahan. Ternyata menangani pasien seperti Arya itu butuh trik khusus ya heheh. Sampai-sampai saya coba baca apa yang biasanya dilakukan oleh seorang psikiater pada pasiennya, dan ada kabar baik nih, besok dia sudah bisa pulang," ucap Joni memberi kabar gembira untuk Arumi. Tentunya dia juga akan membagikan kabar ini pada Arya. "Terima kasih banyak, sudah mau susah-susah baca tentang psikiater heheh. Wah ... dia pasti senang sekali dengar kabarnya nanti," tukas Arumi. "Saya dengar ada reuni SMA minggu depan. Kamu bakal datang kan?" Arumi menepuk jidatnya, dia lupa lagi jika Joni ini teman satu SMA–nya dulu. Arumi bahkan tidak pernah datang ke acara reuni-reuni seperti itu. Karena dia tidak pernah masuk grup alumni atau semacamnya. "Kamu sakit?" tanya Joni saat menyadari Arumi masih memegang jidat oleh tangan kanannya. Dengan segera Arumi menurunkannya. Sungguh sangat memalukan memang. "A–Anu saya baru ingat kalo dok–eh kamu ini satu SMA dengan saya dulu. Insya Allah saya akan datang jika tidak ada janji. Memangnya tanggal berapa?" tanya Arumi. "Saya lupa. Tapi punya gambar pamfletnya di ponsel. Nanti saya kirim gambarnya lewat aplikasi Line. Oh, kalo gak punya lewat w******p saja," kata Joni Dari ucapannya, dengan secara tidak langsung Joni meminta nomor Arumi dengan alibi reuni SMA. "Tapi benar kan itu informasinya?" "Bohong dosa Rumi," jawab Joni. Yang disebut namanya sedikit tersentak akan panggilan Joni untuknya. 'Kok memanggilnya akrab banget? Yang manggil Rumi kan cuma orang yang deket sama aku, wah ada apa lagi ini,'—batin Arumi bergumam akan keanehan yang terjadi saat ini. "Mana ponsel kamu!" pinta Arumi. Tanpa pikir panjang lagi, Joni mengasongkan ponsel canggihnya kepada Arumi. Setelah berada ditangan Arumi yang langsung menampilkan keypad untuk memasukan nomor ponsel. Jemari lentik Arumi dengan cepat menyentuh beberapa digit nomor yang tertera di layar ponsel milik Joni. "Selesai," ujar Arumi sambil menyerahkan kembali ponsel pada pemiliknya. "Nanti saya kirimkan malam ya. Sepulang dari sini, ya sudah saya permi—" "Arumi!!" potong seseorang dengan suara lantang. Joni ikut menoleh ke sumber suara yang memanggil Arumi. Sebab karenanya ucapan Joni jadi terpotong. "Loh? Joni! Wess apa kabar bro!" Kening Arumi mengernyit melihat interaksi diantara keduanya. "Vernon? Ngapain kamu ke sini?" tanya Arumi. "Ada perlu lah sama dia nih," jawab Vernon sambil menunjuk Joni dengan dagunya. "Kalian saling kenal?" Sempat saling lirik, lalu mereka berdua menjawab dengan menganggukan kepalanya secara serentak. "Dulu, kita satu kampus hehe ... tunggu! tunggu! Kenapa kamu ada di sini sama si Joni pula," Kini yang bertanya malah Vernon. "Dia dokter yang rawat pasien saya di rumah sakit ini," kata Arumi dengan jujur. "Ha? Kok bisa?" "Tanya saja sama Joni. Saya mau ke ruangan pasien, permisi," pungkas Arumi sambil melangkahkan kakinya menjauh dari dua pria dewasa yang sama-sama dokter. Satu lagi, Arumi bahkan tidak bisa mengetahui jikalau mereka memiliki ketertarikan padanya. "Nanti gue jelasin," bisik Joni sambil menarik Vernon untuk duduk di kursi taman depan rumah sakit. "Kalian juga saling kenal? Wah! Kok gue baru tau bro!" "Lah kemana aja lo? Gue sama dia pernah satu SMA. Lo suka sama dia? Gue denger kalian satu rumah sakit," timpal Joni atas pertanyaan Vernon. "Ya kan lo gak pernah cerita. Ah peka banget lo kalo gue suka sama dia. Gue udah ngajak ta'aruf dia. Gue tau cewek macam Arumi gak bakalan mau diajak pacaran," jelas Vernon. Mendengar kata ta'aruf terlontar dari mulut Vernon. Seakan waktu berhenti begitu saja. "Heh! Kok bengong sih?" tegur Vernon dengan mengibaskan tangan di depan wajah tampan Joni. "A-ah bagus dong heheh semangat, semoga lo sama dia bisa sampai ke jenjang serius. Gue kepikiran Chika makannya bengong," balas Joni. "Oh iya gue ke sini mau ngomongin masalah klinik yang bakal kita buat loh," akhirnya Vernon membicarakan inti dari tujuannya mendatangi Joni. "Ngobrol di ruangan gue aja yok!" ajak Joni. **** "Aku udah hafal bacaannya! Kalo gerakan aku masih hafal, makasih ya udah mau ajarin aku," kata Arya dengan bersemangat. "Wah ... bagus dong heheh ... Tapi ada berita yang lebih bagus loh buat kamu," papar Arumi. "Berita apa?" "Besok kamu udah boleh pulang!!!" seru Arumi. Arya malah terdiam, mungkin dia sedang mencerna kata-kata yang disampaikan oleh Arumi. Saking gembiranya Arya bukan lagi tertawa girang sambil melompat-lompat, dia menangis. "Loh? Kenapa?" Arumi sedikit mendekat pada Arya. "Aku seneng banget hiks ... sampai nangis gini. Entah apa jadinya kalo minggu kemarin kamu gak ada di sana. Aku jadi sedikit bisa ngendaliin emosi dan hiks," tangis Arya sembari memeluk kedua lututnya, dia menyembunyikan wajahnya. "Alhamdulillah dong kalo gitu," tukas Arumi. "Itu pasien Arumi?" tanya seseorang dengan berbisik sambil mengintip dibalik kaca pintu ruang rawat Arya. Setelah dirasa puas menangis, Arya mengangkat kepala kembali. Dia mengusap sisa-sisa air mata dikedua pipinya. "Apa aku kelihatan buruk sekarang?" Arumi menggelengkan kepalanya. "Gak kok, malahan lucu hehe ... kalo kita udah pulang, kamu sehat, mau kan kita ke makam Arga?" "Gimana nanti aja," jawab Arya dengan sesikit ragu. Dia takut kenangan kelam di masa lalu menghampirinya lagi. Arya tak ingin membuat khawatir Ibunya lagi. Karena Arya malah belum bisa sepenuhnya menahan diri, baik saat sedang bahagia ataupun sedih. Karena seorang yang menderita depresi akut sepertinya terkadang jika sedang bahagia bisa sampai merasa aneh dan merasa bahwa itu tidak benar. Sampai bisa melakukan tindakan berbahaya untuk penderitanya. **** Lusanya, setelah Arya pulang ke rumahnya, Arumi benar-benar menjemput Arya untuk pergi berziarah ke makam Arga. Yang tak lain kembaran dari Arya. Tanpa pemaksaan apapun, Arya memutuskan untuk ikut dengan Arumi. Dalam perjalanan tak ada percakapan sepatah kata pun diantara keduanya. Hanya keheningan yang menghiasi. Sampai saat di tempat pemakaman umum, dimana Arga disemayamkan. Arumi bisa membaca dari raut wajahnya. Dia mengikuti langkah Arya. Dan berhenti di sebuah makam yang terlihat ramai oleh tumbuhan disekitarnya. Air mata Arya tumpah begitu ia mengusap batu nisannya. Bahunya bergetar, dia menangis tanpa suara. "Ga, Aku datang. Terima kasih sudah jadi adik yang baik. Hiks ... berkatmu hiks .. Abang masih bisa merasakan betapa indahnya dunia. Semoga kamu tenang di sisi–Nya. Abang akan sering mendoakan mu," ungkap Arya sambil menatap sendu kuburan Arga. Arumi tersenyum melihat Arya ada sedikit perubahan. Dia melihat Arya menyeka air mata di pipinya menggunakan punggung tangannya. "Ayo kita pulang," ajaknya pada Arumi. "Ayo!" Arumi sesekali melihat ke samping, dimana di sana ada sosok Arya yang masih melamun. "Lihat kan? Apa yang aku bilang kemarin bener," ucap Arumi mengusir sepi. "Iya bener, ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Aku hanya perlu berdamai dengan masa lalu. Terima kasih, kamu sudah membantuku sejauh ini," timpal Arya. "Aku sadar, ada sisi lain yang tidak aku sadari. Keluargaku sangat menyayangi dua putranya. Awalnya, aku tak tahu bahwa Arga sesikit berbeda dariku. Saat itu, yang aku pikirkan hanyalah ketidakadilan atas kasih sayang yang orang tuaku berikan. Aku selalu merasa bahwa mereka lebih mementingkan Arga daripada aku, tapi setelah kepergian Arga, aku menyadari banyak hal. Tapi aku tidak salah, aku berkelahi untuk membela kebenaran," kata Arya, dia terbuka untuk bercerita tentang masa lalunya dengan Arga. PLAK!! "Kenapa kamu selalu seperti ini? Mau jadi pa kamu nanti? Preman?" bentak Ardi pada Arya. Kala itu, Arya masih kelas 2 SMA. Perih dari pukulan Ayahnya masih terasa. Bahkan ia yakin, sudut bibirnya mengeluarkan darah. Barusan, Arya di ringkus ke ruang BK. Dan Ardi di telepon atas kekacauan yang Arya buat. Datang-datang Arya mendapatkanbogem mentah dari Ayahnya. "JAWAB! APA SEKARANG KAMU BISU?" teriak Ardi pada Arya di ruang BK. Arya tidak menjawab satu kata pun. Karena menjawab ataupun tidak, Arya akan tetap dipukul lagi. Dia sudah tahu bagaimana watak kerasnya Ardi. "Kamu– ARGHHH ... Ayo cepat bawa tasnya. Kita pulang. Sekali lagi Ayah di panggil, Ayah gak mau lagi mengurus pendidikanmu," ancam Ardi sambil menyeret kasar tangan Arya yang baru saja memegang tasnya. Tentu, semua murid memperhatikan Arya, karena sedang jam istirahat. Sebenarnya, itu bukan sepenuhnya salah Arya. Dia sedang makan di kantin sendirian, lalu, meja di dekatnya duduk seorang murid nerd yang hendak memesan sesuatu. Saat anak itu asyik mengisi perutnya dengan makanan, tiba-tiba datang segerombolan anak murid brandalan. Dia mendekati anak itu dan memaksanya untuk memberikan uang kepada mereka. Si anak nerd itu menurut dan memberikan sejumlah uang yang diminta oleh mereka. Melihat hal itu membuat selera makan Arya hilang. Dia tidak bisa diam, geng yang memoroti anak nerd itu sudah melewati batas. Pada zamannya itu, Arya adalah ketua eskul karate di sekolahnya. Arya berdiri menahan mereka dan meminta untuk mengembalikan uangnya. Karena merasa di remehkan, Arya sudah tifak bisa lagi menggunakan cara yang halus. Dia pun bertindak dengan kekerasan. Lalu terjadilah keributan di sana. Dan ada yang melaporkannya ke BK. Maka terjadilah apa yang terjadi. Arya maupun anak-anak itu diberikan skors selama satu minggu. Selama seminggu ada di rumah, Arya semakin merasakan bahwa kehadiran dirinya tidak diinginkan dikeluarganya. Semuanya selalu memuji dan peduli dengan kondisi Arga. Seakan Arya tidak ada di keluarganya. Sampai-sampai dia berbuat diluar kendalinya. Arya keluar malam-malam dengan menggunakan motornya. Dia melaju dengan kecepatan yang diatas rata-rata. Kondisinya hatinya sedang kacau, sampai akhirnya malam itu menjadi malam kelam bagi Arya. Dia ditimpa kemalangan, Arya tabrakan dengan mobil pribadi. Pada malam itu juga, kondisi Arga memburuk. Arya tidak tahu bahwa Arga menderita penyakit mematikan. Dan dia berjuang melawan penyakitnya tanpa menunjukan bahwa dia sedang sakit. Arga yang meminta kepada kedua orang tuanya untuk tidak memberitahu Arya soal penyakit yang dia derita. Bahkan penyakit itu sudah stadium akhir. Arga berhasil menyembunyikan rapat-rapat dari Arya. Hingga membuat Arya salah paham akan apa yang terjadi. Jika Arya tahu semuanya, kejadian kelam itu tidak akan pernah terjadi. Tapi, mungkin menurut sang Pencipta inilah yang terbaik. Malam itu, keduanya sama-sama menjalani operasi. Arga menjalani operasi pengangkatan tumor otak. Sedangkan Arya dalam keadaan kritis, karena mengalami pendarahan. Sebelah mata Arya hancur karena terbentur stang motornya. Orang tuanya diberitahu akan hal itu. Kala itu, Arga masih belum masuk ke ruang operasi, dia mengatakan dengan sangat tulus bahwa dia bersedia mendonorkan matanya untuk Arya. Arya tidak sadarkan diri dalam 3 hari berturut-turut. Saat dia sadar, awalnya dia diberitahu bahwasanya Arga sedang pergi jauh ke suatu tempat. Arya percaya saja, sebab Arga memang berprestasi di sekolahnya. Arya tidak langsung diberitahu bahwa Arga sudah tiada. Satu bulan berlalu, Arya menyadari suatu hal. Dia merasa janggal. Biasanya jika pergi Arga selalu menghubunginya. Tapi ini nihil, bahkan nomornya pun tidak bisa dihubungi. Keluarganya mulai memperhatikannya. Jujur Arya senang diperhatikan dan diberikan kasih sayang. Hanya saja, ada yang kurang karena tak ada Arga. Sampai pada suatu hari Arya bertanya kepada kakak pertamanya, yang paling dekat dengannya. Dia mendesak kakaknya untuk memberitahu keberadaan Arga. Kakaknya membawanya ke tempat Arga. Di sana, Arya menangis sejadi-jadinya. Di pemakaman umum, di sebuah kuburan yang masih baru kakaknya menceritakan kronologis kematian Arga. Dari situ, Arya selalu mengurung diri. Bahkan dia menjadi menjadi sangat pendiam. Puncaknya, saat lulus SMA. Arya mengalami depresi berat sampai mengurung diri di kamar setiap hari. Arya terus dihantui perasaan bersalah dan beberapa tekanan yang dia terima dari lingkungannya. Semuanya hanya menilai dari apa yang terdengar dari telinga ke telinga. "Dan kamu datang membantu aku keluar dari masa lalu yang kelam itu," kata Arya diakhir ceritanya yang panjang. "Karena memang sudah seharusnya manusia saling tolong menolong. Aku hanya ingin menjadi orang yang bermanfaat tanpa mengharapkan balas budi," jawab Arumi dengan senyum manisnya. Cuaca berubah mendung, membuat mereka harus cepat-cepat masuk ke dalam mobil sebelum hujan benar-benar turun. Untungnya saat hujan turun deras sekali mereka sudah ada di dalam mobil. "Kamu diam dulu di rumaku ya, sampai hujan berhenti baru pulang," pesan Arya sekaligus membuka percakapan diantara mereka. "Iya, baiklah, aku juga masih ingin bermain sama keponakan kamu yang gemesin banget nih heheh," jawab Arumi. "Ehem ... Arya, apa kamu ada niatan buat kuliah gitu?" tanya Arumi dengan sangat hati-hati. Arya yang hendak menaiki tangga pun jadi terhenti. "Gak tau, aku masih belum sepenuhnya sembuh. Tapi, jujur, aku pengen banget kuliah biar bisa gantiin Ayah," ungkap Arya dengan jujur. Lalu dia melanjutkan langkahnya untuk menaiki tangga menuju kamar tidurnya berada. Saat dibuka, kamarnya sangat gelap, penerangan cahaya matahari pun tak ada. Seperti memggambarkan perasaan Arya selama sepuluh tahun lalu. Arya berjalan mendekati jendela kamarnya. Dia menyingkapkan gorden yang selama ini tak tersentuh. Cahaya matahari masuk ke dalam kamarnya. Sungguh, baru kali ini Arya merasakan betapa indahnya dunia luar. Jendela kamarnya menghadap langsung ke pemandangan taman kecil yang ada di belakang rumah. Setelah puas menikmati udara segar akibat terbukanya jendela kamar, Arya beralih melihat sekeliling kamarnya, dan itu tertata dengan rapi. Mungkin karena Ibunya setiap hari membereskan kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Lalu menatap langit-langit kamarnya. Dia meneteskan air matanya. Karena Arya seolah-olah membayangkan jika di sana ada sosok wajah Arga yang sedang tersenyum padanya. "Ga, aku udah berhasin hadapin semuanya. Semoga kamu di sana baik-baik aja," tangis Arya sambil berbicara dengan menyebut nama Arga. Tanpa disadari oleh Arya, Arumi melihatnya saat dia hendak mengantar keponakan Arya yang ingin bermain bersamanya. Air mata Arumi ikut jatuh, karena dia bisa merasakan betapa sulitnya masa-masa yang telah Arya lalui. Anak berumur 5 tahunan sedang asyik dipangkuan Arumi, dia keponakan Arya, menatap bingung pada Arumi yang mengeluarkan air mata. "Aunty, what's happen?" tanya Yuka. Menyadari Yuka bertanya akan apa yang terjadi, Arumi pun matanya yang basah. Lalu menampilkan senyum manisnya pada Yuka. "I'm fine Yuka, Don't worry about me," jawab Arumi dengan menggunakan bahasa Inggris juga. "Oh wait ... Yuka, do you can speak in Indonesian language?" tanya Arumi. "Of course, I can," jawab Yuka. "Coba sana kamu panggil Uncle Arya, kita main bareng," ujar Arumi sambil menurunkan Yuka dari pangkuannya. Yuka menurut, dia berjalan masuk ke dalam kamar Arya. Di dalam sana, Yuka memasang tatapan polosnya saat melihat Arya yang sembab. Karena memang habis menangis. "Uncle kenapa? Lagi sakit?" tanya Yuka seraya naik ke atas ranjang. Lalu duduk dikedua paha Arya. Jari-jemari mungilnya mengusap bekas air mata dikedua pipi Arya. Refleks Arya tersenyum melihat tingkah menggemaskan keponakannya ini. "Uncle baik-baik aja Yuka," jawab Arya sembari mengusap rambut Yuka dengan gemas. "Tadi Aunty yang diluar juga nangis," celetuk Yuka dengan wajah tanpa dosa. Kening Arya mengerut kala mendengar perkataan Yuka. "Kenapa gak diajak masuk sama Yuka?" "Katanya kita main bareng. Ayo!" pinta Yuka. Yang sudah tak duduk diantara kedua paha Arya. Yuka memang sangat aktif, barusan saja dia turun dari ranjang Arya dengan cara melompat. Arya mengekor dibelakang Yuka. Arya juga tidak lupa menutup pintu kamarnya saat keluar. Di depan kamarnya, Arya mendapati sosok Arumi yang sedang duduk ditangga. "Ehem!" Arya berdehem cukup keras dibelakang Arumi. Bahkan posisi Arya juga jongkok. Mensejajarkan dirinya dengan Arumi. "Allahu!" teriak Arumi kala mendengar deheman keras yang berasal dari Arya. "Jangan ngelamun, gak baik. Ya kan Yuka?" Dengan polosnya Yuka mengangguk mengiyakan perkataan Arya. "S–siapa yang ngelamun?" jawab Arumi dengan gelagapan. Seperti pencuri yang sedang diinterogasi. "Lucu juga ya kamu kalo lagi gugup gitu," komentar Arya menanggapi tingkah gugup Arumi yang sangat kentara. "Aunty! Uncle! katanya mau main," rengek Yuka. Karena dia merasa diabaikan mungkin. Arumi berdiri dari posisinya yang sedang duduk. Tanpa aba-aba mereka berdua meraih tangan kanan dan kiri Yuka. Mereka bertiga menuruni tangga. . . TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD