"Gue minta maaf. Perkataan gue kasar tadi." Valen mengatakan kata itu dengan bersungguh-sungguh. Di depan Rama yang bersiap untuk pulang.
Kelas siang ini sudah berakhir. Waktunya menikmati waktu yang tersisa dengan leha-leha. Karena ini musim hujan, banyak siswa yang buru-buru pulang ke rumah dengan alasan males basah.
Rama menatap Valen sekilas, ia menghela napas lantaran masih kesal, namun juga tidak tega. Valen adalah temannya juga, tidak baik berlama-lama memusuhinya.
"Oke gue maafin." jawab Rama akhirnya. Rama adalah orang yang tidak tegaan. Sifatnya mungkin nampak pemalas dan rese, tapi itu hanyalah cover. Rama adalah orang yang paling dewasa di antara pertemanan ini.
"Tapi, sebelum lo pengen akur sama gue. Lo juga akur sama Miky." tambah Rama. Rama melirik Miky yang sedang mengemasi bukunya. Nampak sepi di bangku belakang.
Valen ikut menoleh. "Akur? Emangnya kita lagi berantem?" tanya Valen tanpa dosa.
"Valen!" sahut Rama membuat Valen langsung gelagapan.
"Iya, iya." Valen mengalah. Ia kini menghampiri Miky.
Miky yang masih sibuk dengan beres-beres mengangkat wajahnya menghadap Valen. Miky tetap diam meski ia sebenarnya jika keaadannya tidak begini, ia akan mengatakan banyak hal.
"Ky, gue minta maaf. Udah judesin lo." ucap Valen penuh dengan kehati-hatian. Valen juga menatap Rama yang tersenyum di bangkunya.
"Gue nggak seharusnya kayak gitu sama lo." tambahnya lagi. Miky tidak memberi respon. Ia tetap diam, hal itu membuat Valen gusar.
Gimana kalau ternyata Miky beneran marah dengan Valen. Kan nggak lucu juga, di kelas ngerasain canggung luar biasa karena miss komunikasi kemarin.
"Kalo lo nggak maafin gue, gue nggak papa. Itu karena emang gue udah salah sama lo."
Itu kata terakhir Valen sebelum meninggalkan Miky dengan putus asa. Harapannya sudah pupus dan ia tidak boleh memaksakan.
"Nggak papa kok, Miky tahu Valen juga nggak sengaja ngelakuin itu." sahutan Miky membuat Valen menghentikan langkahnya.
"Lo beneran maafin gue?!" tanya Valen tak percaya.
Miky mengangguk. Ia juga terlihat tidak terpaksa mengatakan hal itu. Sebenarnya, Miky juga kangen berat ketika tidak melakukan aktivitas bareng Valen.
Meskipun menyebalkan parah dan suka bikin sakit hati, satu-satunya teman Miky di kelas ya cuma Valen. Nggak papa beda, dari pada nggak punya.
"Ramaaa, gue berhasil!" sorak Valen pada Rama.
Rama menghampiri Valen dan Miky yang ada di bangku belakang. Rama begitu bersemangat melihat persahabatan yang pasif kemarin kini mulai aktif. Bahkan sudah saling mengerti.
"Jadi lo nggak perlu ya duduk di belakang lagi." celetuk Valen pada Miky.
"Iya nggak mau lagi Miky duduk di belakang. Males, jauh juga. Bikin ngantuk. Miky sering banget ketiduran kalau di belakang" Sepertinya sosok Miky yang biasa mulai muncul.
"Nahkan, di depan aja. Biar gue yang di belakang." sahut Rama. "Gue kalo di depan nggak bisa tidur."
Mendengar jawaban ngawur Rama, Valen dan Miky langsung memberi tatapan tajam. Bisa-bisanya di kondisi yang lagi dramatis dia malah ngelawak.
"Eh, Kaima kemana?" tanya Miky yang melihat ada personil yang kurang dalam persahabatan mereka.
Valen menoleh ke kanan dan kiri, tak ditemukan teman sekelasnya yang juga berperan sebagai gletser.
"Nggak tau. Kayaknya dia pulang duluan."
"Emangnya kenapa sama Kaima?" Rama juga ikut menoleh, mencari Kaima di antara beberapa siswa yang belum pulang.
"Ya nggak papa. Rasanya sepi aja gitu, nggak ada Kaima."
Valen mengerutkan keningnya ketika mendengarkan jawaban dari Miky. Ada yang tidak beres, nih.
"Bentar-bentar, lo bilang? Sepi nggak ada Kaima?"
Miky mengangguk polos. "Iya."
"Tapi kan, Kaima orangnya pendiem. Ada nggaknya dia kan juga nggak menambah suara."
"Lah iya ya." Miky baru sadar ada perkataannya yang salah. Namun kemudian ia tertawa keras. Kembali ke mode setting awal Miky, cerewet.
Kaima emang terkenal dingin dan orang yang kurang banyak bersuara. Tapi sekarang agak meleleh sih.
Malah jadi keinget kata orang. Kalau es kutub bisa meleleh karena sikap buruk yang dilakukan orang, seperti pemanasan global dan tidak menjaga lingkungan. Nah, jika Kaima yang leleh, karena tiga temannya itu, berarti mereka toxic dong, atau minimal hal buruk. Tapi kan, baik juga bisa meleleh dan mulai membaur. Lalu yang baik yang mana?
Meski mereka juga nggak baik, bukan berarti mereka juga buruk kan?
Sebuah analogi yang bikin pusing kepala orang. Harusnya Kaima nggak disamakan dengan es biar nggak serba salah.
"Eh, main ke rumah Kaima yuk." celetuk Miky. Kekakuan yang akhir-akhir ini tercipta mulai mencair. Ia sudah bisa membaur dengan baik.
"Kan kita nggak tau rumah Kaima di mana."
"Besok aja, pas masih ada Kaima." Miky menjawab keraguan di kepala Valen.
"Emangnya Kaima mau, kita ikut dia ke rumah?" sahut Rama. Ia juga sedikit ragu bisa pergi ke rumah Kaima yang alamatnya saja ia nggak tahu.
Miky diam, ia memikirkan cara agar bisa ke sana. "Kita kan sahabatnya, kok Kaima ngelarang kita."
"Emangnya lo dianggep sahabat sama dia?" sanggah Valen cepat.
"Iya sih..." Miky putus asa. Sepertinya takdir emang nggak suka kalau Miky memaksakan kehendak buat main ke rumah sahabatnya.
"Ya udah, kita ikutin aja Kaima pulang!" Miky terceletuk memiliki ide yang sangat aneh.
"Hah? nggak!" sahut Valen cepat. Ngapain juga memaksakan nekat cuma buat tahu rumah orang yang nganggep dirinya teman atau nggak.
"Valen! Nggak boleh gitu. Sebuah pertemanan itu harus disertai tekad." Miky langsung menegur Valen.
"Tapi sebuah pertemanan juga harus disertai persetujuan antara dua belah pihak, Mikyyy!"
"Gue setuju sama Valen!" Rama berteriak, seperti tim sukses di sebuah kampanye partai.
•••
Meski memiliki penolakan kemarin, mereka semua akhirnya kompak untuk pergi ke rumah Kaima.
Sejak guru menutup pembelajaran siang ini. Miky, Valen dan Rama saling bertukar pandang. Seperti merencanakan sebuah misi rahasia. Misi ngintilin Kaima pulang.
"Jadi, ntar kalau Kaima keluar kelas. Kita siap-siap berdiri di belakang dari jarak 100 meter ya." Miky selaku ketua tim. Memberi arahan dan strategi ketika istirahat tadi.
Tumben-tumbenan mereka berkumpul di taman sembari makan kudapan. Jika bukan karena misi rahasia ini, ngapain juga mereka harus ngobrol jauh-jauh.
"Kalo Kaima tahu gimana?" komentar Rama. Is merebahkan badannya di bangku taman. Bangku yang harusnya bisa digunakan untuk duduk mereka bertiga kini hanya penuh badan Rama.
Hal itu membuat dua gadis SMA itu hanya bisa duduk di pondasi taman. Duduk lesehan seperti orang minta-minta.
"Ya jangan sampe tahu. Kan ini misi rahasia."
"Kalian ngapain sih?" Valen yang diam sejak tadi ikut menyeletuk. "Ngapain juga kita sembunyi-sembunyi biar Kaima nggak tahu, kalau ujung-ujungnya Kaima juga bodo amat sama kita."
Jawaban Valen benar, mereka lupa bahwa Kaima tidak akan peduli dengan kelakuan konyol mereka. Kaima mah nggak ngurusin mau dia diikutin sambil kayang di sampingnya.
Kan udah jelas banget tiap ulangan Kaima sering jadi sumber jawaban, tapi sama sekali nggak marah dia.
Rama dan Miky mengangguk-angguk. "Jadi, kita tetep ngikutin Kaima, tapi kalem ya."
"Oke dah." Rama menyahuti.
"Terserah!"
Kaima bangkit dari tempat duduknya. Di saat itu juga tiga manusia random itu memulai misinya. Mereka siap untuk main ke rumah Kaima, bertemu dengan Mamanya dan pasti bakal dikasih makanan enak-enak.
Selama di lorong, langkah mereka berjingkat-jingkat di belakang Kaima. Kadang sembunyi di balik pilar, meski sebenarnya Kaima juga nggak noleh ke belakang.
"Valen! Kalo jalan pelan-pelan, jangan kek gitu!" Miky langsung menegur Valen yang nampak santai-santai saja berjalan di koridor.
"Ngapain sih, jalan santai aja kali. Kaima juga nggak peduli kali."
Benar, Kaima masih melangkah sendiri, dengan dunianya sendiri. Sama sekali tidak tahu bahwa ada tiga manusia kurang kerjaan sedang mercoba bersembunyi.
"Ma, lo jangan ngikut Miky yang nggak waras deh." Valen melihat Rama ikut mengendap-endap di lokasi yang ramai.
Rama langsung berdiri normal, meninggalkan Miky yang masih sebunyi di balik pilar. Valen meninggalkan Miky yang belum ada pergerakan. Persetan dengan misi memalukan ini.
Sesampai di halte, Miky duduk berada jauh dari Kaima. Ia seperti memang berjaga-jaga takut Kaima akan menyadarinya. Berbeda dengan Valen dan Rama yang bersikap biasa saja.
Angkot pertama siang ini datang, angkot itu berhenti tepat di depan halte. Jok angkot yang tadinya sepi kini penuh oleh siswa yang pulang. Kaima masuk di dalam angkot itu, Valen dan Rama juga langsung terjun. Namun Miky segera bertindak.
"Heh, kenapa Valen naik angkot ini. Ntar ketahuan kalau kita ngintilin Kaima." cegah Miky. Ia mengatakan kata itu dengan sangat pelan, sebisa mungkin agar Kaima tidak mendengarnya.
Respon Valen diluar dugaan, bukannya akan setuju dan melanjutkan misi sesuai harapan Miky, ia malah tetap nekat masuk. Mau tak mau, Miky juga terjun je dalam angkot.
"Ngapain lo ikut?"
"Miky nggak mau sendirian."
"Katanya lo nggak mau ketahuan."
"Yaa tapi Valen nggak seru! Masak gitu mainnya." rewel Miky. Ia merasa tidak dihargai sebagai kepala tim. Bentar, Memangnya sejak kapan voting di mulai hingga Miky menjadi ketua tim?
"Yaudah serah lo deh."
Kata terserah selalu menjadi akhir dari pertengkaran mereka, itu terjadi lantaran Valen males berdebat sama Miky yang isi kepalanya tidak pernah bisa ditebak.
Angkot berjalan di antara ramainya jalan, menyusuri jalan kota menuju rumah mereka masing-masing. Kaima nampak sendiri di keramaian angkot yang berdesakan, Rama aja sampai duduk di depan pintu angkot. Ia bertukar posisi karena tidak tega melihat Miky bergelantungan di pintu angkot.
"Ini rumah Kaima masih jauh?" bisik Miky di dekat telinga Valen. Valen yang merasa ada rasa geli segera mengusap-usap telinganya.
"Nggak tau gue."
Jawaban Valen memang selalu seperti itu, singkat dan menyakitkan. Untung Miky udah menyiapkan mental dengan baik.
Ketika mereka sibuk ngobrol, Kaima berdiri, bersiap-siap mengetuk pintu angkot untuk meminta berhenti. Sesegera mungkin tiga manusia itu juga menyiapkan diri. Kaima turun dari angkot diikuti tiga manusia itu.
Mereka bertiga bingung, kenapa lokasi rumah Kaima ternyata ada di sekitar pasar. Sungguh mencengangkan.
Kaima berjalan menuju ke dalam pasar diikuti tiga manusia itu. Pikiran mereka masih menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.
Sampai di waktu Kaima menyadari ketiga temannya seperti cecunguk tidak jelas. "Kalian mau kemana?'
Miky langsung terkesiap, takut jika misinya terbongkar.
"Kita? Engg..." Miky langsung menyahut, tapi ia juga nggak tahu mau nyahut apa. Ia mendadak jadi kikuk.
"Kalian ngikutin Kaima?" tanya Kaima lagi.
Miky gelagapan, ia merasa misinya gagal. Pasti setelah ini, Kaima bakal mengusirnya.
"Kita mau ke rumah lo." Rama mengatakan hal itu dengan jelas. Jujur lebih baik agar jalan lo mulus nantinya.
"Tapi ngomong-ngomong, rumah lo di dalem pasar?" tanya Miky polos. Ia melihat sekeliling pasar ada banyak toko yang sudah mulai tutup.
Kaima menggeleng. "Enggak."
"Terus, ngapain ke pasar?" tanya Miky lagi. Ia begitu innoncet sekali. Kenapa nanya ngapain ke pasar? Mau jual organ? Ya nggak mungkin, beda market lagi kan.
"Mau beli buku."
Hening, Miky menyadari pertanyaannya begitu tidak jelas.
"Eh, gue mau ke rumah lo boleh nggak." Valen mencoba bertanya.
"Boleh, emang siapa yang ngelarang?" jawaban Kaima berada di luar ekspektasi Miky.
Ngapain juga tadi ia repot-repot untuk mengendap-endap jika akhirnya tidak ada larangan.
•••