“Sudah lebih tenang?” Lia yang masih memeluk Aini, dia sudah tidak tau berapa lama memeluk sahabatnya tersebut, mengusap punggungnya. “Apa sudah lebih baik?” Aini yang sudah puas menangis menganggukkan kepala dan melepas pelukan Lia, mengusap wajahnya yang penuh dengan air mata. “Iya, terima kasih Lia. Aku juga minta maaf.” Lia yang mendengar ucapan Aini segera menggelengkan kepala, berkata kalau ini bukanlah kesalahannya. setelah meyakinkan sekali lagi kalau Aini baik-baik saja, akhirnya dia mulai menuntun sahabatnya untuk ke rumahnya. Lia tidak tau harus apa bila dia tidak datang tepat waktu. Mungkin orang-orang akan memanfaatkannya dan hal tersebut sama sekali tidak baik. Membayangkannya saja sudah berhasil membawa hawa tidak enak, sekujur tubuhnya merinding. Perjalanan menuju rum

