“Lia, kenapa kulkasmu tidak ada isinya?” Aini yang sedang mengecek kulkas sahabatnya itu mengerutkan kening, merasa kebingungan akan mengapa tidak ada isinya sama sekali. Padahal biasanya dia selalu mengisi kulkas tersebut sehingga Aini bisa masak untuk mereka berdua. “Ah, maaf. Belakangan ini gue jadi sibuk, lagi kalo gue beli bahan masakan, yang bakal makan Cuma gue. Kan percuma aja kalo masak banyak-banyak.” Mendengar itu, Aini terlihat berpikir selama beberapa saat sebelum mengangguk tanda setuju. “Itu ada benarnya, sih. Maaf ya karena aku pindah tiba-tiba.” “Hei,” panggil Lia dengan nada yang seketika berubah menjadi sedikit menakutkan. “Memangnya siapa yang nyalahin lo? Gue sama sekali nggak masalah kalo lo emang harus pindah. Lagi, pindah kali ini bukan kemauan lo, kan?” Paham

