Awal pertemuan

1487 Words

Lantunan ayat suci dikumandangkan dengan begitu merdu. Lantunan itu terasa seperti belaian angin teduh yang menyejukkan hati. Para peserta majelis taklim yang diikuti oleh sebagian besar kaum remaja itu menatap takjub kepada wanita yang sedang melantunkan ayat-ayat cinta Allah itu dengan begitu indah.

Semua orang yang terdiri dari remaja muslimah seolah terhipnotis oleh suara seorang wanita. Begitu merdu dan menentramkan hati. Wanita cantik berbalut pakaian muslimah itu memang terbiasa memulai tausiyahnya dengan membaca ayat suci terlebih dahulu. Tentunya ayat suci tersebut adalah ayat yang berhubungan dengan tema tausiyahnya kali ini.

Zahrani...

Gadis cantik nan sholehah yang sedang mengumandangkan ayat-ayat cinta Allah itu memang cantik dan mengagumkan. Padahal kebanyakan wanita cantik akan memamerkan kecantikannya, tapi Zahra tidak. Hal itulah yang membuatnya memiliki banyak penggemar di kalangan gadis muslimah di wilayah Bogor.

"Sebagian besar wanita lebih memilih untuk tetap menampilkan auratnya, dengan alasan belum siap, mau memperbaiki akhlak terlebih dahulu, takut tidak modis dan lainnya," ucap Zahra memulai tausiyahnya.

"Padahal berhijab merupakan cara Islam memuliakan wanita. Dimana Islam memberikan batasan agar pria tidak sembarangan menatap wanita," lanjutnya bicara dengan senyum yang menawan dari bibir tipis cantik alami miliknya.

"Jika mereka beralasan karena saya ingin memperbaiki akhlak terlebih dahulu... Itu salah... Justru dengan berhijab maka kita akan malu dengan penampilan kita, dan Ini akan menjadi rem dalam menjaga akhlakul karimah."

"Lalu bagaimana jika alasannya karena pakai hijab tidak modis? Saya himbau kepada para remaja putri yang Insya Allah sholehah semua. Aamiin... Saya ingatkan kembali janganlah bangga dengan kecantikan, karena kecantikan merupakan fitnah dunia. Kecantikan akan mengantar kita ke neraka jika kita terlalu membanggakan nya hingga kita menjadi pribadi yang sombong dan suka merendahkan orang lain."

"Segala kebaikan di dunia ini adalah milik Allah SWT. Jika Allah berkehendak Allah akan mengambil kecantikan itu dengan cara apapun yang Allah kehendaki... Nauzubillah himinzalik."

Gadis muslimah bernama Zahra yang baru saja pulang seminggu yang lalu setelah menempuh pendidikan beasiswa nya di Kairo itu sedang berbagi ilmu yang dia miliki.

Inilah dakwah pertamanya setelah kembali dari wilayah timur tengah. Gadis itu pandai membawakan dakwahnya, hingga hampir semua remaja di wilayah Rancamaya Bogor mulai berhijab. Zahra menjadi publik figur yang membawa nilai positif di lingkungannya.

Dia mengajarkan wanita cantik bukan dipoles dengan make up, tapi di poles dengan iman dan taqwa hingga semua orang disekitarnya merasa nyaman akan kehadirannya. Wanita yang anggun bukan wanita yang modis dengan fashion terkini. Tapi dengan pakaian yang menutup auratnya, hingga semua yang melihat akan segan dan menghormati nya sebagai muslimah sejati.

Wajah wanita akan semakin ayu bukan karena perawatan skin care dari dokter kecantikan ternama.

Tapi wanita akan semakin ayu jika selalu menghapus dosa dengan siraman wudhu yang memberi pelembab alami pada wajahnya.

Itulah yang selalu diucapkan Zahra di setiap kesempatan. Hingga seorang pria kota tak mampu melarikan diri dari pesona Zahra. Lalu menemui wanita cantik tersebut. Wanita dengan wajah berseri alami. Tanpa polesan bedak maupun lipstik seperti kebanyakan wanita jaman sekarang. Senyum wanita itu tak pernah pudar. Seolah dia tak pernah dirundung masalah dalam kehidupannya.

"Assalamualaikum, Ustadzah Zahra."

"Waalaikum salam, Akhi." Zahra menundukkan wajahnya.

(Akhi merupakan panggilan untuk seorang Pria dalam bahasa Arab.)

Gadis itu tak terbiasa berhadapan dengan lawan jenis. Bahkan rasa takutnya akan zinah pandangan membuatnya terus menunduk. Walau sekilas, tapi efek berpandangan itu mampu membuat jantung Zahra bergetar hebat. Bahkan Zahra bisa merasakan pasokan oksigen di paru-parunya menipis karena terlalu berdebar hanya dengan menatap wajah tampan rupawan sang pria.

Sungguh pria di hadapannya begitu sempurna. Seolah Allah menciptakannya dengan penuh kebahagiaan. Fitur wajah pria itu berahang kokoh dengan bulu halus di bagian dagunya. Berkulit putih dan bibir semerah cherry. Kelas sekali pria ini bukan seorang perokok.

Tampan...

Itulah yang akan ada di pikiran kaum hawa saat melihatnya, termasuk Zahra.

Pria berbaju koko putih dan celana sarung hitam bersalur itu menyapanya yang diam membisu seperti patung. Bahkan dalam posisi yang setia menundukkan wajah.

"Alhamdulillah, akhirnya saya memiliki kesempatan untuk berbincang dengan Ustadzah. Sebenarnya saya ingin mengenal ustadzah lebih jauh. Apakah Ustadzah bersedia?"

"Alhamdulillah... Jika Akhi ingin mengenal saya lebih jauh. Silahkan datang ke alamat ini dan bicaralah dengan Abi dan Ummi saya, karena sesungguhnya wanita yang belum menikah itu masih dalam tanggung jawab abinya," ucap Zahra lembut.

Gadis itu pun memberikan sebuah kartu nama miliknya. Di sanalah alamat rumah nya tertera.

"Alhamdulillah... Terima kasih Ustadzah," ucap pria tadi sambil menerima kartu nama tersebut.

"Owh ya perkenalkan nama saya Muhammad Akmal Sulaiman, panggil saya Akmal... Insya Allah saya akan datang menemui Abi dan Ummi Ustadzah." Sang pria memperkenalkan diri bernama Akmal dengan senyum merekah. Hal itu refleks membuat Zahra membalas senyuman itu dengan jantung yang bermaraton. Lagi-lagi Zahra kembali menundukkan wajahnya.

Ini adalah pengalaman pertamanya. Berbincang dengan seorang pria. Jujur saja selama ini dia selalu menjaga jarak dengan lawan jenis. Dia begitu menjaga dirinya dari perbuatan keji yang sangat dibenci Allah.

Lalu mengapa hari ini dia tidak menjaga jarak?

Bukannya tidak menjaga jarak, tetapi memberi kesempatan kepada seorang Pria yang memiliki niat baik padanya. Sejak dulu abinya selalu berpesan.

"Silakan seorang wanita berbincang dengan lawan jenis nya, namun hanya dalam batasan halal." Itulah nasihat yang selalu dia ingat sepanjang hidupnya.

"Tidak dengan ungkapan mesra dan panggilan sayang sebelum dihalalkan pria tersebut. Karena panggilan tersebut merupakan bagian dari zinah perbuatan. Dan Allah sangat membenci seseorang yang mendekati zinah. Dan tetaplah menjaga pandangan nya. Karena untuk pertama kali sebelum kedipan yang pertama merupakan anugrah Allah SWT. Namun yang berikutnya akan menjadi zinah pandangan." Sungguh inilah kalimat pamungkas sang Abi yang mampu membuat Zahra menjaga dirinya.

Itulah awal pertemuan Zahra dengan seorang pria yang mampu membuat hatinya bergetar. Sungguh sejak saat itu Zahra sulit lepas dari bayang-bayang keindahan maha karya Allah yang luar biasa.

“Perkenalkan nama saya Muhammad Akmal Sulaiman.. Insya Allah saya akan datang menemui Abi dan Ummi Ustadzah"

Ucapan lembut pria itu selalu terngiang di telinga Zahra. Bagaikan nyanyian merdu pengantar tidur yang membuat hati terasa tenang.

"Apakah Jodoh ku sudah didekatkan Allah? Ya Allah mudahkanlah segala urusan hamba Mu ini," ucap Zahra berdoa dalam hati.

Hari ini, pria tersebut benar-benar menepati janjinya untuk menemui Abi dan Ummi Zahra.

"Inikah rasanya jatuh cinta? Kenapa hati ini sangat berdebar hanya dengan mendengar suaranya dari kejauhan." Batin Zahra terus berbicara. Sungguh jantungnya terus berdebar tak bersahabat. Tanpa disadari wajah Zahra memerah. Membuat wajah ayunya semakin menawan.

Zahra mendengarkan perbincangan sang Abi bersama Pria yang mengenalkan dirinya bernama Akmal. Dari dapur yang sejajar dengan ruang tamu, Zahra bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka.

"Perkenalkan nama saya Muhammad Akmal Sulaiman. Abi dan Ummi bisa memanggil saya cukup dengan Akmal saja," ucap Akmal memperkenalkan dirinya.

"Baik Nak Akmal, Apakah ada hal yang mengantar nak Akmal hingga bersilaturahmi ke pesantren ini," ucap Abi menerima kedatangan Akmal dengan sangat hangat.

"Sebenarnya niat saya datang menemui Abi, selain untuk bersilaturahmi adalah untuk menyampaikan keinginan saya mengenal lebih jauh putri Abi yang bernama Zahra, besar harapan saya agar Abi mau memberikan restu kepada saya," ucap Akmal menyatakan maksud kedatangannya.

"Alhamdulillah... Sesungguhnya niat baik memang harus disambut dengan baik pula. Jika memang nak Akmal ingin mengenal lebih jauh putri saya, nak Akmal bisa bertanya pada saya. Apapun akan saya jawab sifat baik maupun sifat buruk nya. Maaf saya tidak bisa menyetujui jika keinginan nak Akmal berinteraksi secara langsung. Karena saya akan membebaskan nak Akmal dengan putri saya, hanya jika kalian sudah menikah," ucap Abi kepada pria yang datang membawa niat baik untuk putrinya.

"Alhamdulillah.. Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT karena telah membuka hati abi dan ummi menerima saya dengan hati lapang."

"Alhamdulillah... Silahkan di coba jamuannya. Maaf jika kurang berkenan." Ucap Ummi pada Akmal.

"Terima kasih Ummi. Saya sangat bersyukur bisa diterima di sini dengan hangat." Sungguh Akmal merasa bahagia karena niat baiknya disambut dengan baik pula.

"Alhamdulillah," ucap Abi dan Ummi sebagai tanggapan.

"Ummi tolong panggilkan Zahra." Abi pun meminta tolong kepada istrinya untuk memanggil Zahra.

"Baik Abi," ucap Umi segera pergi ke arah dapur untuk memanggil putrinya.

Jantung Zahra semakin bermaraton saat endengar sang Abi meminta tolong memanggil dirinya. Rasanya ingin sekali Zahra meloncat kegirangan, karena akhirnya bisa kembali bertemu dengan pria yang sudah menawan hatinya.

"Ya ALLAH... Aku bertemu lagi dengan nya. Ya ALLAH... deg degan banget rasanya," ucap Zahra mengusap dadanya yang berdebar hebat.

"Assalamualaikum Nak... Ayo kita menemui Abi dan tamunya," ajak Ummi saat memanggil Zahra. Zahra pun segera menoleh ke sumber suara lalu mengikuti langkah umminya.

"Bismillahirrohmanirrohiim, Ya Allah..."

Zahra membatin sambil mengatur nafas agar jantungnya tidak terlalu berdebar. Sungguh baru kali ini Zahra merasa sulit mengendalikan perasaannya.

"Assalamualaikum," ucap Zahra saat tiba di ruang tamu. Masih dalam posisi menundukkan wajahnya. Akmal menatap wajah cantik Zahra yang bersemu merah. Membuat jantung Akmal pun tak kalah berdebar. Hal itu membuat hati seorang Akmal semakin ingin menghalalkan gadis ini.

Inilah awal mula Zahra memulai Ta'aruf dengan seorang Pria. Perjalanan hati yang membuatnya yakin akan ketetapan Tuhan untuknya. Sungguh Zahra amat bersyukur jika memang pria itu yang akan menjadi imam di kehidupannya nanti. Bahkan dipertemukan pertama mereka, Zahra sudah meyakini bahwa hatinya terpikat pada sosok rupawan, maha karya Allah.

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd