Lena melamun menatap rumah bercat monokrom yang membuatnya nyaman entah kenapa. Bukan warna hijau tosca yang memutarkan kenangan tentangnya dengan Hatta. Tapi kali ini berbeda. Lena menahan senyumnya saat dia menunduk. Tidak mampu menahan diri dengan ekspresi wajahnya yang memburam dan suntuk. Ada raut lelah yang amat sangat di wajah manisnya ketika Lena kembali mengangkat kepalanya, menatap rumah yang temaram. Tidak lama pintu itu terbuka, Lena tersentak saat Advan keluar dengan seplastik sampah dan masker di wajahnya. Lena mengulum senyum ketika Advan menatap ke arahnya setelah dia membuang sampah dan berjalan ke luar rumah. "Lena?" Dia menyapa ramah. Saat Advan membuka masker dan tampak pangkal hidungnya memerah, Lena tersenyum. "Apa kau flu?" Advan menatapnya sekilas, kemudian men

