Aini mengetuk pintu kantor Dave, mendapatkan jawaban hampir secara langsung. Dengan senyuman yang lebar, Aini mulai masuk ke dalam dan menyapa Dave. Dave sendiri ikut tersenyum ketika menyadari yang masuk adalah Aini dan bukan orang lain. Seharian ini dia sedikit sibuk sehingga tidak sempat melihat Aini. Dia merasa sedikit bersalah karena tidak ada di sampingnya, padahal Aini saat ini sedang sangat membutuhkan support. Kerutan di kening Dave tidak terelakkan dari Aini sehingga dia kembali mengulas senyuman kecil. “Mengapa mengerutkan kening seperti itu?” tanya Aini lembut. Dia masih menyimpan kotak makan buatannya di belakang tubuhnya, berharap kalau Dave belum menyadari atau melihatnya. “Hanya mengurusi beberapa dokumen penting saja,” ujar Dave. Laki-laki tersebut memperhatikan Aini

