Cobalah pahami hatiku ini, ketidak setujuanku karena aku takut tersakiti.
“Rhea, Elam udah mau pulang nih,” teriak ibu dari luar kamarku.
Memang sejak sarapan, yang menuju makan siang tadi, aku sama sekali tidak keluar dari kamar. Bahkan malah sengaja membiarkan Elam di luar, bersama pak Ranu dan juga ibu. Terlihat menyebalkan memang. Tapi moodku sudah sangat tidak bagus sejak sarapan tadi. Jika aku tetap berpura-pura baik-baik saja, aku takut malah mengomel tidak tentu arah dan menyebabkan luka bagi orang lain. Jadi karena itulah, aku memilih mengurung diri di kamar, menjawab beberapa pesan yang Elam kirimkan, melihat sosial media yang isinya cuma kegabutan orang-orang di weekend, bahkan sampai sempat tertidur demi menurunkan emosiku yang semakin tidak stabil.
“Rhea, keluar dulu dong. Elam mau pamit pulang tuh,” kata ibu lebih halus, sembari mengetuk pintu kamarku.
Tidak mampu menghindar kembali, akhirnya aku menuruti panggilan ibu. Keluar dari kamar dengan wajah sembab. Terlalu lama bermalas-malasan di atas tempat tidur, sampai tertidur kembali, memang membuat tubuh semakin lemas bukan semakin sehat.
Ketika aku berjalan keluar kamar, dan sedikit semboyongan, ibu terlihat khawatir. Dia langsung menggenggam tanganku sambil menatapku panik.
“Kamu kenapa? Lagian enggak makan sih, langsung ngambek gitu.”
Aku kembali cemberut. Siapa juga yang tidak ngambek kalau tidak ada satu pihak pun yang ada disisiku. Menyebalkan.
“Abis ini kamu harus makan, ibu enggak mau tahu. Kalau kamu enggak mau makan di depan pak Ranu sama Elam, kamu wajib makan di depan ibu. Biar ibu tahu anak ibu udah makan,” kata ibu memaksa.
Aku tidak bisa membantah. Semakin ibu tahu kondisiku sedang tidak baik, ibu semakin menuntunku erat. Seakan-akan aku anak kecil yang baru saja belajar berjalan.
“Kenapa?” tanya Elam ketika melihatku dituntun oleh ibu.
“Biasa, perkara ngambek jadinya lemes.”
Gerakan tangan Elam memakai helm terhenti. Dia melirikku dari atas sampai bawah sembari menggeleng.
“Susah banget bilang kamu mah,” katanya seolah kecewa. “Kamu kan cuma enggak suka sama pak Ranu, bukan enggak suka sama masakan ibu? Jadi ngapain sampai ngambek dan enggak makan.”
Semakin tidak bisa menjawab, ibu malah membiarkanku berbicara berdua saja dengan Elam. Setelah dia bisa pastikan aku masih mampu berdiri dengan baik, ibu langsung pamit ke dapur. Banyak hal yang ingin dia kerjakan, padahal dapur sudah bersih, bahkan sampai lalat saja takut masuk ke sana.
“Duduk!” perintah Elam dengan mode serius. Kalau sudah begini, aku tidak bisa melawan.
Aku menurut. Duduk di salah satu kursi tamu.
Dapat kulihat Elam melepaskan jaketnya kembali, berjalan ke dapur, berbicara dengan ibu sebentar sambil mengambilkan sepiring makanan untukku. Ketika dia kembali, Elam benar-benar tidak main-main dalam memerintahkan aku untuk makan.
“Habisin.”
“Ih, apaan sih.”
“Makan, habisin. Aku enggak lagi becanda ya, Rhe.”
Kulirik sebentar nasi sepiring beserta lauk-lauk yang ibu masak tadi, aku menatap Elam kembali.
“Tadi katanya kamu mau pulang, makanya aku keluar.”
“Iya, memang aku mau pulang. Tadinya … sebelum kamu malah buat aku khawatir.”
“Apaan sih, aku bukan anak kecil ya.”
“Aku tahu. Siapa yang bilang kamu anak kecil?” tanya Elam sembari bertolak pinggang. “Sekarang aku serius, Rhe. Kamu makan, habiskan, baru aku pulang. Semakin cepat kamu habiskan makanan ini, semakin cepat aku pulang. Ya, kecuali kamu mau aku nginep di sini. Toh, tadi aku udah minta izin sama ibu. Kalau Rhea enggak mau makan juga, aku izin nginep. Karena aku tahu banget, Rhe. Kamu punya magh. Kamu tuh enggak boleh telat makan. Tapi kamu selalu menganggap remeh penyakitmu ini.”
Tersenyum pedih, entah kenapa aku melihat Elam mengomel seperti ini malah membuatku merindukan sosok ayah.
“Mau aku suapin?”
“Enggak.”
“Ya udah makan dulu dong,” ucapnya mulai melunak. “Aku tahu kamu marah sama aku. Aku tahu kamu kesel sama aku dari sarapan tadi. Secara kamu maksa aku datang ke sini untuk jauhin ibu dari pak Ranu, kan. Tapi sikapku malah kebalikannya.”
“Itu paham,” jawabku menatap Elam marah.
“Rhe …” ucapnya pelan. Tubuhnya yang sejak tadi berdiri tegak, bertolak pinggang seakan menantangku, perlahan-lahan mendekat. Dia berjongkok di depanku sembari tersenyum. Senyumannya persis seperti pertama kali kami bertemu. Disaat berebut porsi bubur terakhir dengannya.
“Kamu tahu kan posisiku di sini sama dengan pak Ranu. Kami sama-sama orang asing, Rhe, yang mencoba masuk ke dalam keluarga kamu. Kamu dan ibu. Mana mungkin Rhe aku bersikap kurang ajar ke pak Ranu. Selama tidak ada bukti nyata, dan hanya sekedar tuduhan belaka, aku enggak bisa bersikap membentengi seperti yang kamu lakuin. Aku enggak ada hak, Rhe. Serius. Tapi … jika sampai kata-kata kamu kebukti, dan dia cuma mau sakitin ibu, aku yang maju lebih dulu. Aku, Rhe, yang akan memukul dia karena sudah berani menyakiti hati orangtuaku.”
Semakin tidak bisa berkata-kata, aku mengangguk perlahan. Memahami maksud penjelasan Elam.
“Udah paham, kan? Sekarang makan dulu, ya.”
Aku mengangguk. Ketika Elam mengambilkan piring tersebut, dan meletakkan di atas kedua tanganku, aku kembali bersuara.
“Pak Ranu ke mana?”
“Udah balik. Dari jam 2 tadi.”
“Jam 2?” ulangku sembari melirik jam dinding yang menunjukkan hampir pukul setengah 6 sore.
“Dari jam 2, kamu ….”
“Aku di sini. Tiduran di sofa. Nonton TV. Ngobrol sama ibu yang lagi angkatin cucian, karena anak perempuannya lagi ngambek. Terus bantu ibu cuci piring. Terus main game. Terus ketiduran tadi setengah jam. Baru pamit mau pulang. Karena pasti mama di rumah nyariin, anak gantengnya enggak kelihatan seharian.”
“Dih ….”
“Ya udah, makan dulu ya. Sampai habis, baru aku pulang.”
Kali ini aku benar-benar mematuhi kata-kata Elam. Menyendokkan makanan yang tadi Elam ambilkan ke dalam mulut, sembari bersandar padanya yang kembali duduk di sofa, mengeluarkan HP untuk bermain game.
“Game mulu.”
“Enggak papa lah, cuma buat hiburan di weekend. Dari pada pusing mikirin kamu yang ngambek mulu.”
“Ih, siapa yang ngambek sih?”
“Aku yang ngambek,” jawab Elam, menghentikan mainnya, lalu melirikku dengan senyuman menyebalkan.
Sengaja tidak kujawab. Kunikmati satu persatu suapan nasi yang masuk ke dalam perutku. Di sebelahku, Elam terlihat sangat fokus pada gamenya. Bahkan terkadang jemarinya benar-benar bergerak dengan cepat, seperti sudah sangat terbiasa.
“Kamu enggak ada feeling apapun sama pak Ranu?”
“Feeling apa?”
“Feeling yang mungkin bisa nyakitin ibu?”
Elam kembali menghentikan gamenya. Dia melirikku, lalu menggeleng.
“Enggak ada. Maksud kamu kalau nyakitin ibu sampai nangis-nangis, terus membekas dan bikin sakit hati, kayaknya enggak deh. Tapi aku enggak bilang hubungan mereka akan baik-baik aja, ya. Secara mereka sudah pada dewasa, dan dalam hubungan orang dewasa, biasanya masalahnya jauh lebih berat. Harus pakai kepala dingin untuk menyelesaikannya. Enggak kayak hubungan kita ini.”
“Emang kita enggak dewasa?”
“Mikir aja sendiri.”
“Elam, aku serius.”
“Kita dewasa, Rhe. Sangat-sangat sudah dewasa. Tapi masalahnya kita masih belum berani melangkah menuju hubungan yang lebih serius. Jujur aku enggak seberani pak Ranu, baru kenal langsung mau nikah. Enggak begitu aku, Rhe. Tapi bukan berarti hubungan kita ini main-main. Sama sekali aku enggak ada pikiran mainin perasaan kamu sama kepercayaan ibu. Tapi kan kayak yang aku bilang tadi, kita sudah sama-sama dewasa, tapi langkah kita dengan pak Ranu dan ibu berbeda. Mereka sudah berpikir sangat jauh ke depan. Kita masih perlahan-lahan sambil belajar.”
“Nah karena itu aku jadi curiga!”
Kali ini Elam benar-benar berhenti bermain, dan fokus menatapku.
“Jangan-jangan dulu sewaktu aku baru mau mengenalmu lebih dekat, sikap kamu begini deh. Ngaku kamu. Jangankan mau kenal kamu lebih dekat, mau tahu nomor HP kamu aja susah banget dulu. Ada aja alasannya. Sekarang aku tanya deh, Rhe. Emang salah ya, kasih kepercayaan ke orang lebih dulu? Biar dia buktiin dulu, Rhe. Jika kamu enggak pernah salah kasih dia kesempatan untuk dipercaya. Ini, kamu sama pak Ranu, anti banget. Kayaknya pak Ranu tuh kuman gitu, sampai kamu ajak ibu menghindar. Padahal jelas banget ibu mau kasih kesempatan kepercayaan kepada pak Ranu untuk dia buktiin. Tapi anaknya aja, dakjal!!”
“ELAM!!!”
“Emang dakjal kan kamu, enggak mau ibu kamu bahagia.”
Walau aku tahu niat Elam menggodaku, tapi kok aku sebal mendengarnya.
“Cuma mau kasih tahu nih, Rhe. Orang sukses itu karena belajar dari sebuah kegagalan.”
“BODO!!”