Nalaya menunduk, mengaduk jus alpukat di gelas dengan sorot mata lelah dan bingung. Lena menghela napas, mendorong ocha hangatnya menjauh dan menatap Nalaya.
"Ada seseorang yang bisa kau ajak bicara di sini," bisik Lena. Nalaya mengangkat wajahnya, tersenyum tipis pada Lena. "Kenapa kau melamun? Apa kau bertengkar dengan Raka?"
Nalaya menggeleng. Dia menegakkan punggungnya dan menatap meja-meja kedai ramen yang kosong.
"Advan ... maksudku, aku ikut berduka dengan kematian ibunya," kata Nalaya pelan. "Aku baru tahu. Raka memberitahuku."
Lena mengerjap sesaat. Dia hanya menganggukkan kepala singkat.
"Raka bilang, Advan menghilang sudah hampir satu bulan. Perusahaan dipimpin Abe sekarang, beberapa kali Raka meminta untuk bertemu, Advan tidak ada," Nalaya menjelaskan.
"Mungkin, menenangkan diri?"
Nalaya menyapukan pandangannya pada mesin kasir dan mengangguk pelan. Dia melamun. "Ya, Advan seperti itu. Dia akan pergi untuk menenangkan kepala dan hatinya," dengusan meluncur dari bibir polesan. "Dia akan kembali. Kita hanya perlu menunggu sebentar."
Lena terdiam, tidak berkata apa-apa.
"Aku yakin, dia akan kembali,"
Lena menatapnya. Nalaya menghela napas panjang. "Mengenalnya cukup lama, membuatku paham bagaimana sifatnya," Nalaya tertawa miris. "Aku memang menyakitinya, tapi tanpa sadar aku hapal bagaimana kelakuannya. Benar-benar aneh. Mungkin karena aku merasa kami saling mengenal cukup baik. Khususnya, untuk beberapa alasan."
Nalaya menunduk, mengusap wajahnya. "Kau tahu, Lena, Advan tidak seperti yang terlihat banyak orang. Dia itu ... berbeda,"
Lena menatap Nalaya.
"Bungkusan luarnya terlihat kejam, dingin, tidak memiliki belas kasihan. Wajahnya juga seratus persen menunjang sifat dan penampilannya," Nalaya menatap Lena yang melamun. "Tetapi dalamnya ... dia pria yang baik. Sangat baik."
"Advan sangat polos, terkadang dia bersikap konyol tak kenal waktu. Seperti anak-anak yang menja dan haus perhatian," Nalaya melamun, pikirannya melalangbuana ke masa lalu.
"Tentu saja, dia tidak akan menunjukkannya pada orang lain," Nalaya tertawa hambar. "Dia menunjukkannya padaku, hanya aku. Sepanjang yang aku kenang, diriku."
Lena terdiam, dia mendengarkan Nalaya bicara.
"Mengenalnya belum tentu kau tahu bagaimana isi hatinya. Jalan pikirannya yang abstrak, Advan terlalu abu-abu terkadang. Dia bisa dekat dengan kita, sangat dekat, dan keesokan hari, dia bisa sangat jauh. Terlalu jauh,"
"Advan ... dia korban bully saat menengah atas dulu. Hanya Abe yang mau berteman dengannya dan mereka sangat akrab. Abe yang selalu di samping Advan, yang membela Advan di mana pun pria itu disakiti."
"Maksudmu?" Lena tidak mengerti.
"Advan memiliki luka bakar yang parah di sisi wajahnya," Nalaya menunjuk pelipisnya hingga pipi kanan. "Cukup lebar dan mengerikan. Anak-anak sering menyebutnya monster dari neraka."
Lena terkejut. Sangat terkejut. Dia menunduk, mencoba mencerna ucapan Nalaya.
"Advan tertutup. Sangat. Masa lalunya tidak baik dan sangat gelap. Itu yang membentuk kepribadiannya saat ini,"
"Bagaimana bisa?" Lena membeo bingung.
Nalaya menggelengkan kepala. "Advan hanya menunjukkan gambar itu padaku tanpa dia bercerita alasan dia mendapatkan luka bakar itu," Nalaya menghela napas. "Abe mungkin tahu. Dia tahu segalanya tentang Advan."
Lena menunduk.
"Dia bilang dia melakukan operasi tanpa membuat dirinya terlihat tampan, itu kemauan ibunya," lirih Nalaya. "Advan sangat dekat dengan ibunya. Harapan yang dia gantungkan adalah bersama ibunya. Aku tahu rasanya berat untuknya karena kehilangan separuh hidupnya."
"Pubertas yang mengambil alih," sela Nalaya cepat. Dia tertawa pelan. "Gen Mori tidak main-main. Kau tahu bagaimana tampannya Mori Ikeda?" Nalaya terkekeh. "Advan menurun hampir sembilan puluh persen wajah ibunya. Operasi hanya membuang luka bakarnya, bukan merubah wajahnya."
Ah, Lena tidak tahu itu. Dia sempat melihat wajah Mori Rosi walau hanya sekilas.
Lena kembali berjalan dalam diam menuju rumahnya. Karena Nalaya bersikeras ingin mengantar, Lena bersikeras ingin kembali pulang sendiri dengan bis. Nalaya hanya bisa mengalah, dan membiarkan Lena pulang. Karena besok butik tutup, Lena bisa beristirahat lebih lama ketika dia sampai nanti.
Halte cukup sepi karena hujan baru saja mengguyur Tokyo di malam hari. Menyisakan rintik-rintik basah yang bisa membuat kepala pusing malam nanti.
Lena menarik napas, menatap jalan yang sepi dan tanda-tanda bis datang belum terlihat.
Kenapa Nalaya menceritakan semua tentang Advan padanya? Lena kembali menunduk, banyak hal yang dia tidak ketahui tentang Mori Advan. Dimana dia pernah menatap dingin pria itu, mencap Advan sebagai pria buruk tak punya hati. Mengingat bagaimana reputasinya sekarang, Lena merasa sangat bersalah.
"Aku harus minta maaf, mungkin," bisik Lena pada dirinya sendiri.
Dia melihat lampu hijau untuk pejalan kaki menyala. Lena menyebrang jalan, mencoba pindah ke halte yang lain ketika dia melihat sorot lampu mobil boks terlalu terang dan Lena hampir tertabrak jika tidak ada tangan lain yang menariknya.
"Jangan melamun,"
Lena membeku mendengar suara berat itu. Dia menunduk, menatap tangan yang melingkar di lengannya, belum melepasnya.
"Hatta," Lena mencicit pelan. Dia menjauh, membuat pegangan tangan Hatta terlepas. Dia melihat sekitar, ketika Lena berjalan menghindari pria itu. Dan mobil boks yang menabraknya segera pergi setelah Hatta melotot pada sang supir.
Lena terlalu banyak melamun rupanya sampai dia tidak menyadari kehadiran Hatta di sekitarnya. Dia menoleh, menatap sedan hitam di mana Ame duduk di kursi kemudi dan gadis itu menginjak pedal gas dalam-dalam, mobil itu melesat pergi meninggalkan puluhan klakson mobil yang terganggu karena ulahnya.
Hatta menatap Lena yang menunduk, wanita itu mengusap wajahnya. Sebelum pandangan mereka bertemu, Hatta melihat ada sorot mata prihatin dan bersalah yang Lena perlihatkan.
Dan itu pasti bukan untuk dirinya.
Hatta masih menatapnya. Lena mulai tidak nyaman saat dia merasakan matanya kembali menggenang. Masih sedahsyat itu efek seorang Katoo Hatta bagi hati dan pikirannya. Hatta yang memilih pergi dari kehidupannya.
Lena yakin, Hatta dan Ame bertemu. Atau mereka kembali bertengkar? Lena tidak mau memikirkan hal itu.
Ketika Lena menatap sepasang mata milik mantan suaminya, Lena tahu dia tidak akan bisa berdiri lebih lama. Hatta yang menatapnya dengan sorot lelah dan terluka, membuat hati kecil Lena tergerak untuk mendekatinya.
Tetapi logika menahannya. Lena berbalik, berjalan pergi meninggalkan pria itu tanpa ucapan terima kasih.
Karena Hatta ingin mendengar suaranya, walau hanya sekali saja.
***
"Haaah."
Lena menarik napas, lalu membuangnya. Terus begitu sampai dia lelah menghitung helaan napas yang keseratus kalinya.
Pagi ini sangat sejuk. Lena ingin menikmati hari unuk bersantai selama Nalaya memberikan libur di akhir pekan. Karena biasanya mereka akan bekerja sampai tengah hari, Lena bisa menatap langit yang sedikit gelap karena awan mendung.
Lena berbaring di atas rumput yang terpotong pendek di pekarangan rumahnya. Dia berbaring tanpa takut pakaiannya ternodai dengan basahnya rumput bekas air hujan semalam. Dia menikmati waktu untuk melepas beban di kepalanya.
Tangan Lena terulur, menyentuh udara yang tak terlihat saat dia menatap gumpalan awan berjalan pelan beriringan memutari bumi.
Lena rindu, rindu masa kecilnya.
Dia akan berbaring di rumput dan sang nenek akan berteriak memanggil namanya. Memarahinya karena Lena berbaring dengan pakaian yang kotor di punggung. Lena hanya akan tertawa dan neneknya ikut tertawa kemudian. Mengusap rambutnya dengan sayang, tidak lagi marah padanya.
Sudut mata Lena kembali berair. Dia membiarkannya mengalir jatuh ke tanah tanpa mengusapnya.
"Apa aku bisa bahagia? Nanti, di masa depan?"
Pertanyaan polos dari anak berusia sebelas tahun yang duduk di ujung teras, menemani sang nenek yang sibuk menjahit syal untuk cucu kesayangannya.
"Pasti,"
Lena kecil menoleh dengan senyum.
"Pasti. Nenek yakin, di masa depan nanti, akan ada seseorang yang membuatmu bahagia. Membuatmu merasa dicintai dan ... kau tahu? Rasa sakit dan pahit di masa lalumu akan menjadi kenangan. Kau akan berterima kasih pada pengalaman karena mengajarkanmu tetap kuat."
Lena kecil tidak mengerti. Dia hanya mengangguk dengan kedua matanya membulat polos.
Neneknya menaruh syal itu di atas lantai, dia menarik tubuh Lena ke dalam pelukannya.
"Nenek yakin, nenek sangat yakin, kau akan bahagia. Kau pantas mendapatkannya. Lena harus bahagia."
Lena duduk, mengusap wajahnya yang basah karena air mata. Dia menunduk, tertawa pelan ketika kenangan dia dan sang nenek kembali berputar. Mereka tertawa kemudian setelah neneknya menggoda Lena yang mencuri gula-gula di laci makan.
Bunyi ketukan di pagar kayunya membuat Lena menoleh. Matanya melebar ketika melihat sosok Mori Advan berdiri canggung di luar pagar dengan air muka datar.
Advan berdeham saat Lena berdiri, wanita itu berjalan mendekatinya. Mata Advan melihat adanya bekas air mata di kedua pipi meronanya.
"Hai," sapa Advan canggung.
Lena tertawa pelan. Dia mengusap kedua sudut matanya dan membuka pagar hingga terbuka lebar.
"Hai," Lena balas menyapanya. Advan menahan napasnya melihat senyum wanita itu.
Dia kembali berdeham.
Lena menatap penampilan Advan yang santai pagi ini. Waktu satu bulan tidak merubah Advan selain sorot matanya yang kembali datar dan kaku.
"Kau baik-baik saja?"
Advan terdiam cukup lama. Dan Lena lagi-lagi merasa bersalah.
"Ya," balas Advan. "Tidak," ulangnya kembali. Advan menarik napas panjang. "Sedikit lebih baik," dia jujur pada akhirnya.
Lena menatapnya dengan alis terangkat, kemudian tersenyum hangat.
Advan mengulurkan tangan kirinya yang menenteng plastik bungkusan dari resto ternama di kota. Dia menatap Lena, lalu bergantian pada plastik itu.
"Sebelum aku ke sini, aku membeli Sarapan," Advan melirik jam di pergelangan tangannya. "Aku tidak yakin apakah jam Sarapan sudah terlewat atau belum, tapi ..."
"Apa itu dimsum?"
Advan mengerjap. Dia menunduk dan kembali menatap Lena yang berbinar. "Ya, dan pangsit goreng, rebus, dan nasi goreng."
"Wah," Lena berbinar. Advan terkejut. "Kau membeli terlalu banyak. Apa ini untukku?"
Advan mendengus menahan geli. Dia mengangguk pelan dan memindahkan plastik itu ke tangan Lena yang kesulitan membawa bungkusan besar itu, Advan kembali membawanya di tangan.
"Kupikir ... kita bisa Sarapan bersama?"
Lena mengerjap sebentar. Dia menatap Advan yang menatapnya dengan canggung dan bingung. Kepala merah muda itu mengangguk pelan.
"Tentu saja,"
"Hitung-hitung kita impas," sahut Advan.
Lena menatapnya dengan gelengan kepala. "Yang kemarin murni dariku. Kau tidak perlu membalas apa pun," Lena mendorong pagar kayunya agar Advan masuk ke dalam. "Jangan khawatir, aku hanya tidak ingin kau jatuh sakit karena melupakan kewajibanmu untuk mengisi perut."
Lena kembali menutup pagar. Tidak melihat bagaimana wajah Advan yang membeku dan tubuhnya membatu selama beberapa saat. Advan menatap Lena yang berjalan lebih dulu, menundukkan kepala ketika dia menatap bungkusan di tangan.
Senyumnya tertahan.