19

2302 Words
Koridor yang kian sepi itu semakin senyap dan terasa dingin. Lena melirik jam di dinding, pukul satu pagi. Dia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. Gosokan telapak tangannya semakin kencang. Dia meniup-niup udara agar terasa hangat. Pintu kaca UGD tertutup rapat, tapi udara dingin tidak berhenti sampai di sana saja untuk masuk menyelimuti koridor. Advan memejamkan mata. Mencoba untuk mengistirahatkan pikirannya yang lelah. Dan dia tidak bisa. Sekuat apa pun dia mencoba untuk tidur, dia tidak akan bisa. Lena berdeham, mencoba mengusir rasa tak nyaman di pangkal hidungnya. Sayangnya, gerakan ingin bersin itu terlihat oleh Advan yang membatu. "Aku sudah menyuruhmu pulang, kan?" Advan berkata pelan. Dia tidak ingin mengganggu suasana rumah sakit yang tenang dan sepi. Lena hanya terkekeh kecil. Dia menolak untuk pulang dengan alasan bis sudah tidak ada lagi di jam malam. Dan nyatanya dia tidak berbohong. Uangnya tidak cukup untuk naik taksi. Lena harus mencari ATM terdekat untuk mengisi dompetnya. Melihat respon Lena, Advan hanya menghela napas panjang. Dia menengadah, menatap langit-langit rumah sakit yang terang. "Ibuku mengalami komplikasi sejak dua tahun yang lalu," ucapnya lirih. Lena menoleh dengan tatapan bingung, tetapi dia tahu sopan santun untuk diam mendengarkan. "Kondisinya melemah sejak muda. Ibu memiliki riwayat lemah jantung sejak remaja," Advan melanjutkan kalimatnya dengan suara tenang. Lena menangkap ada sorot sendu pada sepasang oniks yang terbiasa dingin dan kaku itu. "Ikeda, kakakku, dia mencoba mengobati ibu kami sekuat tenaga. Kau tahu, uang bukan masalah saat itu. Kami punya banyak uang, dan kesehatan ibu nomor satu," "Ibu memiliki penyakit diabetes kering, penyakit keturunan dari nenekku. Bertahap dengan tidak berfungsinya satu ginjal. Ibu menahan penderitaannya bertahun-tahun hanya untuk membuat kami tidak khawatir." Advan menunduk, menyembunyikan raut wajahnya yang terluka. "Dia selalu bilang dia baik-baik saja. Selalu," Advan menarik napas panjang. Tangannya terjulur untuk menarik rambut legamnya sendiri. "Baik-baik saja, kita tahu arti dari kalimat itu malah sebaliknya, kan?" Lena tersentak. Matanya mengerjap kala oniks itu berputar menatapnya. Lena mengangguk pelan. Advan benar. Pria itu mendengus pelan. "Aku benci mendengar kalimat itu, sebenarnya," jujurnya. Advan menghembuskan napas panjang yang berat. "Mereka semua berbohong tentang perasaan mereka sendiri. Jika aku terluka, aku tidak akan pernah menyebut kalimat itu." "Di mana ibumu tinggal?" Advan melirik dari sudut mata. "Luar negeri. Dia tinggal di rumah lama kami. Saat ayahku masih hidup. Hanya rumah kayu kecil. Tapi ibu mencintainya. Dia pindah dari rumah yang Ikeda bangun untuknya." Lena ingin bertanya di mana ayah Advan tapi dia menahan diri untuk tidak terjun terlalu jauh pada masa lalu pria itu. "Aku ikut prihatin," Lena menghela napas. "Cobaan memang silih berganti datang. Aku munafik jika mengatakan semua akan baik-baik saja, selama kau bisa melewatinya dengan hati yang lapang, kebahagiaan itu menanti di ujung," Lena menoleh dengan senyum. "Semoga ibumu baik-baik saja." "Semoga," Advan berpaling menghindari menatap senyum wanita itu lebih lama lagi. Kembali suasana diselimuti keheningan yang menyesakkan. Lena menyandarkan punggungnya agar mendapat posisi duduk yang lebih nyaman. Dan Advan hanya diam membatu, punggungnya mulai sakit dan tidak nyaman, tapi ini belum seberapa mengingat kondisi ibunya yang terus menurun sejak satu jam yang lalu. Dua jam berlalu. Advan menghela napas panjang. Dia mengusap wajah lelahnya dan berdiri, mengintip kondisi sang ibu dari luar pintu dengan sorot mata cemas. Dia kembali berputar, menatap Lena yang tertidur di kursi tunggu. Keningnya berkerut tampak tidak nyaman. Kursi ruang tunggu sama sekali tidak membuat tubuh yang lelah merasa lebih baik karena keras. Advan mengambil mantel yang dia lipat, membuka mantel itu dan menyelimuti tubuh rapuh yang masih pulas. Dia membeku selama beberapa saat. Tubuhnya bergerak mundur. Tidak percaya dengan apa yang dia lakukan baru saja. Menyelimuti wanita itu? Dia serius? Advan menggeleng kecil. Dia kembali duduk, mengacak rambutnya beberapa kali dan mendesah panjang. Dia melirik Lena yang masih berselimutkan mantel hitamnya dan kembali menunduk. *** Lena melamun di kursi kerjanya. Tatapannya jatuh pada lukisan mungil sebuah rumah kayu yang sederhana dan tampak nyaman. Itu adalah rumah yang dia tempati. Nalaya memberikannya hadiah kecil-kecilan saat Lena bersedia bekerja bersamanya. Lena merasa tersentuh. Dia memajang gambar itu di dinding dekat mesin jahitnya. Jemari Lena terulur, menyentuh lukisan itu dengan senyum lirih. Ribuan kenangan tersimpan rapat di dalam rumah yang membesarkan dirinya. Tempatnya berteduh dari panas dan hujan. Tempat di mana dia bisa menjadi dirinya sendiri. Rumah itu menjadi saksi bisu perjalanan hidup seorang Tanaka Lena yang mandiri. Teh hijau yang dia buat mendingin. Lena menyesap perlahan teh itu dan mendesah lega. Di sampingnya, Haruka tampak sibuk dengan jahitan dan Mara yang sibuk menggaris bahan yang baru. Lena kembali ke pekerjaannya. Memutar mesin jahitnya saat dia mendengar lonceng pintu butik berbunyi dan suara Haruka yang nyaring terdengar. "Selamat datang." "Oh, sial," Haruka mematikan mesin jahitnya dan berdiri gusar. Lena menoleh, mendapati Ame masuk ke dalam butik dengan air muka angkuh. Lena saling melempar pandang dengan Mara yang ikut kebingungan. Dia menaruh bahan itu di atas meja, mendekati Haruka yang bersikap profesional menghampiri Ame. "Maafkan aku, Yang Mulia Ame, tetapi bos kami memberi mandat pada kami, selaku karyawan yang terhormat untuk mengusirmu pergi setiap kau datang ke butik ini," Haruka tersenyum miring pada Ame. "Apa kau mengerti?" Satu tamparan melayang di wajah manis gadis itu. Lena berdiri cepat dari kursinya, melihat Ame yang bernapas kesal dan Haruka yang memegang pipinya dengan Mara memeluk bahunya. Bermaksud menenangkan. "Apa yang terjadi?" Lena mendekat. "Kenapa kau menamparnya?" Dia menatap Ame dengan mata membelalak marah. Ame bersiap melayangkan tangannya untuk menampar Lena, tetapi wanita itu menahan tangannya dan mendorong Ame menjauh. "Pergi dari sini," ujarnya dingin. Ame mendengus tak percaya. Dia menatap Lena dengan pandangan mencela jijik. "Kau pikir kau siapa? Mana bosmu? Aku ingin bertemu!" "Tidak ada," sahut Haruka. Dia menatap Ame tajam. "Pergi dari sini, jalang," Satu tamparan hendak melayang ke pipi Haruka sekali lagi dan Lena melindunginya, dia mendorong Ame menjauh hingga gadis itu tersandung heels miliknya dan terduduk di atas lantai. "Jika kau datang untuk mengacau, kau seharusnya tahu tempat," kata Lena memperingati. Dia mendorong Haruka untuk menjauh dengan Mara yang masih setia merangkul sahabatnya. Ame kembali berdiri. Dia menggeram, menjatuhkan pakaian yang tergantung dan menginjaknya berulang kali. Lena melotot tak percaya. "Dengar, aku datang untuk membuat kalian kaya dengan pesanan bajuku. Dan lihat? Manusia rendahan macam kalian mencari masalah denganku?" Sungguh, busuk sekali Ame ini, pikir Haruka. "Apa kau perlu kaca, hah?" Haruka membentak. "Kau ingin aku membelikanmu kaca. Iya? Kau yang rendahan. Datang tanpa sopan santun. Dimana etikamu?" Haruka membentak. Ame semakin tidak terima. Lena menatap Haruka dengan sorot menasihati. Haruka membuang muka kesal dan dia berlalu pergi. Mara menatap Lena lirih dan dia ikut berlari menyusul Haruka masuk ke dalam. Ame mendekati Lena. Dia mencengkram dagu mungilnya dan membuat Lena terlonjak. Belum sempat Lena menghindari, Ame mendorongnya. Menginjak telapak tangan Lena. Lena merintih pelan. Dia mendorong kaki jenjang itu sedikit kasar dan Ame bergerak mundur dengan dengusan tajam. "Jalang sepertimu tidak akan bisa merebut hati Mori Advan," bisik Ame sinis pada Lena. Lena berdiri. Matanya menyipit dingin. "Siapa yang ingin merebut hati taipan sekelas Mori Advan?" Lena membalas tak kalah dinginnya. "Aku tahu diri di mana aku harus menempatkan posisiku." Ame tertawa. Dia mendorong bahu itu dengan kerlingan mata meremehkan. "Kau tidak akan bisa disamakan dengan Itoo Nalaya yang bersinar, manis," ejeknya. "Kau selamanya ada di bawah kaki Nalaya, ingat, selamanya." Lena hanya diam. "Advan mencintai Nalaya, kau seharusnya tahu diri," imbuh Ame tak terima. Rupanya kejadian Advan memeluknya kemarin mengusik gadis itu. "Kau tidak seharusnya berpelukan di muka umum. Memalukan!" "Katakan saja kau iri ..." Tamparan melayang ke pipi kanan Lena. "Jaga bicaramu!" Lena menggeram sembari mengusap pipi kanannya yang memerah. Dia menatap Ame tak kalah tajamnya ketika dia menarik pintu kaca butik. "Keluar dari sini!" Ame mendengus. Dia merapikan rambut cokelat bergelombangnya dan berlalu pergi tanpa bicara. Lena menutup kembali pintu itu, menunduk dengan usapan tangan di pipinya semakin pelan dan pelan. *** Saat Lena kembali ke rumah sakit, dia melihat Mori Advan menundukkan kepala dan tangan sang dokter ada di bahu pria itu. Lena maju perlahan, menaruh plastik berisi makanan pengganjal perut di kursi ketika dokter itu berbalik, menatap Lena lirih dan berlalu. Advan masih menunduk, menyembunyikan wajahnya. Tetapi Lena melihat bahu kokoh itu bergetar perlahan lalu menjadi hebat. Lena mencoba mendekat. Dia mengamati sekitarnya yang sepi. Dan isakan kecil mengganggunya. Itu berasal dari Advan. "Advan?" Langkah Lena terhenti di depan pintu rawat UGD. Matanya terpaku pada sosok Mori Rosi yang terbaring dengan seluruh alat penopang hidupnya telah terlepas sempurna. Wajah yang terlelap itu tampak damai. Dan suster yang bekerja di dalam menutup selimut hingga menutupi seluruh wajahnya. Astaga, Lena menutup mulutnya. "Advan," panggil Lena sekali lagi saat pria itu menunduk semakin dalam. Advan bergetar hebat. Lena tidak akan bertanya apa kau baik-baik saja. Karena dia memiliki jawabannya. Saat dua suster itu berlalu pergi dari ruang UGD yang kembali sepi, Lena merasa tubuhnya ikut membeku. Dia mendekati Advan, ingin menyentuh lengan yang berbalut kemeja abu-abu yang lusuh dan kusut. Advan sama sekali belum kembali ke rumah. "Advan," bisiknya. Advan mengangkat wajahnya. Lena menahan napasnya saat wajah hancur pria itu melekat begitu kentara hingga Lena tidak sanggup berkata-kata. "Ibu ... pergi," Lena tahu, tanpa perlu Advan menjelaskannya. Dia tahu. "Ibu sudah pergi," lirihnya. Tatapan mata yang biasa dingin dan kaku itu pecah berkeping-keping. Hanya menyisakan luka dan kekosongan. Advan terjebak dalam duka. Lena mendekat. Dia mencoba mengusapkan telapak tangan itu ke sepanjang lengan Advan yang bergetar. Kata-kata tidak akan sanggup menenangkan hati Advan yang hancur. "Dia sudah bahagia sekarang, ibumu tidak lagi menderita," bisik Lena lirih. Dia tidak tahu kenapa air mata menumpuk di sudut matanya. Lena mengerjap, mencoba menghalau titik-titik bening yang siap tumpah. Advan menatapnya. Genangan air mata membanjiri sepasang oniks malam itu. Lena menarik sudut bibirnya, mencoba tersenyum. Dia ingin Advan tahu kalau dia ikut bersedih. "Kau harus ingat ini, ibumu bebas sekarang. Seperti yang kau tahu, dia hidup dalam penderitaan tak berkesudahan. Sekarang dia abadi, tanpa penderitaan," Lena tidak tahu darimana dia belajar untuk menguatkan orang lain. Dia selalu berusaha menguatkan dirinya sendiri di masa-masa sulit. Dan sekarang, dia harus menguatkan Advan. Air mata Advan tumpah. Pria itu menunduk, tidak berniat mengusap air matanya saat dia membuka kedua tangannya, membawa Lena ke dalam pelukannya. Lena menahan napasnya, mencoba menahan isakannya saat Advan menangis di bahunya. Dia tidak akan berpikiran lain tentang pelukan mereka kali ini selain menjadikannya sandaran untuk Advan yang terluka akan kehilangan sosok ibu di hidupnya. Abe menghentikan langkahnya. Dia sudah datang pagi tadi untuk membawakan Advan Sarapan, yang sayangnya sudah dilakukan Lena sebelum wanita itu pergi bekerja. Dan sekarang? Dia sungguh tidak menduga apa yang dia lihat di depan matanya. Advan memeluknya, memeluk wanita itu erat-erat. Abe mencoba mendekat, saat suster yang berjaga menggeleng seraya menunduk dan Abe tahu apa yang terjadi. Advan sedang berduka. Mori Rosi pergi dari dunia fana ini untuk menetap di keabadian. Dimana Ikeda sudah menunggunya. Mata Abe mengerjap saat dia merasakan panas yang menyengat. Mengenal Advan sejak remaja membuat Abe banyak memahami bagaimana seorang Mori Advan yang rapuh dan retak, menunggu waktu untuk pecah. Lena masih ada di sana, menepuk bahu pria itu yang masih menangis dalam diam di bahunya. Lena mencoba berbisik kata-kata menenangkan untuk Advan yang berduka, mengusap punggungnya dan tangisan Advan semakin teredam. Abe menunduk, mengusap sudut matanya ketika dia melihat dua sosok asing tengah berpelukan. Karena tidak ada siapa pun yang peduli dengan Advan di sini, Abe berusaha memakluminya. Dia teringat akan ambisi Advan yang menjadikan Lena periRaka dan membiarkan wanita itu terluka. Setelah yang dilakukan Lena, apakah Advan akan tetap melanjutkan ambisinya? Abe tidak tahu. Hanya Tuhan dan pria itu yang tahu. *** Fujita Abe tersenyum setelah Lena memilihkan model pakaian yang cocok untuk tunangannya, Shita Keana yang meminta pada Abe untuk membelikan gaun pesta saat dia pulang nanti. Tanpa Keana meminta pun, Abe akan membelikannya. "Jadi?" Lena terkekeh pelan karena Abe melamun. Dia terlihat pusing dengan banyak model yang dirancang Itoo Nalaya hampir semuanya mendekati sempurna untuk kekasihnya.  "Bisa kau rekomendasikan mana yang terbaik?" Lena mengangguk dengan senyum. Dia memberikan Abe satu model pakaian dengan tali spageti dan potongan d**a yang tidak terlalu menonjol tapi terlihat elegan. Abe tersenyum puas. "Oke, yang ini. Tapi aku meminta gaun ini berwarna merah. Bagaimana?" Lena mengangguk. Dia mencatat dalam memonya dan Abe duduk di sofa, mengistirahatkan dirinya. Dia mengedarkan pandangannya pada seisi butik yang sepi dan tampak lenggang. Hanya ada suara mesin jahit dan gunting saling beradu. "Dimana Nalaya?" Lena menaruh gelas berisi air dingin di atas meja dan duduk di seberang pria berkulit tan itu. "Hm, pergi bersama Raka," kata Lena dengan senyum. "Melepas rindu karena Raka baru kembali dari luar negeri." "Ah," Abe tersenyum samar. Dia menatap Lena yang masih sibuk dengan memo di tangan. "Bagaimana ... kabar Advan?" Abe terdiam sebentar mendapat pertanyaan dari sosok di depannya. Dia menatap Lena, menundukkan kepala dengan helaan napas panjang. "Dia menghilang tiba-tiba setelah pemakaman ibunya," kata Abe. "Aku sendiri tidak tahu kemana dia pergi. Aku yakin, dia sedang menenangkan pikirannya," Abe tertawa samar. Walau Lena tahu, tawa pria itu palsu. "Advan selalu seperti itu. Dia sering melarikan diri ketika masalah terlalu banyak. Tapi tenang saja, dia akan kembali," jelas Abe panjang lebar. Lena hanya diam. Dia mengangguk pelan dan kembali menunduk. Sudah satu bulan setelah kematian Mori Rosi. Dia dimakamkan di satu pemakaman bersama suami dan anak tertuanya. Lena baru tahu satu fakta, kalau Mori Ken, ayah Advan sudah lama pergi. Dan itu artinya Advan seorang diri. "Sudah satu bulan, ya," Abe menghela napas lelah. "Aku mencoba menghubunginya dan nihil. Advan mengganti kartu nomornya," kepala kuning itu menggeleng putus asa. "Aku berharap dia baik-baik saja." Lena menatapnya dengan tatapan lirih. Dia kembali mengangguk dengan senyum samar. "Aku juga berharap demikian," Abe menatap sepasang manik hutan yang meneduhkan itu dalam-dalam. Hanya dengan menatapnya, dia tahu kalau Lena adalah orang baik, amat baik. "Kau orang yang baik," Abe tiba-tiba tersenyum hangat. Lena memundurkan kepalanya, terkejut dengan kalimat Abe. "Ah, itu tidak—" "Matamu menjelaskan segalanya. Kau peduli dengan Advan, tanpa dibuat-buat," sela Abe. Dia menggeleng kecil saat Lena mulai tidak nyaman. "Kapan bisa kuambil?" Abe berdiri setelah menghabiskan air putih di gelas yang Lena berikan. "Minggu depan?" Lena ikut berdiri. Dia menatap memonya. "Akhir-akhir ini pesanan sangat banyak dan meminta untuk dipercepat. Aku tidak akan menjanjikan waktu singkat untuk pesananmu," katanya menyesal. Abe hanya tersenyum. Dia mengangkat bahunya setelah berjalan ke luar butik. "Tidak masalah. Selama tidak satu tahun, aku akan menunggunya." Lena tertawa pelan. "Tidak akan selama itu. Kami akan berusaha yang terbaik," Abe melambai padanya setelah dia masuk ke dalam mobil sedan hitamnya. Lena mengangguk singkat, kembali berlalu masuk ke dalam butik saat dia duduk di kursinya, dan larut dalam pekerjaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD