Butuh enggak butuh, lebih tepatnya aku cuma rindu.
Berhasil menghubungi Elam, lagi dan lagi, akhirnya laki-laki itu sampai di rumahku dengan motornya. Hanya memakai celana pendek, sungguh dia sama sekali tidak tahu jika kita akan pergi makan bersama teman mama. Yah, walau nanti kami akan pisah meja, tapi tetap saja pakaian Elam keterlaluan.
“Kenapa sih? Kamu juga sama kan, pakai celana pendek doang,” seru Elam tidak suka dikomentari.
“Tapi aku bukan boxer ya.”
“Yaelah, siapa yang sangka ini boxer. Warnanya hitam kalem gini.”
“Pakai trainingku gih.”
“Idih, ogah.”
Tidak bisa berkata-kata lagi, aku memilih untuk diam. Capek juga lama-lama mengomentari hidup orang lain. Karena dimata mereka, hidupku juga belum pada titik yang benar. Karena itulah, kini aku cuma diam, melihat Elam masih sibuk melakukan push rank sambil menunggu ibu mengunci semua pintu.
“Kamu kok enggak tanya kita mau makan sama siapa,” ucapku sambil memukul-mukul kaki Elam dengan wristlet- ku.
“Paling temennya ibu. Atau paling pak Ranu. Emang siapa lagi?”
Aku tersenyum miris. “Iya, sih. Dua tahun kamu kenal aku, pasti tahu orang-orang di lingkungan sekitarku siapa aja. Karena aku anaknya kan introvert banget.”
“Ya, ya. Terserah kamu, Yang.”
Seolah malas berdebat, aku malah tertawa mendengar tanggapan Elam.
“Yuk,” ajak ibu saat mengunci pintu depan.
Elam yang belum sadar dengan tampilan ibu, seketika memasang ekspresi kaget.
“Rhe, itu beneran ibu kamu, kan?” bisiknya dengan suara yang sama sekali tidak kecil.
“Cantik, kan?” tanyaku sambil tersenyum bahagia.
“Sungkem dulu, ah.”
Buru-buru Elam mencium punggung tangan ibu setelah ibu selesai mengunci pintu.
“Kenapa sih? Enggak pernah lihat ibu cantik, ya?”
“Ibu biasanya cantik. Ini bener-bener cantik,” ucap Elam begitu jujur.
Ibu tersipu malu. Jelas saja. Setelah 15 tahun tidak ada laki-laki yang memujinya, Elam menjadi laki-laki pertama setelah ayah yang memuji ibu cantik.
Yah, mudah-mudahan tebakanku benar. Semoga pak Ranu belum pernah memuji ibu cantik.
“Udah, yuk. Berangkat. Takutnya ibu Inara ….”
“Ibu Inara, apa pak Ranu yang udah nunggu?”
“Ibu Inara. Kan ibu janjiannya sama dia.”
“Baik. Baik. Kamu denger kan, Ibu bilangnya ibu Inara yang udah nungguin dia. Bukan pak Ranu. Awas aja.”
Elam hanya tertawa. Dia langsung masuk ke sisi pengemudi, sedangkan aku duduk di sampingnya.
“Besok isi bensin lah. Kalau bukan aku yang panasin ini mobil, kamu enggak akan panasin deh kayaknya.”
“Ya, itu gunanya kamu datang. Bantuin aku.”
Elam melirikku sebal. Sedangkan kulihat ibu di kursi belakang hanya menggeleng-geleng saja.
“Nanti kalau pak Ranu udah jadi keluarga, ada dia yang bisa diajak gantian panasin mobil,” goda Elam sampai kuberikan pelototan kejam.
“Mulai ya.”
“Lagian. Ngeselin kamu mah. Maunya ngeledekin dan godain orang aja. Giliran digodain balik atau diledekin balik, marah.”
Aku tidak bisa berkomentar apa-apa. Karena memang benar itu karakterku. Aku suka menindas Elam, tapi aku tidak suka Elam melakukan hal serupa kepadaku. Terdengar egois, kan? Tapi memang seperti itulah aku.
“Sudah, sudah. Yuk jalan.”
“Besok jangan lupa beli bensin. Udah mau abis,” celetuk Elam tiba-tiba sambil melirikku.
“Isilah. Kan ada kamu.”
“Idih, gitu.”
“Apalagi sih?”
Semakin jengah mendengar perdebatan aku dan Elam, ibu kembali bersuara. Dia menunggu responku dan Elam yang kini sama-sama diam.
“Enggak papa, Bu. Mampir ke pom bensin sebentar, ya. Elam mau isi bensin dulu.”
“Ini sedikit, Nak. Buat beli bensin.”
Kulihat ibu menyodorkan uang 100 ribu ke arah Elam setelah pacarku itu mengatakan ingin isi bensin dulu sebelum pergi ke tempat tujuan kami siang ini.
“Apaan sih, Bu. Enggak usah, biar Elam aja yang bayar,” ucapku sinis. Mendorong tangan ibu menjauhi tubuh Elam.
“Iya, aku yang bayar. Apa sih yang enggak buat pacar.”
“Yah memang harus gitu dong. Melakukan apapun untuk orang yang kita cinta.”
“Bu, denger enggak, Bu. Pak Ranu disindir sama Rhea. Katanya mana nih pak Ranu enggak jemput. Malah Elam yang anterin kalian.”
Responku langsung mencubit paha Elam gemas. Andai saja tanganku sampai untuk mencabut bulu kakinya, pastinya sudah kulakukan. Sungguh pacarku ini memang keterlaluan. Setelah aku menceritakan bagaimana responku yang menolak ketika pak Ranu ingin menjemput kami, dan aku malah menghubungi Elam untuk mengantarkan kami, dia bisa-bisanya membalikkan fakta. Dasar manusia.
“AAAH … sakit, Rhe. Gila ya kamu. Aku lagi nyetir bisa-bisa dicubit. Nanti kalau kecelakaan gimana.”
“Bodo!”
“Egois dasar.”
***
Seperti yang Elam katakan tadi, dia melajukan mobilnya hingga sampai disebuah pom bensin. Mengantri sejenak sampai tiba ketika mobilku diisi bensin, Elam langsung mengatakan untuk mengisikan full, yang itu berarti lebih dari cukup.
Aku tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah kekasihku itu. Sekalipun Elam menyebalkan, tapi seriously dia tipe pacar yang bikin kangen. Bukan masalah kangen mesra-mesraannya. Karena jujur saja 2 tahun aku pacaran dengan Elam, hanya beberapa kali kami melakukan kissing, selebihnya dia tidak akan melakukan jika aku memang tidak mau. Atau seperti tadi, dia lebih asik diajak berdebat, dibanding diajak bermesraan. Entah nanti ketika kami benar-benar menikah, aku tidak yakin perdebatan ini akan sirna.
“Udah full ya bu boss,” ucapnya setelah masuk mobil kembali.
Aku mengusap-usap lengannya. Dengan senyuman yang sangat indah, aku sama sekali tidak berterima kasih kepadanya. Aku yakin dia tahu, senyuman indah ini sudah mewakilkan rasa terimakasihku kepadanya.
“Baik ibu-ibu sekalian, kita lanjut jalan. Jangan lupa siapin 2 piring nasi untuk supir kalian ini.”
Hanya butuh 30 menit, akhirnya kami sampai di restoran tempat bu Inara membuat janji dengan ibuku. Dari luarnya memang sangat indah. Asri sekali, karena jujur saja aku terkagum-kagum. Tata letak dan dekorasinya yang serba kayu, semakin membuatnya terkesan klasik dan memiliki ciri tersendiri.
Parkiran yang cukup luas, dengan mobil-mobil bagus yang berbaris rapi, menandakan tempat ini memang sudah ter- notice oleh orang-orang. Hm, tapi dilihat dari mobil-mobil mewah yang memenuhi, aku merasa harga makanan di sini, pasti diatas rata-rata.
“Kamu enggak bilang makannya di restoran. Aku pikir di mall tadi pas berangkat ke rumah kamu,” ucap Elam, sembari memasukkan dompetnya ke dalam wristlet- ku.
“Ih, enggak muat.”
“Ya terus? Nanti jatuh, Yang. Kantong celanaku pendek banget. Tadi aja aku taruh di jok motor.”
“Apalagi sih?” tanya ibu yang masih keheranan melihat aku dan Elam tidak berhenti berdebat.
“Bu, titip kunci mobil di tas. Sama dompetnya Elam tuh.”
Elam mendelik, aku menatapnya menantang. Siapa suruh pakai boxer doang.
“Ya udah sini. Mana yang mau dimasukkin ke dalam tas ibu?”
Aku menyerahkan kunci mobil, beserta dompet Elam ke dalam tas ibu. Melihat ekspresi Elam yang hanya bisa pasrah, hatiku tersenyum puas. Lalu menggandeng tangannya untuk masuk ke dalam restoran.
“Ayolah, masuk. Panas banget nih.”
Setelah bertanya kepada pelayannya, akhirnya kami di antarkan ke saung yang sudah disewa oleh ibu Inara siang ini.
“Bagus banget ya,” ucapku pada Elam.
Bagaimana aku tidak memuji tempat ini berulang kali, ternyata di bagian belakangnya jauh-jauh lebih indah. Dengan melewati jalan setapak, yang membelah danau buatan dengan banyak ikan koi di dalamnya, aku dibuat sangat terpesona.
Saung-saung yang dibuat dari kayu serta daun rumbia sebagai atapnya dibuat mengelilingi kolam buatan ini. Di sisi kiri dan kanan jembatan, ada air mancur buatan yang terus menyala. Membuat suara gemercik air terdengar disetiap tempat saung makan.
“Besok-besok kita makan di sini lagi.”
“Ah?”
“Aku lihat kamu suka banget. Besok-besok kita makan di sini lagi, gimana? Kayaknya kalau malam lebih bagus. Lebih romantis enggak sih,” ucap Elam yang sangat kusetujui.
“Akhirnya datang juga si ibu,” suara dari ibu Inara membuat langkah aku dan Elam berhenti. Mataku melihat banyak orang di sana, karena tidak hanya ibu Inara yang melihat ke arah kami.
“Rame.”
“Malu?” godaku dengan tampilan Elam yang seperti gembel.
“Enggak.”
“Ya udah.”
“Untung ibu kamu dandanin cantik.”
“Aku cuma tunjukin kelebihan dari wajah ibu.”
Elam melirikku. Menunjukkan rasa berterima kasihnya dengan satu ibu jari dia tunjukkan kepadaku.
“Jadi enggak malu, kan?”
“Enggak. Ibu terlalu berharga untuk kita berikan rasa malu.”
“Kita? Kamu aja kali.”
Lagi-lagi aku melirik celana pendek Elam, yang benar-benar boxer hitam biasa.
“Tampilan nomor kesekian, yang penting duitnya.”
“Enggak usah bangga. Dompet kamu ada di ibu.”
“Oh iya.”
“Ayo sini duduk juga. Siapa bu nama anaknya?”
“Rhea. Sama calonnya, Elam.”
Ibu dengan bangga memperkenalkan Elam di depan keluarga pak Ranu. Padahal tampilan Elam hari ini benar-benar dibawah standar.
“Alhamdulillah, udah diakui ibu.”
Kami, aku dan Elam, mulai ikut gabung. Dan beruntungnya pak Ranu, memberikan posisi di sebelahnya untuk Elam. Di samping Elam ada aku.
Dan ibu, ada di depanku.
Tapi menyebalkannya, pak Ranu bisa bertatapan leluasa dengan ibu dalam posisi seperti ini. Dasar laki-laki, selalu mencari kesempatan dalam kesempitan.
“Ibunya masih cantik, anaknya udah perawan. Pantes Ranu mau menikah sama ibu Rina.”
Di sisi meja yang lain, entah siapa orang itu, dia langsung menanggapi kecantikan ibu sekarang ini. Tapi kok masalahnya, bawa-bawa aku masih perawan?
“Kok dia tahu aku masih perawan?” bisikku pada Elam.
Hampir saja Elam tersedak air minumnya, ketika dia mendengar bisikan dariku. “Itu kata ganti, Rhe. Please, deh.”
Aku memasang senyum jenaka. “Kirain ibu-ibu itu peramal bisa tahu aku masih perawan.”
“Dasar gila!”