Sifat mereka yang suka ikut campur dan selalu penasaran semakin menjadi ketika Kaima menceritakan soal Hajwa. Tiap detik ketika Kaima bergerak, mereka langsung menatap lekat Kaima. Mencari celah dari sifat Kaima yang dingin. Bahkan, mereka sampai punya pikiran apakah seorang Kaima bisa jatuh cinta juga? Kan menarik banget!
Mereka juga penasaran bagaimana model dari Hajwa sampai-sampai Kaima bisa menjatuhkan hatinya.
Tak berhenti sampai itu, mulut mereka tak hentinya bertanya bagaimana pertemuan mereka dan sekarang, apa yang akan Kaima lakukan sekarang dan ketika Kaima berdiri meninggalkan bangkunya, mulut mereka langsung menyerbu.
“Pergi nemuin Hajwa ya?”
Padahal tidak. Kaima hanya maju ke depan beberapa langkah untuk mengambil pulpennya yang jatuh.
Segala gerak-gerik Kaima tak lepas dari pandangan mereka bertiga. Ya, bertiga termasuk Valen dan Rama. Nggak cuma Miky aja yang penasaran, mereka semua ikut penasaran bagaimana Kaima bisa berteman dengan seseorang yang tidak di lingkungannya.
Bukannya berlebihan, namun Kaima juga begitu mengagetkan bisa mengenal orang selain mereka bertiga. Bahkan sudah masuk kategori spesial? Kenapa Kaima diam-diam mengkhianati persahabatan mereka?!
"Hajwa juga suka hujan? Terus kalian ketemu karena sering hujan-hujanan?" berondong Miky saat Kaima mengatakan tentang Hajwa di rumah Kaima beberapa hari yang lalu.
"Gila! Emang sih, hujan nggak bisa mengalahkan apapun. Kalau lo naksir Kaima, minimal lo juga naksir hujan." Rama ikut berkomentar. Hujan selalu menjadi kebencian karena itu merepotkan. Jika ia diluar terkena hujan, itu akan menghalangi aktivitasnya. Jika hujan sedang di rumah, itu membatasi geraknya dan ingin tidur di rumah.
"Tapi, Hajwa se-addict itu nggak sama hujan? Kayak Kaima?" Valen menyahut.
Semenjak Kaima mengatakan nama Hajwa di depan teman-temannya semua langsung aktif merespon.
Bahkan berhari-hari setelahnya, rasa penasaran mereka semakin besar. Kaima yang membatasi obrolan dan rasa ingin tahu mereka yang semakin membeludak.
Sampai hari ini, ketika Kaima sedang bersantai di kelas, Miky mendekati Kaima, ingin mengetahui lebih banyak lagi soal Hajwa. Siapa tahu, ketika Miky nanya lebih dekat, Kaima bakal ngomong.
"Kai, Kaima boleh kok cerita apa aja sama Miky." Miky mendekat, bahkan jaraknya hanya beberapa jengkal dari Kaima.
Kaima sedang membaca novel, ia hanya melirik sekilas ke arah Miky. Seperti biasa, Kaima tidak merespon. Diam, sibuk dan pasif.
"Nggak papa kok, Miky juga nggak kenal Hajwa siapa. Kayaknya dia siswa pendiem kayak Kaima."
Kaima tidak merespon. Meski ucapan Miky salah, tentang sifat Hajwa sebenarnya. Namun Kaima tetap tidak ingin mengoreksinya, untuk apa membuang waktu hanya untuk meminta pembenaran. Bukankah semua orang tidak perlu tahu.
"Kaima naksir Hajwa udah lama? Wah, jadi orang itu yang Kaima bahas pas di kamar mandi." Miky masih belum putus asa, bahkan ia mengingat juga ucapan Kaima beberapa pekan lalu di kamar mandi. Sungguh ingatan yang tajam.
Mendengar kata itu, sebenarnya Kaima sedikit terkecoh, ia sudah lupa pernah mengatakan kata apa ketika di kamar mandi. Baginya itu hanyalah obrolan singkat. Tapi kenapa Miky menafsirkannya dengan serius.
"Kaima cerita dong, ayooo." Miky merengek, tangannya bahkan sudah menggondeli lengan Kaima, membuat fokus Kaima membaca buku buyar.
"Miky, minta tolong, jangan ganggu." Kaima kesal lantaran Miky sudah keterlaluan.
Miky langsung terkesiap, segera ia melepas gelayutan tangannya dari Kaima, kini bahkan ia sudah mundur menjauhi Kaima.
"Ma-maaf." sahut Miky lirih. Ia menundukkan wajahnya. Kaima kalau marah emang serem.
"Jangan pernah sebut nama Hajwa lagi." ketus Kaima. Ia bangkit, membawa bukunya meninggalkan Miky yang masih menyesali perbuatannya.
Di sisi lain, ada Rama dan Valen yang memandangi Miky penuh rasa iba. Tapi juga ikut kesal karena perilaku Miky selalu berlebihan dan menyebalkan. Kaima aha sampai emosi, gimana kalau yang ditanyain Valen. Pasti sudah ditebas nyawanya.
•••
Kaima tidak pernah semarah ini. Bahkan ia juga tidak pernah tertarik untuk marah. Namun siang ini, ia mengatakan kata-kata tajam itu ke arah Miky.
Kaima mendengus, sepanjang perjalanan ia mengutuki dirinya sendiri dan bingung dengan dirinya.
Sisi kontrolnya yang luar biasa kini sepertinya mengendur dan mulai mudah tersulut emosi. Apa karena ia dekat dengan Valen ya? Ia jadi mudah marah-marah? Memangnya masuk akal, Kaima yang jarang berinteraksi bisa terdampak sifat buruk dari lingkungannya?
Kaima menuju taman belakang, mencari sepi yang akan mengembalikan fokusnya. Harusnya di waktu istirahat ini, ia hanya duduk di ruang kelas sembari mendengarkan musik kesayangannya.
Tapi mendadak ia keki sendiri karena masalah sepele, Hajwa.
Sebenarnya ada alasan yang logis kenapa Kaima bisa emosi; yang pertama, Miky orang yang menyebalkan dan pertanyaannya suka bikin orang emosi. Tapi bukankah itu sejak dulu terjadi dan baru kali ini Kaima tersulut.
Kedua, ini sebenarnya kurang masuk akal, namun juga nyambung. Hal ini terjadi bukan karena orang lain, namun karena Kaima sendiri yang tidak bisa memanajemen perasaannya. Ada perasaan kecewa dan marah karena Hajwa tidak menemuinya lagi, dan alam bawah sadar Kaima kebingungan harus meluapkan kekesalan itu kepada siapa.
Hingga datanglah Miky dan semuanya keluar begitu saja.
Kaima tetap manusia biasa, ia juga bisa merasakan kesal, meski ia tidak tahu dari beberapa perasaannya. Ia masih kebingungan makna dari emosinya dan bagaimana menanganinya.
Kaima duduk di salah satu bangku teralis di taman. Di bawah pohon beringin yang meneduhinya. Ia menghirup napas panjang, berharap perasaan aneh yang menggumpal di dalam dadanya lepas bersama karbon dioksida yang ia keluarkan.
"Tarik napas lagi, lebih dalam." celetuk seseorang yang membuat Kaima membuka matanya.
Hajwa sudah duduk di bangku yang sama dengannya, tersenyum memandangi Kaima tanpa berkedip.
Jantung Kaima langsung tak beres, ia langsung bergetar karena sosok yang ia rindukan datang. Seseorang yang mengajarinya emosi baru kembali.
"Kamu?"
"Iya, aku." Hajwa menyahut.
"Dari mana aja kamu?!" Kaima langsung menanyakan hal itu. Mulutnya sudah tidak bisa dikontrol.
"Aku nggak kemana-mana."
Kalau nggak kemana-mana, kenapa kamu hilang? Ingin rasanya Kaima menanyakan itu, namun ia takut.
"Kamu kangen sama aku?" Hajwa penuh dengan percaya diri.
Kaima tidak menjawab, ia tidak bisa mengatakan tidak, namun juga malu untuk mengatakan iya.
"Nggak papa kalau kangen. Aku juga udah lama nggak nongol, wajar aja Kaima kangen." Hajwa tertawa tipis. Senyum hangatnya menghilangkan kegondokan di hatinya.
Meski Hajwa menyita fokusnya membaca buku, paling tidak sosok Hajwa ini memang yang lagi di cari.
"Kamu baca apa?"
"Nih." Kaima memperlihatkan buku yang ada dalam genggamannya. Buku berjudul The Little Prince itu menjadi bacaannya sekarang.
"Pinjem dong."
Kaima menyerahkan bukunya. Ia tidak memiliki perasaan terganggu sama sekali. Ia malah merasakan senang dan begitu bahagia bisa ngobrol sama Hajwa, setidaknya sekarang ia menjadi sedikit lebih berani.
Hajwa menerima buku itu, membukanya sekali dan menutup kembali buku itu. "Kenapa?" tanya Kaima tanggap.
"Ini pake bahasa Inggris, aku nyerah."
Kaima tersenyum tipis melihat tingkah jenaka Hajwa. Ada perasaan hangat yang menyelinap dan membuat perasaannya mulai terbuka.
Hajwa adalah orang yang 180 derajat berbeda dari Kaima. Namun seperti ada benang merah menarik mereka. Dikaitkan di satu tempat bernama hujan dan mereja menjadi akrab.
Angin cerah itu kini menghembusi mendung yang tak hujan-hujan. Meski kontras, keduanya tetap tidak merasa keberatan.
•••