Bab 9

1449 Words
Pengalaman pertama, membuatku malah menjadi penasaran sekaligus curiga.   Satu kata yang bisa kuucapkan kini, BARU. Ya, bagiku sangat baru melihat cara atau kebiasaan yang dilakukan keluarga ibu Inara, pak Ranu, setelah mereka selesai makan. Karena semua ini tidak pernah terjadi dalam keluargaku. Menjadi anak tunggal dalam keluarga, memang ada suka dan dukanya. Seperti contohnya ketika makan bersama ayah dan ibuku dulu. Biasanya kami akan makan seperti biasa. Ayah memimpin doa, lalu kami sama-sama menikmati makanan yang sudah dimasak ibu susah payah. Lalu setelahnya, ya sudah, tidak ada yang spesial. Hanya mengangkut piring-piring bekas makan ke tempat cuci, lalu biasanya akan bergantian entah ayah atau ibuku yang mencuci piring setelahnya. Tidak ada obrolan. Tidak ada canda tawa. Semuanya penuh keseriusan. Sekalipun meluncur pertanyaan-pertanyaan penting selama makan berlangsung, maka pertanyaan tersebut hanya seputar sekolahku, berapa nilai ujianku, berapa banyak temanku di sekolah. Tidak ada hal-hal spesial lainnya. Karena baik ayahku, ibuku dan aku, hanya terfokus kepada makanan yang sedang dinikmati saja. Lalu kini, maksudku dalam undangan acara makan ini, semua terasa baru bagiku. Saat kami makan tadi, meluncur banyak sekali canda tawa. Ledekan – ledekan seperti, habiskan saja nasi satu bakul itu, nanti kita pesan lagi kalau kurang. Atau jangan cuma ambil lauknya, ambil juga sayurnya. Karena dimakan bersama lebih nikmat dibanding dipisahkan. Sebenarnya semua itu terdengar biasa saja. Namun bagiku, semua terasa sangat berbeda. Bagiku inilah pengalaman pertama. Biasanya kata-kata serius yang selalu muncul untuk dibuat diskusi ketika kami sedang makan. Akan tetapi kali ini, dengan keluarga lain tentu saja, semuanya sangat jauh berbeda. “Pacaran satu kantor itu enak enggak sih? Coba bagi pengalaman nih. Karena anaknya ibu Inara, Mira, masih jomblo. Siapa tahu setelah dengar cerita kalian jadi ada semangatnya gitu cari pasangan satu kantor.” Sosok ibu-ibu, berbadan tambun, yang pertama tadi mengatakan aku sudah perawan, mulai mengeluarkan pertanyaan-pertanyaannya. Seolah dia bisa membaca isi pikiran orang, dia menyuarakan pertanyaan anaknya ibu Inara, mengenai hubungan dengan teman sekantor kepada kami, aku dan Elam. “Ada enak dan enggaknya,” jawab Elam santai, dengan kedua tangannya masih belepotan bumbu ikan yang sedang dia nikmati. “Enaknya apa, enggak enaknya apa? Kan bisa jadi refrensi tuh buat Mira,” celetuk ibu itu kembali. Elam sengaja melirikku memberikan kode seperti, siapa nih yang jawab, sampai aku berikan pelototan tajam, barulah dia tersenyum dan pasrah menjadi narasumber hari ini. “Enaknya, kalau saya sama Rhea, irit ongkos. Irit juga biaya makan. Irit waktu. Enggak perlu jemput-jemputan. Karena kita pergi dan pulang kantor selalu bareng. Saya biasanya pagi ke rumah Rhea dulu. Sarapan, ya Bu.” Senyum Elam ke arah ibu. “Terus abis sarapan, ya langsung berangkat ke kantor. Bensin patungan. Eh, kebanyakan saya sih yang beli. Karena yang dipakai mobil Rhea. Terus makan enggak perlu dinner cukup makan siang di kantin kantor. Nasi padang 20 ribu, udah mewah banget. Terus enggak perlu keluar biaya telepon, tinggal teken extention punya Rhea, langsung kehubung. Dan rata-rata, orang yang Rhea kenal, pasti saya kenal. Karena lingkupnya satu kantor.” “Kalau enggak enaknya, enggak bebas.” “ELAM!!” jeritku sebal. “Tuh kan lihat sendiri dari jeritannya. Tapi jujur, enggak enaknya pasti enggak bebas. Kalau saya pergi dengan teman yang enggak Rhea kenal, pasti curiga. Begitupun sebaliknya. Saya pasti cemburu kalau dia pergi sama teman-teman SMA nya, karena saya enggak begitu kenal. Tapi makin ke sini, setelah 2 tahun saling mengenal, kadang kami saling tahu bagaimana caranya menjaga perasaan pasangan. Dimulai ketidak bebasan yang tadi saya katakan, Rhea selalu memberikan saya waktu 1x dalam seminggu untuk bersenang-senang dengan teman saya yang tidak Rhea kenal. Tapi saya, sebagai laki-laki yang tahu diri, dan tahu caranya menjaga perasaan pasangan, biasanya saya selalu memberikan info ke Rhea. Semisal, aku lagi di sini, main futsal. Atau kirim beberapa foto bareng teman yang enggak Rhea kenal. Setidaknya dia tahu, sekalipun ada perempuannya juga di sana, tapi dia tahunya dari saya. Bukan dari orang lain. Itu aja sih paling cara kami menjaga hubungan ini, yang lebih tepatnya udah kayak sahabat karib. Kadang saya ngerasa kayak abangnya Rhea. Karena Ibu lebih sayang ke saya, dari pada ke Rhea.” Mengakhiri kalimat panjangnya, Elam malah lanjut tertawa. Sambil menjilat bumbu-bumbu di jarinya, dia mengangkat kedua tangan seolah memohon ampun kepada pak Ranu yang duduk di sebelahnya. “Ampun, pak Ranu. Kan sekarang ada pak Ranu. Berarti ibu sayangnya banget-banget sama pak Ranu, bukan salam Elam lagi.” “Apaan sih!!” “Tuh, Bu. Denger. Rhea cemburu juga. Makanya ibu jadiin Rhea nomor 1 terus. Jangan Elam atau pak Ranu.” Elam yang berhasil mencairkan suasana, malah menjadi pujaan ibu-ibu keluarga pak Ranu. Bu Inara dan yang lainnya mengatakan aku sangatlah beruntung bertemu Elam. Sosok laki-laki baik yang bisa menghibur. Berasa Elam topeng monyet kalau begini. Setelah selesai makan, beberapa laki-laki dari keluarga pak Ranu mulai menjauh. Memberikan jarak untuk mereka semua berlomba menghidupkan benda pipih putih kesayangan mereka. “Elam enggak ikutan juga?” “Ah?” Kekasihku itu malah terlihat cengok, sambil memegang segelas besar es teh manis. “Itu ditanya, kamu enggak ikutan mereka?” kodeku kepadanya. Elam meneguk es teh manisnya terlebih dulu hingga tandas, barulah dia menggeleng sembari memasang senyum lebarnya. “Enggak lah, Bu. Badan tinggal tulang sama kentut doang, pakai bergaya ngerokok. Yang ada saya langsung masuk rumah sakit.” “Sama berarti sama saya,” ucap pak Ranu, membuat fokusku, Elam dan ibu, langsung tertuju kepadanya. Memang ini bukan pertama kali kami, maksudnya aku, ibu, Elam, dan pak Ranu makan bersama. Tapi masalahnya aku baru menyadari dia tidak merokok juga. Seperti ayahku dulu. “Bagus, Pak. Mending uangnya ditabung, buat jajanin istri.” “Emang kamu udah punya istri?” tanyaku sambil melirik Elam. “Ralat … ralat, buat bahagiain calon istri. Toh, ibu juga belum menikah sama pak Ranu.” What … What!! Elam. “Kamu bener-bener nyebelin ya hari ini,” bisikku kepadanya. “Peace.”   ***   Seperti biasa, sedikit berbasa basi, Elam menawarkan diri untuk ikut membayar atas makanan yang dirinya dan aku makan. Secara yang diundang hari ini hanya ibu, masa setelah kami kenyang menyantap semuanya, tidak ada basa basinya sedikit pun. “Udah, tenang aja,” ucap pak Ranu, menepuk d**a Elam dengan punggung tangannya ketika kekasihku itu mendekati meja kasir juga. “Enggak enak, Pak. Bagian Rhea sama saya, biar saya saja yang bayar.” Pak Ranu hanya tersenyum, bahkan tatapannya sempat melirikku dan juga ibu yang berdiri tidak jauh dari mereka. “Anggap saja, ini makan pembukaan saya sebagai orangtua kalian.” Elam menengok ke belakang. Mengikuti tatapan pak Ranu yang sedang kutatap balik. “Kalau tahu seperti ini, saya enggak sungkan-sungkan nambah tadi,” ucap Elam yang masih bisa kudengar. “Lagi pula …..” Kata-kata Elam lenyap, karena dia sedikit berbisik kepada pak Ranu. Aku yang sibuk mempelototi keduanya mulai curiga. “Ngomong apaan tuh anak?” “Siapa?” tanya ibu yang mendengar gumamanku. “Itu, Elam sama pak Ranu.” “Kalau penasaran ya disamperin. Ditanya baik-baik, bukan mendumal.” Mendengar ibu membela kedua laki-laki kesayangannya, aku mencibir ibuku sendiri. Sumpah demi apapun kondisi ini benar-benar menyebalkan. Apa ada yang pernah merasakan diposisiku ini? “Kamu bisik-bisik apa tadi?” todongku pada Elam, saat kami bersiap akan berpisah untuk pulang. Elam dengan pakaian gembelnya, malah semakin cekikikan. “Tadi aku basa basi dikit.” “Basa basi gimana?” “Basa basi mau bayar. Cuma aku ngomong jujur sama pak Ranu.” “Ngomong gimana?” “Aku bilang, lagi pula saya cuma basa basi mau bayarin, Pak. Karena dompet saya aja ada di tas ibu. Maklum anak kesayangan ibu. Jadi Bapak wajib tahu, selain ke Rhea, restu saya juga penting.” “Dih, beneran kamu ngomong gitu?” “Percaya enggak?” “Enggak.” “Ya udah.” “Ish, Elam!” “Apaan sih? Udah, kamu tenang aja. Aku akan uji coba dulu ketulusan pak Ranu ke ibu kayak apa. Jadi kamu enggak perlu khawatir lagi nantinya.” Aku cuma mencibir Elam. Samar-samar kudengar ibu digoda bu Inara untuk ikut mobilnya, agar di antar pulang sama pak Ranu sampai ke rumah. “Dih apa banget sih,” aku bergumam tidak suka. Posisiku yang tadinya jauh di belakang, perlahan melangkah maju ke dalam. Masuk ke dalam lingkaran keluarga pak Ranu yang masih sibuk menggoda ibu. Ketika mereka sadar ada aku di sana, tanpa tahu malu, aku langsung saja mengajak ibu pulang. Tidak peduli mau dibilang SMP, alias Sudah Makan Pulang, yang penting sudah menjadi kewajibanku untuk menjaga ibu saat ini. “Ayo, Bu. Pulang. Elam udah ngantuk tuh.” Di posisinya, Elam melotot kaget mendengar rengekanku yang membawa-bawa namanya. “Udah, tunggu halal aja. Biar Rhea enggak capek-capek jadi satpam ibu cantik.” SATPAM? Enak saja aku disamakan dengan satpam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD