21

1507 Words
"Ini makanan kesukaanmu?" Advan menatap piring-piring yang kosong dengan raut bingung. Lena sejak tadi sibuk makan dan tidak berceloteh apa pun. Wanita itu menganggukkan kepalanya berulang kali. Dia memotong sisa dimsum yang sudah dilumuri saus dengan mengulum senyumnya. Tiba-tiba merasa malu. "Ya, sejak aku kecil, pangsit dan dimsum makanan paling menghemat isi dompet. Nenek sering memasakkan ini untukku." "Oh," hanya itu respon Advan. Lena kembali memakan dimsumnya. Dia melirik piring pria itu. Nasi goreng tanpa tambahan apa pun masih belum tersentuh. Lena berdeham, dia menegak air putih dan melirik Advan bergantian dengan nasi gorengnya. "Kau tidak suka? Maksudku, kenapa kau tidak memakan makananmu?" Alis Advan menekuk. Dia menatap piring yang masih penuh dengan nasi goreng lalu bergantian menatap Lena. "Aku tidak lapar sebenarnya," dia mendorong piring itu ke hadapan Lena. "Kau mau?" "Ah," Lena terkekeh pelan. Dia menaruh sumpitnya di atas meja. "Perutku sudah membesar. Tidak, terima kasih. Lebih baik disimpan, mungkin bisa dipanaskan nanti kalau kau mau?" Advan berpikir sejenak. Dia hanya makan roti isi dan minum kopi saat di rumah tadi. Helaan napasnya terdengar, kepala itu mengangguk pelan. Lena segera berdiri mengambil mangkuk bersih untuk dia tuang nasi goreng itu. Menyimpannya dalam laci khusus secara hati-hati. Lena melakukannya dengan baik. Sampai Advan tersadar, bahwa ia sejak tadi memandangi sosok itu tanpa suara. Tercenung dan berlama-lama menikmati. Advan mengamati gerakan tangan Lena dalam lamunan yang menyesakkan. Satu bulan ini dia pergi untuk menenangkan diri yang kalut. Tidak henti-hentinya dia berpikir bisakah dia hidup tanpa ibunya? Advan selalu bergantung pada sang ibu. Apa pun kondisinya. Hanya dirinya satu-satunya bagian dari keluarga yang tersisa tempat Advan untuk pulang. Sebesar apa pun rumahnya, sebanyak apa pun properti yang dia bangun dan beli hanya untuk mencari kenyamanan ... Advan selalu merasa hampa. Rumah tetaplah rumah. Dia tidak punya rumah untuk benar-benar pulang. Matanya mengerjap akan rasa panas yang menyengat. Dia tidak bisa terus-menerus lari dari masalah. Dia harus hidup, harus maju untuk lepas dari sakitnya kehilangan. Ibunya akan bersedih jika dia terus berduka seperti ini. Begitu pula dengan Ikeda, kakak yang selalu bangga padanya. "Advan?" "Hei, Advan?" Lena menepuk bahu pria itu agak keras. Advan memutar matanya, lamunannya kembali pecah saat Lena mendesah lega dan dia terlihat bingung. "Kau melamun," itu seperti pernyataan. "Ada apa?" Advan tidak menjawab. Dia hanya menundukkan kepalanya dalam-dalam. Seperti raganya tertinggal di sini, jiwanya terbang bebas melalangbuana mencari tempat terbaik. Lena menarik kursi untuk duduk. Dia menatap rambut legam pria itu dengan mengiba. "Bukan maksudku bertanya terlalu jauh, tapi kau serius, kau baik-baik saja sekarang? Karena kau tidak terlihat demikian." Advan mengintip dari celah-celah poninya yang mulai memanjang. Dia menarik napas panjang, membuangnya perlahan. "Tidak," Lena menunduk, tidak enak hati pada pria itu. Dia berdiri, melakukan sesuatu di dapur mungilnya saat Advan melihat Lena membuatkan teh untuknya. Membuat teh tidak perlu memakan waktu lama. Karena Lena sudah kembali ke meja dengan teh hijau yang masih hangat. Dia tersenyum. "Ini mungkin bisa membuatmu lebih baik?" Advan tidak mengharapkan kata-kata atau kalimat menenangkan untuk membuat perasaannya membaik. Karena hanya dengan segelas teh hijau hangat, mampu membuat sedikit bebannya terangkat. Walau hanya sedikit, dia merasa lebih tenang. Lena menatap pria itu lekat-lekat. Ada rasa iba berbalut prihatin ketika dia melihat sosok Mori Advan yang begitu rapuh. Advan menyesap sedikit teh itu. Dia melirik Lena yang masih diam memperhatikannya. Suasana jadi sedikit lebih canggung karena Lena menatapnya sangat intens. Seolah menunggunya bicara sesuatu yang lebih baik untuk membuka obrolan mereka. "Ini ... tehmu," Advan menggantungkan kalimatnya. Dia merasa kelu tidak mampu melanjutkan ucapannya. "Yang terbaik." "Ah," Lena tertawa malu. Dia menatap Advan dengan mata menyipit geli. "Semua orang bisa membuat teh hijau. Kau mau aku memberikan resepnya? Atau ingin kuberikan langsung teh hijau itu? Aku masih memiliki beberapa sisa di rumah kalau kau berkenan." Advan mengerjap sesaat. Saat Lena mengeluarkan sesuatu dalam wadah mungil, dia melihat teh hijau dalam balutan plastik. "Kau bisa mencobanya di rumah kalau kau mau, ini membantu saat kau sedang bingung, gelisah, hmm apalagi, ya?" Advan menatap plastik itu dan dia keberatan dengan ide Lena memberikan seluruh persediaan teh hijau miliknya pada dirinya. Jadi, Advan menggeleng pelan. Lena kembali menutup wadah mungil itu dan mengangguk. "Tidak apa kalau kau tidak mau," Lena tersenyum samar. "Kau bisa bilang padaku kalau kau ingin teh hijau." Dia menawarkan diri. Advan tahu itu bukan ajakan yang berbau ke hubungan percintaan lebih lanjut, seperti kencan atau kepura-puraan dalam obrolan sekadar basa-basi. Lena menawarkan diri dalam ketulusan, untuk membuatnya lebih baik. Sudut bibir Advan terangkat. Dia buru-buru menunduk, menghabiskan sisa tehnya hingga dia terbatuk pelan dan Lena terkekeh kecil. "Pelan-pelan, oke?" Advan mengintip dari bibir gelas dan mengangguk malu. "Oke." *** "Selamat pagi." Napas para tamu undangan rapat tertahan tatkala sosok Mori Advan kembali berjalan masuk ke dalam ruangan dengan balutan jas hitam yang rapi dan penampilan sempurna yang memukau. Banyak orang mengatakan Advan tertekan dengan kematian ibunya. Dia depresi hingga bunuh diri. Desas-desus itu menyebar cepat. Membuat kabar burung itu terus menyebar tanpa bukti yang membuat Abe geram dan harus mengancam para media untuk mencabut berita tak masuk akal mereka. Dan berita itu terbukti tidak benar. Advan kini berdiri, dengan gagah dan tampang datar yang menjadi ciri khasnya. Dia terlihat baik-baik saja, siap menata hidupnya kembali. Abe tersenyum saat Advan menatap para tamu undangan dengan ekspresi datar. "Selamat pagi juga," sapanya, dia melirik Satoo Raka yang terngaga karena mendapati Advan kembali tanpa pemberitahuan sebelumnya. Raka berdeham. Dia melirik para tamu yang mulai berbisik-bisik karena tidak menyangka bertemu Advan pagi ini. Mereka berpikir bos besar Mori's Group tidak akan kembali dalam waktu dekat. "Karena banyak pekerjaan yang menunggu, aku tidak bisa pergi berlibur lama-lama. Bukan begitu?" Advan melempar kedipan matanya pada Abe yang memutar mata dengan dengusan geli. Pria itu menulis sesuatu dalam catatannya saat sekretaris Raka, Megane memberikan beberapa laporan terkait keuangan mereka yang terus melonjak naik selama pembangunan masih berjalan. "Banyak investor yang tertarik, bagaimana?" Raka bersuara. Lupakan keterkejutannya akan Advan yang kembali. Bisnis tetaplah bisnis. Dia harus profesional sekarang. "Itu bagus, kan? Jika pembangunan ini gagal, mereka tidak akan mendapat apa-apa dan tidak bisa menuntut kita sebagai pihak yang bertanggung jawab," gumam Advan. "Abe akan buat proposal persetujuan itu. Meski kemungkinan pembangunan ini merugi hanya lima persen, aku yakin sembilan puluh lima persen akan berhasil. Mereka tidak akan dirugikan," Advan menatap Abe yang mengangguk dan mencatat apa yang Advan katakan. Para tamu undangan saling melempar pandang. Beberapa dari mereka setuju dengan ucapan Advan. Jika mereka berani menanam saham, mereka harus menanggung konsekuensi yang mungkin terjadi di masa depan selain keuntungan yang menggiurkan. Rapat berjalan selama tiga puluh menit. Para tamu undangan membubarkan diri ketika Raka menyuruh Megane untuk menunggu di lobi dan dia butuh bicara dengan Advan secara pribadi. Abe belum beranjak dari tempatnya. Raka berpikir itu bukan masalah karena Abe adalah rekan terdekat Advan. Pria itu banyak mengenal Advan dari segi mana pun. "Perusahaan baik-baik saja selama kau pergi," ucap Raka, dia membuka obrolan dengan topik tidak penting karena jelas Abe mampu memegang kendali dengan baik. "Terdengar seperti kau meragukan Abe," balas Advan dingin. Dia melirik Raka yang terpaku pada tablet yang mati di atas meja. "Katakan saja apa yang ingin kau bicarakan, aku mendengar," Abe menghela napas panjang. Dia tidak nyaman. Tapi dia harus ada di sini. Takut-takut baku hantam antara Advan dan Raka terjadi karena masalah perempuan. Hah, Abe memutar mata. "Beberapa minggu terakhir, saat kau menghilang begitu saja, Nalaya mendengar kabar itu," ujar Raka. Tangannya memainkan pulpen hitam. Abe melirik Advan yang membeku. Dia menghela napas panjang. Benar, kan? Ini tentang wanita. "Dia menjadi sedikit gelisah," Raka mencoba melirik Advan yang masih diam mendengarkannya bicara. Pria itu tidak menatapnya, melainkan menatap layar putih besar yang ada di depan meja besar. "Dia mencemaskanmu ..." Raka menghela napas panjang. "Mungkin aku salah paham tentang bagaimana perasaannya padamu, tapi dia peduli. Sesulit itu aku tidak ingin mempercayainya. Nalaya begitu ingin tahu kabar darimu." Advan akhirnya bicara. "Katakan padanya aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dia khawatirkan," Advan menunduk, menghela napas pendek. "Jika pun dia ingin peduli, semua terlambat." Abe menatap Advan, bergantian dengan Raka yang terpaku menatapnya. Raka seolah bingung dan takut. Ekspresi mukanya tidak mampu berbohong kalau pria itu takut Nalaya pergi dari hidupnya. "Aku mungkin tidak tahu terlalu banyak tentang kalian di masa lalu selain dari omongan orang lain, apa pun itu ..." "Sebenarnya tidak ada yang perlu kau cemaskan, Satoo," ucap Advan datar. Dia menatap sepasang mata kelam yang bergerak gelisah dan bingung. "Kita berdua sama-sama tahu kalau Nalaya mencintaimu, bukan aku." Raka menunduk dalam. "Tidak peduli dia mencemaskanku atau tidak, kami pernah memiliki hubungan di masa lalu. Sepihak atau pun tidak, rasa peduli itu tentu saja ada. Selama kau berpikir itu bukan masalah, semua akan berlalu," Advan menghela napas lelah. "Kau mungkin juga tahu kalau aku yang jatuh cinta padanya, bukan dirinya." Raka menatap Advan. Dia semakin merasa bersalah. "Aku bekerja sama denganmu bukan ingin membuat hubungan kalian berdua hancur. Ini murni, bisnis tetap bisnis. Aku berpikir tidak profesional jika kita memasukkan masalah pribadi pada urusan pekerjaan," Advan berdiri dari kursinya. Meninggalkan Abe yang terhenyak tidak percaya dengan apa yang Advan katakan. Dia berpaling, menatap Raka yang menunduk. "Jangan khawatir," kata Abe saat dia berdiri. Mata biru lautnya menatap Raka dengan senyum hangat. "Kau tidak akan kehilangan Nalaya hanya karena dia peduli pada Advan. Jangan membuat semua ini berujung salah paham. Kau mengerti?" Raka mengangguk dengan wajah masam. Dia menatap Abe yang ikut berlalu pergi. Meninggalkan dirinya sendiri dalam kemelut rasa bersalah yang luar biasa karena menuduh Advan dengan ketakutan konyolnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD