Raka bertepuk tangan heboh kala bawahannya menyampaikan dengan baik proyek berskala global miliknya dengan Mori Advan yang bertangan dingin.
Proyek mereka memiliki kemajuan walau baru menginjak dua persen. Raka optimis, keuntungan dan kemajuan ini bisa tumbuh delapan puluh persen dalam kurun waktu kurang dari satu tahun.
Manik kelamnya berputar melirik Advan yang memaku diam dia tempat duduknya. Advan mendengarkan dengan baik tanpa menyanggah pendapat dari para tamu rapat yang didominasi berasal dari anak perusahaan Raka yang berbondong-bondong pergi ke kantor Advan untuk membahas proyek mereka.
Dan di sisinya, Abe sibuk mencoret proposal tentang laporan bulan ini. Tutup stabilo tersemat di bibirnya dan keningnya berkerut ketika membaca perbandingan laba bersih dari Megane.
Advan menunduk, melepas tautan tangan yang menyangga dagunya dengan hembusan napas panjang.
"Sudah?" Dia bicara tanpa perlu melirik Raka yang memaku di tempatnya. Raka hanya tersentak, memberikan isyarat mata pada bawahannya untuk kembali duduk.
"Kau terlihat sudah tahu?" Menggarisbawahi kata tahu dengan nada sarkastik. Advan melirik Raka dan Abe mengangkat kepala dari lembaran dokumen.
"Aku hanya menebak-nebak, dugaan awal," kata Advan datar. Seolah Raka menyindir dirinya yang berkemampuan membaca masa depan seperti cenayang.
Raka termangu di tempat. Bibirnya membentuk kerutan samar dan dia terdiam. Raka mungkin licik, tetapi yang dia hadapi adalah Mori Advan, dia harus memutar otaknya untuk bekerja lebih keras lagi.
"Kemajuan bulan depan sesuai target, empat persen. Tidak terlalu banyak, tetapi kurasa berhasil," Advan mengangguk pada tamu rapat yang menatapnya dengan sorot menilai dan kekaguman besar yang nyata.
"Proyek belum selesai. Kemungkinan rugi pasti ada, aku mencoba meminimalisirnya jika itu menjadi ketakutanmu," Advan menghela napas. Dia menatap Abe yang masih sibuk dengan stabilo kuning dan laporan keuangan.
Raka tidak bisa menjawab apa pun selain anggukan kepala selama beberapa saat setelah dia berpikir. Dia berdeham, memberikan senyum pada para bawahan yang menunggu untuk dibubarkan dengan hormat.
"Kalau begitu, rapat selesai. Kalian bisa kembali," Raka berdiri dengan sopan. Mengangguk pada bawahannya yang berpergian ke luar setelah menyapa singkat para tamu lain dan Advan yang hanya memberikan anggukan kepala kecil.
Raka berdeham, dia melirik Megane yang bersiap pergi. "Aku akan kembali minggu depan," kata Raka, Advan tidak melirik mau pun menatapnya. "Untuk kepentingan proyek, tentu saja. Jika ada masalah, tolong kabari."
Advan mengangguk singkat. Sepatu tinggi Megane bergema di sepanjang ruangan saat Advan mendengar pintu ruang rapat tertutup pelan.
Abe menghela napas panjang. Tugasnya selesai. Dia meregangkan otot-otot tangannya dan menghembuskan napas kasar. "Proyek ini akan bagus, aku jamin."
Advan menatap seringai yang terselip di wajah hangat Abe yang tampak lelah dan kaku pagi ini. Mungkin dia bertengkar dengan Keana atau terlalu sibuk dengan pekerjaan yang tiada habisnya. Di antara keduanya berpotensi besar membuat Abe terlihat sangat lelah dan tertekan.
Advan berdiri dari kursinya, dia berjalan untuk membuka pintu dan berbelok ke ruangannya.
Langkah Advan terhenti ketika dia melihat Ame duduk di sofa tunggu dengan Mei, sekretaris yang berjaga tampak bingung dan kalut. Antara Ame yang memaksa dan mengancam Mei untuk tidak memanggil petugas keamanan, atau Mei tidak enak hati dengannya.
Alis Abe menukik tajam melihat siapa tamu tidak diundang ke lantai para petinggi perusahaan. Advan berbelok cuek saat dia berjalan meninggalkan Ame yang berlari menahannya dengan rentangan tangan terbuka.
"Advan," nadanya tajam dan mengancam.
Advan bosan. Sungguh. Dia tidak mau terlibat dengan banyak wanita cantik berhati ular dan menyiapkan pisau di belakang punggung untum menusuknya sewaktu-waktu. Jika yang mereka inginkan dari Advan adalah uang, dia akan memberikannya dan menendang jauh-jauh dari kehidupannya.
"Apa?"
Abe bernapas gusar di sisi Advan yang membatu. Sosoknya seperti patung selamat datang bagi Ame, tapi sumpah, dia petinggi perusahaan. Dia punya kuasa untuk menendang b****g gadis licik ini keluar dari perusahaan selain Mori Advan tentu.
"Ada yang harus kita bicarakan," Ame melirik Abe yang memutar mata bosan. Dia mendelik pada pria berambut kuning jabrik itu dan Abe tidak gentar dengan tatapan nyalang khas gadis antagonis di drama percintaan yang sering Keana tonton di waktu senggang.
Advan menghela napas panjang. Dia sangat lelah, dan semakin lelah ketika menatap aura tak bersahabat dari Abe dan Ame yang saling mendorong satu sama lain dengan inner mereka.
"Ke ruanganku,"
Advan berjalan melewati bahu Ame yang kini tersenyum puas. Dia menatap Abe dengan genit dan berbalik, melangkah anggun dengan langkah pelan menuju ruangan Advan.
Abe mendecak dalam hati. Dia hampir meremas laporan di tangannya kalau dia tidak memiliki stok kesabaran yang besar dan tidak ada habisnya. Belum tahu, kan, marahnya orang sabar bagaimana? Abe ingin menunjukkannya di depan Advan atau Ame bersamaan.
Advan duduk di kursi kebeHarukannya. Di samping Ame sedang mengagumi keindahan ruangan Advan yang besar dan megah. Memiliki bar kecil di dalam ruangan dan sebuah pintu yang Ame yakini adalah tempat tidur untuk beristirahat, dia memakukan matanya pada sosok tampan yang sedang duduk dengan tangan mengusap rambut hitam yang berantakan itu kasar.
Matanya tiba-tiba terbakar. Antara panas dan berkabut.
Ame berdeham, dia menarik kursi agar lebih dekat dengan Advan. Hanya meja yang membatasi mereka. Ame menggeliat manja di tempat duduknya. Advan menatapnya dengan alis menekuk dan tatapan datar khasnya.
"Aku tidak punya banyak waktu," kata Advan malas. "Sepuluh menit setelah itu keluar."
Ame berdecak. Dia menatap Advan dengan tatapan memelas dan bibir berkerut ke bawah. "Jangan begitu, aku hanya ..."
"Satu menit berlalu. Tersisa sembilan menit lagi," Advan bersandar pada kursi putarnya. "Jangan buang-buang waktu."
Ame mendesah panjang. Dia membuang anak rambut cokelatnya ke belakang telinga dan menunduk.
Sepasang mata Advan menyipit. Tetapi dia tetap menutup mulutnya untuk tidak bicara.
"Bisakah kau membantuku?"
Ame mengangkat kepalanya. "Aku terlibat hutang yang besar. Tanpa sepengetahuan orang tua dan Hatta," Ame menunduk lagi. "Aku tidak tahu kemana aku harus pergi selain teman lamaku, yaitu kau," Ame menunjuk Advan dengan dagunya. "Agensi lamaku di Inggris bangkrut. Aku pergi ke Jepang untuk berkarir lagi."
"Bangkrut?"
Ame mengangguk. Tatapannya berubah takut. "Aku menjadi bagian dari eksekutif manajer d sana, membawa separuh keuntungan untuk agensi dan ..." Ame menatap sepasang manik kelam dingin yang begitu menusuk matanya. Tidak hanya mata, tetapi hatinya. "Aku tidak bisa membayarnya."
Advan mendengus. Dia memiringkan kepalanya, menatap Ame yang tengah menahan napas dengan senyum dingin. "Kau bercanda?"
Ame mengernyit. "Tidak sama sekali, Advan," dia mengelak dengan kepala menggeleng keras. "Kau tahu, kalau aku memiliki kesulitan ekonomi."
"Setelah skandal masa menengah atasmu terkuak?"
Ame tersentak. Dia menatap Advan yang duduk tegak di hadapannya dengan pandangan bingung yang amat besar.
"Benar atau tidaknya skandal itu sebenarnya bukan urusanku," kata Advan santai. "Kau meminta uang dariku, dan itu menjadi urusanku. Mau kau apakan uang yang kuberikan,"
Ame menatap Advan tajam.
"Jawabanku, tidak," Advan memutar kursinya hingga kepala kursi berwarna hitam pekat itu terpampang di hadapan wajah Ame yang mengetat.
"Aku tahu kau hanya mengarang cerita. Pendapatanmu besar. Kau tidak mungkin terlibat hutang yang menghancurkan karirmu sendiri," ucap Advan sinis. "Kau memakan waktu lebih dari sepuluh menit. Keluar dari sini."
Ame menggeram di tenggorokannya. Advan mendengar geraman itu samar-samar di telinganya.
"Jangan kira aku bodoh dengan tipuanmu. Kau memiliki hubungan terlarang dengan bawahan Nalaya, Advan,"
See? Dia memutar topik secara cepat. Advan tahu tujuannya kemari untuk apa.
Advan menarik sudut bibirnya, dia memutar kursinya. Menatap kepalan tangan di atas meja dengan senyum sinis tertahan. "Lalu?"
"Bagaimana jika Nalaya tahu?"
"Apa pedulimu?"
Ame tersentak dalam keterkejutan yang luar biasa. Dia menatap Advan yang memandangnya dengan tatapan mencela dan merendahkan. "Aku menghormatimu sebagai kawan lama dan kau yang menghancurkannya. Aku tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan pertemanan kita," Advan menekan pada kata pertemanan.
"Kau masih mencintai Nalaya," Ame mendesis dalam suaranya. Dia terlihat seperti ular kobra yang siap mematok mangsa di depannya.
"Kau tahu jawabannya dan masih bertanya?"
Advan menunjuk pintu ruangan yang masih tertutup rapat dengan dagunya. "Kau tahu di mana pintu keluarnya," Advan memejamkan matanya, menghela napas sejenak. "Jangan buat aku menyeretmu keluar dari kantorku, Ame," imbuh Advan lagi.
Ame mengambil tas mungilnya dan menghentakkan kaki ke atas lantai. Advan membuka mata, menatap mata cokelat yang menyala-nyala karena api amarah membakar habis kesabaran diri wanita itu.
"Dan satu lagi,"
Ame menghentikan langkahnya pada depan pintu.
"Kau harus membuat janji lebih dulu denganku jika ingin bertemu."
Tidak ada lagi yang bisa Advan dengar selain bantingan pintu ruangan yang keras oleh model utama yang sakit hati karena cinta.
Ame.
***
Lena tersentak dalam langkahnya. Menikmati udara malam selepas bekerja membuatnya sampai ke berbagai tujuan yang tidak tentu arah. Lena tahu dia ada di mana sekarang, hanya saja tidak sadar kalau melamun sembari mengamati sepanjang bangunan tinggi dan kedai-kedai kecil makanan mampu membawanya pergi sejauh ini.
Kepalanya tertoleh pada bangunan tinggi. Sekitar lima sampai enam puluh lantai. Ini pukul lima sore, suasana kantor tampak lenggang dan sepi.
Mata Lena mengerjap kala dia melihat tulisan berbalut hiasan perak tergambar di pintu masuk gedung.
Mori House.
Rumah Mori? Lena bergumam dalam hati, kemudian tertawa kecil. Dia menatap bangunan megah itu dengan tatapan kagum luar biasa. Dia tahu Advan adalah pebisnis, hanya saja dia tidak tahu bagaimana bentuk kantor yang selama ini Advan tempati.
Lena menipiskan bibirnya. Dia tidak tahu banyak tentang Advan yang tertutup dan misterius. Juga dengan hubungan lamanya dengan Nalaya walau dia mulai mengerti sedikit demi sedikit hanya dari penggalan cerita yang Nalaya katakan padanya.
Suara-suara samar menusuk indera pendengarannya. Lena menoleh, matanya terbelalak ketika melihat Ame berjalan ke luar dari area gedung dan mengabaikan tatapan bingung pos satpam yang berjaga di depan.
Napas Lena terasa berhenti detik itu juga ketika Hatta ke luar dari mobil sedan hitamnya. Dia menatap Ame dengan tajam, seolah tatapan itu bisa membelah tubuh Ame menjadi dua.
Hatta menarik tangannya, dan Ame menepis tangan Hatta kasar. Mereka sedang berdebat, Lena tidak bisa mendengar apa yang mereka ributkan. Tetapi wajah bingung Hatta dan pelototan Ame cukup membuatnya bungkam.
Lena memundurkan langkahnya ketika mata cokelat beruang itu terpaku pada sepasang mata hijau bulatnya yang terkejut. Lena tidak mungkin melarikan diri dari Ame yang berjalan ke arahnya, bersiap memakannya hidup-hidup.
Lena hendak berlari untuk menghindarinya, tetapi teriakan Ame yang menggema membuatnya membeku.
"Hei, jalang."
Lena menatapnya dengan mata melebar. Dia terkejut, itu sudah pasti. Dan jalang? Sungguh, Lena tidak semurahan itu.
"Atas dasar apa kau menyebutku jalang?" Lena berbisik rendah di depan Ame yang mendengus tajam padanya.
Rahang Lena mengetat sempurna. Dia tidak pernah memaki atau menghina orang lain dengan kata tidak pantas. Neneknya selalu bilang untuk menjaga lisan. Peringatan itu tertanam bagai paku di kayu di dalam kepalanya.
Ame menunduk, dia menyeringai miring pada Lena. "Jalang, kau dekat dengan Advan di saat dia masih mencintai temanmu, Nalaya,"
Kalimat Ame menamparnya. Lena mundur, memberikan tatapan marah pada Ame yang malah memberikannya senyuman puas Harukat kemenangan.
"Aku tidak melakukannya," Lena menjawab rendah. Hampir terdengar seperti bisikan.
Ame menggeleng dengan senyum masih terpatri di wajah cantiknya. Dia melirik Hatta yang mematung tidak jauh di belakangnya dengan air muka sendu.
Satu tamparan melayang di pipi Lena oleh sang pelaku, Ame, yang kini mendesis dingin padanya. Lena menatap sosok di balik punggung Ame yang kejam.
Hatta.
Pria itu hanya diam. Lena menggigit bibir bawahnya keras. Berharap gumpalan rasa sakit yang perlahan menjalar dalam dadanya tidak melebar dan membuatnya sesak.
Mata Lena yang menggenang karena marah berputar pada Ame yang tersenyum puas. Dia mendorong d**a model itu, memberikannya tatapan mencemooh.
"Urus saja dirimu sendiri," ini sungguh bukan Lena yang biasa hangat dan ramah. Lena benar-benar tidak mengerti mengapa Ame mengganggunya kali ini.
Ame naik pitam mendengar jawaban Lena. Saat wanita itu hendak pergi, dia menarik rambut panjangnya dan Lena mengaduh.
Lagi-lagi Hatta bertampang i***t dengan membiarkan pertikaian itu terjadi. Mengabaikan tatapan orang-orang selepas pulang kantor dengan mengiba dan bisik-bisik menduga.
Lena memejamkan mata. Jambakan Ame benar-benar sakit. Menarik akar rambutnya secara paksa dari kulit kepalanya. Lena mendesis, mencoba meraih tangan Ame untuk melepas jambakannya.
"Apa-apaan kau?"
Ame terdorong ke belakang. Lena menghela napas panjang saat dia menunduk, memegang kepala belakangnya yang masih berdenyut.
Hatta menarik tangan gadis itu untuk menjauh dan Ame menyentaknya kasar. Dia menatap sang kekasih dengan tatapan nyalang terbuka marah. Kemudian berpaling pada sosok berkemeja putih yang menatapnya dingin.
"Ah, Advan,"
Lena menoleh mendengar nama itu tersebut. Dia bahkan tidak bisa fokus mendengar suara yang membuat Ame melepas jambakan tangannya dari rambutnya.
Advan menoleh pada Lena yang meringis. Sebagian rambutnya tercecer di telapak tangan Ame yang mengibaskan tangan itu seolah rambut Lena adalah sampah.
Mata Lena mengerjap ketika mendapati sepasang manik kelam yang kaku dan dingin itu terluka padanya. Dia terdiam, tidak mampu berkata-kata saat Advan menoleh balik pada Ame yang membeku.
"Pergi dari sini,"
Advan melihat orang-orang berkerumun di sekitar mereka mulai membubarkan diri karena tidak kuasa ditatap tajam oleh sang bos besar. Terlebih penonton mereka kebanyakan dari karyawan kantornya sendiri.
Ame mengepalkan tangannya. Tatapan mata itu jatuh pada Lena yang berdiri melamun. Sepasang mata hijaunya lirih memandang sosok lain yang berdiri memalingkan muka dan berlalu ketika Ame masuk ke dalam mobilnya.
Lena mengusap sudut matanya yang menggenang. Hatta yang dulu mau pun sekarang tidak ada bedanya.
Dia akan diam ketika Lena dilukai.
Lena menunduk, tanpa sadar dia terisak. Dia tidak seharusnya menangis di tempat umum. Mengusap kedua matanya dengan cepat, Lena mencoba untuk berjalan dan pergi mencari halte lalu kembali ke rumah untuk tidur.
Mimpi buruk ini harus selesai malam ini.
Lena termangu di tempat. Merasakan ada pelukan yang menahan tubuhnya untuk tetap di sana selama beberapa saat. Ini bukan pelukan melepas rindu atau selamat datang karena lama tidak bertemu. Juga bukan pelukan cinta.
Ini hanya pelukan biasa yang bermaksud untuk menenangkan hatinya yang gundah gulana. Lena menutup bibirnya, mencoba menahan isakannya karena dia tidak menemukan alasan mengapa ingin menangis saat ini.
"Kau baik-baik saja?"
Tidak.
Lena bernapas melalui mulutnya yang sedikit terbuka. Bahu Advan yang lebar membuat kepalanya berdentam nyeri. Lena dilanda kebingungan sekaligus ketakutan.
"Aku baik-baik saja," bisiknya parau.
Lena berharap Advan tidak tahu dengan isyarat tubuhnya yang berlawanan mengatakan sebaliknya. Lena ingin melepas pelukan yang menenangkan ini.
Dan dia tidak bisa. Tubuhnya berpasrah seakan mereka merindukan penopang lain yang membuatnya tetap tegar dan berdiri tegak. Lena selalu menguatkan diri untuk tak gentar dan menjadi diri sendiri yang mandiri. Tanpa uluran tangan orang lain.
Tapi kali ini, dia mengaku kalah.