"Cukup sampai di sini."
Mobil hitam mewah itu berhenti di pintu masuk sebuah gang kecil di mana gang itu mengarah menuju pemukiman penduduk yang memilih untuk tinggal sedikit jauh dari keramaian kota.
Lena membuka sabuk pengamannya. Dia melirik Advan datar. "Terima kasih," katanya pelan. Menghela napas panjang dan membuka pintu.
Advan tidak berkata apa-apa selain mematung dan diam. Tangannya berpegangan pada setir mobil dan tatapannya terpaku pada dashboard yang bersih dari hiasan-hiasan dalam mobil selain pewangi ruangan.
Manik hitamnya memutar. Melihat punggung yang bergetar rapuh itu berjalan menjauhinya dalam langkah cepat karena badai.
Pikiran Advan berkecamuk. Dia tidak bisa fokus mengemudi barang sedikit saja karena kemungkinan demi kemungkinan ada di dalam kepalanya seperti jamur yang menempel pada batang pohon besar.
Advan tidak pernah mengambil resiko yang berakibat fatal dan merusak dirinya. Begitu pula dirinya di balik meja. Dia bekerja untuk kemakmuran orang banyak meskipun dengan cara menghancurkan orang lain.
Apa dia akan melakukan hal yang sama?
Jika Lena orang yang kuat dan tangguh, dia akan menerjang seperti ombak pasang di lautan yang menghantam karang.
Tetapi Advan melihat Lena dari sisi seorang wanita rapuh karena masa lalu dan cinta. Tangan Advan terkepal. Lena seperti ingin lepas dari belenggu rasa sakit yang memeluknya karena masa lalu. Dan sayangnya, dia tidak bisa melihat apa yang membuat Lena terluka sedalam ini.
Advan menggeram. Tangannya mengepal kuat hingga buku-bukunya memutih. Apa Advan sejahat ini ingin menghancurkan hidup orang lain asalkan cintanya tidak terluka?
Mengorbankan Tanaka Lena untuk Itoo Nalaya yang bahkan tidak lagi melihatnya?
Mata Advan mengerjap. Hujan mulai datang menutupi jendela depan mobilnya yang basah. Dia menunduk, mengusap rambutnya yang berantakan dan berlalu pergi menjauh dari sana.
***
Lena ingat, dulu sekali, ketika dia kesepian dan selalu mengasingkan diri, sang nenek selalu ada untuknya. Lena ingat, segelas teh hangat dan camilan kering menemani mereka di atas meja sembari berbincang tentang mimpi dan dunia dalam pandangan mereka masing-masing.
Sang nenek akan bercerita tentang pengalaman hidupnya dan Lena akan bercerita tentang mimpi dan bagaimana harinya berjalan dalam kekosongan.
Lena tidak pernah merasa hidup ketika dia dibuang sejak umurnya sepuluh tahun. Ibunya tidak membuang dirinya ke tempat sampah atau panti penitipan anak-anak karena kesulitan ekonomi.
Siapa yang tidak kenal Tanaka Maeda dan Tanaka Sara? Semua orang tahu nama besar dari pendiri Tanaka's Golding. Raksaka komunikasi terbesar di Jepang ada di bawah kuasa kedua pasangan suami istri itu.
Lena hidup tanpa nama belakang mereka yang besar. Dirinya adalah aib karena hasil dari hubungan terlarang sebelum menikah. Sang nenek, ibu dari ayahnya yang memutuskan untuk mengasuh Lena daripada dia dibuang ke panti penitipan anak untuk diurus orang lain.
Lena pernah mengenal orang tuanya. Seperti jarak yang membentang di antara mereka cukup panjang, Lena tidak mau tahu lagi tentang mereka. Dia berhenti untuk berharap pada mereka yang menorehkan luka hingga ketakutan di benak Lena sejak dia dibuang dari kehidupan mereka.
Sang nenek selalu bilang, "berlarilah dari awan mendung yang menggayuti atas kepalamu. Kejarlah awan putih di sana, yang berhenti menunggumu untuk datang."
Titik-titik embun terbentuk dari jendela kamar sempit milik Lena yang sepi. Lampu tidur yang temaram membuatnya tenang. Seakan hanya ini satu-satunya tempat untuk pulang dan melepas lelah. Lena tidak pernah pantas di tempat mana pun selain rumah mungilnya yang manis.
Neneknya mencintai keindahan dan kerapian. Lena menuruni kecintaan itu dengan membuat rumah kayu ini hidup dan indah. Dia rajin membersihkan daun yang gugur, memotong rumput liar dan menyiram tanaman. Lena bersyukur, sang nenek menuruni bakatnya dalam hal bersih-bersih rumah.
Jemarinya terulur untuk membentuk pola gambar abstrak. Seakan dia menggambarkan suasana hatinya saat ini, Lena berusaha melupakan segala yang memberatkan pundaknya untuk lebih lepas dan hidup. Dia tidak ingin bayang-bayang akan Hatta selalu memeluknya.
Air matanya menetes. Lena benci ketika dia menangis. Orang-orang selalu bilang kalau menangis untuk mereka yang lemah dan tidak berdaya. Lena tidak tahu kenapa menangis sudah menjadi bagian hidupnya untuk menghapus sedikit beban yang mengganjal seperti batu dalam hatinya.
Helaan napasnya memberat. Lena tahu Hatta sudah mendapati kebahagiaannya yang baru. Ame. Lena tidak tahu apa hubungan Ame dengan Advan dan Nalaya selain teman kuliah dulu, jika ada hubungan pelik di antara mereka bisa membuat Nalaya terluka, Lena tidak akan membiarkannya.
Lena tidak tahu apakah Hatta bahagia sekarang dengan kekasih barunya. Dia tidak mau menebak-nebak dan mencari tahu. Meski dia sedang berusaha untuk melihat masa depan dan melangkah maju lepas dari bayang-bayang pria itu, tapi tetap saja; menyakitkan.
Hatta selalu ada di dalam kepalanya. Senyum yang menyelamatkan Lena dari kegelapan yang terus membuat dirinya kembali tenggelam dalam kubangan luka tak berdasar. Lena takut, dia terus terpesona hingga akhirnya dia tidak mampu menyelamatkan diri dan berakhir menderita selama hidupnya.
Mau bagaimana pun, Lena tidak akan menampik kalau pemilik hatinya adalah dia, Katoo Hatta. Cintanya. Cinta pertama yang berakhir kandas dalam surat perjanjian perceraian.
Satu tahun yang lalu.
Lena tidak tahu kapan dia mulai menangis terisak-isak dan menjerit. Berharap bebannya lepas sekali saja dan dia merasa bebas.
Sebebas-bebasnya.
***
"Lena, berapa banyak kain yang sudah kau jahit?"
Lena menaruh tasnya dalam laci dan menghitung dalam hati. "Sepuluh kain selama tiga hari. Ada apa?"
Nalaya tersenyum lebar. "Bagus. Untuk cadangan kalau kita kekurangan bahan," Nalaya menepuk bahunya dan melompat ke sofa.
Lena menggelengkan pelan kepalanya. Tertawa kecil saat dia duduk di samping Nalaya dengan bungkusan pangsit rebus di meja yang masih panas.
"Kesukaanmu," Lena mengedipkan matanya dan Nalaya memekik gembira.
"Terima kasih," Nalaya memakan pangsit itu dengan mata berbinar. "Ini masih tempat yang sama ketika kita sekolah dulu?"
Lena menoleh dengan kening mengernyit. "Sedikit bergeser dari tempat sebelumnya," dia memilih bahan baju dan membawanya ke meja jahit. "Di mana Haruka dan Mara? Sudah jam setengah delapan."
Nalaya menggeleng dengan mulut penuh pangsit. "Haruka akan datang terlambat karena pergi ke rumah bibinya. Mara mengambil libur untuk periksa kesehatan."
Lena mengangguk dalam diam. Deru suara mesin jahit terdengar nyaring di dalam butik yang sepi.
"Lena,"
Lena melirik Nalaya yang sibuk menggambar. "Ame kemari?"
Lena berdeham. Dia mengangkat kepalanya dari bahan baju. "Ya," suaranya tercekat. "Kenapa?"
Nalaya menoleh dengan senyum tertahan. Tapi ada sorot mata lain ketika mata biru menatap matanya. "Tidak, hanya saja ... aku tidak suka dia."
Lena terkejut. Selama beberapa detik dia terdiam, akhirnya Lena berdiri dari kursinya dan duduk di samping Nalaya. "Bukankah kalian teman?"
"Teman, darimana?" Nalaya mendengus jijik. "Dia itu tipe gadis penjilat. Penuh kepalsuan dan memuakkan," kata Nalaya ketus. Dia menodongkan penggarisnya ke atas meja. "Semua orang di kelas tahu bagaimana kelakuan setannya."
Lena makin tidak mengerti. Ucapan Haruka kemarin membuatnya tersentak karena kembali teringat. Bagaimana bisa Haruka memperhatikan wajah seseorang dan mengenal sifat mereka sedetail itu?
"Aku tidak tahu kenapa dia kembali setelah lama di Inggris," Nalaya memotong pangsitnya dengan sumpit. "Dia pasti punya masalah di sana sampai memutuskan untuk kembali ke kampung halaman."
Lena semakin bingung. Dia sama sekali tidak mengenal Ame dalam bentuk pribadi selain dari televisi.
"Jangan percaya pada gosip," bisik Nalaya yang mengerti ekspresi Lena. "Dia berduit. Dia bisa membayar media untuk membuat baik reputasinya."
Gelengan kepala Lena membuat Nalaya terdiam. Dia menelan pangsitnya dalam diam. "Ame ... gadis yang buruk," Nalaya mendesah panjang. "Dia tidak akan berubah."
Lena terdiam sesaat. Dia menatap Nalaya yang berpaling menatap gambar di kertas polos.
"Dia kekasih Hatta,"
Nalaya tersedak. Dia menatap Lena dalam tatapan mata bulat yang melebar terkejut dan menggeleng tak percaya. "Kau, bercanda?"
Lena menggeleng dengan tundukan kepala. "Tidak," Nalaya menatapnya. "Kau yakin?"
"Ya,"
Lena menunduk, mengusap sepanjang pelipis sampai dagunya. "Ini sungguh kupikir dia gadis baik. Hatta kau tahu ..."
"Aku tidak peduli tentangnya," sahut Nalaya cepat. "Tapi ini mengejutkanku tentang bagaimana mereka bisa berkencan satu sama lain?"
Lena tersenyum bersalah. "Koneksi besar, mungkin?"
"Perempuan matrealistis," geram Nalaya.
Lena memalingkan wajah menatap pendingin ruangan dan menundukkan kepala.
"Apa dia juga bertanya tentang Advan?"
Lena menoleh. Dia menatap Nalaya yang menunggu jawabannya dengan antisipasi.
Kepala Lena mengangguk pelan.
"Sudah kuduga," Nalaya tersenyum tanpa arti. Dia menatap Lena dengan tatapan seolah dia sudah tahu apa yang terjadi saat dia tidak ada.
"Lena," Nalaya mengusap tangannya. "Ame dan aku ada di kelas yang sama saat kami kuliah. Aku dan Advan memang berpacaran. Dan Ame ... juga menyukai Advan dulu."
Lena mengerjapkan matanya. Dia diam mendengarkan.
"Advan tidak menanggapi perasaannya. Tidak sama sekali," kata Nalaya. Mata birunya menerawang ke langit plafon butik. "Ame mencintainya. Setidaknya itu yang dia katakan padaku, sejak dulu."
Lena memiringkan kepalanya. Menatap Nalaya. "Kurasa perasaan itu sudah berubah. Benar?" Lena tersenyum samar. "Dia berkencan dengan Hatta. Itu artinya dia sudah maju untuk melupakan Advan."
"Katakanlah aku jahat. Aku memang tidak memiliki rasa pada Advan. Hanya sebagai teman dekat, tapi aku berani bertaruh kalau Ame masih memendam rasa pada pria itu,"
"Pada Advan,"
Lena terdiam. Seolah dentingan piano yang mengalunkan melodi kesedihan berputar di dalam kepalanya.
"Jangan terlalu memikirkannya," Nalaya tersenyum padanya. "Kalau Hatta mencintainya, yasudah biarkan saja," Nalaya mendekatkan wajahnya dan bersandar pada bahu Lena. "Kau sudah bebas sekarang. Cari tambatan pria lain,"
Walau Nalaya berkata dalam nada bercanda, Lena tahu kalau dia serius. Nalaya memikirkan kebahagiaannya dan Lena tidak bisa untuk tidak tersenyum padanya.
Mereka kemudian larut dalam canda yang bisa membuat Lena lupa dengan masalahnya, walau sejenak.