Pagi menyapa lewat sinarnya mentari. Aini terbangun karena cahaya dari tirai memancar masuk ke dalam kamar. Dia tersentak kaget dan hampir saja menabrak kepala ranjang kala mundur ke belakang.
“Ah, di mana aku?”
"Astaga! Aku lupa,” ucapnya lagi. Dia ingat semalam dia menginap di rumah Dave. Tapi seingatnya dia tertidur di meja makan setelah membereskan bekas makan malam mereka lalu dia sempat berbalas chat ria bersama kedua sahabatnya. Kenapa dia bisa di kamar? “Siapa yang memindahkanku?” pikirnya.
Mungkin saja Dave. “Ah iya, pasti dia,” batin Aini. Lalu dia melihat jam di atas nakas sudah menunjukkan pukul 07.00. Dia akan terlambat. Dia ingin bergegas ke kamar mandi tetapi ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Tok..tok..tok...
"Sebentar!” katanya sedikit berteriak lalu bergegas membukakan pintu.
"Ini pakaian, Non. Tadi tuan Dave yang menyuruh bibik memberikan ini pada Non," ucap si bibik yang ternyata sudah datang.
"Ah, iya, Bik. Maaf merepotkan Bibik," ucap Aini.
"NdakAini, Non. Kan sudah tugas saya," ucap bibi tulus.
"Oh, terima kasih. Saya akan mandi dulu, Bik. Hemmm, Bik, jangan panggil Non, cukup Aini saja," ujarnya tersenyum manis. "Saya tidak suka dipanggil Non, Bik,” tambahnya tak mau dibantah.
Si bibik yang kebetulan tadi ingin membantah mengurungkan niatnya dan hanya mengangguk.
"Baiklah, Non. Eh, Aini," ujar si bibik. "Tuan Dave sudah menunggu di bawah. Katanya biar sarapan bareng, bibik buat nasi goreng dan sandwich untuk kalian berdua.”
"Terima kasih sekali lagi, Bik.” Aini mengangguk dan setelah si bibik berlalu dia menutup pintu kamar dan menuju kamar mandi.
30 menit kemudian.
"Sudah siap?" tanya Dave setelah Aini sampai di meja makan.
"Ya.”
"Makanlah, lalu kita berangkat bersama," ucapnya lagi.
Aini hanya mengangguk dan memulai sarapan paginya dengan tenang. Sudah lama dia makan tidak setenang ini bila di rumahnya. Teringat akan rumahnya yang setiap pagi selalu ribut. Jika bukan kakak tirinya, maka adiknyalah yang membuat keributan dan ibu tirinya hanya selalu berakting ria di depan ayahnya takut kebusukannya terbongkar. “Dasar iblis!” umpatnya dalam hati. Kadangkala dia malas ribut dengan mereka dan ayahnya akan semakin membencinya. Hidupnya sudah melelahkan ditambah permasalahan yang pelik. Sudah cukup, pikirnya.
Dave yang melihat Aini tampak murung akhirnya bertanya, “Kenapa? Makanannya tidak enak? Atau kau sedang memikirkan apa?”
"Oh, ah, ha? Bu-bukan. Ini enak, kok," ucap Aini tergagap dan tersentak menjawab cepat.
"Ini enak dan aku menyukainya. Walau aku kadang lebih menyukain makanan tradisional asli indonesia. Asli lokal lebih menggugah selera,” katanya lagi. "Tapi tidak memungkiri aku juga menyukai semua jenis makanan, kecuali batu, mungkin hehe,” tambahnya sembari terkekeh pelan sambil mengedikkan bahu.
Dave yang melihat itu pun ikut tersenyum. Entah apa yang lucu, dia merasa semenjak ada Aini hidupnya banyak tersenyum.
Di keluarga Dave walau tidak bisa dibilang harmonis juga bukan keluarga yang mementingkan diri sendiri. Jadi Dave termasuk beruntung walau tidak pernah tahu bagaimana Aini di keluarganya. Dilihat dari raut mukanya, Aini seperti memiliki beban dalam hidup meski dia tidak mengatakan lewat ucapan. Matanya kadang menunjukkan sangat jelas.
"Ayo, habiskan sarapannya dan kita berangkat!" ucap Dave.
"Baiklah,” jawab Aini.
Setelah menghabiskan sarapan paginya, mereka berangkat bersama menuju tempatnya masing-masing yang mana mereka tidak ada yang tahu bahwa itu tempat yang sama.
Di dalam mobil mereka hanya berdiam selam 5 menit membuat keduanya gerah sendiri karena merasa canggung. Aini yang segan untuk memulai pembicaraan dan Dave yang sepertinya fokus menyetir karena hari ini dia tidak memakai supir sebab dia ingin mengantar Aini sendirian.
"Kamu akan kemana?" tanya Dave lebih dulu membuka percakapan karena tidak tahan dengan keheningan di antara mereka berdua.
"Em, D&R Company,” jawab Aini.
"Oke," ucap Dave. Lalu, “Hei, APA?!" serunya.
"D&R Company. Aku akan magang di sana. Kemarin aku harusnya di wawancara oleh HRDnya, tapi karena berhalangan jadi Maneger Pemasaran yang mewawancariku. Karena katanya aku seharusnya bisa magang bagian property dan pemasaran. Hanya saja, CEO mereka membutuhkan sekretaris dan aku terpaksa di sana dulu selama magang. Pak Juna merekomendasikanku,” jelas Aini panjang lebar.
Dave yang mulai berkfikir sejak Aini mengucapkan 'D&R' masih mencerna dan akhirnya paham, apalagi setelah penjelasannya yang panjang lebar. Ternyata, dialah orang yang direkomendasikan oleh Juna, pikirnya.
Memang perusahaan mereka masih terbilang baru dan masih belum sebesar perusahaan ayahnya. Ya, itu adalah perusahaan Dave dan Juna yang mereka bangun bersama dengan Sean juga. Namun, Juna tidak terlalu mau mengurusnya karena dia punya bisnis lain yaitu cafe dan kuliner. Apalagi dia juga seorang dosen. Jadi, semua dipegang oleh orang-orang kepercayaannya serta asisten pribadi. Ia hanya memantau sekali seminggu atau sebulan. Sedangkan perusahaan ini, Dave yang memegang karena Sean juga sibuk dengan bisnis keluarganya di London. Berbeda dengannya yang ayahnya masih mau mengurusi bisnis keluarga, jadi dia bisa fokus ke bisnisnya sendiri.
Property dan apartemen adalah bisnis mereka. Memang sebenarnya Dave yang bertanggung jawab penuh karena Sean dan Juna hanya membantu sesekali dan memberi saham. Dan yang terbesar tetap milik Dave. Jangan bahas namanya karena itu akan mengingatkan dia tentang masa lalu dan rasa sakit.
"Ah, jadi ternyata dirimu orang itu,” ucap Dave terdengar ambigu di telinga Aini.
"Maksudnya?" Aini mengerjap, tidak paham kalimat laki-laki di sampingnya barusan..
"Yang diceritakan Juna padaku tempo hari. Bahwa dia akan merekomendasikan orang yang dia kenal," ucapnya
"Tapi aku tidak mengenal Pak Juna selain di kampus karena dia dosen yang masuk kelas mata kuliahku saja, tidak lebih," ucap Aini terlihat ragu walaupun dia yakin Juna tidak mengenalnya sebanyak itu selama ini.
"Tapi ya memang beberapa kali aku membantu Pak Juna menyusun nilai para mahasiswa, sih.” jawabnya tidak yakin. “Ya walaupun ga tiap hari, hanya beberapa kali dalam 4 tahun itu artinya dalam hampir 8 semester hanya pernah 3 semester. Itu pun mulai semester 4, 5 dan 6. Selebinya tidak. Bahkan di awal dia terkesan dingin padaku," ucapnya lagi menjelaskan.
Tapi dia nampak memikirkan sesuatu, "Tapi aku seperti akrab dengannya. Tapi, entah di mana aku pernah bertemu, ah biarlah,” ucapnya pelan namun masih bisa di dengar Dave.
"Apa?"
“Ah, tidak. Lupakan!" ucap Aini.
Dave yakin pendengarannya masih bagus dan berfungsi dengan baik. “Ada apa dengan Juna?” batinnya penasaran.
"Baiklah, sekarang kita sampai. Karena kamu yang akan menjadi sekretarisku, aku harap kamu bisa kompeten walau ini magang. Karena bisa jadi nanti kamu direkomendasikan bekerja di sini,” jelas Dave.
"Oke," ucap Aini tapi tidak lama dia baru menyadari suatu hal. "A-APA?"
Namun dia melihat senyum tersungging di kedua sudut bibir Dave, smirk licik yang terlihat sexy di mata Aini.
***