"Kau semalam tidur di rumah?"
Advan mengangkat matanya dari cairan hitam pekat di dalam cangkir untuk menatap manik biru laut bulat yang menatapnya ingin tahu dalam kadar tinggi.
"Rumah yang mana?"
Abe berdecak. Dia hampir menendang tulang kering pria itu kalau dia tidak memiliki kesabaran yang tinggi di siang hari.
"Rumahmu mana lagi memang?" Abe mulai bosan. Dia memainkan roti isi di tangannya dengan wajah bosan.
"Aku tidur di rumah baru, pinggir kota," kata Advan.
Abe hanya menganggukkan kepala. Tiba-tiba wajah bangganya mempias nyata. "Bagaimana? Apa tugas Fujita Abe selaku ketua pembenahan rumah baru Mori Advan berjalan sukses?"
Advan mendengus, dia memutar mata dengan lemparan remahan kecil roti isinya ke wajah Abe. Pria berkulit tan itu melotot tak terima. "Sangat buruk," Advan menggeleng miris. "Kemampuanmu mengatur tata letak benda mulai berkurang, Abe. Kurangi begadang," kata Advan sembari menyesap kopi hitamnya.
Abe hanya meringis. Dia menatap Advan dengan kekehan kecil meminta maaf. "Aku tidak tahu harus mengatur bagaimana barang-barang mahalmu. Rumahnya sangat sempit dan kecil, aku harus memutar otak agar barang itu tidak saling berhimpit."
Advan lagi-lagi mendengus.
"Satu teh hijau untukmu,"
Advan menoleh ketika mendengar bisik suara pelayan di belakangnya. Pelayan berambut emas itu menaruh gelas berisi teh hijau ke meja bernomor delapan. Tepat di belakang Advan saat ini. Dia tidak bisa melihat siapa yang memesan teh hijau itu, tapi mengingat tentang gelas yang berisikan cairan kecokelatan itu, mengingatkannya pada seseorang.
Tentang kenangan teh hijau yang mampu menenangkan jiwa-jiwa yang sedang gelisah.
Sudut bibir Advan tanpa sadar tertarik. Teori spontan yang diambil oleh Tanaka Lena boleh juga.
Di samping Abe yang berceloteh tentang beratnya mengurus rumah baru Advan yang menguras tenaga dalamnya, Advan sedikit terusik dengan kehadiran Hatta di ruangan yang sama dengannya. Kedai kopi di pinggir jalan. Hatta yang memesan teh hijau itu, dan lamunan Advan akan teh hijau milik Lena lenyap tak berbekas.
Samar-samar Advan mendengar suara Ame dari seberang telepon. Dia mendengus, bersandar pada kursinya dan menatap Abe yang masih mengoceh tentang sesuatu lain. Pria itu berganti topik tanpa Advan mendengarnya.
"Aku kesana."
Advan menatap Hatta yang terburu-buru keluar dari kedai. Dia menoleh ke belakang, mendapati gelas teh hijaunya masih penuh dan belum tersentuh.
Bahkan uap karena air panas itu masih ada di atas gelas. Hatta sama sekali belum mencicipi teh pesanannya. Dia pergi begitu saja.
"Kalau kau mau, pesan saja menu yang sama."
Advan menoleh pada Abe yang kini tersenyum tipis padanya. Dia tidak bisa lepas dari sorot mata Advan pada gelas berisi teh hijau itu. Pesanan milik Katoo Hatta. Advan pasti memiliki kenangan dengan teh hijau itu, tapi entah dengan siapa.
"Tidak," Advan memilih menyesap kopi hitamnya dan mengabaikan Abe yang mengangkat alis bingung padanya. "Teh hijau itu tidak terlalu enak terlihat."
"Jadi?"
Advan memutar mata.
Abe tertawa pelan. "Oh, ada teh hijau lain buatan tangan seseorang yang jauh lebih baik, begitu?"
Advan hanya diam, tidak menjawab ledekan Abe yang semakin keras dan memantul di telinganya.
***
Ada satu hal yang membuat Advan bertahan sejauh ini. Ibunya. Advan tidak yakin dia bisa menjadi dirinya yang sekarang tanpa bantuan ibunya.
Kehilangan sosok ayah dan kakaknya memukul telak dirinya. Advan kecil yang manja, yang hanya tau bagaimana cara memanjat pohon dan bermain, merakit kapal dari kertas dan kardus, bermain layang-layang.
Tidak seperti sang kakak yang sudah pintar berhitung dan menggambar. Advan iri, amat iri. Kenapa dia terlahir berbeda dengan sang kakak yang tenang dan tampak dewasa? Advan kecil sangat kekanakkan.
Mori Ikeda tidak pernah menganggap dirinya lebih pintar dari sang adik. Dia melihat Advan jauh lebih pintar darinya. Binar-binar rasa bangga yang membuncah dan senang memupuk di benak Advan kecil. Dia mulai menyayangi kakaknya dan mengaguminya seperti pahlawan di televisi kesukaannya.
Perlahan mengikis rasa benci dan marahnya karena sang ayah yang selalu membandingkan dirinya dengan Mori Ikeda yang superior.
Advan menyayangi keluarganya. Lebih dari hidupnya. Dia tidak ingin membenci ayahnya yang berlaku kasar pada dirinya, terutama pada ibunya. Advan yang selalu mendapati ibunya menangis tengah malam di belakang meja dapur. Memeluk dirinya sendiri dan luka-luka yang mulai berubah ungu, membuat Advan khawatir.
Ibu baik-baik saja.
Advan akan tenang saat ibunya mengatakan kalimat itu. Tapi saat dia beranjak besar, dia tahu kalau kalimat baik-baik saja, tidak pernah mengarah kalau mereka baik-baik saja.
Itu semua hanya ilusi. Hanya dusta agar orang lain tidak khawatir. Orang terdekat merasa bebas dan tidak perlu menanggung rasa sakit yang sama.
Seperti saat ini misalnya. Advan membatalkan seluruh pertemuan, membiarkan tumpukan laporan yang menggunung tetap di atas mejanya. Dia berlari seperti kesetanan ke dalam rumah, mendapati masakan beraneka macam tersaji di atas meja makan.
Dan dia mendapati kabar dari rumah sakit kalau Mori Rosi tidak sadarkan diri di pinggir jalan.
Advan tidak bisa lebih hancur dari ini. Ibunya datang ke untuk membuat kejutan. Advan suka kejutan, sang ibu datang tanpa memberi kabar. Memasakkan makan malam untuknya. Bersiap menyambutnya pulang.
Yang Advan terima adalah kekosongan.
Saat dia berlari menyusuri koridor UGD yang sepi, Advan menemukan sosok sang ibu yang terbaring lemah di atas ranjang dengan alat-alat tertancap di tangan dan dadanya.
Advan tidak sanggup lagi berdiri saat dia jatuh di tepi pintu UGD yang tertutup rapat menyembunyikan kondisi sang ibu dari dunia luar.
Advan mengabaikan panggilan dari Abe yang dia yakini mencemaskan dirinya. Advan berlari dengan mengabaikan Abe yang bingung ketika mereka berpapasan di pintu masuk kantor.
Para suster yang berlalu-lalang tidak sanggup menatapnya. Menatap Mori Advan yang hancur.
Lena melambai pada Haruka yang berniat baik mengantarnya sampai ke depan rumah sakit. Karena Lena memiliki masalah lambung yang cukup parah, dia harus menebus obat setiap bulan agar lambungnya tidak terlalu sering kambuh dan mengganggu pekerjaannya.
Nalaya ada di Jerman selama tiga hari untuk memamerkan rancangan gaun terbarunya di ajang bergengsi kelas internasional. Lena hanya bisa membantunya lewat doa dan dukungan. Nalaya tidak butuh apa-apa lagi selain dua hal itu.
Lena duduk di kursi tunggu. Dia mendapat nomor antrian ke sepuluh. Dan antrian sedang berputar sampai di nomor tujuh. Matanya menatap pada televisi di dinding.
Alis Lena terangkat saat tatapan matanya tidak sengaja jatuh pada sosok yang tak asing duduk di depan ruang UGD dengan kepala tertunduk dalam. Rambut legamnya menutupi kedua sisi wajahnya.
Lena menebak-nebak siapa yang duduk tidak jauh darinya saat ini. Saat pria itu mengangkat kepalanya dan mengusap wajahnya yang lelah, Lena terpaku.
Mori Advan duduk di ruang tunggu UGD? Apa yang terjadi?
Lena menoleh saat antrian menginjak nomor sembilan. Sebentar lagi dia akan maju dan mendapatkan obat. Lena termenung selama beberapa saat, dia menggeser sedikit tempat duduknya dan menatap Advan dari kursinya.
"Nalaya, kah?" Lena meraih ponsel dari tas mungilnya. Mencari nama Nalaya dengan cepat dan menghubungi gadis pirang itu.
Nalaya mengangkat teleponnya setelah dering ketiga. Lena menghela napas lega. Dia menunduk, mengusap pelipisnya setelah berbasa-basi dengan Nalaya sebentar sebelum sambungan telepon mereka terputus.
Advan tidak menunggu Nalaya. Lalu, siapa?
Lena berdiri saat antriannya tiba. Dia memberikan resep dokter yang dia simpan sebagai bukti untuk menebus obat lambungnya.
Sepuluh menit berlalu, dia sudah mendapatkan obat miliknya di tangan. Lena berjalan, mengecek kembali isi tas dan dompetnya ketika dia kembali menoleh, masih melihat Advan duduk seperti paku tertancap pada bangku tunggu depan kamar UGD. Advan tidak bergerak dari tempatnya.
Lena berpikir sebentar. Dia berjalan mendekati resepsionis yang berjaga untuk kamar UGD dan ICU.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Lena bertanya pada suster yang berjaga.
Kepala suster itu mengangguk pelan.
"Siapa yang ada di ruang UGD?"
Suster itu mengecek nama yang menginap di ruang UGD pada komputernya. Setelah menghapalnya, dia kembali pada Lena.
"Hanya ada Mori Rosi,"
Mori Rosi?
"Sejak kapan?"
Suster itu kembali melirik layar komputer. "Tujuh jam yang lalu."
Lena menahan napasnya. Mendengar nama wanita yang disebut dengan marga sama seperti Advan, bisakah Lena menebak-nebak siapa yang pria itu tunggu dengan wajah kacau dan kalut?
Lena menatap sosok tak berdaya itu dalam-dalam. Kemudian menunduk setelah mengucapkan terima kasih pada suster yang berjaga dan berjalan ke luar rumah sakit.
Advan mengusap wajahnya. Jam menunjukkan pukul delapan malam. Dia berdiri, mengintip kondisi sang ibu dari tirai yang sedikit tersingkap.
Dokter melarangnya masuk sebelum dua puluh empat jam. Dan di sinilah Advan berada. Menunggu dalam ketidakpastian yang menyakitkan.
Advan tidak tahu kapan dia mulai menangis karena takut. Dia tidak lagi menangis ketika kehilangan Ikeda dalam kematian mengenaskan itu tiga tahun yang lalu.
Tubuh Advan membeku saat dia mendengar seseorang duduk di satu kursi yang sama dengannya. Dengan kasar, dia mengusap kedua sudut matanya dan menarik napas panjang. Mencoba rileks guna menenangkan hatinya yang gelisah.
Advan menolehkan kepalanya, dan wajahnya seketika membeku. Tanaka Lena ada di sampingnya, tengah tersenyum kikuk dengan dua bungkus makanan di plastik besar.
"Aku melihatmu di sini," Lena mendorong plastik itu ke arah Advan. "Aku tidak mengikutimu. Jangan salah paham," katanya pelan.
Advan masih diam. Matanya jatuh pada bungkus makanan yang masih panas.
"Aku datang untuk menebus obat," Lena menatap Advan yang menunduk. Ada jejak-jejak basah di sudut mata dan pipinya. Dia tahu itu apa, dan dia memilih untuk tidak bertanya.
"Aku berpikir kau sudah makan malam atau belum, kau tahu, menunggu seseorang yang sakit sangat melelahkan dan menguras tenaga. Tapi jangan lupakan kesehatanmu,"
Tatapan Advan jatuh padanya. Lena tidak tahu harus memasang wajah mengiba atau bagaimana, dia hanya bisa tersenyum tipis untuk menenangkan Advan.
"Makanlah," Advan masih menatapnya. Lena berdeham karena bingung. "Porsi makanmu banyak, aku belikan dua porsi agar kau ... tidak lapar lagi,"
Advan mendengus kemudian setelah lama membisu. Lena menahan senyumnya. Sorot mata Advan yang sedih berubah lebih baik. Suasana di sekitar mereka mencair. Di tengah sepinya ruang UGD, di tengah udara dingin yang mulai menusuk kulit hingga ke tulang, Lena bisa berpikir terbuka kalau Mori Advan tidak seperti yang dikatakan orang banyak.
Dia juga memiliki sisi yang kacau seperti dirinya. Advan yang terluka dan hancur. Lena akan berhenti menghakiminya mulai detik ini.
Ketika Advan meraih plastik bungkus makanan itu, dia membukanya pelan. Mendapati nasi putih dengan potongan daging kambing di atasnya cukup banyak dengan saus.
"Itu tidak pedas," kata Lena. Mengerti kebingungan Advan dengan saus yang tertabur di atas irisan daging kambing. "Aku tidak terlalu suka pedas. Kupikir kau juga sama,"
Advan kembali menatap nasi di tangannya. Matanya mengerjap selama beberapa saat sebelum akhirnya dia kembali menoleh, menatap sisi sebelah wajah Lena yang tengah menatap jam dinding.
"Terima kasih."
Lena menoleh, dia terpaku selama beberapa saat karena wajah Advan menyapunya hangat dan sorot matanya melunak membuat Lena termenung. Entah terharu atau dia merasa tersentuh dengan tatapan lain pria itu yang sama sekali tidak pernah terlihat sebelumnya.
"Sama-sama."
Lena tidak bisa membalasnya dengan reaksi lain selain senyuman manis dan tatapan ramah. Juga kalimat yang tidak ingin Advan dengar saat ini.
"Semua akan baik-baik saja. Percayalah,"
Semua akan baik-baik saja.
Advan mencoba menekankan kalimat itu sebagai penopang untuk dirinya.
Semua akan baik-baik saja.