Kaima masih diam-diam memandangi Hajwa yang sejak tadi berbicara. Mulut Hajwa juga sejak tadi diam untuk mengatakan banyak kata. Hajwa tersenyum dan gerakannya terlihat manis.
Kaima yang tadi membaca buku, kini menutup novel bahasa Inggris itu. Pusat perhatiannya telah terkunci pada Hajwa.
Taman belakang kini menjadi tempat yang begitu menyenangkan untuk Kaima, angin berhembus ringan dan daun-daun berjatuhan. Duduk bersama Hajwa dan menikmati obrolan mereka mulai mengalir, Kaima juga sudah mulai membuka diri, tidak kaku seperti sebelumnya.
Kekesalah Kaima karena Miky tadi kini lebur. Ia bahkan sudah lupa bagaimana dadanya dibuat tak nyaman karena memikirkan Hajwa yang tidak muncul. Semua itu sembuh, oleh sosok yang ada di sampingnya. Manusia misterius yang sampai kini masih menjadi tanda tanya di kepala Kaima. Namun, pertanyaan-pertanyaan itu dibuat lebur oleh sifat Hajwa.
Ketika melihat Hajwa yang penuh dengan aura positif, wajah yang teduh dan tutur yang lembut. Pasti Hajwa memiliki banyak teman di sekolah ini. Bisa dilihat banyak orang akan jatuh cinta dengan segala kelebihannya. Kaima, yang tidak tertarik dengan dunia luar bisa langsung terpaku fokus padanya.
"Apa kamu punya teman?" Kaima bertanya di sela Hajwa mengoceh.
Hajwa langsung berhenti, menoleh dan tersenyum. "Teman?"
Kaima mengangguk. "Iya, kamu pasti punya banyak teman."
"Aku nggak punya temen." sahut Hajwa ringan.
Kaima memicingkan matanya, tidak percaya. Mana mungkin Hajwa seramah itu tidak punya teman.
"Tapi sekarang aku punya."
Kaima tidak menjawab, namun ia juga penasaran.
"Teman baruku namanya Kaima."
Kaima tersenyum tipis, ada perasaan senang dalam lubuk hatinya. "Kenapa aku jadi temanmu?"
"Memangnya kamu nggak mau temenan sama aku?"
Hajwa menaikkan alis kirinya.
"Kamu mau nggak temenan sama aku?" Hajwa menatap manik mata Kaima. Tersenyum. Hajwa memang tak pernah tersenyum, ia diam saja bibirnya tetap nampak tersenyum.
Kaima menunduk salah tingkah, ia tidak bisa menahan tatapan Hajwa.
"Kamu beneran mau temenan sama aku? Aku orangnya kaku loh." Kaima menjelaskan kekurangannya. Dari banyak hal yang ia lalui dalam hidup bersosial, mayoritas orang menganggapnya kaku dan tidak menyenangkan.
Maka sebelum ia melangkah jauh untuk berharap dan berteman dengan Hajwa ia tidak ingin berharap lebih. Karena untuk pertama kali Kaima membuka hatinya untuk berinteraksi kepada orang lain.
"Aku nggak punya teman secara dekat juga." jelas Kaima lagi.
Hajwa diam, menatap Kaima yang menjelaskan kekurangannya.
"Serius, temenan sama aku itu nggak enak. Aku nggak bisa responsif, aku nggak bisa diajak bercanda dan aku juga nggak seru. Banyak yang awalnya mau temenan sama aku dan akhirnya semuanya menghindar, karena aku terlalu pasif."
Hajwa tertawa. Kaima kebingungan. Apa benar, apa yang Kaima pikirkan bahwa Hajwa nggak mungkin bisa berteman lebih lama lagi.
Kaima mengutuki dirinya, menyesal ia membuka hatinya jika ternyata Hajwa sama dengan banyak orang. Tidak akan tahan dengan sifat Kaima yang terlalu kaku.
"Aku tetep mau temenan sama kamu." teguh Hajwa. Tak ada keraguan dari kalimatnya.
Kaima mengangkat wajahnya, "Aku nggak mau tanggung jawab kalau nanti kamu kecewa."
"Seratus persen nggak bakal kecewa."
"Karena apa? Semua orang itu punya kekurangan, tapi nggak semua orang mau mengakui kekurangannya. Ketika orang yang sudah bisa menjelaskan kekurangannya, berarti orang itu bagus. Itu yang bikin aku mau menjadi temanmu."
"Kaima, kamu bilang kamu kaku, tapi kamu bisa menjelaskan dengan mudah apa yang ada dalam diri kamu?"
Ucapan Hajwa membuka matanya lebar. Ia mengingat kata-kata yang ia ucapkan tadi, ada benarnya. Kenapa ia bisa menjelaskan dirinya begitu jelas dan panjang.
Dan, kenapa juga ia begitu bersemangat menjelaskan tentang dirinya. Ini pertama kali Kaima mampu membuatnya dikenal orang dengan ceritanya. Biasanya ia hanya dikenal kaku dan pasif karena sifatnya. Kaima juga untuk pertama kali merespon dengan cepat ucapan-ucapan yang dilontarkan lawan bicaranya.
"Jadi gimana, apakah Kaima mau jadi temenku?"
Kaima tersenyum, ia mengangguk. perasaannya seperti ada yang mengisi, membuat dadanya berdebar dan harinya seakan begitu indah. Ternyata ini alasan orang senang memiliki teman, ada perasaan hangat dan merasa ada teman yang melindunginya.
"Yeeeee. Kita sekarang temenan." seru Hajwa yang lagi-lagi membius Kaima. Hajwa memiliki kelebihan membuat orang yang melihatnya bisa langsung jatuh hati.
•••
Seperti orang jatuh cinta. Setelah mengobrol dengan Hajwa siang itu, Kaima seperti orang yang berbeda. Miky yang tadinya merasa bersalah kini semakin dibuat heran perbedaan ekspresi Kaima.
Rama dan Valen juga bingung, apakah memang seaneh itu mood Kaima. Memang itu bisa saja terjadi ketika ada hujan, tapi ini siang bolong, panasnya saja membakar kulit. Ada hujan lokal di mana nih?
"Kaima aneh." celetuk Valen, ia duduk di samping Rama yang menyandarkan bahunya di tembok. Rama mengangguk setuju. Siang ini, mereka akur, bareng terus tanpa disadari.
"Kan emang Kaima aneh." sahut Miky, ia mendekat ke arah dua temannya. Sepertinya akan ada ghibah yang mengisi percakapan mereka.
"Tapi ini ada yang beda. Kayaknya Kaima ketemu sama Hajwa deh," Valen menerka-nerka.
Rama menyenggol Valen, "Kan nggak boleh bahas Hajwa, pasti bukan karena Hajwa." Rama mencoba berpositif thinking.
"Tapi terus Kaima kenapa ketawa-tawa." Miky ikut penasaran. Sebenarnya Kaima nggak tertawa, mana mungkin seorang Kaima yang kaku bisa haha-hihi--lebih tepatnya, yang dimaksud Miky itu wajah Kaima nampak cerah. Nggak ada judes dan wajah yang no life.
"Kita tanyain Kaima gimana? Apa dia bahagia karena Hajwa. Kan Miky kepo."
"Jangan deh, ntar Kaima kalau nggak gara-gara Hajwa gimana. Ntar dia jadi badmood," Rama tetap mencegah mereka.
Valen mengangguk setuju, dia juga ngeri kalau Kaima marah cuma karena nyebutin nama Hajwa. Akhirnya ketiga orang itu mengurungkan niatnya, lebih baik jaga aman nggak nanyain dari pada ending-nya merusak suasana.
"Lebih baik kita syukuri aja Kaima bahagia." putus mereka akhirnya.
Berbeda dengan Mama, tidak ada pikiran untuk mengurungkan rasa penasarannya ketika melihat wajah putrinya berseri-seri ketika pulang sekolah. Ini termasuk langka dan tidak pernah terjadi sebelumnya. Mama begitu heran melihat Kaima bahagia.
Mama berjalan menuju jendela, membukanya dan melihat langit, cerah. Lalu jika tidak karena hujan, apa yang membuat Kaima begitu riang. Apa itu karena teman-temannya? Jika benar, ini adalah hal bagus. Besok-besok Mama harus mengundang ketiga sahabat Kaima untuk datang ke sini, mengenal mereka lebih dekat dan berterima kasih karena bisa membuat Kaima jadi manusia yang lebih terbuka.
Lambat laun kekhawatirannya mulai memudar, perasaan sedih karena Kaima tidak berinteraksi kini hilang. Semua memang butuh proses, tapi melihat adanya perkembangan membuat hati Mama hangat.
"Halo sayang." sapa Mama.
"Halo, Ma." balas Kaima tak kalah hangat.
"Ada apa nih? Kok cerah banget." Mama langsung memancing. Siapa tahu Kaima bisa menjelaskan perasaannya.
Kaima tersenyum malu, ia ingin menceritakan banyak hal pada Mamanya, tapi ia bingung harus memulai dari mana. Ia tidak biasa bercerita dengan runtut dan menjelaskan perasaannya. Tapi ia sekarang begitu bahagia. Rasanya seperti habis hujan-hujanan.
"Kamu habis jalan-jalan sama ketiga temenmu?"
Kaima menggeleng.
Mama mengerutkan alisnya, lalu apa? Kaima hujan-hujanan di daerah yang saat ini sedang hujan? Tapi baju Kaima kering. Nggak mungkin dong. Mama semakin penasaran.
"Terus kenapa kamu bahagia?"
Kaima mengulum bibirnya, lesung pipitnya yang jarang terlihat kini nampak, manis sekali. Sekedar informasi, Kaima emang punya lesung pipi, tapi karena dia jarang senyum bahkan nggak pernah. Maka lesung itu sembunyi dengan baik.
"Kaima? Cerita doong sama Mama!" melihat senyum di bibir Kaima semakin lebar, Mama semakin heboh. Mama dan Miky emang sebelas dua belas.
"Hari ini Kaima punya temen baru, Ma." Kaima menceritakan kebahagiaannya hari ini. Ia duduk di sofa ruang tamu, menyandarkan bahunya di sofa, nyaman sekali rasanya.
"Beneran?" antusias Mama, ikut serta duduk di samping Kaima. "Kamu punya temen tambahan lagi? Selain mereka bertiga?"
Kaima mengangguk malu.
"Aaa syukurlaaah! Anak Mama akhirnya bisa jadi remaja yang sesungguhnya. Sekarang tinggal nyari pacarnya ya, Nak." goda Mama. Wajar saja di usia 17 tahun punya pacar biasa, asal hanya untuk penyemangat, terutama Kaima harus punya nih.
"Mama apaan sih, Kaima nggak boleh pacaran." berbanding terbalik, privillage Kaima berbeda dengan Mamanya.
"Laaah, nggak papa. Kan seru, punya pacar satu sekolah."
"Tapi Kaima nggak bisa, Ma."
"Kan belum dicoba."
Mama merangkul Kaima, kebahagiaan Kaima kini nular. Mama juga nggak berhenti-henti tersenyum melihat Kaima punya teman baru.
"Oiya, temen kamu yang ini cewek atau cowok?" celetuk Mama, mendadak Mama jadi penasaran.
"Cowok Ma, namanya Hajwa."
Mama semakin bersemangat, wajahnya semakin berseri-seri karena mendengar respon putrinya. Cowok, artinya ada kemungkinan jika itu bisa jadi pacar Kaima. Apalagi, Kaima nampak dua kali lipat bahagia ketika menceritakan Hajwa.
"Ganteng gak dia?"
Kaima mengangguk. "Orangnya baik banget."
"Kaimaaa, kenapa sih, kamu tuh jadi bikin Mama pengen baliiik muda tahu." seru Mama. Sejak tadi tubuhnya tidak bisa diam, bahagia sekali.
"Pokoknya, Hajwa wajib di ajak ke sini. Kenalin ke Mama."
"Tapi, kan aku baru kenal, Ma. Nggak enak kalau tiba-tiba Kaima ngajak ke rumah."
"Nggak papa! Bilang sama Hajwa, Mama siap jadi mertuanya." ucapan Mama semakin ngelantur. Ia lupa bahwa anaknya masih kelas dua SMA dan teman saja baru berjumlah empat.
"Maaa, jangan gitu ah!" Kaima menyenggol Mamanya, memintanya untuk diam. Bukan karena Kaima keki, namun pipinya selalu dibuat merah ketika ekspektasi Mama sudah terlalu jauh soal dirinya dan Hajwa.
Tapi menyenangkan juga, bisa bareng-bareng Hajwa tanpa harus bertemu di tempat tertentu. Kaima bisa setiap saat ketawa ketika mendengar celoteh Hajwa.
"Kaima udah gede, nggak usah ke Dokter Ayuni okeee!"
Ucapan Mamanya semakin membuat Kaima riang, akhir-akhir ini Mama kerap memaksa Kaima untuk ikut ke Dokter Ayuni. Sehingga membuat Kaima cukup jengah ngobrol sama Mama.
"Makasih, Ma." Kaima memeluk mamanya. Tersenyum lebar dan tanpa disadari itulah senyum terlebarnya selain bersama hujan, dan tawa pertamanya setelah sepuluh tahun silam kematian ayahnya.
•••