Hampir bunuh diri

3310 Words
"Aku gak mau lanjut cerita kalo kamu nangis gitu, kesannya kayak aku itu orang yang sangat menyedihkan," tutur Arya sembari menatap nanar Arumi. Dia ikut menyeka air matanya. "Oke, aku gak bakalan kebawa suasana lagi," ujar Arumi seperri mengatakan sebuah janji, sembari mengusap bekas air mata di kedua pipinya dengan kasar menggunakan kerudung yang dia kenakan. Setelah semua selesai diceritakan, Arumi jadi paham betul dimana letak masalahnya. Susah memang, karena yang membuatnya depresi seperti ini adalah kejadian traumatis. Arumi merasakan perbedaan yang sangat luar biasa saat mendengarkan cerita lewat Farisa dan mendengarkannya langsung dari Arya. Entahlah, Arumi merasa lebih tersentuh oleh versi Arya. Arumi berusaha menyemangati Arya melalui kata-kata yang dia ucapkan sebagai tanggapan dari cerita Arya tadi. Arumi melakukkan pengobatan dengan cara terapi, Arumi ingin melakukan pengobatan yang bisa dibilang sedikit berdeda dengan cara yang dipakai oleh psikiater kebanyakan. Karena, Arumi tahu betul seperti apa kebanyakan psikiater lain selain dirinya yang masih sering memberikan obat-obatan yang bisa membuat pasiennya menjadi ketergantungan sebagai pengobatan mereka. "Kenapa kamu penuh lebam dan bekas luka gini?" tanya Arumi yang perhatiannya kini terfokus pada kondisi tubuh Arya yang penuh dengan bekas luka. Bukan hanya bekas luka lebam saja, jika diteliti lagi tubuh Arya begitu kurus. Wajah tampannya pun tirus. Arya tersenyum miris setelah mendengar pertanyaan yang terlontar dari Arumi. Lalu, dia mengamati bekas lukanya di sekitar tubuhnya sendiri. Kemudian dia menatap lurus ke arah Arumi yang nampak menunggu perkataan yang akan keluar dari mulut Arya. "Mereka bilang aku gila, dan semuanya kayak gak mau kalo aku hidup. Aku ini seperti hantu bagi mereka. Hanya Arga yang mereka selalu banggakan dan sayangi," jawab Arya dengan senyum tipis. Sekelebat bayangan beberapa tahun silam muncul dibenak Arya. Arumi menggelengkan kepalanya. Tidak membenarkan apa yang baru saja terucap dari mulut Arya. "Kamu gak gila kok, aku yakin keluarga kamu gak gitu kok. Aku yakin banget kalo mereka sayang sama kamu juga. Buktinya, mereka mau kamu sembuh Arya," tukas Arumi, dia menyebut nama Arya. Arya celingak-celinguk seolah dia mendengar sesuatu. Dia bertingkah seperri orang yang ketakutan sambil menutupi kedua telinganya. "Gak! Arga aku minta maaf! Iya aku tau aku salah! Pergi dari sini! Aku mohon! Jangan ganggu!" ujar Arga yang sekarang menangkupkan kedua telapak tangannya dan bersujud di hadapan Arumi. Seolah-olah Arumi adalah Arga yang dia sebutkan barusan. Arya kembali mendongakkan kepalanya, dia merasa bahwa dirinya mendengar suara bisikan-bisikan aneh, yang selalu dia anggap itu adalah Arga. Melihat Arya yang seperti itu Arumi cukup terkejut. Dia membiarkan Arya menunjukan kebiasaannya jika sedang kambuh. "Iya hiks ... harusnya aku yang mati," kata Arya dengan wajah amat frustasi dengan air mata yang mengalir deras dari pelupuk matanya. Farisa yang melihat Arya seperti itu juga menjadi panik, dia takut Arumi jadi sasaran Arya saat sedang dalam fase begini. Arumi mencoba mendekati Arya, dia berusaha sebisa mungkin menenangkan Arya. "Kamu jangan ngomong gitu, jangan didengarkan Arya, itu bukan Arga. Itu syaitan, Arga sudah tenang di alam sana. Kamu gak boleh kayak gini, nanti kalo Arga tau, dia pasti sedih lihat kakaknya kayak gini," lirih Arumi yang berada cukup dekat dengan Arya. Arya tertegun, dia mendengar kalimat yang selalu diucapkan ibunya jika sedang dalam keadaan tidak terkontrol seperti ini. Arumi merupakan orang yang baru Arya temui, tapi dia merasakan bahwa Arumi sudah dikenalnya sejak lama. Selain itu, sifatnya yang lemah lembut mirip dengan Farisa–sang Ibu. "Hiks ... Aku gak pantes buat dikasihani, lebih baik aku menyusul Arga. Biar semuanya senang," racau Arya lagi. Arumi menggelengkan kepalanya, dia menahan sekuat mungkin untuk tidak menangis. Sungguh, Arumi seakan bisa merasakan sedih yang Arya alami. Bagaimana tidak? Seorang pemuda yang seharusnya sudah berkarir bahkan mungkin punya anak dan berkeluarga. Tapi ini? Dia malah harus menderita penyakit mental. Sebenarnya, penderita penyakit mental pun butuh perhatian lebih. Layaknya orang yang sakit fisik. Mereka juga membutuhkan dukungan lebih, terutama dari pihak keluarganya. Karena jika tidak ada dukungan atau bahkan perhatian, maka akan terus seperti itu tak ada perubahan. Yang ada si penderita akan semakin merasa bahwa dia tidak berguna dan diabaikan. "Kamu sebaiknya pergi! Aku gak butuh dikasihani!" Dalam sekejap Arya membentak pada Arumi yang kini berada tepat di hadapannya. "Gak kayak gitu Arya, aku gak datang bukan karena kasihan sama kamu, tapi aku peduli. Karena aku tau kamu pasti bisa sembuh," balas Arumi yang masih di hadapan Arya seolah menyakinkan pria malang itu dengan sebuah harapan yang dia tuturkan. "Bulshit! Pasti nanti ujung-ujungnya ngasih obat sialan itu kan?!" seru Arya dengan menatap tajam pada Arumi. Gelengan kepala Arumi yang berkali-kali pun tidak berpengaruh. Sebab Arya malah mendorongnya sampai jatuh ke lantai. "Aku U—aduhh!" rintih Arumi saat merasakan dirinya jatuh menimpa lantai. Dorongan Arya begitu keras. Padahal tadinya Arumi ingin mengatakan sesuatu. "Arya sayang! Kamu gak boleh gitu!" teriak Farisa yang cepat masuk ke dalam kamar Arya. Karena dia tidak bisa hanya diam saja menyaksikan Arumi diperlakukan seperti itu oleh Arya. Bagaimanapun juga Arumi adalah seorang psikiater yang sedang mengobati Arya. "Pergi kalian! Sebelum aku bertindak lebih kasar!" ancam Arya dengan emosi yang tak tertahankan. Farisa segera membantu Arumi untuk berdiri. "Iya, kita akan pergi," ujar Farisa, karena dia tahu betul apa yang akan terjadi jika tidak mendengarkan perkataan Arya yang penuh dengan emosi tadi. BRAK!! Pintu kamar Arya ditutup oleh si empunya dengan sangat keras. Arumi menatap nanar pintu itu. Entah kenapa dia merasakan khawatir akan Arya di dalam yang sendirian dengan keadaan emosi yang masih meluap-luap. "Arumi, maafkan anak Ibu ya, kamu jadi jatuh. Apa ada yang sakit?" kata Farisa dengan raut wajah khawatir. Gurat wajahnya jelas lebih menunjukan kekhawatiran yang lebih pada Arya. "Engga Bu, aku gak papa. Akulah yang harusnya minta maaf, karena sudah membuat Arya ngamuk. Apa Arya gak bakalan lakuin hal macam-macam di dalam kamarnya Bu?" Arumi berkata demikian dengan sedikit menyesal, jika saja tadi dia tidak memancing emosi Arya, pasti tidak akan terjadi hal semacam ini. "Kamu gak usah minta maaf. Emang udah biasa Arya sering ngamuk. Mending kamu sini ikut Ibu," kata Farisa yang menarik lembut tangan Arumi. Dan menuntunnya untuk mengikuti langkahnya ke kamar sebelah, yang juga tak kalah luas dari kamar Arya. Arumi tahu betul, dari banyaknya foto-foto Farisa dan Ardi, juga anak-anaknya. Sudah dipastikan ini kamar Farisa dan suaminya Ardi. Arumi menelaah sekeliling kamar. Banyak sekali kenangan yang tersimpan di dalam sini. Tapi matanya tertarik pada sebuah figura berukuran sedang, di dalamnya terdapat foto 4 orang anak-anak Farisa. 2 orang anak laki-laki dan 2 orang anak perempuan. "Arya pasti yang ini," tebak Arumi sambil menunjuk pada foto seorang anak yang ekspresi dalam foto itu sedang cemberut. Farisa menghampiri Arumi, dia tersenyum manis melihat foto di genggaman tangan Arumi. "Iyaa itu Arya, di samping kanannya Arga. Dan di belakang mereka itu kakak-kakaknya. Mereka berdua sekarang gak ada di Indonesia. Yang satu di Jepang, yang satunya di Malaysia," jelas Farisa seraya memandangi foto semasa kecil anak-anaknya. "Wah, ibu juga punya anak kembar perempuan? Apa mereka tahu kondisi Arya yang sekarang?" tanya Arumi dengan sedikit hati-hati. Dia takut salah bicara. "Tentu, mereka tau. Mereka sibuk dengan keluarga kecil mereka. Tak jarang mereka juga membantu biaya pengobatan Arya," jawab Farisa dengan tatapan sendu pada foto yang masih ada di tangan Arumi. "Nak Arumi gak bakalan mundur kan? Untuk bantu kami supaya Arya kembali normal? Ibu sebenernya udah mau nyerah sama kondisi Arya yang semakin parah. Ibu sampai pernah berpikir kalo Arya udah gak bisa sembuh," ujar Farisa dengan air muka yang sendu sambil menatap foto masa kecil Arya dan saudara-saudara yang baru saja kembali diletakkan di atas nakas oleh Arumi. Arumi memeluk Farisa seperti halnya memeluk Ibunya sendiri. Dia berusaha memberi kekuatan pada wanita paruh baya itu. "Gak ada penyakit yang tidak ada obatnya, jangan lelah berikhtiar dan berdo'a. Selalu ada jalan Bu, yakinlah pada pertolongan Allah, MasyaaAllah sekali Ibu selama ini sangat sabar menghadapi anak Ibu dan terus mendukung anak Ibu. Saya salut sama kegigihan dan usaha Ibu," ujar Arumi sambil menatap Farisa dan mengurai pelukannya. Dia menggenggam tangannya seolah berkata bahwa Farisa tidak berjuang sendirian. "Iyaa nak, makasih yaa udah mau bantu Arya. Oh iya, Ibu ajak kamu ke sini karena di sini kita bisa pantau Arya," papar Farisa sambil duduk di tepi ranjang. Sempat kaget dengan layar monitor komputer menampilkan Arya. Tapi– "ARYA!" teriak kedua wanita itu. Saat mata mereka melihat apa yang ada di layar televisi. Tanpa aba-aba mereka berlari menuju ke kamar Arya. Di sekeliling kamarnya berantakan seperti kapal pecah. Pecahan kaca berserakan di atas nampan yang berisi makanan untuk Arya tadi. Sepertinya sepeninggalan mereka saat Arya membanting keras pintu kamarnya agaknya dia berusaha mencari sesuatu dan melampiaskan amarahnya dengan meraih benda-benda yang ada di dekatnya. Arumi dan Farisa tidak bisa mendengarnya, sebab kata Ardi kamar Arya dibangun kedap suara sedari dia kecil. Makannya dari itu Farisa memasang cctv untuk mengawasi gerak-gerik Arya dan Arga dengan mudah. Apalagi sekarang Arya menderita penyakit mental yang lumayan berat. Mata Arumi tertuju pada lantai yang penuh obat-obatan yang berceceran di mana-mana. Arya juga tubuhnya sedang kejang-kejang dengan mulut yang mengeluarkan busa. Farisa menangis sembari menatap sendu putranya. Dari raut wajahnya, Arumi sudah hafal bahwa Farisa sangat terkejut dan khawatir dalam waktu yang bersamaan sampai-sampai dia hanya mematung di tempatnya sambil memandangi wajah putranya dengan penuh air mata. Melihat Farisa yang seperti itu, membuat Arumi berusaha agar tetap tenang. Meski sekarang badannya gemetaran. Tangannya merogoh ponsel yang ada di saku blazer yang dia kenakan. Saat ingin menelepon ambulance ponselnya malah terjatuh. Keadaab sekarang sedang darurat, Arumi tidak punya waktu dan dia juga tidak akan tinggal diam. Akhirnya Arumi memutuskan sesuatu diluar dugaan, dia membawa Arya ke dalam pangkuannya, Farisa mulai melemas di tempatnya dia terjatuh dilantai. Sampai akhirnya Farisa juga ikut tak sadarkan diri. 'Ya Allah, jangan sampai dia meninggal dalam keadaan yang seperti ini.' -Arumi bergelut dengan hatinya sendiri. Sambil tergopoh-gopoh membawa tubuh kurus Arya yang sedang dalam kondisi antara hidup dan mati. Mata Arumi basah dan sembab, sebelah tangannya bersusah payah meraih gerbang rumah Arya untuk dibuka. Akan lama jika dia menelpon ambulance. 'Ya Allah selamatkan salah satu hambamu ini' -jerit Arumi dalam hatinya. Dia berdoa untuk Arya. Entah kenapa Arumi harus merasakan sedih yang amat dalam tatkala melihat Arya yang seperti ini. Gerbang berhasil ia buka. Dengan cepat dan hati-hati, Arumi meletakkan Arya di kursi belakang. Setelah selesai dia melakukan mobilnya dengan kecepatan di atas balas rata-rata sambil membelah jalanan kota yang cukup sepi di siang hari. Sungguh Arumi masih merasa terpukul, bagaimana tidak? Dia menyaksikan secara tidak langsung percobaan bunuh diri pasiennya. Masli memang bukan pertama kalinya, tapi dia merasakan seakan ada perasaan yang berbeda saat melihat Arya. Namun, Arumi tak tahu perasaan apa itu. Setibanya di rumah sakit, Arya langsung ditangani di ruang IGD. Arumi menunggu dengan cemas dibalik tirai yang terpasang di IGD. Sembari menunggu Arya selesai ditangani, Arumi menghubungi Ardi, Ayah Arya. Memberitahukan apa yang telah terjadi pada anak dan istrinya. Beberapa menit kemudian, tidaknya terbuka dan beberapa perawat dan dokter yang menangani Arya mendorong ranjang Arya. Arumi melihat jelas Arya sudah dipasang alat medis rumah sakit. Arumi mengikuti kemana mereka akan pergi membawa Arya. Dan mereka ternyata berhenti di depan ruang ICU. 'Separah itukah? Ya Allah akankah nyawanya tertolong,' –gumam Arumi dalam hatinya. "Karena kondisi pasien yang krisis, jadi kami putuskan untuk menanganinya di ruang ICU. Anda tunggu saja di luar," kata salah seorang perawat pada Arumi. Melihat pintu ruang ICU tertutup, tubuh Arumi melemas, dia kembali menangis. Arumi tidak bisa membayangkan jika itu menimpa adiknya. Dan lagi, Arumi tidak ingin kejadian di masa yang lalu kembali terulang. Sejujurnya Arumi ingat siapa Arya sekarang, bayangan saat masa SMA sekelebat melintas di kepalanya. Arumi semakin merasakan sesak di dadanya tatkala ia mulai ingat semuanya. Arumi hampir saja ketiduran karena menunggu pintu ruangan ICU terbuka. Tapi akhirnya setelah beberapa waktu ia menunggu, pintu itu terbuka dan menampakkan wajah seorang dokter yang dipenuhi peluh tersenyum padanya. "Keluarga pasien?" tanyanya. Lantas Arumi langsung berdiri, karena hanya dia yang ada di rumah sakit sekarang. Keluarga Arya belum tiba di rumah sakit. Dan lagi, Arya adalah pasiennya juga. "A–ah iya Dok, bagaimana kondisinya?" tanya Arumi. Sedangkan, dirinya sendiri juga seorang dokter. Dokter itu terperangah, melihat Arumi. Agaknya dia terkejut melihat keberadaan Arumi. Tingkahnya seakan-akan mengisyaratkan bahwa dia mengenali sosok Arumi. "Untungnya dia cepat dibawa ke rumah sakit, karena jika terlambat, maka nyawanya sudah tidak bisa terselamatkan. Apakah dia suamimu? Bukankah kamu Arumi Raihana Syafiqa?" Arumi lebih terkejut lagi saat Dokter tampan di hadapannya tahu nama lengkapnya. 'Eh— kok bisa tau nama lengkap aku? Sebenarnya siapa sih Dokter ini?'- Arumi bermonolog dalam hati. "Syukurlah kalo begitu. D–dia bukan suami saya. Dia sodara, iya sodara saya. Ngomong kenapa anda bisa tau nama saya?" tanya Arumi dengan mata yang penuh selidik. "Oh, saudara. Ah—" belum selesai Dokter itu menjelaskan alasannya, ucapannya harus terpotong oleh teriakan yang tidak familiar di telinga Arumi. "Arumi!" panggil seseorang dengan suara yang lantang, seakan lupa bahwa dia sedang berada di lingkungan rumah sakit. Arumi menoleh ke arah sumber suara. Ternyata, itu Farisa, Ibundanya Arya. "Bagaimana kondisi Arya?" tanyanya saat sudah ada di hadapan Arumi. Di ikuti oleh Ardi yang ada di belakang Farisa. "Saya akan menjelaskannya di ruangan saya nanti. Mari salah satu dari wali pasien ikut ke ruangan saya. Biar saya jelaskan detail kondisinya," jawab Dokter tampan itu. Padahal tadi Farisa bertanya pada Arumi. Farisa dan Ardi membisikan sesuatu berdua. Lalu, setelahnya, Ardi mengikuti Dokter tadi. Sedangkan Farisa bersama Arumi. "Pasien, mengalami over dosis. Untungnya cepat di bawa ke rumah sakit. Oh iya, pasien harus menjalani perawatan intensif selama beberapa hari, sampai kondisinya pulih. Pasien juga, sepertinya mengalami dehidrasi yang cukup parah. Dan lambung nya sedikit bermasalah. Nanti, silahkan salah seorang keluarga pasien datang ke bagian pendaftaran, untuk mendaftar, sekalian menanyakan nomor kamarnya. Mari, ikuti saya," kata Dokter yang menangani Arya pada Ardi saat sudah tiba di ruangannya. GREP! Farisa memeluk Arumi dengan sangat erat. "Terima kasih banyak ya Arumi. Ibu banyak menyusahkan kamu. Kalau tadi tidak ada Arumi, Ibu gak tau lagi Arya bakalan gimana sekarang," lirih Farisa dalam pelukan Arumi. Lama kelamaan Arumi merasakan kerudung warna hijau muda yang dia kenakan basah. Mungkin Farisa menangis sambil memeluknya. "Ibu gak perlu berterima kasih sama saya. Malahan saya merasa bersalah atas kejadian ini. Jika saja saya tidak membicarakan tentang masa lalu Arya maka hal ini tidak akan terjadi. Ibu juga jangan bilang begitu, kita sebagai insan manusia sudah seharusnya saling tolong menolong. Dan, ini memang sudah jadi tugas saya sebagai tenaga medis untuk menolong pasiennya," jawab Arumi seraya mengurai pelukannya, sambil tersenyum manis pada Farisa. Mendengar kalimat menangkan dari Arumi, Farisa semakin merasa kagum akan sosok wanita muda di hadapannya sekarang. "Ya Allah, pasti beruntung sekali nanti yang akan jadi suami kamu," kata Farisa dengan tulus. "Ibu bisa saja. Saya mah cuman manusia biasa yang penuh dengan kekurangan. Padahal ibu sendiri lebih luar biasa dari saya," balas Arumi. Dia pun mengagumi Farisa yang tidak menyerah dalam menghadapi penyakit mental anaknya yang semakin menjadi lumayan parah. Dia juga terlihat tegar dan begitu penyabar. Mungkin jika orang lain ada di posisi Farisa dia sudah menyerah duluan apalagi melihat mentalnya Arya yang semakin memburuk di tambah lagi tidak mudah udah untuk mengurus Arya yang kondisi mentalnya yang notabenenya tidak normal lagi. **** "Kamu pasti belum makan siang kan? Kamu udah salat juga?" tanya Farisa dengan nada khawatir. "Ah iya Bu, terima kasih sudah mengingatkan. Saya sedang datang bulan. Kalau begitu saya izin untuk pergi makan siang," ujar Arumi dengan sopan. Lalu dia berjalan ke sekitaran rumah sakit untuk mencari di mana letak kantinnya. Arumi melihat-lihat sekitaran rumah sakit, dan dia baru sadar ternyata ini tempat kerja sahabatnya. Dan yang tadi menangani Arya adalah kekasih dari sahabatnya. Dia juga satu kampus dengan Arumi. Pantas saja tadi hafal nama lengkapnya Arumi. Saat memasuki area kantin, Arumi melihat keberadaan dua sahabatnya yang sedang melambaikan tangan ke arahnya. Arumi pun mulai bergabungdengan mereka. "Tumben lo ke sini? Mau bicarain tentang reuni kita? Atau lagi senggang aja terus mampir ke sini?" cerocos salah satu sahabat Chika yang mengenakan kerudung pashmina berwarna abu muda. Arumi merasa diingatkan, kemarin dia sempat bertukar pesan dengan sahabatnya yang membahas tentang reunian mereka. "Aku di sini lagi nyari makanan buat ganjel laper. Boro-boro senggang Ka, sekarang aja aku ada di sini karena pasien aku harus masuk ICU," jawab Arumi dengan jujur apa adanya. "Tuh kan kata aku juga apa Ka, Arumi mah paling sibuk diantara kita," ujar salah satu sahabatnya yang memakai kerudung warna lavender sembari memainkan sedotan minumannya. "Kebetulan aja kok aku lagi ada pasien, soal reuni nanti kalo aku senggang aku kasih tau kalian lagi deh," timpal Arumi lagi. "Rumi tau gak?" "Tau apa Del?" tanya Arumi pada sahabatnya yang bernama Della yang mengenakan kerudung warna lavender. "Si Chika gak bilang-bilang kalo dia udah jadian lama sama Jeno," kata-kata seperti seorang anak yang sedang mengadu pada Ibunya. "Aku udah mau bilang ya cuman kamunya yang terlalu sibuk buat dengerin penjelasan dari Aku sama Chika," ucap Jeno yang entah datang dari mana. Dia adalah Dokter yang menangani Arya tadi. "Ah kalian mah, tau aku lagi kesel juga sama wali pasien," keluh Della. "Kenapa emang?" tanya Arumi penasaran. "Kayaknya dia suka deh hihi. Soalnya wali pasiennya tuh kayak papa muda gitu lah keren katanya." Yang menjawab malah Chika. Lalu dia di sikut oleh Jeno. Arumi merindukan momen kebersamaan seperri ini. Sayangnya, mereka bisa bertemu lagi karena sebuah insiden yang malang menimpa pasien Arumi hari ini. Arumi tidak tahu harus senang atau kah dia sedih. ***** Arumi pulang dan rupanya Arya masih belum sadarkan diri. Waktu pun sudah mulai petang, dia harus kembali ke klinik di mana dia bekerja. Untuk mengambil tasnya, dan bergegas pulang. Kali ini, Arumi mengemudikan mobilnya dengan tenang, tidak seperti beberapa waktu lalu. Arumi melihat masih ada salah seorang pegawai di bagian resepsionis yang sedang merapikan barangnya untuk bersiap-siap pulang. "Eh Ibu, baru pulang? Kenapa gak dibawa ke sini aja sekalian pasiennya?" celetuk seorang reresepsionis cantik yang memakai kerudung warna coklat s**u. Dia merupakan salah satu pegawai Arumi di klinik ini, yang juga cukup dekat dengan Arumi. "Pasiennya kali ini beda Qis," jawab Arumi sambil berjalan menuju ke arah di mana ruangannya berada. "Beda gimana Bu? Rada gila gitu? Ibu pasti capek ya berurusan sama orang kek gitu terus? Oh, aku tau! Jangan-jangan pasiennya ganteng ya makannya Ibu gak bawa ke sini," terka Balqis dengan wajah yang menggoda Arumi. Jika mengenai hal-hal yang berbau ketampanan seorang pria, Balqis memang paling terdepan. "Aku gak bisa jelasin maag, tapi pasien aku gak gila juga. Yaa kalo dibilang capek ya aku capek, tapi beda lagi kalo kamu lakuin pekerjaan kamu dengan ikhlas, terus kamu lakuin karena niat menolong orang, dan gak dianggap sebagai beban, ya gak akan capek. Emang kenapa si? Penasaran banget sama pasien aku kali ini," papar Arumi. "Ya maaf Bu, aku cuman bercanda aja. Siapa tau kan pasiennya ganteng dan Ibu kepincut," ujar Balqis lagi yang semakin melantur. "Kamu ngomongnya makin ngaco ya Qis. Udah ah, aku mau siap-siap buat pulang, kamu juga cepat pulang sana," imbuh Arumi. "Pulangnya sendiri?" tanya seseorang dengan suara berat khas laki-laki. "Ya sendiri. Eh? Rasyid? Ngapain kamu ke klinik? Mau konsultasi juga sama Kakak?" balas Arumi sebelum masuk ke dalam ruangannya. Yang dipanggil Rasyid pun mengikutinya masuk ke dalam ruangannya. "Tadi aku sama temen-temen aku main ke daerah yang deket sini. Kebetulan aku gak bawa motor atau mobil. Terus gak sengaja lewat depan klinik Kakak dan lihat ada mobil Kakak," ujar laki-laki yang memanggil Arumi dengan embel-embel 'kakak' barusan. "Ayo kalo gitu kita pulang," ajak Arumi yang sudah merapikan barang-barang dan menyampirkan tote bag dibagi kanannya. "Kak, resepsionis tadi kayaknya suka sama aku deh," gumam Rasyid dengan kepercayaan diri yang tinggi. "Pede banget ya kamu, dia masih kuliah tau. Dia kerja di sini itu sambil kuliah," jelas Arumi. "Wah gitu ya." . . TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD