Hujan 9 - Cerita Kaima

1951 Words
Kesan pertama ketika memasuki rumah Kaima adalah mengagumkan. Ornamen rumahnya begitu keren dan nampak estetik, membuat anak milenial pasti bakal langsung foto-foto di sana, mengunggahnya di media sosial. Tak henti-hentinya Miky membuka mulutnya karena merasa kagum, matanya tak lepas dari sudut rumah Kaima. Tembok yang dicat dengan warna broken white dan sofa yang berwarna salem. Nuansa lembut itu menyambut mereka di dalam ruang tamu selebar 7 x 5 meter. Begitu luas untuk ukuran ruang tamu di kompleks perumahan yang hanya terbatas lahannya. Rama juga tak kalah kagum, ia sejak tadi berjalan masuk dengan memutarkan bola matanya ke penjuru rumah. Menatap figura-figura foto yang tergantung di atas sofa salem. Meja dari kaca seakan memantulkan cahaya dengan lembut, memberi cahaya tambahan untuk ruangan ini. Cuma Valen yang bersikap biasa saja dengan hal ini. Ia berjalan biasa dan duduk ketika diminta duduk. Sepertinya Kaima sudah memberi tahu mamanya, dapat dilihat sudah ada banyak makanan disediakan di meja. Mama Kaima juga sudah menyambut mereka dengan hangat. Wajahnya berseri-seri seperti mendapatkan tamu agung. “Kalian temennya Kaima ya... Ayo masuk-masuk.” Sambut Cintya dengan antusias. Siapa yang nggak antusias coba kalau anaknya yang pendiem bisa punya temen tiga sekaligus. Itu seperti keajaiban yang selalu menjadi doa mama Kaima. “Siap-siap tante.” Miky tak kalah ramah. Ia begitu riang bisa mendapatkan keramahan luar biasa dari ibu teman sekelasnya. Sepertinya tidak salah juga punya ide untuk main ke rumah Kaima. “Jangan sungkan ya. Mau main ke sini kapan aja boleh kok. Tante nggak ngelarang.” “Waaah, siap itu mah tante.” Rama ikut bersemangat. Ia melihat banyak makanan sudah ada di meja ruang tamu. Apa ini yang namanya takdir? Di saat Rama lapar, disitulah ada makanan. Gratis lagi! Inilah yang namanya rejeki anak sholeh, meski bapak Rama namanya bukan Sholeh. Kaima meninggalkan ruang tamu tanpa berbicara sepatah katapun. Ia masuk ke dalam kamarnya dan mengabaikan tiga manusia di ruang tamu itu—seperti biasa. Tante Cintya menghela napas, kelakuan putrinya tetap tidak berubah meski sudah punya tiga teman. “Kenalin, saya namanya Cintya. Mamanya Kaima.” Tante Cintya memperkenalkan diri. Ia ingin membangun suasana hangat, agar teman-teman Kaima tidak menganggap negatif sisi keluarganya karena sifat Kaima yang dingin. “Kalo saya Miky tante!” Miky adalah orang yang nomor satu merespon perkenalan itu. Ia bahkan juga mengacungkan tangannya ke udara, sudah persis seperti tebak-tebakan di kelas sekolah dasar. “Saya Rama tante.” Kalau Rama beda, ia masih dalam mode kalem. Bahkan dari tadi ia tersenyum terus, padahal nggak yakin kalau dilihat terus kan? “Kalau ini namanya siapa?” Tante Cintya menunjuk seorang gadis yang sejak tadi diam. Itu adalah Valen, ia memang sejak tadi tidak banyak bicara. “Saya Valen tante.” “Valen nih tante, yang paling pemberani. Pembicara yang jujur banget dan pokoknya the best tante.” Miky menyerobot obrolan. Valen melirik tajam ke arah Miky, kenapa juga dia menjelaskan begitu panjang soal dirinya. Miky seperti tidak peduli mendapat tataapn seperti itu, sudah biasa, kan emang Valen judes. “Kalau Rama ini orangnya baik tante, seneng banget tuh dia banyak waktu luang dan ngobrol sama kita.” Tidak berhenti, Miky malah semakin menjadi-jadi dengan menceritakan soal Rama. “Bilang aja, Rama nggak punya kerjaan.” Valen nimbrung. Miky menoleh. “Valen nggak boleh gitu ih.” Sifat aslinya sudah keluar dengan sempurna. “Kan emang gue nggak punya kerjaan, orang gue masih sekolah.” Rama menanggapi dengan candaan. Ia tetap berusaha tidak membuat suasana kembali keruh. Valen emang orangnya kayak gitu, tapi Miky juga nggak bisa terus-terusan kena omelannya. “Kalian nih lucu ya, beda banget sama Kaima.” Tante Cintya ikut mengisi obrolan. Ditambah tawa buatan agar merubah suasana lebih cair. “Iya tante, Miky emang lucu banget. Banyak orang yang ngira, Miky ini masih kelas satu SMP.” Sahut Miky dengan percaya diri. Rama dan Valen langsung saling tatap dan menyenggol Miky. Percakapannya sudah diluar konteks dan tingkat kepercayaan dirinya sudah kelepasan terlalu jauh. “Iyaaa Miky lucu banget, kayak namanya.” Sahut Tante Cintya. Miky langsung menjadi percaya diri. Lebih percaya diri dari sebelumnya. Obrolan di ruang tamu menjadi hangat karena keramahan Tante Cintya, meski anaknya seprrti gunung es. Emaknya flamboyan sekali dan nampak begitu positif. Kok bisa ya dua kepribadian terbentuk di satu rumah, mana emak anak lagi. Lagi-lagi bikin mengherankan. Kaima kembali dari kamarnya, hanya menggunakan kaos pendek dan celana panjang semata kaki. Meski diam saja, ia ikut duduk bergabung bersama di ruang tamu. Tante Cintya tersenyum tipis melihat sifat Kaima. Ada kemajuan, setidaknya ia menghargai orang. “Kalian sejak kapan temenan sama Kaima? Kok tante nggak pernah diceritain sama Kaima?” “Baru sih tante.” Miky menjawab. “Iya, kita emang baru temenan. Makanya kita baru bisa main ke sini.” Tambah Rama. Hanya Valen yang tidak merespon. Tante Cintya mengangguk-angguk. Wajar saja Kaima tidak memperkenalkan mereka, dari kepribadian putrinya saja sudah bisa ditebak. Jangankan menceritakan soal teman-temannya, cerita tentang keseharian putrinya saja tidak diceritakan. Namun Cintya dapat bernapas lega ketika ada tiga manusia muda itu bertandang ke rumahnya. Dengan ramah dan nampak lebih baik dan bersemangat dari Kaima. Pada tiga remaja itu, diam-diam Cintya berharap akan membuat Kaima berubah jadi lebih baik, menjadi terbuka dan melupakan masa lalunya yang siapa tahu masih ada di kepala Kaima. Masa lalu yang jika diingat saja masih membuat hati Cintya sesak. Meski gadis kecilnya itu tidak bercerita, siapa yang akan lupa bahwa luka itu mengisi masa kecilnya. ••• Tak peduli pemilik rumahnya cuek, mereka tetap sibuk menikmati makanan siang ini. Rama bahkan sampai memangku toples kacang telur dan satu toples wafer, makan adalah hobby-nya, apalagi yang berbau gratis, ia tidak akan menyia-nyiakan waktu itu. Miky sejak tadi melakukan swafoto, sedangkan Valen juga sibuk makan. Ia cukup lapar. “Kenapa Kaima nggak ngelarang kita main ke rumah?” tanya Miky penasaran. Ia teringat tentang misi rahasia yang gagal tadi. Lalu juga ternyata Kaima juga tidak melarang mereka untuk pergi ke rumahnya. Kaima menoleh, ia mengangkat kedua bahunya. “Kenapa harus ngelarang?” “Ya siapa tahu, Kaima nggak suka kehidupan pribadinya diulik, terus nggak suka juga kalau ada temennya yang datang.” “Entahlah.” Kaima tidak memberikan respon yang memuaskan, memang siapa juga yang berharap lebih dengan Kaima. Mereka bertiga juga sudah tahu betul. Kaima sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, namun ada yang bertengkar dalam dirinya. Apakah harus bercerita atau tetap menyimpannya. Baginya, ini hanyalah masalah sepele, namun masalah ini tidak akan selesai bila tidak ada pendapat orang lain yang akan mengisi. Hal itu juga sebenarnya yang membuat Kaima memperbolehkan ketiga temannya bertandang ke sini. “Kaima emangnya punya kehidupan? Bukannya hidupnya Cuma soal belajar, hujan dan diem?” Rama ikut nimbrung, mulutnya penuh dengan beragam makanan yang tersedia di meja. Celetukan Rama membuat Kaima memutuskan untuk tidak membuka suara. Teman-temannya pasti akan menganggapnya aneh karena melontarkan pertanyaan itu. Lebih baik emang diam, sih. “Kayak lo dong, nggak punya kehidupan.” Valen menyenggol Rama. “Punya kok.” Sahut Rama cepat. “Emang mana kehidupan lo?” “Kehidupan yang nggak ada Valen.” Jawab Rama telak, membuat lawan bicaranya langsung terdiam. Valen hanya mendengus napas kesal. Kenapa sih Rama selalu nyari gara-gara sama Valen. “Hahaha, lucu deh Rama.” Miky tertawa. Miky sepertinya tida tahu arti ucapan Rama sampai dia tertawa di atas penderitaan Valen. Hanya Miky yang tertawa, semuanya diam, menatap Miky dengan tanda tanya. Berbeda dengan Kaima, ia sibuk duduk dan diam, ia seperti tidak duduk di sana dan sibuk dengan dunianya. Wajahnya datar dan tidak melakukan aktivitas yang tidak berarti. “Kai, ikut nimbrung dong. Jangan diem mulu.” Miky menyenggol Kaima. “Emangnya lo mau respon apa dari Kaima?” Valen menyahut. “Yaa kayak apa gitu? Kan Kaima udah temenan sama kita. Hal yang biasa dilakukan dalam pertemanan ya ngobrol. Kayak gini, Cuma Kaimanya aja yang belum responsif.” “Sinting nih orang, mana bisa Kaima merespon dengan mudah seperti apa yang lo minta. Kalau lo mau, ya sana ujan-ujanan.” “Iiiih kenapa sih, Valen selalu kontra sama pendapat Miky!” sungut Miky. “Kalian berantem aja ya, biar jajannya gue yang makan.” Rama malah mendukung suasana ini. Kesempatan emas kan, di saat orang lain sibuk berantem, ia bisa menikmati makanan dengan sepuasnya. Miky dan Valen langsung melempar Rama dengan kacang pilus. Bukannya menyakiti Rama, pemuda itu malah segera menangkap dengan mulutnya. Seperti gol yang amat langka. Di saat ketiga temannya sibuk, Kaima seperti ada yang mengganjal di kepalanya, ada sebuah kegelisahan dan kerisauan tentang dirinya, tentang apa yang terjadi dengan dirinya dan mengapa ini bisa terjadi. Seperti ada yang hilang. Hal itu terjadi ketika Kaima mengenal Hajwa. Hajwa yang memberi senyum kini tiba-tiba hilang dari pandangannya. “Kalian pernah nggak sih punya temen yang terlihat begitu spesial di mata kalian?” celetuk Kaima di antara pertengkaran kecil teman-temannya. Miky langsung berhenti melempar pilus dan menatap Kaima, “Bisa diulangi lagi? Tadi Kaima ngomong?” Rama juga berhenti, ia menatap Kaima, merasa ada yang salah dengan suara Kaima yang tiba-tiba terdengar. Nampak seperti ilusi, tapi begitu nyata. “Lo tadi ngomong Kai?” Valen ikut-ikutan. Kaima yang ditatap ketiga temannya langsung kikuk, ketika ia butuh effort untuk mengatakan kata itu, teman-temannya malah tidak mendengarnya. “Bisa diulangin lagi? Kita bakal ngedengerin kok.” Miky bertanya lagi. Ia kini berubah dalam mode kalem. “Gini, kalian punya temen yang menurut kalian spesial nggak?” Kaima mengulangi pertanyaannya. Dalam hatinya ia berharap ketiga temannya tidak tertawa mendengar ini. “Spesial? Punya!” Miky menyahut cepat. “Siapa?” Valen penasaran. “Kaima!” “Kenapa Kaima?” Valen kembali bertanya, kini mimik wajahnya sedikit kecewa karena tidak dijadikan teman yang spesial bagi Miky. “Karena, Kaima baik, Kaima tulus dan Kaima nggak pernah ngomong kasar.” Rama tertawa, “Gimana dia mau ngomong kasar, dia ngomong dikit aja Alhamdulillah.” “Nah, makanya Miky suka sama Kaima. Makanya juga, Miky selalu berusaha jadi teman Kaima yang baik.” “Kalo lo, Ma? Siapa teman spesial lo?” Valen melemoar pertanyaan ke arah Rama. Ada rasa penasaran juga dalam lubuk hatinya. “Emangnya kenapa?” Rama seakan tidak mau menjawab dan memancing emosi Valen. “Nggak jadi nanya.” Valen menarik ucapannya, ia kesal karena tidak ada yang menjadikan dirinya sebagai teman spesial. Miky mengabaikan dua pertengkaran itu, ia kembali fokus kepada Kaima. “Emangnya kenapa Kai? Kaima punya temen spesial? Kita?” Kaima diam, ia tersenyum tipis beberapa detik. Ingatan soal Hajwa membuat perasaannya sedikit menghangat. Miky semakin dibuat penasaran. “Ada seseorang teman yang juga menyukai hujan.” Sahut Kaima kemudian. Ketiga remaja itu saling tukar pandang. Siapa di antara ketiga ini yang menyukai hujan. “Gue pilek kalau kena ujan, bukan gue.” Valen bersuara. “Gue paling males basah. Nggak mungkin gue.” Rama ikut-ikutan. “Nggak mungkin Miky juga, kan Miky gampang sakit.” “Terus siapa?” ucap mereka bertiga bersamaan. “Kai, lo punya temen selain kita?” Valen penasaran. Bagaimana bisa kehidupan Kaima yang datar bisa punya temen. Mereka bertiga aja kalau nggak memaksakan kehendak juga nggak bakal jadi temen Kaima. “Kai, cerita ke kita, Miky kepo.” Miky juga ikutan penasaran, malah ia yang paling penasaran di antara lainnya. Kaima hanya tersenyum kikuk, apakah ia juga harus menceritakan ini juga kepada temannya. Soal Hajwa, soal pesonanya dan soal bagaimana ia bisa menghangatkan hati Kaima yang dinginnya mengalahi freezer. “Namanya Hajwa.” Jawab Kaima singkat. Sontak ketiga temannya langsung ternganga, mulutnya lebih lebar dari pada ketika masuk ke dalam rumahnya tadi. Rama melupakan makanan yang ada di mulutnya, Valen melupakan sikap juteknya dan Miky lupa bahwa ia masih hidup—ia megap-megap setelah sadar tidak napas beberapa detik. “KAIMA! CERITAIN SEMUANYAA!” Miky berteriak heboh. •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD