bc

Beranak Setiap Tahun

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
tragedy
bxg
small town
cheating
like
intro-logo
Blurb

Arland Yuda, seorang buronan polisi kota yang terkena kasus, karena ia memiliki kelainan akibat meminum cairan eksperimen dimana ia merasakan untuk terus menghamili pasangannya. Ia pun melarikan diri agar tidak tertangkap ke sebuah desa terpencil. Di sana, ia menikahi seorang wanita desa yang polos bernama Hagia Rengganis. Tanpa Hagia ketahui, pernikahan tersebut justru menjadi awal penderitaan luar biasa karena Arland terus memaksa dirinya untuk hamil dan melahirkan setiap tahun tanpa henti.

chap-preview
Free preview
Bab 1 : Racun Sialan
Jakarta tidak pernah tidur. Di balik gemerlap lampu neon distrik pencakar langit paling elite, ibu kota berdenyut dalam ritme yang begitu liar, angkuh, dan penuh kemewahan palsu. Sudut kota ini sama sekali tidak tampak seperti Jakarta pada umumnya; tempat ini adalah surga dunia bagi para pewaris takhta kekayaan, tempat di mana uang dibakar seperti puntung rokok, dan moralitas ditukar dengan kesenangan malam. Di salah satu penthouse mewah dengan dinding kaca setinggi tiga meter yang langsung menghadap lanskap megah lampu kota, suara dentingan gelas kristal bercampur dengan alunan musik deep house berbass rendah. Sekelompok pemuda usia awal dua puluhan tengah berkumpul di ruang tamu luas berbalut marmer hitam. Mereka bukan sekadar nongkrong biasa. Di atas meja kayu mahoni impor, tumpukan kartu remi, cip kasino bernilai jutaan rupiah, botol-botol wiski berusia puluhan tahun, serta kepulan asap cerutu beraroma mahal menghiasi udara malam. Mereka tertawa terbahak-bahak, saling membanggakan mobil sport keluaran terbaru dan wanita simpanan mereka. Di tengah lingkaran itu, duduk seorang pemuda dengan postur tubuh tegap, rahang tegas terpahat sempurna, dan rambut hitam legam yang ditata rapi ke belakang dengan sentuhan pomade mahal. Tatapan matanya dingin, kosong, seolah tidak ada satu pun hal di bumi ini yang mampu menarik perhatiannya secara utuh. Dialah Arland Yuda. Pria berusia dua puluh tahun, anak tunggal dari keluarga konglomerat raya yang bisnis di negeri ini. Arland dikenal di lingkaran pertemanannya sebagai sosok paling dingin, manipulatif, dan tidak punya hati. Bagi Arland, manusia lain hanyalah bidak catur atau objek hiburan semata. "Sialan, kartu peganganku benar-benar ampas malam ini!" seru Devan, salah satu teman dekat Arland yang terkenal sebagai mahasiswa kedokteran yang banting setir menjadi peracik zat kimia rumahan karena kebosanan tingkat tinggi. "Kau saja yang memang bodoh dalam membaca bluffing, Dev," balas Rian, menimpali sambil terkekeh renyah seraya meraup tumpukan cip di tengah meja. "Arland dari tadi diam saja tapi dompet kita terkuras habis." Arland hanya menyunggingkan senyum tipis, nyaris tak terlihat. Ia menyesap cairan amber di dalam gelas kristalnya perlahan. "Uang bukan masalah. Yang jadi masalah adalah kalian terlalu mudah ditebak," suara Arland rendah, berat, dan penuh d******i. Suasana kembali riuh oleh candaan kotor dan tawa sarkastik. Namun, seiring jarum jam dinding menunjukkan pukul dua pagi, kantuk mulai menyerang beberapa orang. Sebagian besar dari mereka sudah teler di atas sofa kulit bermerek Italia, tertidur lelap setelah menenggak alkohol terlalu banyak. Arland, yang malam itu merasa tenggorokannya kering akibat asap cerutu yang pekat, memutuskan untuk berdiri. Ia melangkah santai meninggalkan ruang tamu yang bising menuju bagian dalam penthouse milik Devan. Tujuannya sederhana: mencari botol air mineral dingin di dapur untuk meredakan tenggorokannya yang terasa terbakar. Langkah kaki Arland terhenti ketika ia memasuki area dapur bersih yang didominasi warna perak dan putih metalik. Di atas meja marmer dapur, tepat di sebelah mesin kopi otomatis, berjejer rapi berbagai macam botol tabung reaksi, gelas ukur, dan cairan kimia sisa eksperimen gila Devan sesuatu yang sudah biasa dilihat Arland karena sahabatnya itu memang kerap bereksperimen dengan obat-obatan racikan sendiri demi sensasi baru. Mata tajam Arland menangkap sebuah botol kaca kecil berukuran sedang yang berisi cairan berwarna merah pekat, berkilau aneh di bawah sorotan lampu downlight dapur. Cairan itu memantulkan pendar misterius, pekat bak darah segar namun tampak begitu memikat. Arland mengernyitkan dahi. Ia mengambil botol kaca itu, memutar-mutarnya di antara jari telunjuk dan ibu jarinya, lalu berteriak kecil ke arah ruang tengah, "Dev! Hei, Devan!" Tidak ada jawaban berarti selain suara dengkuran halus dari arah sofa. Namun, beberapa detik kemudian, bayangan Devan muncul dengan langkah sempoyongan di ambang pintu dapur, mengusap matanya yang masih menyipit karena kantuk. "Ada apa sih, Land? Jangan bilang wiski kita sudah habis," gerutu Devan dengan suara parau khas orang baru bangun tidur. Arland mengangkat botol kaca berisi cairan merah pekat itu di depan wajah Devan. Tanpa menoleh secara penuh karena sibuk mengamati tekstur kental cairan tersebut, Arland bertanya dengan nada santai, "Cairan apa ini? Warnanya mencolok sekali. Kau mau membuat racun tikus atau apa?" Tanpa membuka mata sepenuhnya dan masih dalam pengaruh kantuk berat, Devan menjawab asal-asalan, "Oh... itu? Simpan saja ke samping. Itu obat kuat." "Obat kuat?" Arland mendengkus geli. "Sejak kapan kau meracik obat kuat sendiri? Biasanya kau pesan langsung dari Jerman atau Swiss." "Terserah, pokoknya letakkan saja di situ, aku mau tidur lagi," balas Devan memutar badan, hendak kembali ke ruang tamu. Arland, yang selama masa remajanya sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama sudah terbiasa hidup bebas, mencicipi berbagai macam dunia malam, obat-obatan terlarang, dan sensasi ekstrem tanpa rasa takut, sama sekali tidak ragu-ragu. Ia adalah tipe pria yang menganggap aturan dibuat untuk dilanggar dan rasa penasaran harus dibayar tuntas. Tanpa basa-basi sedikit pun, Arland membuka tutup botol kaca tersebut. Bau menyengat yang manis bercampur aroma logam menusuk rongga hidungnya, namun hal itu justru semakin memicu adrenalinnya. Glek... Dalam satu kali tenggokan, Arland langsung meneguk separuh isi cairan merah pekat itu hingga tandas. Tenggorokannya langsung terasa terbakar hebat, seperti menelan lahar panas yang mengalir turun ke lambungnya. Ia terbatuk kecil, mengerutkan kening, lalu melempar botol kosong itu kembali ke atas meja marmer. "Lumayan juga rasanya," gumam Arland menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan. Waktu terus berjalan. Tepat pukul dua pagi lewat sepuluh menit, Devan yang tadinya setengah sadar di sofa tiba-tiba tersadar sepenuhnya. Matanya mendadak melotot lebar saat ia teringat sesuatu. Sebuah kepanikan luar biasa menghantam kesadarannya. Devan bangkit dengan gerakan cepat, berlari kecil menuju dapur sambil meneriakkan nama sahabatnya. "Arland! Sialan, Arland!" teriak Devan terengah-engah begitu sampai di dapur. Arland yang sedang berdiri bersandar di meja dapur sambil menikmati sisa sensasi hangat di dadanya menoleh dengan santai. "Ada apa lagi, Dev? Kau seperti melihat hantu saja." Devan langsung menerjang meja dapur, mencengkeram kerah kemeja Arland dengan kedua tangannya, sementara matanya menatap horor ke arah botol kaca kosong yang tergeletak di sana. Napas Devan memburu, keringat dingin bercucuran di pelipisnya. "Katakan padaku... kau tidak minum cairan yang ada di botol ini, kan?!" bentak Devan dengan suara bergetar ketakutan. Arland mengerutkan keningnya, merasa terganggu dengan cengkeraman Devan di kerah bajunya. Ia menepis tangan Devan dengan kasar, lalu merapikan kemejanya dengan tenang. "Heh, santai saja. Kenapa memangnya? Kau sendiri yang bilang tadi, itu obat kuat." "Bodoh! Sialan kau, Arland!" Devan menjambak rambutnya sendiri, frustrasi setengah mati. "Bukan! Maksudku bukan yang itu!" Arland menyilangkan kedua tangannya di d**a, menatap Devan dengan tatapan tajam penuh tuntutan. "Maksudmu apa? Bukankah kau sendiri yang bilang jika cairan di dalam botol itu adalah obat kuat?" "Bukan obat kuat penambah stamina biasa, b******n!" suara Devan meninggi, mencerminkan kepanikan yang nyata. "Cairan itu adalah hasil eksperimen terbaru dan paling berbahaya yang baru saja kuselesaikan kemarin sore! Aku belum sempat memberinya label peringatan!" Arland terdiam sejenak. Alisnya terangkat satu. "Eksperimen baru? Maksudmu apa?" Devan menelan ludahnya susah payah, menatap Arland dengan pandangan ngeri seolah sahabatnya itu baru saja menelan kutukan abadi. "Cairan mewah dan pekat itu adalah formula mutagenik sintetis... sebuah zat biokimia di mana gairah birahimu tidak akan pernah padam seumur hidupmu. Kau akan selalu dikendalikan oleh nafsu purba yang meledak-ledak setiap detiknya, dan yang lebih gila lagi... sistem reproduksimu telah diubah secara permanen. Mulai detik ini, benih yang kau miliki hanya akan menghasilkan anak perempuan saja dengan berat badan di atas rata-rata normal!" Mendengar penjelasan itu, warna muka Arland seketika berubah pucat. Kilatan amarah yang luar biasa pekat langsung meledak di dalam bola matanya. Rahangnya mengeras hingga otot-otot di pipinya berkedut hebat. "Apa kau bilang?!" Arland mencengkeram balik kerah kemeja Devan dengan cengkeraman yang jauh lebih kuat, menghantamkan tubuh Devan hingga membentur dinding dapur di belakangnya. Suara Arland berubah menggelegar, penuh ancaman mematikan. "Kau mempermainkan aku, Devan?! Kau sedang menghancurkan masa depanku secara total!" "Lepas, Arland! Lepas!" Devan meronta, terbatuk-batuk karena sesak napas. "Aku tidak sengaja meletakkannya di situ! Aku lupa memindahkannya ke lemari khusus bahan berbahaya!" "Sialan kau! Hentikan omong kosong ini!" Arland mendengus marah, napasnya memburu panas. "Bagaimana bisa aku hidup dengan kutukan seperti itu?! Cari obat penawarnya sekarang juga, Devan! Ambil penawarnya sebelum kubunuh kau malam ini juga!" Devan menggelengkan kepalanya dengan panik, wajahnya pucat pasi ketakutan melihat sorot mata Arland yang sudah kehilangan kewarasannya. "Tidak ada... demi Tuhan, Arland, tidak ada obat penawarnya!" "Jangan berbohong padaku!" bentak Arland semakin kencang. "Aku tidak berbohong!" teriak Devan histeris. "Formula itu permanen! Zat itu langsung meresap ke dalam DNA dan sistem saraf pusatmu dalam hitungan detik! Kau... kau tidak akan pernah bisa punya anak laki-laki seumur hidupmu, Arland! Kau akan terus diteror oleh gairah yang menyiksa, dan setiap wanita yang mengandung benihmu akan terus-menerus melahirkan anak perempuan tanpa henti sampai tubuh mereka hancur!" Mendengar kalimat terakhir itu, cengkeraman Arland di baju Devan perlahan mengendur. Ia tertegun. Napasnya memburu tidak teratur. Otaknya berputar cepat mencerna kutukan mengerikan yang baru saja masuk ke dalam tubuhnya. Di balik kemarahan yang membakar d**a, sebuah bayangan gelap, sebuah fantasi mengerikan dan obsesi yang selama ini terpendam di alam bawah sadarnya, tiba-tiba tersulut begitu saja oleh racun mematikan buatan Devan. Arland melepaskan cengkeramannya, mundur dua langkah ke belakang dengan tatapan kosong nan tajam menatap lantai marmer dingin. "Anak perempuan... tanpa henti." bisik Arland pelan pada dirinya sendiri, sementara Devan terduduk lemas di lantai dapur sambil memegang lehernya yang kesakitan. Malam itu, di penthouse mewah yang penuh kemewahan palsu di jantung kota Jakarta, takdir Arland Yuda telah berubah selamanya. Racun itu bukan sekadar menghancurkan masa depannya, melainkan membuka pintu gerbang menuju sebuah obsesi kelam yang kelak akan menuntut korban jiwa tanpa ampun.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Yüzbaşının Cerrahı

read
1.6M
bc

The Silver Wolf

read
615.6K
bc

The Billionaire’s Intern

read
1.2M
bc

Chosen, just to be Rejected

read
907.7K
bc

Inferno Demon Riders MC: My Five Obsessed Bullies

read
1.2M
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.3M
bc

Unscentable

read
2.3M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook