"Kamu cari aku?" tanya Arumi saat duduk di dekat Farisa.
"G‐gak kata siapa!" bantah Arya dengan cepat. Tidak tahukah dia bahwa Arumi bisa membaca dengan jelas dari sorot matanya bahwa yang dikatakannya itu kebohongan belaka.
"Oke, anggap aja enggak hahah," tawa Arumi. Dia rasa Arya lucu saat sedang berbohong dan malu-malu seperti ini.
"Gak ada yang lucu," komentar Arya.
Arumi berhenti tertawa.
"Baiklah ... gak ada yang lucu. Arya, kamu harus coba lakukan kegiatan positif. Sedikit demi sedikit biar kamu gak murung terus. Jangan lagi dengarkan bisikan itu, mereka akan sangat senang kalo kamu denger dan nurutin apa yang mereka inginkan. Aku yakin kamu orang baik, dan kamu bisa melalui ini semua, bangkit dari keterpurukan kamu selama ini. Jangan merasa bersalah lagi, karena takdir tak ada yang bisa merubahnya. Selain kita ikhlas akan itu. Kamu bisa Arya!" kata Arumi dengan raut wajah serius, sambil menatap Arya.
"...." Arya tak bergeming sedikit pun, dia masih berusaha mencerna kata-kata yang dilontarkan oleh Arumi padanya.
"Diam berarti kamu mau melakukannya. Tenang, aku bakal bantuin kamu. Kita kan teman," sambung Arumi lagi.
"Boleh aku peluk kamu?" celetuk Arya. Membuat Arumi sedikit tersentak dengan permintaan itu.
Dilema melanda perasaan Arumi sekarang, haruskah ia memeluknya? Padahal jelas-jelas Arya bukan mahromnya. Di sisi lain, Arya pasti kecewa sekali jika Arumi tidak memperbolehkannya.
"Gak boleh ya," ucapannya terdengar sedikit ada nada kekecewaan.
"Bu–Bukan gak boleh, tapi aku bukan mahrom kamu," jawab Arumi dengan terus terang.
"Ohh iya ya," kata Arya mencoba mengerti Arumi.
"Aku ke toilet sebentar," izin Arumi pada Arya dan Farisa. Sebenarnya Arumi pergi untuk menghilangkan perasaan aneh yang tiba-tiba menghampirinya.
Farisa memeluk Arya setelah Arumi pergi dari ruang rawatnya.
"Bunda aja yang meluk kamu," gimana Farisa sambil memeluk Arya, lalu mengusap dengan penuh kasih surai hitam milik Arya.
"Padahal Arya cuman mau meluk dia karena sampai sejauh ini Arya gak separah dulu," tukas Arya pada Farisa.
"Dia juga tau itu, tapi nak, sepertinya Arumi mengerti agama. Apa kamu suka dia?" tanya Farisa. Seorang Ibu pasti tahu betul apa yang dibenak anaknya.
"Kalo bukan mahrom itu kenapa emangnya Bun?" tanya Arya dengan polosnya. Senyum Farisa terbit saat pertanyaan itu lolos dari Arya.
"Gini deh sayang, dalam islam ada yang namanya mahrom dan non mahrom, baik laki-laki atau perempuan hanya boleh bersentuhan dengan yang mahrom saja. Contohnya sama keluarga, dan saudara sepersusuan kecuali sepupu," papar Farisa sembari mencoba membuat Arya memahami perkataannya.
"Kenapa sepupu dikecualikan? Oh berarti Arumi non mahrom karena dia gak ada hubungan darah sama aku ya Bun?" tanya Arya terheran-heran.
"Karena sepupu bisa kita nikahi, Nah itu sayang. Kamu bisa sentuh dia kalo kamu jadi suaminya," jelas Farisa lagi.
"Sepupu aku cowok semua hahah," tawa Arya. Kali pertama Arya kembali tertawa setelah sekian lama dirinya terus bersedih. Farisa ingin menangis, tapi dia akan mencoba tegar. Tak ingin merusak suasana hati Arya.
"Yaa berarti gapapa kamu kontak fisik sama sepupu kamu sayang," ujar Farisa.
"Aku ngerti sekarang. Bun, makasih yah udah mau bantu aku sejauh ini, udah nemenin aku dan dukung aku biar bisa normal lagi," ucapan itu terlontar dengan tulus dari mulut Arya. Dia memeluk Farisa lagi.
"Gak ada terima kasih, semua ini karena Bunda sayang sama kamu," balas Farisa dalam pelukannya.
******
'Istighfar Arumi!! Kok kenapa aku lebay gini ya? Jadi mirip kayak anak remaja yang lagi jatuh cinta shh astaghfirullah,'—dalam hati Arumi perang dengan dirinya sendiri.
Arumi mencuci wajahnya di westafel berkali-kali sambil beristighfar dalam hatinya.
Sebuah panggilan masuk akhirnya mampu menghentikan aktivitas Arumi yang kentara sekali sedang salah tingkah.
'Assalamualaikum'
'Wa'alaikumussalam, ada apa Dokter Vernon telpon saya?'
'Kamu masih manggil saya dengan embel-embel Dokter ya, padahal kita seumuran loh'
'I-iya Vernon, ada apa telepon saya?'
'Ayo makan siang diluar. Kebetulan saya tidak ada jadwal operasi hari ini'
'A-anu Dok eh Vernon, maaf sekali, saya sudah ada janji dengan sahabat saya'
'Oh ya sudahlah, saya kira kamu tidak ada janji. Jangan terlalu asyik dengan pasiennya'
'Eh—'
TUT!
Panggilan terputus secara sepihak, tanpa ada pengucapan salam.
"Apanya yang asyik sama pasien. Ya kali ngobatin pasien jadi ajang main-main. Tumben banget lagi ngajak makan," gerutu Arumi sesaat setelah panggilannya terhenti.
"Dateng-dateng tuh muka kek baju yang belom di setrika, kusut banget. Kenapa si?" interogasi Balqis saat Arumi duduk bersama mereka disebuah café dekat dengan rumah sakit tempat mereka bekerja.
"Tau nih ada apa? Ceritakan sama kita," tambah Mara.
"Dokter Vernon gara-garanya. Masa iya tiba-tiba ngajak makan siang bareng, terus bilang jangan terlalu asyik sama pasien. Maksudnya apa coba? Astagfirullah gak abis pikir aku, kok bisa ya ngomong gitu," jawab Arumi sembari mengeluarkan semua unek-uneknya untuk Vernon.
"BWAHAAHA~"
Tawa Balqis dan Mara meledak saat mendengar perkataan Arumi.
"Kok malah ketawa sih? Aku lagi gak ngelucu," protes Arumi dengan wajah dibuat cemberut.
"Ya abisnya lo lucu haha," tawa Balqis masih berlanjut.
"Udah Qis ... Ohh jadi Dokter Vernon tadi nelpon? Eum ... menurut aku sih ya dia bilang gitu karena kamu suka pulang abis Isya kalo abis ngurusin pasien baru kamu yang satu ini. Mungkin dia pengen ada waktu sama kamu, kentara banget sih dia suka sama kamu Rumi," terang Mara, seolah-olah dia mengetahui segalanya. Arumi berusaha mencerna apa yang diungkapkan sahabatnya ini.
"Iyaa bener kayaknya dia suka sama lo deh, soalnya diem-diem dia suka nyari atau nanyain lo. Dan eum ... yang suka ngirim hadiah setiap hari itu ya dia. Aduh gue ember banget yak hahaha," kata Balqis. Itu bukan kebohongan belaka, sebab Balqis pernah memergoki Vernon meletakkan hadiah itu di depan ruangannya Arumi.
"Ohhh pantesan, apa yang harus dibikin iri sih sama Arya? Dia lihat wajahnya aja belom. Heran aku," pungkas Arumi.
"Arya? Wuahhh kamu manggil namanya! Biasanya pasien doang, eummm ... ada apa ini?" goda Mara.
Mendadak Arumi jadi mematung, menahan diri agar tidak menunjukan salah tingkahnya.
"Kok diem?"
"Berarti ada sesuatu Ra," kata Balqis.
"Sst ... ah gak baik gibah, cepet abisin makanannya ntar keburu dingin," tukas Arumi berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
"Paling bisa ya lo ngalihin pembicaraan," cibir Balqis.
"Berisik lo cepet makan, waktu istirahat sedikit lagi," sambar Mara dengan kaki kanannya menginjak salah satu kaki Balqis agar tidak terlalu banyak bicara lagi.
*******
Setelah makan siang, Arumi tidak kembali ke rumah sakit tempat Arya di rawat. Karena jaraknya yang cukup memakan waktu dari café dekat rumah sakit dimana Arumi bekerja.
Saat hendak masuk ke dalam ruangannya, Arumi berpapasan dengan Vernon. Orang yang Arumi ingin hindari.
"Arumi!" seru Vernon.
"Ah, i-iya ... ada apa manggil saya?" jawab Arumi dengan sedikit gelagapan.
"Tumben sekali jam segini sudah kembali," kata Vernon basa-basi.
"Karena saya harus pulang lebih awal," pungkas Arumi sembari mendekati knop pintu. Sungguh, Arumi tak ingin jadi bahan gosip para Dokter dan pegawai rumah sakit.
"Loh? Pulang lebih awal? Ada apa?" tanya Vernon dengan bertubi-tubi.
"Saya belum merampungkan tesis, permisi," sambung Arumi sembari memasuki ruangannya.
"Astagfirullahh kenapa menguras emosi banget, apa ya maunya Vernon?" tanya Arumi sedikit heran dengan tingkah seorang Dokter bedah tersebut. Tangannya menyambar tas selempang di mejanya. Matanya menangkap sebuah stiky note yang tergeletak tepat di bawah tas selempangnya.
Arumi mengambilnya dan mulai membaca apa yang tertulis di sana.
"Saya ingin menjalin hubungan yang serius. Apa kamu bersedia?" Arumi membaca dengan jelas apa yang tertulis di sana. Arumi mencari mana pengirimnya di belakang kertas itu. Dia membungkam mulutnya karena tidak ingin membuat kebisingan.
Arumi tidak memiliki perasaan pada Vernon. Ditambah Arumi masih ingin menyelesaikan kuliah S2 nya terlebih dulu. Arumi kembali meletakkan kertas itu di tempat semula. Dan bergegas untuk keluar dari ruangannya.
"Sudah baca?" tanya Vernon tepat saat Arumi baru saja keluar.
Untung saja Arumi tidak terlalu terkejut, sebab sudah dia kira-kira, pasti Vernon menunggunya.
"Maaf, untuk saat ini saya belum memikirkan untuk menikah. Saya ingin fokus pada study akhir S2 saya," tolak Arumi secara halus.
"Baiklah, saya akan menunggu kamu sampai selesai S2," kekeuh Vernon.
"Maaf, saya sudah telat, nanti bisa didiskusikan lagi. Ke rumah saya langsung, temui Abi saya. Jangan begini. Assalamu'alaikum," tegas Arumi sebelum pergi dari hadapan Vernon. Dia terlihat seperti tengah terburu-buru. Mungkin ada sesuatu yang mendesak yang membuatnya mengakhiri pertemuan mereka.
"Wa'alaikumussalam," jawab Vernon. Kemudian,
Vernon menyunggingkan senyum penuh arti atas jawaban yang diberikan oleh Arumi. Dia menjadi semakin tertarik kepada Arumi.
"Baiklah, saya akan datang nanti. Tunggu saja," monolog Vernon dengan pelan. Dia tak tahu bahwa ada seorang suster yang mengamatinya sedari tadi.
"Permisi, Dok, sebentar lagi kita akan ada operasi," ujar salah seorang suster yang entah sejak kapan ada di samping Vernon.
"A-a ... iya saya sedang menuju ke ruang operasi. Terima kasih sudah mengingatkan," jawab Vernon sedikit gelagapan. Dia takut suster itu melihatnya bermonolog tadi.
****
Arumi tiba disebuah universitas tempatnya menuntut ilmu sekarang, dia membawa hasil tesis yang sudah dia kerjakan dengan susah payah. Arumi harap, tesisnya itu tidak ada yang salah lagi. Ini sudah ketiga kalinya Arumi mengedit tesisnya agar sesuai dengan apa yang dosennya pinta.
"Bismillahirrohmanirrohim ... Assalamu'alaikum ," kata Arumi sebelum masuk ke dalam ruangannya. Arumi seperti biasa mengucap salam terlebih dulu.
"Wa'alaikumussalam ... sudah di revisi semuanya?" tanya dosennya. Dengan anggukan saja dosen itu paham. Lalu, Arumi menyerahkan hasil perbaikan tesisnya pada dosen. Dia menunggu dosennya memeriksa dengan cemas. Sambil terus merapalkan do'a di dalam hatinya.
"Saya akan baca ini di rumah. Besok, kamu bisa ke sini lagi. Saya sebentar lagi ada jadwal mengajar," putus dosen itu setelah sekian lama membaca beberapa lembar halaman dari tesis yang sudah Arumi tulis.
"Kalau begitu, saya pamit pulang. Besok saya datang lagi, Assalamu'alaikum," ucap Arumi dengan sopan sambil merapatkan kedua tangannya di depan d**a. Karena dosennya adalah seorang pria. Meski, usianya seumuran dengan ayahnya, jelas itu bukan mahrom bagi Arumi. Maka dari itu, Arumi melakukan hal seperti tadi.
"Wa'alaikumussalam,"
******
Arumi tak ada kegiatan apapun setelah ini, karena memang hari sudah menunjukan waktu petang. Sebentar lagi matahari akan segera tenggelam. Digantikan oleh sang rembulan. Arumi salat dulu di masjid yang dekat dengan universitas.
Barulah selesai salat, Arumi pulang dengan naik taxi. Di perjalanan, Arumi merenung sendiri. Apakah selama ini yang dia lakukan sudah benar? Apakah dia benar-benar menjadi orang yang bermanfaat untuk oranglain?
"Neng ini sudah sampai," tegur supir taksi, sebab melihat Arumi yang terus melamun. Segera dengan cepat Arumi tersadar dari lamunan panjangnya. Dia memberikan uang seratus ribuan.
"Makasih ya pak," kata Arumi sembari membuka pintu mobil.
"Eh? Harusnya saya yang berterima kasih neng, ini kembaliannya?" tanya supir itu.
"Buat bapak aja," jawab Arumi dengan senyuman yang tulus.
Matanya terbelalak saat melihat mobil yang tak asing lagi dimatanya.
'Loh kok?'
Arumi buru-buru memasuki kediamannya. Dugaannya benar, mobil tadi di depan adalah mobil milik Vernon.
"Assalamu'alaikum," kata Arumi sembari menyalami kedua orang tuanya. Dia tidak melihat adik laki-lakinya. Matanya tertuju pada sosok tampan berpakaian rapi, dia tersenyum pada Arumi.
"Wa'alaikumussalam ... nah ini dia Arumi–nya sudah pulang," kata Bachri.
'Ternyata beneran serius ya? Sampai datang ke rumah' -batin Arumi.
"Duduk di sini sayang, tadi setelah salat maghrib nak Vernon datang bertamu. Dia ingin ta'aruf dengan kamu sayang. Apa kamu berkenan untuk ta'aruf dengan nak Vernon? katanya kalian bekerja di tempat yang sama? Berarti sudah saling kenal ya?" Bachri menanyakan banyak hal padanya.
"Akan Rumi pikirkan lagi Bi. Iya, beliau ini dokter bedah. Maaf Abi, Umi, Rumi mau ke kamar dulu," tukas Arumi dengan sopan.
"Maafkan Arumi ya nak, mungkin dia lagi capek," ujar Bachri pada Vernon.
"Gak apa-apa Pak, mungkin Arumi capek hehe. Saya juga harus kembali lagi ke rumah sakit, terima kasih atas jamuannya, Assalamu'alaikum," pamit Vernon.
"Wa'alaikumussalam ... Jangan kapok ya main ke sini, semoga Arumi menerima ajakan kamu yang baik ini," balas Bachri sambil menepuk bahu Vernon pelan.
"Ah iya Pak, semoga saja, sekali lagi saya pamit," tukas Vernon.
****
"AAAA!!!" teriak Arumi saat melihat Rasyid sedang tiduran di kasurnya dengan wajah yang sedang memakai masker untuk perawatan kulit.
"Ih! Rasyid kamu pake sheetmask punya kakak?" interogasi Arumi.
"Gak boleh pelit loh sama adik sendiri. Kan biar kulitnya kinclong kak," jawab Rasyid sambil melepaskan masker diwajahnya.
"Tadi di bawah ada yang mau lamar kakak ya? atau ta'aruf ?" tanya Rasyid.
"Ta'aruf . Tapi kakak tuh kurang srek tau, bukannya berprasangka buruk, kan kita gak tau sifat aslinya dia gimana. Bisa jadi dia di tempat kerja kelihatan baik aslinya malah sebaliknya? Kakak gak mau salah pilih, ya emang sih tujuan ta'aruf untuk saling kenal satu sama lain. Duh kok jadi bingung gini ya?" Arumi menuangkan segala keluh kesahnya pada Rasyid. Karena memang dia yang selalu jadi tempatnya berbagi cerita selain dari Asyalie sang Ibu.
"Yaudah, coba aja ta'aruf dulu, kalo kakak gak cocok ya bilang kan masih masa perkenalan, tapi kakak jangan salah gunakan ta'aruf buat kesempatan pacaran," ucap Rasyid.
"Ya gak akanlah Dek, kakak insyaaAllah tau kok gimana ta'aruf dengan benar sesuai dengan yang diajarkan oleh islam," pungkas Arumi sambil membuka kaus kakinya. Dan melepaskan jarum yang tertancap di kain yang dia gunakan untuk menutupi auratnya.
Arumi tidak terlalu terkejut dengan kehadiran Vernon yang sudah ada di depan ruangannya. Dia sudah menduga bahwa Vernon pasti menunggu jawaban dari ajakannya kemarin malam sewaktu di rumahnya.
"Selamat pagi Arumi," sapanya dengan wajah sumringah.
"Pagi juga. Saya tebak, kamu pasti menunggu jawaban saya kan?" kata Arumi.
"Iya hehhe ... seratus buat kamu. Jadi gimana?" tanya Vernon.
Bukannya menjawab pertanyaan Vernon, Arumi malah mengasongkan selembar kertas yang isinya data biografi Arumi.
"Eh? kok ngasih ini?" Vernon bingung dengan apa yang Arumi lakukan.
"Kan ta'aruf yang bener itu kan saling tuker data pribadi kayak semacam biografi. Permisi," pamit Arumi sembari masuk ke dalam ruangannya. Dia hanya menyimpan kotak makan siangnya. Akan berat jika dibawa ke tempat Arya dirawat.
"Kalau saya mau tau kamu lebih jauh lagi gimana?" kata-kata Vernon berhasil membuat langkah Arumi terhenti.
"Maka dari itu kamu minta ta'aruf kan? Astagfirullah ... sebenernya kenal lebih jauh itu versi kamu gimana?" Arumi berusaha keras menahan rasa kesalnya.
"Saya baru dua tahun menjadi muallaf jadi maaf kalo saya kurang faham," jawab Vernon yang sontak membuat sedikit penyesalan terpatri jelas diwajah cantik Arumi karena hampir berbicara dengan nada kesal.
"Maaf, saya gak tau—"
"Tidak perlu minta maaf, memang saya yang tidak bercerita," kata Vernon menyangkal permintaan maaf dari Arumi.
"Saya permisi, Assalamu'alaikum," pamit Arumi sekali lagi. Arumi pergi dengan sedikit rasa penyesalan karena telah bersikap kurang baik pada Vernon.
***
Setibanya di rumah sakit tempat Arya dirawat, di taman Arumi melihat Arya sedang duduk dikursi taman dengan seorang wanita cantik berjilbab hitam. Mereka nampak akrab sekali kelihatannya. Awalnya Arumi ragu ingin menghampiri mereka karena takut mengganggu, tapi—
"Arumi!" panggil Arya dengan tangan yang disampaikan ke arahnya. Itu pertama kalinya dia memanggil Arumi dengan nama. Ada secuil gelenuar aneh pada detak jantungnya saat mendengar Arya memanggilnya begitu.
Arumi pun akhirnya memutuskan untuk menghampiri Arya dan wanita berjilbab hitam di sana.
"Lihat aku buat semicolon! Bagus kan?" tanya Arya meminta pendapat Arumi. Wanita di sebelahnya tersenyum manis melihat Arumi. Namun, Arumi bisa membaca dibalik sorotan matanya tersimpan banyak sekali kesedihan. Dia tidak terlalu menghiraukannya, matanya fokus pada pergelangan tangan Arya yang terdapat coretan tanda titik dan koma. Tentu sebagai seorang psikiater Arumi paham betul apa itu, juga tahu apa makna dibalik dua tanda itu.
"Bagus banget Arya. Kapan kamu buat ini?" tanya Arumi yang penasaran akan tanda yang ada ditangan kiri Arya.
"Tadi malem sama kakak ehehe. Oh iya lupa, kenalin ini kakak aku Farah. Dia baru sampe dari Johor tadi malem," jelas Arya. Menjawab semua kebingungan dikepala Arumi.
"MasyaaAllah ehehe kamu jadi terdorong ya buat bikin ini ditangan? Aku Arumi, psikiater Arya," tukas Arumi sembari memperkenalkan dirinya pada Farah.
"Bisa aja si dokter eheheh, Arya banyak cerita tentang kamu. Makasih ya udah mau bantu Arya," ujar Farah dengan tatapan yang tulus.
"Arumi, besok aku bisa pulang kan? Aku minum obat dengan baik biar bisa cepet pulang," celetuk Arya.
"Nanti aku tanya dokter di sini, semoga aja bisa ya heheh," pungkas Arumi.
Arya terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Tentu saja, Arumi senang akan hal ini. Dia juga banyak bercerita dengan kakak keduanya Arya ini. Sebenarnya, bukan dia tidak tahu kondisi Arya. Tapi, karena pekerjaan suaminya yang sedang diambang kebangkrutan, jadilah dia harus membantu suaminya agar bisnisnya tidak bangkrut. Farah baru bisa pulang ke Indonesia setelah kondisi perusahaan suaminya sudah stabil. Dia sudah menikah sejak 5 tahun lalu. Dia lama karena bekerja sekaligus sekolah disana. Sampai akhirnya menikah dengan orang Malaysia. Sekarang, Farah dikaruniai seorang putri cantik yang masih berusia 4 tahun.
Bukan tidak peduli, hanya saja jika diberitahu detailnya. Farah takut malah membuat orangtuanya semakin khawatir. Dia juga bercerita pada Arumi jika dirinya punya kembaran yang tinggal di Jepang bersama anak dan suaminya. Farah masih belum bisa memberitahu kakaknya yang ada di Jepang itu. Sebab kalau misalkan diberitahu, dia pasti akan jadi yang paling kacau dan khawatir, kembarannya itu sangat dekat dengan Arya. Mereka sama-sama mencari ilmu ke luar negeri. Kembarannya yang bernama Fariha menikah dua tahun setelah Farah menikah. Saat itu, Farah sudah tahu kondisi Arya. Hanya saja, orangtua dan keluarganya bungkam akan keadaan Arya yang mengalami penyakit mental.
Mereka mendapatkan kabar kecelakaan adik laki-laki mereka saat sedang kuliah dulu, sedihnya, mereka tidak bisa pulang karena faktor uang untuk membeli tiket pulang. Meskipun mendapat beasiswa setiap bulan, tapi tentu kebutuhan mereka juga harus dipenuhi. Sampai pada akhirnya mereka hanya bisa menangis di tempat mereka kala itu.
"Saya tahu kejadian sebenarnya dari Bunda saat pernikahan saya hiks ... saya menyesal tidak berusaha keras untuk pulang dulu jika tahu akan seperti ini hiks ... mendengar dari dokter bahwa dia pernah mencoba membunuh dirinya sendiri membuat hati saya sakit, saya merasa gagal jadi seorang kakak. Tidak ada disampingnya saat dia hiks," tangis Farah pecah saat bercerita pada Arumi. Untungnya, Arya sudah pergi ke ruangannya bersama Farisa tadi.
"Penyesalan memang selalu datang diakhir, tapi saya yakin Mbak di sana juga selalu mendo'akan Arya. Mbak gak gagal jadi seorang kakak, karena di sana pun Mbak tidak sekedar berlibur, tapi ada di sana Mbak menuntut ilmu. Biarlah yang lalu berlalu, karena kita tidak akan pernah bisa merubahnya. Lagipula, sekarang Arya sedikit lebih baik berkat kehadiran Mbak Farah," jawab Arumi sambil menyakinkan hati Farah agar dia tidak terus menyesal akan kejadian di masa lalu. Dia terlalu abai pada orang tua dan adiknya. Menghubungi mereka pun jarang.
.
.
TBC
.