Valen siang ini uring-uringan. Sepele, karena ia diminta untuk mengambil buku di perpustakaan untuk mata pelajaran selanjutnya. Padahal dia jelas-jelas sedang sibuk nonton music video-nya BTS.
"Nggak bisa orang lain kah yang ngambil buku?" Valen memelaskan wajahnya ke Roni, ketua kelas mereka.
Roni menggeleng, menolak keras negosiasi Valen. "Nggak bisa Valen, lo hari ini piket."
"Yang piket nggak gue doang."
"Tapi lo tadi pagi nggak ikut nyapu. Lo telat." Roni membuka kesalahan Valen.
Valen menatap malas Roni. Bisa-bisanya ia meminta Valen pergi ke perpustakaan, tempat yang tidak ingin ia kunjungi nomor dua di dunia ini—seperti kubilang sebelumnya, urutan pertamanya adalah neraka.
"Ta-tapi... Nanti kalau gue tersesat gimana. Kan lo tahu, gue enggak pernah ke perpustakaan." alibi Valen, meski agak tidak masuk akal untuk tersesat di ruangan yang hanya sebesar 12 x 8 meter.
"Tanya sama staff perpustakaan. Lagian, nggak mungkin lo tersesat, bukunya ada di rak pertama." jawab Roni tak mau kalah. Roni tahu Valen adalah orang yang susah, maka ia sudah menyiapkan banyak jawaban untuk alibinya.
Valen mengerang. Ia kalah telak. Ingin rasanya menyumpahi Roni, tapi tidak ingin mulutnya mengatakan bahasa binatang.
"Tapi... bukunya banyaaak. Gue nggak bisa." Valen tetap mencoba mencari cara untuk menggagalkan perintah Roni.
"Tapi, tapi, terus. Bilang aja lo males." Rama yang tiduran di atas meja ikut mengomentari. Tahu kan, Valen dan Rama itu perpaduan yang kontras. Hidupnya selalu ada perselisihan.
Valen menoleh ke arah Rama. Sengitnya mengalahi tatapan musuh bebuyutan. Meski sebenarnya, perkataan Rama tepat. "Diem deh lo."
"Gue punya ide." sahut Roni membuat Rama dan Valen menoleh. wajah Valen berharap Roni akan membatalkan perintah.
"Karena bukunya berat... lebih baik..." Roni menghentikan kalimatnya. Seperti sengaja membuat penasaran dua manusia pemalas itu. Wajah Valen cerah, ia berharap kata selanjutnya adalah pembatalan. Meski dunia patriarki sudah berakhir, nggak fair juga pekerjaan perempuan disamakan laki-laki.
"Lebih baik apa?" sahut Rama juga penasaran.
"Lebih baik, Rama ikut bantu Valen ke perpustakaan." jawab Roni dengan percaya diri.
"NGGAK!" tolak Valen dan Rama bersamaan. Kompak yang diinginkan, tapi mereka tidak ingin bersama. Itulah mereka.
Roni adalah orang yang tidak bisa ditolerir, maka, dengan amat sangat terpaksa mereka pergi. Menuju neraka nomor dua mereka; perpustakaan.
Mereka berjalan beriringan di koridor, dengan jarak satu setengah meter. Seperti dua orang asing yang langkahnya selalu tepat.
"Ada dua hal yang gue benci di dunia ini." celetuk Valen mengisi kekosongan jalan.
Rama tidak merespon. Tapi menoleh sebentar, turut penasaran dengan ucapan Valen.
"Pertama, gue benci perpustakaan."
"Sama." respon Rama datar.
Valen menyunggingkan senyum tipis. "Dan yang kedua, Rama."
"Sama." jawab Rama dengan intonasi yang sama seperti tadi.
Valen langsung menoleh ke arah Rama. "Lo benci sama diri lo?"
"Bukan."
"Terus kenapa lo bilang sama."
"Sama, gue juga benci Valen. Valencia Agatha." jawab Rama tanpa menatap Valen. Karena ia sudah tahu bahwa wajah Valen akan memerah.
Untung saja Miky tidak di sini, pasti sudah heboh karena percakapan aneh Valen dan Rama. Miky memang satu-satunya manusia yang mencoba mempersatukan ketiga manusia aneh ini.
Sesampai di depan perpustakaan, mereka berdua berhenti. Menatap papan besar bertuliskan perpustakaan di atas pintu kaca.
Valen menatap Rama, Rama juga menatap Valen. Kedua mata mereka seakan memberi tahu bahwa ada rasa enggan masuk ke dalam ruangan penuh buku itu. Valen mendadak mulas dan ingin kembali ke kelas. Rama juga tak jauh beda.
"Kita balik aja gimana?" ucap Valen melunak. Kebencian yang terpancar sejak tadi hilang.
"Setuju."
"Tapi nanti Roni gimana? Pasti dia bakal marah."
"Iya juga sih." Rama menghela napas.
"Eh tadi Kaima ke perpus kan?" Valen teringat sesuatu.
"Gimanaa, kalau kita minta Kaima buat bantu kita." Brilian. Ide Valen langsung disetujui oleh Rama.
Mereka mendadak jadi dua manusia yang paling akur sedunia. Kebencian mereka terhadap perpustakaan menjadikan mereka langsung akur.
Rama mengeluarkan ponselnya, langsung mencari kontak bernama Kaima. Rama langsung cepat tanggap untuk hal-hal yang seperti ini. Tapi tidak untuk menangkap materi di kelas.
Dering tanda tersambungnya telepon terdengar nyaring. Valen menatap Rama yang sedang menggamit ponsel di telinganya.
"Gimana?"
"Masih menyambungkan."
Valen menatapnya dengan harapan yang besar.
"Halo! Ada apa?" telepon terjawab, namun suaranya nyaring sekali. Berbanding terbalik dengan cara berbicara Kaima yang datar. Suaranya juga berbeda, seperti suara orang lain yang ia kenal.
"Halo, Apa apa Ma, nelpon?" lagi, suara terdengar dari telepon.
"Ini Miky?" tebak Rama. Suaranya memang terdengar banget kalau ini suara milik Miky.
"Iya." jawab Miky di seberang sana. "Ngapain nelpon Kaima? Kan dia di perpustakaan."
Mati. Rama langsung menutup telepon. Valen menatap Rama bingung.
"Kaima nggak mau?" tanyanya.
"Bukan."
"Terus?"
"Dia ninggal hapenya di kelas. Tadi yang jawab Miky." Rama menyahut putus asa.
Senyum Valen langsung hilang. Tatapan bersahabatnya pun juga sudah lenyap. Pikirannya tentang masuk ruang perpustakaan kini menghantui.
"Gue lupa, kalau Kaima ke perpus nggak pernah bawa hp." aku Valen saat ia menyadarinya.
"Gimana? Masuk?" Rama bertanya lagi ke Valen, meski sudah tahu Valen akan menolak keras.
"Kali ini saja. Ini bakal jadi pertama dan terakhir kita ke perpus." tambah Rama lagi.
Valen masih diam saja. Ia menelan ludahnya, meski tenggorokannya mendadak sulit untuk melakukannya. Mereka berdua masih berdiri di depan pintu perpustakaan.
Kenapa takdir begitu kejam. Apa salahnya membenci perpustakaan. Bukankah kebencian itu tidak memandang bulu dan bahkan tidak butuh alasan. Kenapa orang-orang tidak mau mengerti. Pikir mereka dalam hati dengan ratapan dramatis.
•••
Waktu seakan membeku, hanya diberikan khusus oleh dua manusia yang baru mengenal. Kaima duduk di samping Hajwa yang tidak membaca buku.
Kaima biasanya adalah orang yang tidak peduli. Namun, hari ini ada sebuah distraksi yang membuatnya buyar.
Hajwa tak banyak berkata, ia hanya tersenyum dan sesekali terdengan suara tawanya. Itu yang membuat Kaima tidak bisa membaca tiap paragraf di dalam lembar buku.
"Kamu suka sekali dengan sejarah ya." celetuk Hajwa.
Kaima tidak menjawab, ia hanya melirik Hajwa sekilas.
"Apa memang kamu secuek itu? Bukankah ketika hujan kemarin kamu begitu riang?" Hajwa masih mengoceh.
"Tak apa jika sesekali tersenyum. Apalagi sama orang yang sudah baik sama kamu." Hajwa tak peduli jika ini pertemuan mereka yang masih awal. Namun ia tetap mengatakan hal-hal yang menurut Kaima konyol.
"Berbuat baik mungkin bisa menyita waktumu beberapa menit, tapi kamu akan merasakan balasan berjuta waktu yang baik, tidak ada ruginya."
Kaima masih menatap bukunya, ia sudah tidak bisa untuk membaca. Ucapan Hajwa seperti kumbang di telinganya, berdengung mengisi kekosongan.
"Kaima, jangan lupa untuk selalu jadi baik. Hidup memang melelahkan, tapi tidak memiliki teman itu lebih melelahkan." Hajwa memandangi rak buku. Ia mengatakan hal itu bukan karena ingin menasehati Kaima, tapi hanya ingin memberikan petuah baik. Hal-hal baik yang tidak bisa Hajwa lakukan.
Kini Hajwa membisu, setelah mengatakan banyak kata, ia berhenti. Namun senyum masih terlukis di bibirnya. Lesung pipit yang tipis nampak di pipi kanannya.
Hajwa berdiri, mengibas-ibaskan celananya.
"Kamu mau kemana?" panggil Kaima ketika melihat Hajwa beranjak meninggalkannya. Sudah 15 menit mereka duduk berdua dengan malu-malu. Lebih tepatnya, Kaima yang enggan menimpali tiap perkataan Hajwa.
"Ke kelas." Hajwa menoleh. Senyumnya masih merekah. Tak pernah berhenti tersenyum sejak awal pertemuan mereka tadi.
"Kelas kamu apa?" kata yang sejak tadi ia simpan. Kini bisa ia ungkapkan. Segala rasa penasaran sejak tadi mengisi kepala Kaima. Dalam hidupnya, untuk pertama kali ia tidak bisa fokus membaca di perpustakaan. Tapi entah kenapa, Kaima juga tidak merasa terganggu dengan ini.
Hajwa tidak menjawab, ia melenggang pergi tanpa aba. Meninggalkan Kaima yang terdiam di sela rak buku yang menutupinya dari pandangan pengunjung perpustakaan.
"Apa maksud kamu sebenarnya?" lirih Kaima menatap punggung Hajwa yang menghilang di antara rak buku.
Kenapa Kaima dibuat penasaran untuk kedua kalinya. Apakah Hajwa tidak tahu bahwa Kaima tidak punya banyak waktu untuk memikirkan hal-hal soal Hajwa.
Kaima akhirnya berdiri, meninggalkan rak buku sejarah. Meninggalkan hangat sisa dari tempat duduk mereka. Tapi Kaima tidak bisa meninggalkan rasa penasaran kepada Hajwa.
Kaima berjalan keluar perpustakaan, dengan pikiran yang menerka-nerka soal Hajwa. Manusia misterius pertama yang menggerakkan hatinya.
"Kaima!" pekik Valen yang berdiri di depan perpustakaan. Kaima terkejut, namun masih dalam kategori halus.
"Panjang umur! Tuhan emang nggak bisa ninggalin hamba-Nya. Pertolongan telah tiba." imbuh Rama yang menengadah. Berterima kasih kepada Sang Pencipta.
Kaima hanya berdiri dan menatap datar ke arah Rama dan Valen. Ia tidak begitu memberi respon banyak untuk kedua temannya.
"Kai! Lo bisa bantuin gue nggak?!" tanpa tedeng aling-aling, Valen mengatakan tujuannya. Meski ia tahu betul, tak akan ada respon baik.
Tidak langsung terjawab, namun Kaima juga memikirkan perkataan Valen. Mendadak pikiran tentang perkataan Hajwa berkelebat dalam pikirannya.
'Berbuat baik mungkin bisa menyita waktumu beberapa menit, tapi kamu akan merasakan balasan berjuta waktu yang baik, tidak ada ruginya.'
Kata-kata itu membuat Kaima mencoba pola pikir baru. Apakah berinteraksi tidak seburuk itu?
"Minta tolong apa?" jawab Kaima. Seperti keajaiban nomor sembilan, Kaima merespon perkataan dengan baik.
Valen dan Rama saling pandang. Bagaimana bisa hal yang tidak masuk akal terjadi.
"Apa yang bisa Kaima bantu?" tawar Kaima lagi. Kini ia juga membubuhkan senyum.
Valen dan Rama makin terkejut. Untuk pertama kalinya mereka bisa melihat senyum Kaima dengan jelas. Meski mereka tahu itu nampak kaku, tapi Kaima senyum. Perlu bikin syukuran pakai tumpeng nih!
"Ma? Hari ini mau hujan ya?" tanya Valen masih tidak percaya. Pasalnya, senyum Kaima terukir hanya ketika ia hujan-hujanan.
"Enggak, kok, hari ini cerah." Rama juga masih sama terkejutnya.
"Kai, its okay?" kini Valen menoleh ke arah Kaima. Entah apa yang membuat Valen begitu peduli. Tapi melihat Kaima senyum tanpa hujan, semua orang akan heran.
"Pasti kalau ada Miky, dunia runtuh nih." sahut Rama masih tanpa berkedip.
Perkataannya bisa diakui secara empiris. Berbanding dengan sifat Miky yang berlebihan dan begitu eskpresif. Ia bakal dijamin kaget dan begitu heboh melihat Kaima nampak berbeda.
"Aku baik-baik saja. Jadi apa yang bisa Kaima bantu?" Kaima bisa menjelaskan emosinya. Ini terlalu mustahil.
Valen dan Rama yang sejak tadi terhipnotis kini malah lupa apa yang akan mereka lakukan. Mereka seperti terbius pada Kaima.
Kira-kira jin apa nih yang bikin Kaima jadi berubah gini. Kok bisa, Kaima mengatakan banyak kata dalam satu kalimat. Lagi, hebat sekali Kaima bisa tersenyum.
Kaima yang melihat dua temannya membeku hanya bisa menggaruk tengkuknya. Ia yang tadi mencoba ingin sedikit ramah malah mendapatkan respon luar biasa.
Apakah yang dilakukan Kaima salah? Kata Hajwa tidak apa-apa sedikit berperilaku baik, namun kini hanya ada sebuah keheningan di antara mereka bertiga.
Katanya Hajwa, senyum sesekali nggak papa? Tapi kenapa begini jadinya?
•••