Bab 7

1237 Words
Mencintai tanpa melukai, bukanya mustahil namanya?   “Gimana? Udah baikan keadaan kamu?” Baru juga buka pintu kamar, masih dihari libur alias hari minggu, ibu sudah standby,  membuka sesi tanya jawab soal kemarin. Padahal setelah Elam pulang kemarin, aku berusaha menghidar dengan jurus seribu bayangan. Tapi yang namanya ibu, pasti selalu penasaran dengan kondisi anaknya. “Udah mendingan.” “Tuh dengerin kata-kata Elam. Kadang kamu tuh susah banget ibu kasih tahu, sekarang kan ada Elam, harusnya kamu dengerin dia. Dia baik loh, ibu bisa merasakan kebaikan dia.” “Rhea tahu, Bu. Kalau enggak baik, enggak mau juga Rhea pacarin.” “Yah, kan siapa tahu kamu masih ragu. Takutnya Elam tiba-tiba datang bawa keluarganya ke sini buat ngelamar, kamu kan udah enggak ragu lagi,” goda ibu. Aku tidak menanggapi. Biarkan saja ibu bahagia dengan pikirannya sendiri. Karena sekarang aku ingin bermalas-malasan di rumah. Menonton TV dan menikmati hari, sebelum besok senin beraktifitas kembali. “Rhe ….” “Iya, Bu.” “Hari ini kamu ada acara sama Elam?” tanya ibu yang entah sejak kapan sudah duduk di salah satu single sofa, di dekatku tentu saja. “Enggak sih. Dia juga kayaknya belum bangun. Kenapa?” Dengan ekspresi agak ragu, ibu menatapku bingung. “Kenapa, Bu?” “Itu, temen ibu. Ibu Inara mau ngajakin makan siang di luar. Temani, ya.” “Ah? Makan siang di luar? Sama pak Ranu?” tanyaku mulai waspada. Ibu menggeleng cepat. “Enggak katanya. Mau makan siang biasa aja katanya.” “Emang dia enggak bisa ke sini aja gitu, Bu? Ngapain sih pakai makan siang di luar segala?” “Ibu enggak tahu, Rhe. Ibu kan cuma diajak.” Benar juga sih, kasusnya di sini ibu cuma diajak oleh ibu Inara untuk makan siang di luar. Tapi yang kupertanyakan kali ini, untuk apa? Pendekatan? Atau apa? “Kamu mau temani ibu?” Dengan ekspresi yang sudah begitu memelas, aku mana mungkin bisa menolaknya. “Iya,” jawabku tidak ada pilihan. Raut wajahnya langsung berubah ceria. Dia mulai kembali bicara tanpa ragu, dan malah berunjung meminta pendapatku untuk memakai pakaian apa siang ini. “Terserah. Yang penting nyaman.”   ***   Mulai curiga karena tidak ada suara apapun dari kamar ibu, aku mencoba mencari tahu ke kamarnya. Pintu kamar yang tidak pernah terkunci itu, kudorong perlahan. Dan melihat ibu masih memakai baju mandi, duduk di depan meja rias dengan tatapan bingung. Di belakangnya, lebih tepatnya di atas ranjang, beberapa stel pakaiannya nampak dibariskan. Seperti sedang menunggu untuk terpilih oleh ibu. “Bu, belum siap juga?” tanyaku padanya. Melangkah masuk, aku berdiri di sampingnya. Menatap wajah ibu yang sudah penuh dempul dengan tatapan miris. Apa seperti ini yang namanya puber kedua? Apa ibu harus menjadi sosok lain untuk jatuh cinta? “Bu …” panggilku perlahan. “Kok dandannya tebel banget gitu. Kan katanya cuma makan siang. Lagi juga kan makannya sama ibu Inara, bukan sama pak Ranu. Ngapain dandan begini sih?” Jujur aku risih. Seumur hidupku, aku jarang sekali melihat wajah ibu penuh dempul seperti ini. Dulu saja, ketika ayah masih bersama kami, mau pergi ke mana pun ibu tidak pernah berdandan. Karena sejujurnya wajah ibuku sudah putih bersih. Hanya saja memang, dibagian bawah mata memang sudah ada beberapa kerutan murni, karena usia ibuku sudah tidak muda lagi. Tapi aku sangat yakin semuanya masih dalam batas wajar. Hanya saja, kenapa tiba-tiba ibu insecure seperti ini? “Tadi ibu Inara kirim pesan, katanya dia akan di antar sama pak Ranu ke sini. Dan kita akan berangkat sama-sama ke tempat makannya.” “Enggak ada!!!” tolakku kencang. “Rhe ….” “Maksud Rhea, kita ke sana sendiri aja. Ngapain dia pakai ke sini dulu. Enggak ada pokoknya. Kita langsung ke sana. Emang mau makan di mana? Nanti Rhea yang supirin Ibu.” Walau terlihat aneh, tapi tatapan ibu seakan memahami kondisiku yang masih sulit menerima keberadaan pak Ranu dalam keluarga ini. Tanpa banyak penolakan, ibu langsung mengangguk patuh. “Ibu akan kasih tahu sama ibu Inara dulu.” “Iya, kasih tahu aja. Bu, Rhea enggak mau ya, apa-apa kita jadi bergantung sama dia. Sumpah, Bu. Rhea enggak suka. Enak aja. Selama Rhea masih hidup, Rhea masih mampu bantu Ibu. Rhea masih mampu ngelindungi Ibu. Bilang sama dia, enggak usah manjain Ibu. Karena Ibu bukan perempuan manja.” Tertawa geli, ibu mengusap lenganku. “Iya, sayang. Ibu akan kasih tahu dia.” “Dan karena bakalan ketemu dia juga nanti, Ibu enggak perlu dandan-dandan begini. Kalau dia emang tulus dan terima Ibu apa adanya, tanpa Ibu dandan juga, dia akan melihat Ibu adalah perempuan paling cantik. Jadi please, hapus make up -nya.” Memberikan sabun cuci muka kepada ibu, aku ingin ibu memulai semuanya. Tidak dengan sosok lain, tapi sebagai ibuku sendiri. Ibu yang sudah begitu kuat selamaa 15 tahun ini bertahan dalam membesarkanku. “Ya udah, ibu cuci muka dulu, ya.” Mengangguk senang. Aku sengaja menggantikan ibu untuk duduk di kursi meja rias. Seperti tidak pernah hilang sosok ayah dalam hidup kami, ada foto ayah dan ibu di sini melengkapi keindahan meja rias. Tampang mereka yang masih sama-sama muda, memang diambil ketika mereka baru saja menikah dulu. “Kamu pakai baju itu doang, Rhe?” teriak ibu dari dalam kamar mandi. “Iya,” sahutku, melirik tampilanku di depan cermin. Kaus putih kebesaran, dengan celana jeans pendek sudah sangat baik menurutku. Rambutku sengaja diikat asal, dengan wajah tanpa make up sedikitpun. Aku hanya mencucinya saja dengan facial foam, toner, dan memberikan sedikit essence. Dan tidak lupa pastinya suncream, agar kulitku tidak kebakar. “Pucet banget kamu,” kata Ibu setelah dia selesai mencuci muka. Aku melirik lagi tampilan wajahku dicermin. “Nanti tinggal pakai liptint,” kataku. Tapi melihat tatapan ibu yang penasaran, akhirnya aku mengeluarkan liptint kecil dari wristlet cokelat yang kubawa. “Pakai ini, Bu.” Ibu memasang senyumnya. “Cobain dong ibu dikit.” Memutar bola mata jengah, aku memaksa ibu duduk kembali di kursi riasnya. Sedangkan posisiku kini berdiri. Dan menjadi MUA untuk ibu. “Ibu diem-diem aja, dan percayakan semuanya sama Rhea.” Karena semua peralatan make up ibu sudah terlalu old, aku sengaja mengambil semua alat perangku di dalam kamar. Sekotak besar alat make up, yang belum semuanya, aku mulai aplikasikan satu persatu ke wajah ibu dengan sangat minimalis. Apalagi kulit wajah ibu yang cenderung berminyak, membuatku sangat hati-hati menggunakan pelembang. Cukup seujung jari saja, lalu aku aplikasikan di wajah ibu dengan sangat merata. Kemudian aku lanjutkan suncream, primer, sedikit saja concealer, lalu bedak padat setipis mungkin. Untuk bagian matanya, aku tidak memberikan eyeliner namun sengaja kutambahkan eyeshadow senatural mungkin, lalu kututup dengan blush on berwarna hampir sama dengan tone warna kulit ibu. Terakhir sesuai permintaannya, aku menambahkan liptint. Tidak ada alis, karena alis ibuku sama seperti alisku. Sudah terbentuk dengan sangat sempurna. “Coba lihat deh hasilnya,” kataku kepadanya. Ibu melirik ke arah cermin, dan hasilnya memang luar biasa. Ibuku sudah cantik, ditambah make up yang dibuat sangat natural, berhasil menambah kecantikannya. “Besok mau ibu masakin apa?” goda ibu seolah menjadi bayaranku karena sudah membuatnya cantik. Aku menggenggam tangannya erat sembari ikut menatap wajah ibu dicermin. “Aku cuma mau Ibu bahagia. Itu cita-citaku dari dulu sampai nanti.” “Kalau Rhea bahagia, ibu pasti akan jauh lebih bahagia.” Menitikan air mata, aku memeluk ibu dengan sangat erat. “Kayaknya Rhea butuh Elam buat jadi supir deh.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD