Dia bukan orang gila

3033 Words
*** Arumi pulang sendiri dengan kendaraan umum yang lazim disebut taxi. Sepanjang perjalanan dia terus terngiang-ngiang kejadian yang baru saja dialaminya. Air mata Arumi jatuh tanpa permisi. Dia merasa heran, dengan dirinya sendiri. Kenapa hatinya gampang tersentuh seperti ini. Wajah terus Arya yang tak sadarkan diri terus membayangi pikiran Arumi. Sebelumnya, Arumi memang pernah menangani pasien kelainan mental seperti Arya, malahan Arumi pernah ditugaskan menangani seseorang yang benar-benar kehilangan akal. Kursinya lagi, dia seorang ibu muda. Tapi, tak sampai kepikiran setiap saat semacam ini. 'Astagfirullahh .. sadar Arumi, meski dia begitu, dia bukan mahrom. Ini tidak benar ... Arumi'-batin Arumi bergelut sendiri. Arumi pulang tepat saat adzan maghrib berkumandang. Dia mengucapkan salam saat memasuki kediamannya. Menyalami satu persatu yang ada di dalam rumah. Dari mulai Ayah sampai adiknya. "Kamu habis nangis Rumi?" selidik Bachri-Ayah Arumi. Dia melihat mata merah dan sembab pada Arumi. "Iya ehehe, Arumi terharu aja dengan kejadian hari ini Bi," jawab Arumi dengan jujur pada Bachri. "Kamu emang gampang tersentuh hehe. Abi sama Rasyid ke masjid dulu ya. Nanti setelah Isya, Abi mau bicara serius sama kamu," pesan Bachri sebelum keluar bersama Rasyid yang tak lain adalah adik Arumi. Dan dia juga anak terakhir. "Tumben Abi pulang hari Kamis Mi? Biasanya pulangnya hari Jum'at," kata Arumi pada sang Ibunda yang menuju ke ruangan khusus untuk beribadah. Bisa dibilang seperti mushola dalam rumah. Biasanya digunakan jika Ayah dan adik Arumi tidak berjamaah di masjid. Seperti saat salat ashar . Wanita berparas cantik yang senyum hangatnya tak pernah luntur untuk anak-anak dan suaminya. "Katanya ada sesuatu yang mau di omongin, lagian di pesantren kan ada Abang kamu yang gantiin Abi kalau Abimu pulang ke rumah," pungkas Asyalie-Ibu dari Arumi. "Penting banget ya Mi?" tanya Arumi lagi. "Sepertinya iya sayang, tunggu saja Abimu pulang dari masjid. Sekarang kamu wudhu terus kita salat berjamaah di sini," perintah Asyalie pada anak putri satu-satunya. "Iya Mi," jawab Arumi dengan patuh. **** Setelah selesai salat maghrib, Arumi tidak beranjak dari tempatnya. Dia menunggu salat Isya sambil mengaji beberapa lembar halaman dari Al-qur'an . Sampai waktu Isya tiba. Selesai menunaikan salat Isya, Arumi dan Asyalie melihat mukena dan sajadahnya, lalu, diletakkan di tempat yang seharusnya. Arumi dan Ibunya memasak makanan untuk makan malam. Tepat pada pukul 20.15 , Ayah dan adiknya Arumi pulang dari masjid. Disambut oleh kedua perempuan yang langsung bersalaman dengan mereka. "Bang, bicarakan sesuatunya nanti saja ya, kita makan malam dulu," kata Asyalie pada Bachri sang suami. "Iya Sya," jawab Bachri. Suasana tegang tercipta di ruang tengah, setelah selesai makan malam. Layaknya pelaku yang diinterogasi oleh seorang polisi. "Begini Arumi, Abi khawatir sama kamu. Sudah 26 tahun kamu nak, tapi kenapa belum tertarik menikah?" tanya Bachri to the point. Arumi sudah menduganya, bahwa Ayahnya pasti menanyakan hal ini. "Rumi, mau selesaikan dulu S2 Abi, dan lagi, jika memang sudah waktunya, nanti juga Rumi menikah," jawab Arumi dengan jujur. "Nanti itu kapan Rumi? Kita tidak tau takdir ke depan kita seperti apa," sambung Bachri. "Selesai S2 beberapa bulan lagi Bi, jika ada jodohnya Arumi insyaaAllah akan menikah," kata Arumi mencoba memberikan penjelasan pada Ayahnya itu. Dia belum menemukan seseorang yang memang tulus mencintainya. "Kamu tau ustadz Yusuf ?" tanya Bachri. "Iya tau Bi, bukankah dia sudah punya istri? Jadi, Abi meminta Rumi untuk menikah dengannya?" tutur Arumi dengan suara bergetar. Hati siapa yang tidak akan terguncang jika mendengar hal semacam ini. "Kamu sudah tau maksud Abi rupanya, dia sholeh Rumi, Abi yakin dia bisa membimbing kamu jadi istri yang baik. Abi sudah tau sifatnya," kata Bachri seolah tanpa beban mengatakannya pada Arumi. Si empunya sudah menangis. Dia merasakan ada yang berbeda dengan Bachri. "Abi, bukan Rasyid gak sopan mau nyela omongan Abi, tapi, Abi coba dipikirin lagi. Apa Abi tega biarin kakak jadi istri kedua? Rasyid emang belum baik, tapi Rasyid sebagai adik laki-laki kak Rumi gak rela kalau dia jadi istri kedua. Abi kalau butuh bantuan jangan kayak gini, ada Rasyid, ada Bang Halim, ada Bang Kemal. Kita bisa bantu Bi," kata Rasyid membela Arumi. Ibunya hanya bisa menatap nanar tiga orang di depannya. Dia sudah tidak tahu lagi harus berkata apa, posisinya sebagai seorang istri dan Ibu membuatnya bingung. "Apa Abi seperti ini karena masih gak terima kalau aku gak nurut kemauan Abi waktu dulu? Bi, bahkan Rumi kuliah dengan uang Rumi sendiri. Apa Rumi pernah dulu meminta bantuan Abi? Gak, sama sekali Rumi gak berani minta sama Abi. Abi sama Umi udah didik Arumi dengan baik dengan islami. Bukannya tidak mau ke pesantren, tapi, menuntut ilmu agama tidak selalu harus ke pesantren. Aku memilih jalan seperti ini pun karena ingin jadi seorang yang bermanfaat untuk orang lain. Rumi punya Umi yang selalu mendidik Rumi dengan luar biasa. Maaf tapi Abi, Rumi ingin menikah dengan pilihan Rumi sendiri," jawab Arumi dengan panjang lebar. Bachri jadi ikut meneteskan air mata mendengar penuturan putri satu-satunya. "Anak Abi maasyaaAllah ... maafkan Abi nak, bukan Abi ingin mengatur, tapi Abi ingin yang terbaik untuk kamu. Dan nyatanya Abi salah," sesal Bachri pada Arumi, atas perkataannya beberapa menit lalu. Asyalie mengelus punggung suaminya. "Abang gak salah, Arumi gak salah. Kalian berdua ingin memberikan yang terbaik dengan versinya masing-masing. Abang udah ah, malu udah punya cucu cengeng," kekeh Asyalie sambil mengusap air mata yang terus mengalir di kedua pipi Bachri. *** Sementara itu di tempat lain... Arya memegang kepalanya. Keningnya berkerut, rasa pusing kembali menyerang. Dia mencoba mengatur pandangannya yang sedikit kabur. Matanya mengelilingi seluruh sudut ruangan, memperhatikan dengan jeli. Dan dia ingat, kemarin, dia hampir mati karena percobaan bunuh dirinya. Yang dia ingat hanya suara panik seorang perempuan dan dirinya yang dipangku oleh seseorang. Setelah itu, dia benar-benar hilang kesadaran. Yang pertama kali dia lihat adalah sesosok perempuan yang sudah melahirkannya ke dunia. Dialah Farisa, perempuan yang menjadi cinta pertamanya. Yang tak pernah lelah mengurus dan penduduknya sedari kecil sampai sekarang. "Alhamdulillah kamu sudah sadar sayang, apa kepalanya masih pusing?" tanya Farisa dengan lemah lembut. "Sedikit," gumam Arya. "Bunda panggil dokternya sebentar ya," tukas Farisa sambil mengusap lembut surai hitam putranya. Arya hanya diam, tak menyangkut sepatah kata pun. Tak lama kemudian muncul seorang pria sebaya dengan Arya dengan pakaian khas seorang dokter. Ada sedikit kekecewaan, karena Arya kira yang datang adalah dokter perempuan yang datang ke rumahnya kemarin. Arya pasrah diperiksa oleh dokternya, sampai dia pun bersuara, "kenapa kamu yang datang? Kemana dia?" Dokter yang memeriksa Arya mengerutkan dahinya. "Maksudnya siapa?" "Lupakan, yang membawaku ke rumah sakit siapa?" tanya Arya dengan nada suara yang datar. Tatapannya tajam padahal dia sedang tidak dalam keadaan marah. Dokter itu mulai paham, maksud dari perkataan Arya adalah Arumi. "Seorang dokter cantik bernama Arumi," jawab Dokter itu. Arya mengepalkan tangannya, entahlah dia merasa tak adil, Dokter ini tahu namanya, sedangkan Arya tidak. Dia ingat! Arumi tidak memberi tahu namanya, dia hanya memperkenalkan diri pada Arya bahwa dia seorang psikiater . "Sana pergi! Aku sudah selesai diperiksa kan?" usir Arya. Sebetulnya, dia berusaha menahan emosinya. Entahlah, emosinya terpancing saat Dokter itu mengatakan nama Arumi dan lagi dia bilang Arumi cantik. "Santai Mas. Nanti siang jangan lupa obatnya ya Bu," pesan Dokter itu pada Farisa. "Iya Dokter Jeno, terima kasih sudah mengingatkan," balas Farisa. "Kenapa dia gak ngasih tau namanya Bun? Apa karena aku yang seperti ini?" berondong Arya pada Farisa dengan nada yang mulai tidak bersahabat. "Mungkin," ucapannya tergantung. "Mungkin apa Bun!" bentak Arya. "Assalamu'alaikum," suara salam dari Arumi yang masuk ke ruang rawat inapnya Arya berhasil membungkam Arya yang hendak membentak Farisa lagi. "Wa'alaikumussalam nak, syukurlah kamu cepat datang," kata Farisa. "Kamu kenapa bentak Bunda kamu? Apa salahnya?" interogasi Arumi sambil duduk di kursi dekat ranjang Arya. "...." Merasa tak ada jawaban dari Arya, Arumi bertanya pada Farisa. "Kenapa dia bentak Ibu barusan?" "K—" "Kenapa kamu gak ngasih tau nama? Apa kamu sama dengan yang lain? Yang menganggapku gila?" kata Arya dengan nada khasnya yang dingin. "Astagfirullahh ternyata itu. Aku minta maaf, oke aku ulangi lagi supaya kamu tau nama aku. Perkenalkan, nama aku Arumi Raihana Syafiqa, maaf kemarin aku lupa ehehe," kekeh Arumi sambil memperkenalkan diri. "Namanya cantik, kayak orangnya," kata Arya yang hanya bisa didengar olehnya sendiri. "Kamu bilang apa?" "Aku gak ngomong apa-apa," alibi Arya. Dia pandai menyembunyikannya. Arumi percaya begitu saja. Padahal dia yakin, tadi Arya mengatakan sesuatu. ***** Setelah perdebatan panjang membujuk Arya untuk meminum obatnya, Arumi pergi ke depan rumah sakit. Membeli makanan untuknya dan juga Farisa. Arumi kembali bertemu dengan dokter itu. Dialah yang menjadi Dokter Arya sekarang. Karena memang Arya masih belum diperbolehkan untuk pulang. "Eh, kita ketemu lagi, kamu masih lupa sama saya?" tanya Jeno. Arumi jelas bisa membaca dengan jelas name tag yang dia pakai. "M-maksudnya?" Arumi bertanya balik. "Kita pernah satu sekolah, saat SMA dulu. Kamu masih tetap menyangkal bahwa dia bukan suamimu ya, padahal waktu sadar pertama kali yang dia cari itu kamu," jelas Jeno. Mata Arumi membulat sempurna. Dia sekarang paham kenapa Arya menanyakan namanya dan tadi memarahi Farisa. "Dia pasien saya, terima kasih atas penjelasannya. Maaf saya harus kembali ke ruangannya," pamit Arumi dengan sopan. **** .Arumi berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ke ruangan dimana Arya dirawat. Dari luar terdengar suara gaduh dari Arya dan Farisa di dalam sana. Arumi segera masuk ke dalam, bahkan ia lupa mengucapkan salam. Karena takut di dalam sana terjadi sesuatu yang berbahaya lagi seperti beberapa hari lalu. Arumi mendekati Arya, dia mengambil obat yang berserakan di atas selimut yang Arya kenakan. "Ini gak bahaya Arya, gak kayak obat yang kamu minum kemarin kamu minum, ayolah ... Biar kamu gak lama-lama di ruangan ini. Kamu gak mau kan tinggal lebih lama lagi di sini?" ujar Arumi mencoba membujuk Arya untuk minum obatnya. Arya menggeleng, tentu saja, siapa yang ingin berlama-lama di rumah sakit. "Gak! Aku gak mau!" jawab Arya. "Kalo gitu minum obatnya ya," kata Arumi dengan sedikit jurus bujukan khasnya. Arya merebut obat-obatan yang ada ditangan Arumi yang akan dia minum. Arumi tersenyum melihat ada perubahan dari Arya. Arya akan memakan semuanya sekaligus, dengan cepat Arumi menghentikannya. Dia takut kejadian tempo lalu terulang. "Satu-satu," perintah Arumi sambil mengambil beberapa dari tangan Arya. Lalu dia menyodorkan minum untuknya. "Ribet," gerutu Arya dengan pelan. Tentu saja Arumi bisa mendengar itu. "Minum satu-satu kalo gak mau lama nginep di rumah sakit," ancam Arumi lagi. Arya menirukan suara Arumi pelan. Arumi tersenyum tipis, dia merasa jika Arya mulai membaik. Begitupun dengan Farisa, dia melihat sikap Arya yang sedang berinteraksi dengan Arumi perlahan mengeluarkan air matanya. Dia terharu, sedikit demi sedikit Arya mulai seperti dulu. "Wah ... kamu minum semuanya dengan baik ehehe," puji Arumi pada Arya. "Berisik! Aku bukan anak kecil," kata Arya menanggapi ucapan Arumi. "Iyaa aku gak bilang kamu anak kecil kok," jawab Arumi sambil menahan senyumannya. Menurutnya Arya lucu. ****** "Kamu mau kemana?" tanya Arya pada Arumi saat dia hendak keluar, tangannya sudah siap untuk menekan knop pintu. "Aku masih banyak pekerjaan di rumah sakit," sambung Arumi dengan jujur. "Bunda sedang pulang. Apa kau tega meninggalkanku sendirian?" "Eh, tapi aku benar-benar sedang buru-buru. Di sini ada Dokter kan, mereka baik kok. Aku minta maaf banget gak bisa nemenin kamu," ujar Arumi sebelum keluar dari ruangan Arya. Sepeninggal Arumi dari ruangannya, Arya termenung sendiri. 'Bodoh! Kakak yang bodoh!' "Aku gak bodoh!!" "Mereka yang bodoh!" "Argh aku gak bodoh!" 'Harusnya kamu yang mati' "IYAA AKU MEMANG PANTAS MATI!! TAPI KENAPA AKU MASIH HIDUP!" Suara Arya mulai meninggi. Seseorang yang melewati ruangan Arya pun mencoba melihat apa yang terjadi. Sampai pada seorang perawat rumah sakit yang hendak masuk ke ruangan Arya pun mengurungkan niatnya. Dia berlari untuk memberitahu Joni. 'Mereka hanya kasihan, mereka sebenarnya ingin kamu yang mati. Bukan Arga' "BERISIK! ARGHHH!" Arya terus menutup kedua telinganya. Hingga tak sadar infusan yang terpasang ditangan kanan Arya terlepas. Selimutnya, terjatuh dilantai. Tak lama kemudian, Joni dan para suster yang lain menyekap tangan Arya disisi kiri kanan ranjang. Agar tidak bergerak. "BUNUH SAJA AKU! JANGAN KALIAN SIKSA SEPERTI INI!" teriak Arya lagi. Melihat Arya semakin menjadi, Joni menyuntikkan sesuatu pada Arya sampai si empunya jatuh pingsan. "Dok apa dia pasien dari rumah sakit jiwa?" tanya salah satu suster. "Mu—" BRAK!! Farisa yang baru masuk membawa beberapa bungkus makanan pun terkejut, lalu menjatuhkannya tatkala mendengar perbincangan antara dokter dan suster itu. Terlebih lagi, Arya yang tak sadarkan diri dengan kedua tangan seperti disekap dikedua sisi ranjang tempat Arya terbaring. Farisa tidak diam, dia keluar dari ruangan. Bahkan Farisa berada di taman sekarang. Tangannya merogoh sebuah benda pipih yang biasa disebut ponsel. Farisa menghubungi Ardi dan tak ada jawaban. Kemudian, dia teringat akan Arumi. Dia menjelaskan apa yang terjadi pada Arya saat ini. ***** Tak perlu menunggu hingga berjam-jam lamanya. Arumi sampai 15 menit setelah Farisa hubungi dia melalui telepon tadi. "Kenapa bisa sampe digituin Bu? Dia ngamuk lagi?" tebak Arumi. "Kayaknya iya dia ngamuk lagi, selang infus yang ada ditangannya juga udah copot," jelas Farisa dengan apa yang dia lihat tadi. "Ayo kita segera kesana," kata Arumi setelah mendengar penjelasannya. Farisa dan Arumi berjalan bersama menyusuri koridor rumah sakit. Dokter dan suster itu masih ada di dalam ruangan Arya saat dua wanita berjilbab yang tak lain Arumi dan Farisa datang. dia merasa tidak terima Arya diperlakukan seperti itu. "Kenapa Dokter melakukan ini?" kata Arumi tanpa basa-basi. "Biar gak macam-macam kalo lagi ngamuk, dia dari rumah sakit jiwa? Sepertinya memang pasien memiliki masalah dengan kejiwaannya," jawab Joni. "Dia emang pernah di bawa ke rumah sakit jiwa, tapi dia gak gila. Kalo kita kasih perlakuan persis waktu dia ada di rumah sakit jiwa takutnya malah makin menjadi, tadi pagi udah ada perkembangan, saya mohon, perlakukan dia seperti pasien biasa. Kalo gak sanggup, gak papa, biar saya bawa pindahkan ke rumah sakit paman saya," berondong Arumi akan unek-uneknya pada Joni. Layaknya seseorang yang sudah hampir berhasil melakukan sesuatu tapi seseorang menghalanginya. Itu perumpamaan emosi Arumi saat ini. Sungguh dia merasa tidak terima Arya diperlakukan semacam ini. . **** "Dia emang pernah di bawa ke rumah sakit jiwa, tapi dia gak gila. Kalo kita kasih perlakuan persis waktu dia ada di rumah sakit jiwa takutnya malah makin menjadi, tadi pagi idah ada perkembangan, saya mohon, perlakukan dia seperti pasien biasa. Kalo gak sanggup, gak papa, biar saya bawa pindahkan ke rumah sakit paman saya," berondong Arumi akan unek-uneknya pada Joni. Layaknya seseorang yang sudah hampir berhasil melakukan sesuatu tapi seseorang menghalanginya. Itu perumpamaan emosi Arumi saat ini. Sungguh dia merasa tidak terima Arya diperlakukan semacam ini. Joni tersenyum manis mendengar penjelasan dari Arumi. Ternyata dugaannya benar, dialah Arumi yang dulu satu SMA dengannya. Dulu dia pernah menyukai Arumi. "Lepaskan semuanya," perintah Joni sesaat setelah mendengar jawaban dari Arumi. Dua suster yang ada di sisi kanan kiri ranjang pun membuka kembali sebuah benda yang menahan lengan Arya. Rupanya ucapan berhasil membuat Joni membuka kembali benda yang menahan kedua tangan Arya. "Terima kasih," kata Arumi singkat sebelum meninggalkan ruangan Arya. Perasaan sesak menghampirinya saat melihat Arya tadi. Karena saat melihat Arya yang seumuran dengan kakak keduanya membuat Arumi sedih. Dia tak bisa membayangkan jika hal ini menimpa kakaknya. "Kamu kenapa nangis?" tanya Joni yang sudah duduk di samping Arumi. "Karena saya ingin," sahut Arumi sembari mengusap bekas air mata dikedua pipinya. "Maafkan atas tindakan gegabah saya barusan," gumam Joni dengan tulus. "Gak papa, kan Dokter gak tau," jawab Arumi. "Kamu suka ya sama pasien kamu? Sampai-sampai marah kayak tadi?" "K–kata siapa? saya hanya melakukan tugas saya sebagai seorang psikiaternya. Yah bisa dibilang saya ini sudah seperti psikiater pribadinya dan sekaligus perawatnya," pungkas Arumi sambil mengatur mimik wajahnya agar tidak kentara gugup. "Saya hanya menyimpulkan dari apa yang saya lihat. Juga cara kamu memperlakukannya," tukas Joni. "Ooh," jawab Arumi. Suasana canggung mulai menyerang mereka. "Ehem, kamu masih gak ingat saya ya?" kata Joni memulai percakapan sekaligus memecahkan suasana canggung diantara mereka. "Ingat apa? Emangnya Saya dan Dokter sudah kenal lama ya?" tanya Arumi pura-pura tidak ingat "Kamu masih muda sudah pikun ya, saya loh Joni mantan ketua OSIS angkatan kamu, masa lupa sih? Kamu kan jadi sekertarisnya. Kamu sekolah di SMA Nahartika kan?" ucap Joni mencoba membuat Arumi mengingat akan masa SMA dulu. Arumi mencoba mengingat akan masa perkuliahannya. "Ah iya aku ingat! Dokter dulu jadi pujaan para siswi karena wajahnya dan ketua OSIS di sekolah dulu," tutur Arumi. Dia masih seperti dulu tidak pernah berubah. "Iya—" "Ehem! maaf Mbak, Dokter Joni masih harus menangani beberapa pasien," ujar seorang perawat cantik, tapi tidak mengenakan hijab seperti Arumi. Sebenarnya Arumi bisa membaca dengan jelas bahwa perawat itu sepertinya cemburu melihat Joni berbincang dengannya. "Iyaa, gak papa kok. Silahkan bawa Dokter Joni nya," kata Arumi dengan menunjukan raut wajah menahan senyuman, karena perawat itu terlihat sebal melihatnya. "Kinan, ganggu banget sih! ini saya lagi nostalgia tau!" ketus Joni. "Lah Dok, inget udah punya pacar. Dokter Arumi sahabat pacar dokter juga,," sahut perawat yang Jeno panggil Kinan. "Loh?Jadi dia temen Chika," kata Joni dengan nada kaget. "Dokter kemana aja kok baru tau sih," ledek Kinan. "Berisik! Jangan banyak omong, katanya ada pasien yang butuh penanganan aku," ketus Joni "Gak ada padahal mah hahhaha," tukas Kinan sembari berlari, sebelum Joni mulai marah. "Kinan awas ya! aku kunci di ruang mayat tau rasa!" ancam Joni. Dia bahkan tidak sadar Arumi menertawakan tingkahnya dan Kinan. Yang seperti tom and jerry . ***** "Ehem!" "ALLAHU!" pekik Mara karena terkejut mendengar deheman keras. "Eh, maaf Dokter jadi kaget," tukas seorang Dokter laki-laki. "Dokter Vernon pasti cari Arumi ya?" tebak Mara. "Kok tau sih? ini udah malem, kok belum pulang ya?" tanya Vernon. "Ya mana saya tau Dok," jawab Mara dengan polosnya. "Kamu kan temen dekatnya masa gak tau," ujar Vernon. "Iya emang temen deket, tapi kan gak setiap detik saling tuker kabar Dok, chat aja sendiri atuh. Saya sudah di jemput sama calon suami saya," pungkas Mara sambil berpamitan dengan Vernon. * "Aku mau pulang," lirih Arya sedari saat dia tersadar dari tidurnya. "Kamu masih belum sembuh total Arya, mungkin dua hari lagi bisa pulang," jawab Farisa. "Arumi mana? Apa tdi aku mimpi?" tanya Arya, karena saat tadi dia tertidur, dia seperti merasakan keberadaan Arumi disekitarnya. Farisa menggelengkan kepalanya. Menyangkal bahwa yang tadi itu bukanlah mimpi belaka. Tapi, kenyataan. "Kok gak ada?" "Assalamualaikum ..." "Wa'alaikumussalam ... nah ini Arumi," kata Farisa pada anaknya. "Ada apa Bu?" "Tadi—" "Bunda!" gertak Arya seolah dia tak mau Farisa memberitahu bahwa Arya mencari-cari keberadaan Arumi. . . TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD