Hujan 3 - Persahabatan Pasif Kaima

1595 Words
Meski sering dicuekin karena sifatnya yang aneh, Kaima tetap memiliki teman yang ada di sampingnya. Bukan teman sih, mereka cenderung tanpa sengaja dekat karena hal yang tidak bisa dijelaskan, tahu-tahu ya mereka dekat. Harapan Miky tiba-tiba saja menjadi kenyataan dan itu terjadi dengan begitu saja. Tapi itu tidak membuat Kaima mendadak akrab dengan mereka. Kaima mengabaikan manusia-manusia itu dan hidup seperti biasa. Bagi Kaima persahabatan itu tidak ada artinya, dan ia adalah orang yang tidak terlalu ribet, ia tidak akan sakit hati bila orang-orang itu meninggalkannya, ya karena mereka memang tidak diharapkan oleh Kaima. Mereka adalah Valen, Miky dan Rama. Tanpa sadar aktivitas mereka selalu melibatkan Kaima, entah itu respon Kaima aktif maupun pasif. Hal yang sering mereka lakukan adalah mencontek Kaima, dan Kaima mau-mau saja dicontek. Karena memang Kaima tidak punya motivasi apa-apa terhadap hidup. Lagi pula ketika teman-temannya mencontek, yang rugi mereka. Mereka akan merasa masalah mereka lebih berat ketika benar-benar mengerjakan tugasnya nanti. "Lo liatin plastik mulu. Belajar noh! Bentar lagi ulangannya Bu Inaya." Rama melirik Valen yang sedang menonton MV Butter-nya BTS. Ini sudah kesekian juta kali Valen menonton. Bahkan jika ditanya, kapan V BTS menghela napas pendek sebelum nyanyi, Valen akan menunjukkannya dengan tepat, di menit ke berada dan detik berapa. Itulah kekuatan orang gabut. "Iri bilang bos!" balas Valen sengit. Tapi matanya tak henti mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. Suasana kelas siang ini ramai, seperti biasa. Sepertinya memang satu kelas tidak peduli akan ada ulangan Matematika, kelas Bu Inaya yang suka sekali hamil ketika semester akhir tiba. Bahkan, si cerdik Kaima, ia tidak menyentuh buku sama sekali. Ia sibuk tidur, menaruh kepalanya di atas meja, seakan tidak peduli dengan huru-hara kelas yang begitu berisik. "Gue takut remed nih." Rama menghela napas, ia menatap Valen dan Miky bersamaan. Miky sendiri sedang sibuk scroll t****k, menyetel video-video viral kemudian ia akan mempraktekkannya. Sungguh masa remaja yang begitu sia-sia. Rama mengabaikan dua manusia itu. Kini ia melihat ke arah Kaima yang macam mayat hidup. "Rama kenapa sih ? Panik amat? Biasanya juga remed." Miky seakan sadar kegelisahan temannya. "Hp gue bakal disita kalau nilai gue jeblok Ky. Benar saja, Rama kena boikot dari orang tuanya. "Makanyaaaa pinter. Kaima aja enggak belajar bisa dapet nilai minimal 80." Valen sepertinya tidak berkaca. Bisa-bisanya ia mengatakan hal itu ketika dirinya saja juga tidak punya motivasi. "Dih, dih, kek yang ngomong bener aja." Rama mencebik. Ia kini mulai membuka buku modul matematika, membaca seksama soal latihan. Beberapa detik kemudian, ia menutup buku itu dengan putus asa. "Dah! Percayakan ke takdir aja!!" keluhnya dengan frustasi. "Dasar orang aneh." cibir Valen pada Rama. Rama tidak peduli, toh berdebat dengan Valen juga tidak menguntungkan. Ulangan tiba, suasana yang tadi ramai mendadak hening. Hanya deru kipas yang mengisi kekosongan suara di kelas. Bu Inaya memulai ulangan seperti biasa, dan siswa mengerjakan ulangan dengan biasa juga. Mereka selalu berdecak kaget tiap melihat deretan angka tanpa penjelasan yang bisa mereka mengerti. Mereka sama sekali tidak belajar dari kesalahan. Pada ulangan siang ini, mereka-Miky, Valen dan Rama-membuat kubu rahasia untuk menyebarkan jawaban Kaima dengan penuh kode, dan hanya mereka yang mengerti. Kaima fokus mengerjakan soal, ia tahu jawabannya di lihat oleh Miky, namun ia tidak peduli. Maka Kaima mengerjakan dengan tenang, seperti tidak terjadi apa-apa. "Ulangan tinggal sepuluh menit lagi." Bu Inaya duduk di mejanya. Kini guru usia 36 tahun itu sudah hamil 8 bulan. Maka duduk manis adalah jalan ninja yang ia buat. Ucapan Bu Inaya membuat banyak siswa panik, mereka segera mengerjakan ulangan dengan tergesa-gesa. Ada yang mengerjakan dengan benar, ada juga yang hanya membuat rumus baru. Wajar saja jika populasi remedial di kelas tetap stabil, yaitu banyak sekali. "Waktu sudah habis. Ayo bisa dikumpulkan di depan." Bu Inaya memberi komando. Para siswa mengeluh, ada yang menepuk-nepuk pundak temannya, ada yang melempar pulpen frustasi, dan ada juga yang baru bangun tidur. Masa SMA yang penuh dengan warna, warna gelap! Kaima adalah siswa yang tenang, ketika Bu Inaya mengomando, ia segera bangkit. Kaima berjalan santai menuju meja Bu Inaya, Bu Inay juga tersenyum ke arah siswa briliannya. "Untuk hari ini kamu dapat berapa ya Ma?" Bu Inaya mencoba basa-basi. Namun Kaima yang terlalu kaku hanya bisa menjawab : "enggak tahu bu." ••• Selesai ulangan, mereka berkumpul di meja Kaima. Memakan bekal yang mereka bawa dan Rama tumben-tumbenan mau pergi ke kantin. Mereka mengeluhkan ulangan matematika yang semakin sulit. "Bisa enggak sih, ada kurikulum baru yang bisa membuang matematika dari permukaan bumi ini." Valen salah satu siswa yang tertekan dengan ulangan tadi. Miky dan Rama mengangguk setuju. Berbeda dengan Kaima, yang selalu cuek dan cenderung diam di obrolan ini. Lagian, Kaima juga tidak meminta untuk membuat forum ini di mejanya. "Makasih banyak ya Ma! Kalo enggak ada lo, kayaknya riwayat gue punah deh." Rama menepuk pundak Kaima, sok akrab. Kaima yang saat itu sedang sibuk membaca webtoon hanya mengangkat dagunya bingung. "I-iya." jawabnya, kemudian ia kembali fokus pada komik yang ia baca. “Hei, mendingan mulai dari sekarang jangan panggil Kaima pakai Ma deh, pake Kai aja. Gue sebel tahu tiba-tiba noleh mulu tiap nama Ma disebut.” celetuk Rama, padahal dia sendiri yang manggil Kaima pakai ‘Ma’ tapi dia sendiri juga yang merevisi. “Oke, setuju.” jawab Miky dengan santai. Begitulah komunikasi mereka, hanya pasif dan bisa dikatakan tidak pernah lebih panjang dari dua kalimat. Miky mencemil kuaci, giginya lihai menggigit kulit kuaci satu persatu. Macam kelinci makan. Sedangkan Valen menghabiskan ayam katsunya, dan yang pasti sambi nonton MV dong. "Eh, kita donasi yok." Rama yang saat itu sedang mengunyah kuaci tiba-tiba berceletuk. "Buat apaan?" Miky menyahut. "Buat beliin Valen earphone." Jawabnya kemudian, Valen menoleh. "Biar dia dengerin plastiknya sendirian. Capek telinga gue, berasa dengerin pemujaan sekte sesat." Valen langsung mendaratkan tamparan pada punggung Rama. "Gue doain lo suka KPOP, baru tahu rasa lo!" "Amin." jawab Rama semakin mengejek. "Lagian ya Ma, artis Korea tuh ganteng banget. Kalo bandingin sama muka Rama ya jauh." Miky ikut-ikutan. "Ya jauh dong, gue di Jakarta dia di Korea." Rama masih saja bisa menyahut, padahal Miky dan Valen aja rasanya pengen mencakar wajahnya. "Dahlah capek." Valen menutup bekalnya yang sudah habis, merapikan dan memasukkannya ke dalam tas khusus bekal miliknya. Rama bergeming, sudah persis jadi orang termenyebalkan. Setelah hening beberapa detik, Kaima bangkit. Serentak tiga manusia itu langsung bertanya. "Mau kemana?" bareng. Sudah kompak kan mereka. "Ke kamar mandi." sahut Kaima datar. "Ikuuut." Miky langsung berdiri. Menggandeng Kaima tanpa ragu. Toh, Kaima juga tidak marah ketika dirangkul seperti itu. "Gue juga ikuut!" Valen ikut-ikutan, ia segera memasukan sisa bekalnya di dalam tas. "Heh! Ke kalo ke kamar mandi tuh enggak boleh bertiga!" Rama yang tetap berdiri di bangkunya hanya berseloroh pada tiga insan yang meninggalkannya. "Kata siapa? Yang enggak boleh tuh ke kamar mandi sama lo." Valen membalas. Jika ditanya siapa yang paling benci dengan Rama, Valen maju paling depan. Kaima berjalan dengan santai menuju kamar mandi, tangan kanannya digamit Valen dan di kiri ada Miky. Jadilah Kaima seperti diganduli dua anak-anak. Namun Kaima tidak peduli, selagi mereka nyaman, Kaima bodo amat. Sebelum mereka sampai di kamar mandi, mereka harus melalui lorong kelas 12 yang begitu ramai. Jika orang yang penakut ia akan ke kamar mandi ketika masuk pelajaran agar tidak diganggu kakak kelas. Kalau yang caper, mereka akan riwa-riwi untuk memamerkan diri agar digoda, itu termasuk Valen dan Miky. Tapi Kaima tidak bisa dikategorikan dalam dua jenis itu, Kaima adalah orang yang tidak peduli, ia akan ke kamar mandi jika kebelet. "Stt, Ky. Liat, Kak Kenn ganteng banget." Valen mengkode Miky, bahkan dagu Valen menghadap ke arah cowok kelas 12 yang dianggap ganteng parah. "Iya, iya. Kak Fajri juga tuh, gila banget." Miky juga ikut merumpi. Bisa-bisanya mereka membahas orang itu di dekatnya. Padahal Kenn dan Fajri bisa mendengar obrolan mereka, namun itulah tujuan mereka, caper! Kaima langsung mempercepat langkahnya, membuat dua temannya yang menggandengnya langsung tersuruk-suruk. Mereka sampai kamar mandi, Miky yang sedang mencuci wajahnga di wastafel mendengus karena Kaima menyia-nyiakan moment berharga itu. "Kaima tuh maunya apa sih, diajak nyari cowok enggak mau." Valen mengangguk setuju, waktu capernya berlalu begitu singkat karena Kaima mempercepat langkahnya. "Kai, lo sebenarnya suka sama cowok enggak sih?" Valen bersandar di dekat pintu di mana Kaima membuang hajat. Kaima hanya berdeham, ia enggan menjawab pertanyaan dari Valen, toh tidak penting juga kan. "Kaima pernah naksir sama cowok enggak sih?" Miky ikut-ikutan bertanya. Kini ia telah selesai cuci muka. Kaima keluar dari kamar mandi, mencuci tangannya dan menatap kedua temannya. "Kalian penasaran?" Tanpa malu, Valen dan Miky mengangguk keras. "Jelas kepo lah, kan Miky pengen tahu, Kaima masih normal atau enggak." Kaima tersenyum tipis, sangat tipis sampai tidak bisa dikatakan sebagai senyum. "Ada seseorang, tapi gue enggak tahu kabar dia di mana." Seperti mendapatkan berlian, Miky dan Valen saling menatap kemudian tertawa lebar. "Akhirnya sohib Miky normal!" seru Miky kemudian memeluk Kaima yang tersenyum sinis. Sejak kapan Kaima menyatakan dengan resmi mereka berteman, dan kini mereka berperilaku seolah-olah Kaima adalah teman dekat dua manusia ini. "Orangnya bukan Kak Kenn sama Kak Fajri kan?" Valen memastikan. Kaima menggeleng. "Itu buat kalian aja." Valen dan Miky semakin bahagia karena Kaima tidak naksir dengan manusia pentolan satu sekolah. "Tapi satu pertanyaan gue." "Apa?" jawab Valen dan Miky bersamaan. "Mereka mau sama kalian atau enggak." Kemudian tawa itu lenyap, kini hanya deru napas putus asa bahwa Valen dan Miky adalah orang yang tidak bisa menggapai manusia most wanted. Kaima memang jarang berbicara, apalagi jika dikeramaian. Namun, jika bersama Miky dan Valen, mereka mau tidak mau juga bicara. Seperti sudah ada kenyamanan dengan dua manusia itu, sampai-sampai tidak masalah mengeluarkan sesekali suaranya yang parau karena jarang berbicara. •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD