Satu bulan sudah berlalu. Namun tanda-tanda kehamilan Zahra tak kunjung hadir. Hal itu membuat Raynand kecewa. Sungguh dia merasa dunia begitu tak adil. Mengapa ketika dulu melakukannya sekali dengan Zahra, Rayza segera hadir. Tapi sekarang, disaat sudah menggenggam status halal, begitu sulit mendapatkan keturunan. Zahra menatap sedih ke arah Raynand yang berdiri di balkon kamarnya. Dari wajah suaminya, Zahra yakin Raynand sedang memikirkan hal berat. "Assalamualaikum, Mas. Nih teh hangat," ucap Zahra menyodorkan secangkir teh hangat untuk Raynand. Menatap teh hangat buatan istrinya, Raynand pun tersenyum dan meraih cangkir itu. Kemudian menyesap hangatnya teh yang mengalir di tenggorokan. Sungguh nikmat, secangkir teh hangat menemani pagi harinya. Terlebih lagi, teh itu buatan istri t

