"Kenapa dengan spionmu?" Haruka menoleh dengan alis terangkat saat dia bersiap memakai helm. Matanya berulang kali melirik spion yang menyisakan satu di bagian kiri dan bergantian dengan Lena yang mengernyit. "Aku jatuh, spionku patah," Lena menatapnya sedih. "Kapan? Saat kau datang ke rumah?" Haruka mengangguk pelan. Tapi dia melambai pada Lena. Menyadarkan wanita itu. "Tidak, jangan khawatir. Aku tidak lihat jalan karena sedikit gelap. Ada lubang dan aku jatuh. Tidak apa." Mara mendengus dengan memutar mata. "Lain kali menyetir dengan matamu, bukan dengan dengkul," imbuhnya. Haruka mendengus tajam. Matanya melotot pada Mara yang menahan geli. "Cepat naik, sebelum kedai karinya ramai." Lena mengernyit. Naik motor? Bertiga? Apakah Haruka sudah gila? "Heh, otakmu konslet ternyata,"

