Indahnya hidup ini, karena mengajarkanku bagaimana caranya mengubah luka menjadi bahagia. “Pak Ranu?” Aku sama sekali tidak menyangka, sekembalinya aku dari kamar yang ibu tempati, ternyata pak Ranu alias suamiku, maksudnya suami ibu, sudah ada di atas ranjang dengan pakaiannya yang … terbuka. Sedikit mengendap-ngendap, menjauhinya semampu yang kubisa, aku sengaja langsung berjalan ke toilet, menenangkan hatiku yang tidak mau berhenti berdebar dengan cepat. “Kenapa? Kok kaget gitu kamu lihat aku sudah ada di rumah?” “Enggak. Aku enggak kaget. Cuma tadi aku enggak dengar aja kalau kamu udah sampai. Lagi pula, bukannya aku ….” “Kamu kenapa? Kamu enggak bukain pintu? Kan kamu sendiri yang kasih aku kunci, Yang. Lupa, ya?” Hanya bisa meringis, aku mengingat-ingat benarkah ibu melakuk

