Lena mengintip dari bulu matanya yang terus bergerak naik dan turun secara teratur. Tangannya tidak bisa diam, sejak tadi hanya mengaduk-aduk karinya hingga separuh mendingin.
Di depannya, Mori Advan tampak tenang. Mangkuk medium kari-nya hampir tandas. Dia menikmati makan malamnya, dan Lena tidak.
Kejadian sore menjelang malam tadi, sungguh membuat Lena tidak enak hati. Advan memeluknya. Dan dia tidak bisa percaya dengan hal itu. Dia tidak berbuat kejahatan yang memungkinkan dirinya di penjara, tetapi kenapa dia segelisah ini?
Lena berdeham kecil, atensi Advan yang fokus pada mangkuknya berpindah ke arahnya. Lena menatapnya sekilas, dan menunduk. Menatap kari di mangkuk makannya dalam gamang.
"Kau tidak suka?"
"Tidak," Lena melirik. "Hanya sedang tidak berselera," ini jawaban jujur.
"Oh?" Advan merespon dengan alis terangkat. Kening pria itu sedikit berkerut. Lena tidak nyaman. Meski kedai kari ini tidak terlalu sepi dan alunan musik dari radio yang berputar begitu menenangkan perasaan, dia tidak seperti itu.
Lena ingat, terakhir Hatta memeluknya adalah masa-masa di menengah pertama. Dan Lena tidak pernah dipeluk pria mana pun. Bahkan setelah dia menikah, Hatta tidak pernah memeluknya.
Jangan sentuh aku. Aku jijik padamu.
Sendok karinya terjatuh ke lantai kayu. Lena tersentak. Dia mengerjap beberapa kali dan tertegun, mengambil sendok di bawah kakinya dan meringis pelan. Merutuki dirinya yang tiba-tiba melamun.
Tanpa melepas pandangannya, Advan menebak dengan tepat kalau Lena tengah melamun tentang masa lalunya. Hingga sendok yang ada di genggaman tangannya terlepas dan mata itu bergerak gelisah. Lena kembali menjadi dirinya sendiri yang rapuh.
"Kurasa aku harus pulang," Lena mengambil tas selempangnya. Memperbaiki mantelnya dan menatap Advan yang duduk diam bagai patung.
Lena menghela napas panjang. "Maafkan aku," dia mengusap poninya yang mulai memanjang. "Aku mungkin mengotori kemejamu?"
Advan mendengus. Sangat tidak terduga dengan pertanyaan spontan Lena. "Mengotori?" Mengulang lelucon yang baru saja Lena lontarkan. "Kau bermain tanah atau apa sekarang?"
Advan bermaksud mencairkan suasana dengan kalimat kakunya. Dan Lena sama sekali tidak bereaksi apa pun selain gelengan kepala dan tatapan polos kebingungan.
"Tidak, lupakan," Advan menggeleng dengan helaan napas pendek. "Kalau kau memikirkan tentang tadi, lupakan saja."
Lena menatapnya. Sorot mata hijau hutan itu redup dan kosong. Sudut bibirnya tertarik, Lena memberikan senyum separuh. "Sekali lagi, aku benar-benar minta maaf."
"Ame memang seperti itu," Advan melirik tas yang belum sempat melingkar di bahu wanita itu. "Dia senang mengacau. Membuat kekacauan adalah sebagian dari hobi. Kesenangan yang aneh."
"Aku tidak tahu," balas Lena pelan. Dia memang tidak tahu apa pun tentang Ame. "Itu sama sekali bukan urusanku."
Lena berdiri dari kursinya. Dia menatap mangkuk miliknya dan milik Advan beberapa lama. Saat tatapannya merambat naik, Advan juga menatapnya. Lena memiringkan kepala, memberikan senyum singkat.
"Aku yang membayar," dan dia melesat pergi ke meja kasir tanpa bisa Advan cegah. Advan menurunkan tangannya di udara, menatap punggung Lena ketika dia mengeluarkan dompet dari dalam tas mungilnya dan membayar tagihan.
Advan berdiri dari kursinya. Lena sudah selesai menerima kembalian dan hendak berjalan keluar saat pria itu berjalan lebih dulu di depannya dan membukakan pintu kedai.
Lena meliriknya dan berjalan ke luar tanpa bertanya. Saat langkah ringan Advan ada di sampingnya, Lena berdeham. "Aku harus pergi ke halte. Bis datang lima menit lagi. Atau aku terlambat nanti."
"Kuantar," Advan menahan tangannya dan menarik Lena sedikit paksa masuk ke dalam mobilnya. Lena memekik pelan, menatap tangan Advan yang sedang menarik tangannya.
Mobil hitam itu terparkir tidak jauh dari tempat parkir kedai kari. Advan menyalakan kunci mobil dan menunggu Lena yang berdiri mematung di depan pintu.
"Masuk," itu terdengar seperti perintah dan bukan ajakan.
"Kurasa, aku harus pergi," Lena menatap Advan sekilas dan bergerak mundur beberapa langkah ke belakang.
"Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat,"
Advan berhasil membuat Lena bergeming. Manik hutan itu berputar menatapnya bingung. Advan mengacak rambutnya dan menghela napas panjang. "Ada sesuatu yang ingin kulakukan, kau akan membantuku."
"Bukan tentang Nalaya?"
Sorot mata kelam itu menajam. "Ini sama sekali bukan tentang dirinya," Advan tanpa sadar mendesis dan Lena terhenyak, dia sudah salah bicara.
"Oke," Lena menatap sekelilingnya dan berjalan masuk ke dalam mobil.
Advan memejamkan mata sebentar dan menarik napas panjang. Dia membuka pintu kemudi dan menutupnya sedikit keras. Memutar kunci dan menekan pedal gas untuk memundurkan mobilnya dan berlalu.
***
Lena yakin, Advan akan membawanya kemari. Rumah bercat hijau tosca yang sudah tidak lagi ada. Tergantikan dengan warna monokrom yang terlahir indah dan bagus dipandang.
Lena sempat berpikir warna hitam dan putih adalah warna mati yang mutlak. Hitam hanya bisa dipadukan dengan putih, berbeda dengan putih yang bisa berbaur dengan banyak warna gelap lainnya. Tetapi hanya dengan hitam dia terlihat lebih hidup dan bebas.
Advan terdiam selama beberapa saat. Menatap pagar rumah yang telah dicat ulang dan terlihat bersih. Pekarangan yang seluruh rumput liar dan daun-daun gugur tidak lagi ada. Dia yakin Abe menyuruh orang untuk membersihkan seluruh rumahnya yang berantakan dengan sangat baik.
"Kenapa kau membawaku ke sini?" Lena sebenarnya tidak ingin tahu, atau dia bisa menahan rasa ingin tahunya dalam-dalam di dasar hatinya. Tetapi mulutnya terasa gatal untuk ingin bertanya.
Advan melirik dari sudut matanya. "Kau punya kenangan di rumah ini?"
Angin malam berhembus menerbangkan anak rambut Lena yang lepas dari ikatan. Dia tersenyum lirih, menundukkan kepala. "Ya,"
Advan kini menatapnya. Walau Lena tidak perlu menoleh untuk mencari tahu, oniks pekat itu sedang terarah padanya. Mencoba mencari tahu adakah kebohongan yang sedang dia sembunyikan.
"Sudah terlalu lama, aku sudah tidak terlalu ingat," dia berbohong untuk kalimat yang satu ini.
Advan menatapnya sebentar, kemudian mengangguk.
Advan maju untuk membuka pagar kayu mungil itu. Lena terdiam melihatnya. Ketika Advan sudah masuk, dia memberi isyarat pada Lena untuk ikut masuk ke dalam. Lena maju beberapa langkah dan mulai masuk ke dalam.
Saat pijakan kaki pertamanya menyentuh tanah yang basah, Lena mendengar tawa lepas dari dirinya dan Hatta berputar di telinga dan kepalanya. Dia menggeleng pelan, mencoba berjalan lebih jauh saat Advan membuka pintu rumah dan kenangan Lena kembali terbuka lebar.
Rumah itu sepenuhnya berubah. Advan tentu pelakunya karena ini rumahnya. Tetapi saat Lena masuk, yang dia dapati adalah kenangan masa lalunya kembali utuh di dalam kepalanya.
Lena memutar tubuhnya, hendak pergi dari rumah ini secepatnya tetapi Advan menahannya dengan menghalangi pintu keluar. Lena mendongak, menatap wajah kaku itu dengan mata yang mulai basah.
"Kau keberatan karena aku mencoba menghapus kenangan buruk itu dari kepalamu?"
Lena mengerjap. "Apa maksudmu?"
Advan menunduk, menatap langsung pada sepasang mata hijau yang berkedip bingung dan basah. "Ini rumah milik Katoo Hatta. Dulu," suara Advan tertelan rasa bimbang. "Aku berani bertaruh ... jika kau punya hubungan dengan Katoo Hatta dulu. Sudah lama sekali. Kau berusaha membuangnya dari kepalamu. Tentang hubungan yang sempat terjalin di antara kalian. Dan rumah ini mungkin menjadi saksi bisunya?"
Air muka yang bingung itu pecah seketika. Lena menahan napasnya selama beberapa lama, menatap Advan dengan pandangan kaku tak terbaca sampai dia mundur, menundukkan kepala.
"Dia mantan kekasihmu?"
Lena masih diam.
"Kalian tidak mungkin hanya sebatas teman kecil yang sering main bersama. Memanjat pohon apel, dan bergantian mendorong ayunan. Tidak sesederhana itu,"
Advan semakin menekan Lena dengan kata-kata yang membuat dadanya semakin sesak dan hampa. Lena masih menunduk, mencoba mengendalikan dirinya sendiri.
"Kau ingin tahu apa?" Lena memberanikan diri menatap Advan yang kini terkejut.
Manik kelam itu mengerjap bingung dan kilatan rasa bersalah menggumpal dalam benak Advan secepat itu. Dia memandang Lena yang masih menatapnya kaku dan kecewa. Kecewa karena Advan terlalu tahu banyak tentang masa lalunya?
"Aku salah bicara?"
Lena terdiam. Dia menghela napas panjang dan kemudian menatap seisi rumah dengan nanar.
"Mungkin aku yang terlihat jelas sedang terluka," lirih Lena pelan. Dia berbalik, memunggungi pria itu dengan memilih menatap pemanas baru milik Advan yang lebih bagus dari miliknya.
Lena menoleh, dia memberikan Advan senyum separuh yang menenangkan. "Tidak apa. Sudah berlalu, aku sudah lebih baik, dan ngomong-ngomong, bisakah aku mendapatkan segelas air dingin? Aku haus."
Advan tertegun. Dia menatap Lena yang masih menatapnya dengan kerlingan mata karena dia mencoba menyadarkan Advan dari lamunannya dengan melirik kulkas dua pintu di dapur kecilnya.
"Ah," Advan berjalan melewatinya dan Lena mengulum senyum saat pria itu pergi ke dapur untuk mencari gelas bersih dan menuangkan air dingin dari dalam kulkas.
Lena menaruh tasnya di atas meja makan berbentuk persegi dengan dua kursi kayu kecil saling berseberangan. Advan tidak terlalu banyak membeli perabotan dapur. Karena pada dasarnya, pria jarang sekali memasak.
Advan mengulurkan gelas berisi air dingin untuk Lena. Menggumamkan kata terima kasih, Lena meminum hampir separuh isi gelas dan berpendar menatap ruangan yang sudah tertata rapi.
"Sebenarnya, televisi kurang pantas kalau ditaruh di sana," kata Lena. Dia menoleh pada Advan yang menatap televisi besarnya dengan kerutan dahi.
"Milikmu lebih besar dariku," Lena berjalan ke ruang tengah yang bergabung dengan ruang tamu. Dia menunjuk televisi itu dan beralih pada dinding. "Tempelkan televisimu di sini. Itu lebih baik,"
"Benarkah?"
Advan berjalan mendekatinya. Dia menatap televisi plasma besarnya dan Lena. Bergantian. "Kau benar," dia mendorong sedikit meja televisi itu ke belakang dan Lena tertawa pelan.
"Aku bisa membantumu mendekorasi ulang isi rumahmu," ujar Lena.
Advan kembali menegakkan tubuhnya. Dia menghela napas panjang dan mendengus menahan geli. Melihat Lena seakan-akan bos di rumah ini, dia tidak keberatan.
"Memang itu tujuanku membawamu kemari,"
Lena kembali menoleh dari puluhan gambar abstrak yang menghiasi dinding Advan. "Mendekorasi ulang rumahmu?"
Advan mengangguk.
"Aku hanya jatuh cinta pada dapurmu yang bersih dan bagus, untuk tata letak lainnya," Lena menggelengkan kepalanya berpura-pura kecewa dan mengerutkan hidungnya gemas. "Sama sekali berantakan."
Advan berdecak. Dia menatap plafon ruangan dengan mata menajam. "Abe benar-benar ..."
Lena tertawa kecil. Dia menaruh gelasnya di meja dapur dan mulai membantu Advan menyusun kembali isi rumahnya.
Tentu saja, dengan dia bertindak sebagai kepala arsitek di sini.