Bab 5

1063 Words
Cukup, jangan curigai aku lagi. Aku hanya seorang laki-laki yang berniat mencuri hati.   Akhirnya Elam menurut. Keluar dari kamar mandi, aku melihat ada sebuah pesan darinya yang mengatakan jika dia sudah di rumahku dan aku malah sibuk mengurung diri di kamar. Padahal sesungguhnya tidak seperti itu. Aku hanya ingin merilekskan tubuh dan pikiranku. Mandi sambil mencoba lulur aroma terapi yang kemarin baru saja aku beli. Bukankah ini weekend? Jadi harusnya wajar aku berlama-lama di dalam kamar mandi. Karena biasanya, ketika hari kerja tiba, aku hanya punya waktu untuk di kamar mandi selama setengah jam. Bangun selalu kesiangan karena habis subuh tidur lagi, hingga ceramah ibu yang menakutkan jika aku tidak sarapan dulu sebelum berangkat, menjadi alasan terkuatku untuk tidak berlama-lama di kamar mandi. Sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil, aku mengirimkan balasan pesan kepada Elam.   Cintai calon mertuamu, ketemu dia setiap weekend Please, bacanya pakai nada.   Terkikik geli sendiri, aku benar-benar yakin, Elam semakin kesal denganku. Sudah kupaksa datang untuk menemani ibu dan pak Ranu berkencan. Ditambah dengan beberapa pesan yang kukirimkan kepadanya, pasti emosi Elam semakin bertambah. Namun nyatanya aku salah, tidak berapa lama pesanku dibalas olehnya. Dia hanya mengirimkan sebuah gambar yang membuat semakin tertawa melihatnya. Dalam foto itu terlihat Elam memijat tangan ibuku sambil tersenyum ke arah kamera hpnya. Aku yakin pak Ranu sudah berhasil dia suruh-suruh untuk memfotokan ketengilannya ini. Sekalian aku bisa pastikan Elam sengaja melakukannya, agar melihat reaksi pak Ranu seperti apa jika ada laki-laki lain memegang tubuh ibuku.   Gimana? Udah cocok jadi calon mantu belum? Yuk ah keluar. Jangan di kamar aja.   Elam kali ini mengirimkanku pesan kembali. Namun pesannya berisikan ajakan untuk aku keluar kamar, yang itu berarti berdamai dengan semua kondisi ini. Huh, apakah aku bisa melakukannya? Melirik sekilas sebuah figura kecil di atas meja riasku, aku hanya bisa meringis sedih. Ada sebuah foto yang menjadi kenanganku dengan ayah sekitar 15 tahun lalu. Tepat ketika ada pentas seni di sekolahanku. Ayah menyempatkan diri untuk datang, sekalipun dia memiliki banyak pekerjaan. Dan pada masa itu, aku benar-benar merasa beruntung memiliki orangtua seperti ayah dan ibu. “Rhe, kamu mau makan enggak? Masakan ibu udah jadi nih. Yuk kita makan sama-sama.” Suara dan ketukan pintu dari ibu, menghentikan lamunanku kepada masa lalu. Aku lagi-lagi cuma bisa meringis sedih. Sekalipun sudah begitu lama, sekalipun ibu sudah membuktikan ketangguhannya dalam membesarkanku seorang diri, entah kenapa sampai detik ini aku tidak bisa mengikhlaskan ada laki-laki lain yang mencintai ibuku selain ayah.   *** Makan siang dengan calon ayah tiri, mungkin bukan aku doang yang pernah mengalaminya di dunia ini. Akan tetapi rasanya siang ini, dimeja makan sederhana, kondisinya sangat-sangat tidak nyaman. Elam yang memintaku duduk di sampingnya, berusaha membuatku tersenyum. Namun sejak aku keluar dari kamar, sampai duduk di samping Elam, raut wajahku sangat kutekuk masam. Ibuku yang terlalu ramah, melayani pak Ranu dengan sangat baik. Mulai dari mengambilkan nasi, menyendokkan lauk pauk yang ibu masak, sampai menuangkan air minum. Semua perlakuan ibuku kali ini terlihat sama persis ketika dulu dia melayani ayah. Namun biasanya, diakhir kegiatan, ayah akan tersenyum dan mengatakan sesuatu kepada ibuku. Tuhan benar-benar mencintaiku, dengan hadirnya kamu di sini.   Kalimat itu tidak pernah hilang. Bahkan sampai detik-detik dia akan pergi untuk selama-lamanya, kalimat tersebut selalu terucap di mulutnya. Seperti menggambarkan jika ibu adalah sosok yang paling sempurna. Sehingga ayah bahagia bisa dipertemukan dengan ibu dalam kehidupannya. “Ehem ….” Kali ini suara Elam yang menghentikan lamunanku. Mataku yang terasa perih, karena menahan tangis, kuusap asal dengan punggung tangan, lalu menatap Elam yang masih saja tersenyum. Ketika dia melihat ekspresi sedihku, senyuman tersebut lenyap. Dia berusaha mengubah suasana di hatiku dengan kata-katanya. “Belum makan sambel buatan ibu, kok rasanya udah sedih, ya.” Memberikan cubitan kesal kepadanya, Elam menyerahkan piringnya kepadaku. “Enggak mau belajar? Masa aku terus yang belajar.” “Apaan sih? Kamu mau jadiin aku istri atau jadi pelayan nasi padang yang ngambilin nasi?” Elam tertawa geli, begitu juga ibu dan pak Ranu. Loh … loh, aku kan sama sekali tidak ada niat untuk melawak? Kenapa semuanya tertawa. “Dih, kenapa pada ketawa deh?” “Karena kamu lucu,” ucap Elam tanpa beban. Sekalipun aku mendelik marah, Elam tetap pada pendiriannya untuk tertawa menggodaku. Memang pacar kurang ajar. “Sini, biar ibu aja yang ambilin punya Elam.” “Tuh, kan. Yah aku nikah sama ibu aja deh. Ibu lebih baik dari Rhea.” “Bukan ibu lebih baik, cuma Rhea malu aja, di sini ada pak Ranu. Jadi belum terbiasa saja dia,” sahut ibuku seolah paling memahamiku. Alah, siapa juga yang malu dengan pak Ranu. Sejujurnya aku malah kesal dengan kehadirannya di weekend ini. Dan aku yakin Elam juga kesal. Karena wajib datang ke rumahku, disaat dia juga ingin istirahat pastinya. “Segini cukup?” “Dikit lagi boleh, Bu? Maklum hati aku luas, jadi perlu lebih banyak nasi.” Aku melirik ke arah Elam, dan dia masih tertawa dengan bahagianya. Sedangkan pak Ranu sendiri, seperti kesulitan hanya untuk menelan sesuap nasi. Dia memang diam, namun tatapannya masih terus mengikuti percakapan kami ini. Waspadalah Rhea. Musuh tetap mengintai pastinya. Karena itu, anehnya mulutku malah ikut tertawa. Aku jelas tekikik geli, mengikuti tawa Elam yang terdengar tanpa henti. “Kamu tumben ikutan ketawa?” tanya Elam tiba-tiba. “Enggak usah dibuat-buat deh, sekarang kita enggak lagi mau makan nasi sama gula jawa. Wong, ibu buatnya ayam goreng, sayur asem, ikan asin sama lalapan plus sambel.” “Ah, apaan sih?” “Ih, gitu aja enggak paham. Jelasin bu, biar anaknya paham.” “PD banget kamu, emang ibu tahu?” “Maksudnya Elam ….” “Dia ngomong sesuai lirik lagu, abis nangis ketawa, makan gula jawa,” potong pak Ranu ketika ibu mau menjelaskan. What? Kenapa di sini cuma aku yang tidak paham lelucon Elam. “Mantap. My man.” Elam ber- high five ria dengan pak Ranu. Sedangkan aku, diposisiku yang bodoh ini mulai bertanya-tanya. Sebenarnya yang merupakan keluarga di sini, siapa sih? Aku atau Elam dan Pak Ranu? Benar-benar kehilangan napsu makan, aku izin pamit ke kamar. Aku sudah tidak mau tahu lagi kondisi teraneh ini. Apalagi bagian yang paling menyebalkannya, adalah dimana Elam malah menjadi posisi lawan dariku. Padahal aku memanggilnya untuk datang ke sini, agar aku memiliki teman. Teman dalam ketidak setujuanku untuk hubungan ibu dan pak Ranu. Tapi nyatanya, Elam malah membelok. Dasar laki-laki menyebalkan! ------------------ Jangan lupa untuk taplove. Terimakasih
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD