Manik pekat itu menelusuri satu demi satu hurup yang tertulis dalam kertas yang tersimpan rapi dalam satu map berwarna hijau tua. Dia membacanya dalam diam seolah tidak ingin satu kata pun terlewat.
Tanaka Lena.
Kenapa Advan ingin tahu tentang wanita itu lebih dalam lagi? Karena Lena selalu menyebut dirinya sebagai Lena, bukan Tanaka Lena seperti yang tertulis dalam catatan orang suruhannya.
Lena seperti punya sisi sendiri dalam kehidupannya yang selalu dia tunjukkan di depan publik. Dia memiliki cerita yang tersimpan rapat-rapat dari nama besar pebisnis Rakangan Mori Advan di sini.
Dan menilai apakah dia pantas menjadi periRaka untuk melindungi sahabatnya untuk menerima perlakuan tak menyenangkan dari Ame ...
Mata Advan mengerjap kala dia melihat nama Tanaka's Golding. Raksasa komunikasi pertama di Jepang. MenguaRaka hampir sembilan puluh lima persen pasar telekomunikasi di Asia.
Jemari Advan menyusuri hurup demi hurup yang tertulis dan tidak ada nama Tanaka Lena di sana. Hanya tertulis kalau mereka memiliki anak yang sudah lama meninggal karena prematur.
Ini konyol, kan?
Lalu, kenapa Lena memakai marga yang sama dengan Tanaka Maeda?
Tangan Advan mengepal kala dia mendengar pintu menjeblak terbuka dan Abe dengan tidak sopannya melempar dokumen dari Satoo Raka.
"Lagi?" Abe menggeleng. Dia menarik map itu ke depan wajahnya. "Tanaka Lena, dia putri yang terbuang dari pasangan konglomerat ini?"
Advan terdiam. Dahinya berkerut bingung harus menjawab apa pertanyaan Abe.
"Ini gila, Advan, jangan cari mati," Abe membanting map itu di atas meja. Mata birunya menyipit tajam pada Advan. "Kau masih mau bermain dengan pewaris saham Tanaka's Golding, begitu?"
Advan menatap Abe dan dia mendengus. "Lena dibuang orang tuanya. Mimpi darimana dia mendapatkan saham?"
Iris biru itu menyala marah. "Tidak peduli dapat atau tidak, berhenti lakukan hal memalukan ini,"
Advan memundurkan kursi kerjanya. Dia melonggarkan ikatan dasinya dan menerawang menatap langit-langit ruangannya.
"Aku berpikir untuk menjadikannya periRaka pelindung Nalaya dari Ame,"
Satu pukulan mendarat di pipi Advan dari sang pelaku utama, Fujita Abe.
"b******n!"
Abe mengumpat padanya. Advan mendecih merasakan nyeri di rahang kanannya. Dia mengusapnya pelan di sana dan Abe mendengus marah.
"Dasar b******n," Abe menggebrak meja seakan Advan tidak cukup menguji kesabarannya sampai di sini. "Jangan libatkan wanita tak berdosa itu!"
"Diam," Advan mendorong Abe ketika pria itu memberikan pukulan pada Advan tepat di bawah matanya.
"Agar kau cepat sadar! Kau seharusnya tahu diri, Advan. Kau harus bisa menempatkan dirimu di mana," Abe menghujamkan pukulannya pada pipi kiri Advan yang kini memerah sempurna.
"Jangan buat aku marah," Abe mendorong d**a itu dan Advan terhuyung ke belakang. Tanpa membalas pukulan Abe sedikit pun.
Advan membuang mukanya. Abe mengepalkan tangannya. Dia menarik napas, menghembuskannya kasar. "Aku tidak mengenalnya dengan baik, tapi lihatlah malam itu, saat kau mengajaknya ke pesta Keana. Dia ketakutan. Kau seharusnya tahu kalau Hatta melakukan hal yang kurang baik padanya. Mau sampai kapan kau lakukan ini? Kau ingin membunuhnya, begitu?"
Advan terdiam. Dia kembali duduk di kursinya dan mengacak rambut legamnya kasar.
"Kau mencintai Nalaya, dan dia akan membencimu kalau dia tahu ide gilamu mengorbankan Lena demi kepentingan egoismu," Abe menunjuk Advan dengan marah. "Iblis apa yang merasukimu, hah?"
Advan menunduk, rasa sakit akibat pukulan Abe tidak berefek apa-apa padanya selain ingatannya tentang sang ibu yang menjadi korban kekerasan rumah tangga sang ayah berputar di dalam kepalanya.
Advan menjerit pelan. Menjambak rambutnya ketika kilasan demi kilasan suara tangisan ibunya memenuhi kepalanya dan sang kakak yang terus memeluknya untuk membuat Advan kecil berhenti menangis.
"Ingat ibumu Advan," bisik Abe parau. Dia masih belum menyerah untuk menyadarkan Advan dari obsesi gilanya. "Ingat bagaimana dia bertahan dari kegilaan ayahmu."
Abe memberikan Advan tamparan di pipi dan berlalu pergi. Advan beringsut turun dari kursinya, memukul dahinya ke bawah meja dan memejamkan mata. Menahan gumpalan rasa sakit yang membuatnya tidak bisa bernapas dengan baik.
***
Lena mendorong troli belanjaannya ke hadapan kasir yang tengah tersenyum padanya. Mengangguk pelan, Lena membantu kasir itu untuk menata barang kebutuhan hidupnya sampai satu bulan ke depan.
Saat kasir sedang menghitung barang belanjaannya. Lena mengedarkan pandangannya, melihat-lihat adakah barang yang belum dia beli. Tapi sepertinya semua sudah cukup, Lena tidak melupakan apa pun untuk ia beli.
Setelah membayar, Lena berjalan dengan satu tangannya menenteng plastik besar berisi kebutuhan pangannya untuk mengisi kulkasnya yang kosong. Langkah Lena terhenti ketika dia melihat Advan berdiri di pintu masuk dengan dua soda dingin di tangannya.
"Kau," Lena menatap wajahnya dan dia terkejut. "Kau Advan, kan?"
Advan melihat wanita itu. Dia menilai penampilan Lena hari ini yang santai dengan mantel dan celana jins. Juga belanjaan yang banyak di tangannya.
"Kenapa wajahmu?" Alis Lena terangkat. "Aku hampir tidak mengenalimu," ada geli di wajahnya.
Advan membuang wajahnya ke arah lain. Dia meminum soda dinginnya dan melirik Lena yang masih berusaha menahan tawa.
"Kenapa kau tertawa?"
"Apa?" Lena terkejut. Dia menuruni anak tangga dan menggeleng. "Aku tidak tertawa."
Manik kelam itu memutar bosan. "Oh, jelas, terlihat, kau sedang menahan tawa," kata Advan sarkatik.
Lena mengangguk geli. Dia menatap Advan dan memilih menyerah. "Kau benar. Kenapa dengan wajahmu?"
"Berkelahi,"
"Kau dirampok?"
Advan menggeleng.
"Menyelamatkan seseorang dari p*********n?"
Lagi, Advan menggeleng.
"Lalu?"
"Dengan Abe,"
"Oh," Lena menipiskan bibirnya menahan tawa. Tidak mungkin Advan dirampok dan dia tidak melawan. Kalau dilihat, pria ini mungkin bisa bertarung. Jadi Lena tidak yakin Advan terluka karena perampok. Karena wajahnya babak belur akibat pukulan pasrah dari Abe, temannya.
Lena menatapnya dengan tawa yang perlahan lenyap. Dia memutar tubuhnya, ingin berjalan menuju halte saat Advan menuruni anak tangga dan menahan langkahnya.
"Lena,"
Mata Lena mengerjap. Advan memanggil namanya?
"Kau mau makan malam ... bersama?"
Lena mengangkat alisnya. Dia menatap langit yang cerah malam ini dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Oke,"
Advan menatapnya sebentar dan kemudian mengangguk.
Mereka memilih tempat makan yang tidak jauh dari supermarket di mana Lena berbelanja. Memesan makan malam dan menunggu, menurut Lena adalah hal terberat. Dia tidak biasa duduk berhadapan dengan pria lain di kondisi seperti ini.
Sangat canggung. Lena memainkan kotak tisu dan berdeham. "Tentang kemarin, Ame akan berpikiran buruk tentangku. Kau tahu?"
Advan menatapnya. Butuh waktu sampai kepala itu mengangguk. "Aku bertaruh, Nalaya sudah bercerita tentang Ame padamu?"
Lena tersenyum bersalah. Dia menundukkan kepalanya dan menghela napas berat. "Kau seharusnya tidak—
"Melibatkanmu?"
Lena terdiam sebentar. Dia mengangguk pelan.
Advan menggeleng dengan sudut bibir tertarik karena menahan sakit. "Tidak. Biarkan saja," katanya pelan.
Dua gelas ocha hangat mendarat di meja mereka. Lena berbisik pelan mengucapkan terima kasih sedangkan Advan hanya diam.
"Kau bertengkar karena urusan sepele dengan temanmu?" Lena menunjuk luka di wajah Advan yang membiru dengan dagunya.
"Ya," Advan mengusap wajahnya. "Suatu saat nanti kau juga akan melihat wajah Abe babak belur sepertiku," Advan menyeringai.
Lena mendengus. Dia mengaduk ocha miliknya dengan sedotan.
"Lena, tentang malam aku membawamu pergi ke pesta Abe itu, aku yakin kau tidak nyaman,"
Lena mengerjap padanya. "Kau masih memikirkan hal itu?" Lena menggeleng dengan senyum lirih. "Aku tidak mau membahasnya. Tapi aku yakin kau malu karena membawaku, benar?"
Lena menunjuk luka Advan dengan isyarat matanya. "Kalau kau berpikir begitu, aku tersinggung dan terima kasih untuk Abe karena memukulmu demi aku," dia tersenyum tipis.
Ini memang karena dirimu, ujar Advan dalam hati.
"Aku ingin minta maaf pada Abe, temanmu, karena sudah mengacau," gumam Lena. Dia terkejut saat makan malam mereka tiba di meja. Lena menatap sepiring nasi gorengnya dengan nanar. "Aku sedang dalam suasana hati yang buruk saat itu."
"Kau yakin?"
Lena bingung. "Maksudmu?"
"Aku rasa kau melamun dan sesuatu yang buruk melintas di kepalamu. Membuatmu tidak fokus dan ... ketakutan?"
Mata Lena tidak berkedip ketika Advan menebak mimik wajahnya malam itu dengan tepat. Advan memiringkan kepalanya, memberikan Lena senyum separuh yang menawan dan memakan makan malamnya dalam diam.
"Lupakan Abe, dia tidak enak karena kau pergi tanpa dia bisa mencegahmu. Aku yang membawamu malam itu, aku yang bertanggung jawab," kata Advan.
Lena hanya mengangguk singkat dan melanjutkan makan malamnya dalam diam.
Senyap menyelimuti mereka berdua beberapa lama. Lena menghela napas, meminum ocha dari gelasnya dan melirik Advan yang masih menghabiskan sepiring nasi gorengnya.
"Apa kau mencintai Nalaya?"
Gerakan tangan Advan menyendok sesuap nasi goreng itu terhenti. Dia melirik Lena sekilas, kemudian melanjutkan makannya.
Lena memundurkan wajahnya. Tahu dia kelewat batas menanyakan hal sensitif pada Advan yang mungkin mengganggunya.
"Menurutmu?"
Lena kebingungan. Keningnya berkerut menatap Advan yang balas menatapnya datar. "Menurutmu?" Dia mengulang pertanyaannya.
"Kau mencintainya," Lena berbisik. Tapi Advan bisa mendengarnya dengan jelas.
Kepala pria itu terangguk pelan.
"Tapi Raka ... Nalaya dan Raka," Lena tidak bisa melanjutkan ucapannya karena tatapan tajam Advan yang menusuk padanya. "Kau harus menjaga jarak, Advan." Lena memperingatinya dengan nada ancaman dan dibalas dengusan geli Advan.
"Aku tahu diri, ngomong-ngomong," balas Advan sinis. "Kau tidak perlu mengancamku begitu,"
Advan mengetukkan jemarinya di atas meja. Mata gelapnya jatuh pada wajah manis yang tengah melihat jam di tangannya dengan kening berkerut halus.
"Nalaya sering bercerita banyak tentangku padamu?"
Lena menatap Advan dengan senyum meminta maaf. "Tidak sama sekali,"
"Tidak sama sekali?"
Lena tertawa pelan. "Apa yang kau harapkan memang? Nalaya memujamu? Dia memiliki kekasih, kalian sudah selesai. Tidak seharusnya kau berharap hal seperti itu," kata Lena.
Advan terdiam mendengarkan kalimat Lena yang menusuk. Dia benar, Nalaya tidak akan bicara tentang dirinya yang pernah menjadi bagian dari 'kita.'
Lena melihat ekspresi Advan yang menggelap tiba-tiba membuatnya tertegun. Apa dia menyinggung pria itu dengan membahas Nalaya?
"Terima kasih untuk makan malamnya," Lena menyelipkan beberapa lembar uang ke atas meja. "Biarkan aku membayar makan malamku sendiri."
Advan tersentak melihat beberapa lembar uang di atas meja tertangkap matanya. Lena berjalan dengan menenteng tas belanjaannya keluar restauran dan berbelok menuju halte.
Mengambil beberapa lembar uang itu, Advan meninggalkan uang miliknya di atas meja dan berlari mengejar Lena yang sedang berjalan menaiki tangga bus yang sudah tiba.
"Lena,"
Lena menoleh dengan alis terangkat. Matanya menyipit kala Advan mengangkat lembaran uang yang dia tinggalkan untuk membayar makan malamnya.
Kepala merah muda itu menggeleng dengan senyum. "Ambil saja," Lena berteriak pada Advan dan masuk ke dalam bus yang langsung berjalan begitu dirinya masuk dan duduk di kursi yang kosong.
Advan menghela napas panjang. Dia menatap lembaran uang itu di telapak tanagnnya dan menggeleng. Dia tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh wanita. Tidak Nalaya sekali pun. Jika mereka pergi makan, Advan akan membayarnya. Dia pria, memiliki ego tinggi untuk tidak membiarkan wanita membayar makanannya.
Dan malam ini Lena melakukannya.