Hujan 4 - Pemuda Hujan Itu, Hajwa

2246 Words
Waktu produktif seorang siswa adalah dan jam tujuh sampai jam sebelas, lewatnya dari itu siswa akan kehilangan fokus dan mulai malas untuk melakukan pembelajaran, mereka mulai lusuh dan pikiran mereka mulai tidak bisa diajak kerja sama. Maka, ketika bel berdentang pukul 11.30, semua makhluk muda itu akan segera keluar dari kelas. Banyak siswa memanfaatkan waktu ini untuk me-refresh pikiran dari penatnya menyerap ilmu. Jika yang alim mereka akan segera menuju masjid untuk melakukan sholat, jika yang kurang alim akan pergi ke tempat kebahagiaan sesaat. Ya ke kantin salah satunya, atau yang sesat lagi, akan pergi ke belakang gudang untuk menikmati satu sebat bersama-sama. Kaima segera melepas sepatunya untuk mendapatkan wudu secepat mungkin, ia tidak bisa ketinggalan sholat jema'ah karena ia malas untuk sholat sendirian dan harus kehilangan waktu untuk hal yang lakn. Berbeda dengan Miky dan Valen yang malah duduk di beranda masjid dengan menyelonjorkan kaki mereka. Mereka menyandarkan bahu mereka dan menikmati angin sepoi-sepoi dari arah timur. Meski mereka sudah sering bersama Kaima, ternyata belum cukup untuk membuat dua orang itu menjadi sedikit lebih baik. Masih saja seenaknya dan tidak ada perkembangan secara khusus. "Abis ini beli siomay yok." Miky melihat penjual siomay yang sedang jualan di dekat gerbang sekolah. "Boleh." seru Valen setuju. "Kaima mau ikut beli siomay nggak?" Miky menoleh ke arah Kaima yang baru saja keluar dari tempat wudu. Kaima menggeleng, kemudian ia masuk ke dalam masjid. Membiarkan dua manusia itu menikmati waktunya. "Yaudah, yang penting sudah punya temen Valen." Yang namanya disebut langsung bergeming. "Lo mending buruan ambil wudu deh." "Valen aja dulu, Miky masih pengen duduk nih." Rama datang dari arah tempat wudu laki-laki, rambutnya yang basah menetes di kerah seragamnya. "Kalian mau masuk neraka?" "Nggak mau lah!" sahut Miky cepat. "Ya udah ayoo sholat!" Miky mengerang, ia masih ingin bermalas-malasan dan bisa ikut sholat di kloter selanjutnya—jelasnya. Dikata sholat urutan naik bis, bisa dientar-entar sesuka hati. "Nanti pas masuk neraka nangees, diajak sholat gamau." Rama meninggalkan dua manusia itu dengan menggelengkan kepalanya, selain aneh, mereka juga masuk ke perilaku menyimpang. Valen berdiri, "Ky, ayo sholat kagak?" "Iyaaa." Miky bangkit dengan malas. "Misi kak," seseorang ingin melewati Miky, namun karena ia sudah berwudu, pemuda itu tidak bisa menyentuh Miky. Maka ia sebisa mungkin untuk menjaga jarak. "Eh iya, iya." Miky yang saat itu langsung menoleh mendadak menjadi orang yang bersemangat dan ramah, gurat wajah malas sholat mendadak hilang. Ketika pemuda itu berlalu, Miky langsung menyenggol Valen yang sudah bersiap untuk mengambil wudu. "Lo kenal nggak siapa dia?" "Nggak tau." jawab Valen culas. "Eh, eh dia mau jadi imam!" pekiknya tertahan, Miky adalah orang yang haus akan orang tampan. Sekali lihat orang tampan dia bakal girang dan mencoba untuk caper. Apalagi ditambah kalau orangnya baik dan alim, semakin bar-bar Miky untuk mencari muka. "Minggir! Gue mau jadi makmum calon masa depan gue!" Miky langsung menggeser Valen dan segera berlari menuju tempat wudu. Membuat Valen semakin heran kenapa bisa dekat-dekat dengan manusia seaneh Miky. ●●● Istirahat siang itu harusnya berakhir pukul 12.30, namun siang ini akan cukup molor karena hujan tiba-tiba turun dengan deras. Menjadikan banyak siswa terjebak di masjid dan sedang menikmati waktu mereka yang cukup terulur. Miky memeluk tubuhnya yang mulai kedinginan. "Di sini nggak ada yang bawa payung?" tanya Miky pada siapapun yang mendengar ucapannya. Mereka semua bergeming, mengabaikan Miky yang bagi mereka tidak penting. Miky sendiri merengut dan menyumpah-nyumpah dalam bisik. Tidak berperasaan sekali sih, kan Cuma nanya. "Sudah nggak bawa payung, gagal beli siomay lagi. Huh! Dasar hujan." Miky memaki-maki rintikan deras itu. Saat itu juga petir menggelegar, dramatis macam film. Miky memekik kaget. "Makanya, lo jangan aneh-aneh. Kesamber petir tau rasa." Rama mengejek Miky. Ia duduk di anak tangga ke lantai dua. Seperti benar-benar menikmati hujan ini. Tepatnya, menikmati jam pelajaran selanjutnya akan kosong. "Ih apaan sih Rama." Miky tidak mau disalahkan. Apa salahnya mengerluarkan pendapatnya. Lagian, kenapa juga hujan ikut marahin Miky. Pakai ngasih geledek segala. Berbeda dengan Miky yang ribut-ribut tidak jelas. Kaima sejak tadi menikmati hujan dan ingin sekali terjun di bawah air hujan. Menikmati terpaan hujan yang pastinya menjadi suplai kebahagiaannya di siang ini. Tapi karena ia masih memikirkan kondisi seragamnya untuk kelas selanjutnya, Kaima tidak hujan-hujanan. Berkali-kali Kaima menaruh tangannya di bawah rintik hujan, menikmati dingin yang menyentuh kulitnya lewat bulir-bulir hujan. Ia ingin sekali ke sana. Namun ketika Kaima sedang sibuk memandangi air hujan, ada seseorang yang menerobos hujan. Seorang pemuda dengan seragam SMA menari-nari di bawah air hujan. Dari jarak seratus meter, Kaima bisa melihat ekspresi wajah riang dan tidak ada kekalutan dengan seragamnya yang akan basah. Kaima iri, ia ingin juga ke sana. Tanpa memikirkan hal-hal konyol tadi, Kaima segera meloncat di bawah rinai hujan. Ikut menyusul pemuda pemberani itu. "Heii! Kaima!! Mau kemana kamu!" pekik Miky melihat temanmu sudah basah di tengah lapangan. "Ngapain dicegah sih, kek nggak pernah lihat Kaima hujan-hujanan aja " sahut Valen sinis. "Tapi Kaima masih pake baju seragam. Kan masih ada kelas." sahut Miky. Di antara gerombolan manusia di depan masjid, hanya Miky yang peduli dengan tingkah Kaima. "Ngapain sih lo, harus peduli banget sama dia." "Valen nggak boleh gitu. Kan kita udah buat janji persahabatan, masak jahat gitu sama Kaima." Miky berdiri, ia menaruh kedua tangannya di pinggang. "Ya nggak, Ma?" Miky menoleh ke arah Rama, mencari dukungan. Bukannya Rama menyahut setuju, ia malah menyeringai. "Rama kenapa sih! Jahat banget!" Valen menoleh ke arah sekitar, ucapan Miky membuat dirinya malu. Kenapa juga harus berperilaku seperti anak SD. Valen juga menoleh ke arah Rama yang duduk di atasnya. "Biarin aja, sinting dia. Sebelas dua belas sama Kaima." bisik Rama ke arah Valen. Valen tersenyum tipis. Senyum yang tanpa disadari menjadi senyum awal ke Rama. Musuh dalam perangnya. Perang dalam kehidupan sehari-hari. Sementara di bawah hujan deras, Kaima menari-nari. Badannya sudah basah kuyup meski baru saja terjun. "Haii!" sapa pemuda itu yang tahu ada Kaima yang ikut serta. Ia tak jauh beda dengan Kaima yang nampak begitu riang di tengah hujan. "Hai." jawab Kaima ramah. Meski tidak mengenalnya, Kaima merasa begitu dekat karena sama-sama menyukai hujan. Kaima seperti menemukan dirinya di orang lain. "Namamu siapa?" tanya pemuda itu lagi. "Kaima!" teriak Kaima karena saking derasny, suaranya juga ikut lindap. Pemuda itu tersenyum, "hai, Kaima!" balasnya. "Namamu siapa?" tanya Kaima. Namun tak ada jawaban, ia hanya tersenyum hingga kemudian ia berlari meninggalkan Kaima. Membuat Kaima tertegun ditinggalkan sendiri. "Aku pergi dulu!" teriaknya sembari berlari. Kaima mematung melihat pemuda itu pergi, seperti kekecewaan karena hilangnya teman barunya. Untuk pertama kalinya, Kaima merasakan rasanya ditinggal seseorang. Pemuda hujan itu, periang, namun juga misterius. ••• Kejadian pemuda hujan itu, perlahan-lahan mulai pudar. Kaima fokus pada kehidupannya, dan hidup seperti biasanya. Cuek seperti tidak ada apa-apa dikehidupannya. Kehidupan Kaima selain bersama teman-temannya yang random, yaitu kesendirian. Hari ini, ketika Kaima enggan diganggu ketiga sahabatnya, Kaima pergi ke perpustakan. Di sana, Kaima akan mendapatkan ketenangan yang akan ia ciptakan, tanpa rumpi-rumpi tidak jelas dari Valen dan Miky serta tidak ada tuh deru napas kemalasan dari Rama. Yap! Perpustakaan menjadi tempat yang selalu mereka hindari. Jika dalam urutan catatan tempat yang tidak ingin dikunjungi. Perpustakaan masuk nomor dua, ya karena yang nomor satu mah neraka. Emangnya siapa yang mau masuk neraka? Mau dosanya gunung pun, kalau ditanyain mau masuk neraka? Jawabannya tidak, dengan jelas malah. Kaima berjalan santai, sembari menyumpalkan earphone warna pastel favoritnya. Kaima menikmati musik dari Bruno Mars siang ini. Melewati lorong yang begitu banyak, lewat dari lorong satu ke lorong lainnya. Hingga kemudian Kaima menemukan satu gedung bertuliskan perpustakaan di depan pintunya. Kaima masuk, melakukan registrasi kemudian segera menuju rak buku bagian sejarah. Kaima dan sejarah adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, bahkan jika nanti Kaima kuliah, ia ingin masuk di jurusan Antropologi. Kaima duduk di lantai, bersandar di dinding dan tersembunyi di antara lorong. Inilah moment tenang yang Kaima ciptakan. Tenang, sepi namun kepalanya menyerap seluruh isi buku. Meski hanya lima belas menit, hal ini begitu bermakna untuk Kaima. Ia lebih senang bergaul dengan kata-kata yang ada di paragraf-paragraf buku dari pada harus ngobrol dengan banyak orang. Bagi Kaima, menghabiskan waktu dengan informasi yang empiris lebih baik dari pada mengobrol pada tema dan topiknya saja tidak bisa dipegang. Bahkan, tidak ada pesan moral yang ia dapat dari obrolan itu. Maka, inilah alasan kenapa Kaima selalu mendapatkan nilai terbaik di antara yang lainnya. Kebiasaan Kaima yang unik memang patut diacungi jempol, bahkan menjadi harapan banyak orang. Bahkan, dalam kesempatan dulu, Rama pernah menyeletuk omong kosong namun dapat dipegang. "Ada dua kemungkinan dalam hidup. Kamu bergaul dengan seluruh buku di dunia ini, maka kamu akan tidak punya waktu untuk bergaul dengan manusia di sekitar, atau sebaliknya. Dan gue, Rama Irhaman, adalah orang yang sebaliknya." Cara membanggakan dirinya sendiri memang begitu. Menyelam sambil minum air, ia memuji-muji orang lain, namun di balik itu ia juga memuji dirinya dalam kalimat itu. "Tapi, tapi Ma. Ada yang menjanggal di hati gue." sahut Valen kala itu. "Lo bilang lo sedang ada di sebaliknya, iya memang lo enggak sibuk baca buku. Tapi, tapi, tapiii, gue enggak pernah liat lo bersosial Ramaa!" tambah Valen, penuh penekanan. Benar, fakta bahwa Rama tidak bisa bergaul dengan Kaima adalah kebenaran yang mutlak. Hidup Rama hanyalah, tidur-makan-buang air besar. Belajar bahkan kata yang begitu kurang terkenal di kepala Rama. Seperti sudah hampir punah dan tidak bisa dikenali. Kaima bangkit lagi, mungkin mencari buku sejarah yang lengkap. Kaima sedikit sedih melihat buku perpustakaan di sini hanya menyediakan sedikit sekali persoalan sejarah. Paling banyak hanya modul sekolah, itupun pembahasannya hanya umum. Ketika Kaima meraih buku di rak paling atas, mendadak buku itu macet untuk ditarik. Kaima memaksa tarikannya, hingga buku itu akhirnya bisa ditarik-bersama teman-temannya. Jadi siang itu, ada hujan buku di atas kepala Kaima. Ini bukan hujan yang biasa sukai, ini petaka, kepala Kaima bisa benjol. Kaima langsung menangkupkan tangan dan sedikit menunduk untuk melindungi asetnya, yaitu kepala yang di dalamnya bersarang otak cerdas. Kaima juga sudah membayangkan seberapa rasa sakit yang ia terima dari buku tebal-tebal itu. Namun, setelah beberapa detik, Kaima yang memejamkan matanya segera membuka. Rasa sakit itu sama sekali tidak ia rasakan, malah ia mendengar suara ringisan yang cukup pelan. Kaima yang membuka mata segera menyadari bahwa ada punggung yang mengayominya dari deraan buku. Seseorang itu adalah pemuda, pemuda tertampan yang pernah Kaima lihat. Bahkan, ketika Kaima mengangkat wajahnya ke atas, Kaima dapat melihat senyum yang begitu manis. Senyum bulan sabit yang pemuda itu buat dengan bibirnya yang tipis, namun berwarna cerah. "Kamu enggak kenapa-napa?" tanya Kaima saat itu juga. Ia langsung mundur dan berdiri dengan tegak. Dengan gentle dan begitu kharismanya, pemuda itu tetap tersenyum. "Enggak papa, cuma buku-buku tipis kok." Buku tipis tapi kalo banyak juga sakit tahu. Desis Kaima dalam hati, jarang-jarang ia menimpali obrolan, apalagi pada orang yang tidak dikenalnya. Tapi ada hal lain yang mengisi pikiran Kaima, yaitu tentang perasaan tidak asing ketika melihat pemuda itu. Ya! Itu pemuda hujan. Pemuda yang meninggalkannya di lapangan ketika hujan lebat. "Kenalin, Hajwa." bukannya merapikan buku-buku, pemuda itu malah memberikan tangannya. Perkenalan. Kaima yang kaget langsung membalasnya, tanpa disadari. "Aku, Kaima." "Sudah tahu, kita pernah ketemu di hujan." jawabnya dengan santai. Mereka berjabat cukup lama, bahkan sampai keduanya tertawa-kesempatan yang langka melihat Kaima tertawa. Setelah cukup berjabat tangan, mereka segera jongkok dan merapikan buku, mengembalikan seperti semula meski Kaima harus berjinjit untuk menaruhnya. Aktivitas sederhana itu begitu membuat keduanya merasa dekat. Seperti sudah pernah akrab. Sesaat Kaima mengingat sesuatu, rasa ingin ngobrol pada seseorang yang ada di dekatnya. "Maaf ya, gara-gara aku kamu jadi kejatuhan buku." Kaima mengucapkan sepatah kata yang begitu panjang baginya. Kaima juga begitu bersemangat. "Kalem aja, lagian enggak sakit kan." Hajwa meringis. Ia seperti terlihat tidak keberatan dengan timpaan buku itu. Hajwa dan Kaima duduk di tempat semula, entah apa yang membuat Kaima bersedia dengan adanya Hajwa di sampingnya. Namun, itu membuat fokus Kaima buyar. "Kamu kenapa duduk di sini?" tanya Kaima, ia sembari membaca buku yang ia ambil di rak. "Gapapa, dari pada gabut." Hajwa seperti ringan-ringan saja, seperti sudah akrab pada Kaima yang baru saja ia temui. "Kamu kelas berapa?" Hajwa bertanya. "Kelas 11," jawab Kaima tanpa menoleh. Ia masih saja fokus pada bait-bait yang tertera pada buku yang ia ketahui judulnya saja enggak. "Kamu enggak nanya, aku kelas berapa?" Hajwa seperti tidak menyerah berada di samping kutub selatan. Kaima menggeleng, "aku udah tahu, ada di badge kamu. Apa iya aku harus basa-basi lagi." Hajwa mencengir. Seakan ia begitu salah mengajak Kaima berbasa-basi. Akhirnya Hajwa diam, menatap tiap deretan buku di rak sekitarnya. Meski sudah cukup lama keheningan itu, Hajwa masih belum beranjak. "Kamu enggak mau sibuk?" Kaima akhirnya juga bersuara. Ia dibuat heran dengan sikap Hajwa yang manis-manis saja di sampingnya. Pasalnya, Kaima bingung dengan sikap luar biasa Hajwa. Jarang ada orang yang betah ia cuekin. Apalagi Hajwa adalah orang baru, yang dekat saja seperti ketiga manusia temannya saja itu tidak bisa lama-lama sendiri dengan Kaima. Mereka akan begitu blingsatan ketika dicuekin Kaima. Berbeda dengan Hajwa, ia tenang dan tetap diam "Jangan sungkan pergi jika bosan duduk di sini." "Aku enggak bosen, aku enjoy kok. Kalau aja aku enggak di perpustakaan, aku pasti udah joget." sahut Hajwa yang membuat Kaima semakin heran. "Terserah." jawab Kaima putus asa. Ia kemudian mencoba fokus membaca buku yang ia bawa. Sebenarnya, Kaima juga suka duduk di samping Hajwa, hanya saja Kaima tidak bisa melakukan obrolan dengan seseorang yang baru. Kaima sering ditanya dari pada bertanya, kebiasaan komunikasi pasif itu membuat ia kesulitan membangun atmosfer bahagia. Namun satu hal yang mengganjal di hati Kaima, apakah Hajwa adalah orang baru baginya? •••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD