Chapter 6 : Bawa Calon istriku ke Kamar

1793 Words
Casey mengedarkan tatapannya pada sekeliling hall yang masih ramai dengan para tamu pesta. Setelah selesai didandani Gloria, Casey di tuntun menuju deretan kursi dengan meja panjang. Di sana, ia melihat seorang gadis cantik berwajah oriental tengah tersenyum kepada pria berambut keemasan yang berada di sampingnya.   Suara dehaman berat dari arah panggung yang berada di depan hall membuat Casey tercekat. Casey yang hendak duduk di kursi mengalihkan tatapannya saat melihat dari kejauhan Lexie dan Tom yang duduk di meja tamu. Casey tidak ingin duduk di tempat ini. Apakah sebaiknya ia menghampiri meja di mana Lexie dan Tom berada? Ia juga belum melaporkan keadaan dan kejadian yang telah terjadi terjadi. Tapi sepertinya yang paling ingin Casey lakukan adalah mengutarakan unek-unek nya pada Tom. Lihat, bukankah ia sudah mengatakan bahwa misi ini akan kacau?   “Jadi Tuan dan Nyonya sekalian,  anda semua tentu terkejut dengan kejadian beberapa jam Lalu di ruang hartaku. Aku memang sengaja mengundang anda semua untuk memperkenalkan dua putraku yang akan meneruskan usaha ku,  melanjutkan relasi dengan penerus dari anda semua.  Namun meskipun aku memperkenalkan dua putraku, kalian tentu tahu rules yang aku tetapkan aku harap kalian juga memberi tahu rules itu pada pewaris kalian yang akan melanjutkan kerja sama kita. Atau Anda semua tahu konsekuensi yang akan diterima jika melanggar, bukan?” Tuan Blaxton tersenyum penuh hikmat meskipun Casey malah meringis karena ternyata tuan Blaxton benar mirip Tom. Tipe lelaki tua yang suka membuat ancaman dengan nada ramah dan senyuman. Tipe yang sedikit menyebalkan. Tapi berarti Tom benar dengan ucapannya.   Tuan Blaxton kemudian menunjuk wanita bergaun kuning yang tadi Casey lirik sebelum detik selanjutnya Tuan Blaxton menunjuk Casey dengan tangannya. Casey menegang saat tatapan Tuan Blaxton dan para tamu mengarah padanya, ah ... Ia sungguh benci menjadi sorot perhatian! Sekarang apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia berdiri dan menunduk sopan?   “Dan dua gadis cantik terhormat ini,  adalah calon menantuku. Nona Liu Yunwei putri pengusaha otomotif terkemuka Tuan Liu dari Cina,  lalu di sebelah sana gadis cantik mempesona Casey Stone, putri kolektor Tom Stone.  Adalah suatu kebahagian bagiku mengetahui dua putraku memilih para gadis terhormat tanpa perlu aku arahkan, mereka benar-benar memiliki selera yang bagus.” Tuan Blaxton tersenyum khidmat, “Dengan demikian, aku berencana untuk mempercepat proses pernikahan salah satu dari mereka.” Ungkap Tuan Blaxton kembali tersenyum lalu merangkul dua putranya yang tiba-tiba muncul dari dua tangga yang mengitari balkon panggung yang bagi Casey terlihat seperti panggung teater.   Casey jadi berpikir mungkin arsitektur ini dibuat sengaja seperti teater karena Tuan Blaxton hobi berkhutbah di balkon itu pada pestanya.   Casey menoleh saat mendengar suatu bisikan di antara tamu wanita di pesta, “Ah lihatlah dua putra nya,  tampan sekali bukan? “ Puji seorang nyonya bergaun ungu dengan rambut tersanggul di samping kirinya.   “Jangan berpikir untuk menjodohkan anakmu dengannya.  Ia sudah mempunyai tunangan.” Ujar nyonya lain bergaun hijau.  Tiba-tiba saja bibir Casey tertarik ke atas,  jadi dua putra ini memang menantu idaman semua ibu-ibu pengusaha?   Casey semakin menajamkan indera pendengarannya, ia harus mendengar informasi lebih banyak. Dan mungkin dua nyonya ini bisa menjadi sumber informasinya.   “Tapi aku tidak ingin anakku menikah dengan Tuan Muda Blaxton berkulit pucat itu meskipun dia tampan,” Casey merasa ucapan ibu ini semakin penting, ia tidak boleh melewatkannya. Casey terus berusaha memfokuskan konsentrasinya untuk menguping, ia bahkan sampai mengabaikan hal-hal lain padahal di aula yang padat itu ada banyak suara lain yang membuatnya kesulitan untuk fokus.   “Kenapa? Menurutku dia paling tampan dan mirip dengan Tuan Blaxton, anakmu tak mungkin menolak untuk dijodohkan dengannya.”   “Suamiku bilang bahwa ia berbahaya ia-“   “Sayang,  jangan  di sini.  Sebentar lagi upacara dansa. Jangan jauh-jauh dariku.”   Sayangnya Casey harus menelan kecewa karena seorang Tuan,  yang sepertinya pasangannya menghampiri nyonya bergaun ungu dan membawa nyonya itu menjauh.  Ah sial,  menganggu saja.   “Apa yang membuatmu begitu fokus?” Casey terkesiap saat ia merasakan dua tangan menyentuh pinggangnya dan ia mendengar suatu suara dingin dan berat yang ia kenal sebagai suara Tuan Muda Sean yang tadi ditemuinya   “Kau membuatku terkejut!” pekik Casey lalu memukul lengan kekar Sean. Sean hanya meliriknya sekilas.   “Sebentar lagi sesi berdansa.  Ayo kita pergi ke pertengahan.” Ajak Seab   “A-apa?! Dansa? Tapi—Tom tidak bilang ada dansa, Demi Tuhan aku tak bisa berdansa! – a-aku kakiku sakit,  aku sedang tidak bisa berdansa” ujar Casey beralasan. Dan Casey dapat melihat kernyitan alis hitam Dran di balik topengnya.   “Dansa tak akan membuat cidera mu semakin parah sampai kau tak bisa berjalan,”   “Ta-tapi ini cukup, ba-baiklah....” pasrah Casey, ia membiarkan Sean menggiringnya ke tengah Aula hingga mereka menjadi pusat perhatian para tamu. Sial sial sial!  Ini akan tiga kali lebih memalukan dari sebelumnya.   Piringan hitam sudah berputar hingga terdengar alunan instrumental lembut nan romantis.  Sebelah tangan Sean sudah bertengger di pinggang Casey sementara tangan Casey memeluk Leher Sean dengan canggung—sedikit terpaksa, hingga perlahan Sean mulai membawa tubuh Casey pada gerakan sederhana namun konstan.   Kacaunya beberapa kali Casey mendapatinya kakinya menginjak kaki Sean, Sean hanya bisa menatapnya dalam diam dengan tatapan seribu makna. Casey mengumpat pelan dalam hati. Ia merasa Sean menghakiminya dalam diam.   “Kau tidak bisa berdansa.” Ujar Sran akhirnya. Casey hanya memalingkan wajahnya berusaha menyembunyikan rasa malu. Sean menghentikan gerakannya sejenak, lalu menatap Casey dan sialannya itu membuat Casey merasakan malu yang berkali-kali lipat. Apakah Sean akan benar-benar menghakiminya?   “Bukankah kau bilang kau seorang Lady?”   “Aku sudah bilang aku sedang cidera.” Casey beralasan.   “Aku hanya penasaran Lady mana yang tidak bisa berdansa. Injaklah kedua kakiku,” ujar Sean yang membuat Casey tidak hanya terkejut namun juga membuat semburat merah di wajah Casey semakin kentara. Tapi berusaha mempertahankan harga dirinya,  Casey menuruti Sean dan menginjakkan kedua kakinya tanpa ragu.   “Aku pikir aku menyuruh Gloria memberikanmu gaun merah garnet yang-“   Casey berdecak, “Kau buta? Kau pikir ini warna apa? Oranye?” balas Casey terdengar cukup ketus.   “Berbelahan dadaa rendah,  aku tak suka mahakarya Tuhan disembunyikan.” Lanjut Sean yang membuat Casey menatap Sean dengan tatapan tak suka.   “Berarti ia lebih menghargai norma dari pada dirimu.”   “Aku tak peduli dengan norma,  norma tak menjamin kehidupanku. Dan aku tak suka dengan gadis yang mendominasi.”   “Kalau begitu salah besar kau memilihku sebagai tunangan mu.  Karena aku tipe gadis yang mendominasi” sela Casey dengan nada mencemooh.   “Namun aku menyukai tantangan.  Mungkin akan menjadi hiburan jika aku berhasil menaklukan kucing hutan menjadi kucing rumahan?” Ujar Sean melirik Casey dengan tatapan tak terbaca, “Dari semua jenis kucing, kau kucing ras apa?” tanya Sean menatap Casey.   Casey terbahak pelan, “Kucing? Aku singa betina. Bukan kucing.”   “Baiklah. Aku singa jantannya, kalo begitu.”   “Cih kau lebih mirip singa laut albino.”   “Terima kasih. Aku juga suka penguin berdaada indah.”   “Penguin?!” Pekik Casey tidak terima.   “Singa laut hidup di padang es,  begitupun penguin, kau juga berjalan dan berdansa sangat kaku, benar-benar mirip penguin, kau tidak menyadarinya penguin berdadaa indah?” bisik Sean menggoda bagian depan gaun Casey dengan jempol, tatkala tubuh mereka berhimpitan.   “m***m! Hentikan perlakuan maniak mu itu.” Umpat Casey.   Sean tersenyum simpul, “Mau bertaruh?”   Casey kembali terbahak pelan, “Kau mengajakku bertaruh saat aku emosi? Begitu caramu memperbaiki suasana? Payah sekali.” Emosi Caseu mulai tersulut.   “Dalam waktu dekat kau akan terpesona padaku, dan meminta ku menyentuhmu”   “Wah ... ercaya diri sekali Anda ini, Tuan.” Sindir Casey sinis.   “Saat kau memiliki wajah tampan,  tubuh atletis,  popularitas dan harta.  Suatu kewajaran bersikap percaya diri. Setidaknya aku melakukan hal yang wajar dilakukan pria tampan.” Ujar Sean membela diri.   “Kau pria tapi mulutmu seperti wanita. Aku jadi mempertanyakan ke gentle-an mu.” Ujar Sean yang malah membuat Sean tersenyum geli.   “Itu sangat seksisme. Tapi jika kau penasaran, aku bisa membuktikan keperkasaan ku di ranjang. Mau mencobanya?  Aku tahu kau penasaran,” ujar Sean dengan seringai.   Dalam perasaan kesal, Casey memutar tubuhnya mulai terbiasa dengan gerakan dansa itu, namun setelah ia berputar dan merubah gerakannya menjadi sweet back hug di pelukan Sean, Casey menekankan ujung heels empat sentinya yang tajam dan runcing hingga menancap di jempol kaki Sean.   Sean sedikit meringis sementara Casey menyeringai senang. Misinya terlihat sukses. Casey mengulangi aksi itu hingga empat kali. Ia yakin kini kulit jempol kaki tuan Muda Sean itu pasti lecet. Dan Casey merasa puas untuk itu.   Musik dari piringan hitam berhenti, sesi berdansa telah selesai semua pasangan saling terdiam menatap pasangan dansanya, termasuk Casey yang menatap Sean dengan senyum kemenangan.   “Oh astaga Tuan Muda, kupikir, Anda harus menempelkan plester di jempol kaki Anda.” Ujar Casey dengan nada yang dibuat-buat seakan-akan ia bersalah.  Namun Sean jelas sadar itu adalah sindiran.   “Kau tahu bahwa ini pertemuan Pertama kita. Tapi kau sudah membuatku benar-benar ... tertantang.” Ujar Sean tidak sedikit pun menunjukkan nada marah.   “Uh ... apakah itu pujian? Aku sungguh tidak tersanjung, sedikit pun....” Casey berujar dengan nada senang lalu berubah dingin di akhir ucapannya, menunjukkan ketidak tertarikannya pada ucapan Sean. SEAN kembali tersenyum misterius,  dan bagi Casey itu mulai terasa menyebalkan. Dasar pria sok keren!   “Kita akan membuktikannya sebentar lagi,  sampai saat itu jangan membuatku semakin tertantang karena celotehan mu.” Ujar Sean mendekatkan wajahnya ke wajah Casey hingga Caseu dapat merasakan panas napas Sean di atas lehernya.   “Lehermu, putih sekali. Aku menyukainya.” Ujar Sean dengan nada seduktif. Tanpa sadar netra Casey menajam, dan saat Sean mengangkat wajahnya hingga wajah mereka sejajar, Casey melihat sekelebat kabut gairah meluap di netra Sean.   “Tak ingin mengecup bibirku?” Gida Casey yang seketika membuat pupil netra Sean membesar.   Sean tersenyum cukup lebar hingga menampilkan gigi taringnya yang Casey akui, cukup mempesona. Kemudian pria itu memiringkan wajahnya, bersiapuntuk mengecup bibir Casey, dan saat itulah Casey memberikan aksi kejutannya   Duaghhh   Casey menyundulkan kepalanya ke arah wajah Sean,  tepatnya di hidung mancung pahatan Tuhan itu. Sean meringis tanpa bersuara lalu memundurkan tubuhnya namun kacaunya,  di langkah kesekian Sran mundur tubuh Sean malah menabrak pahatan Es dan coklat yang cukup tinggi hingga tubuhnya oleng dan es itu terjatuh ke lantai. Tumpahan coklat mengotori pakaiannya. Hukum Gravitasi yang Casey pikirkan, terlihat berjalan sebagai mana mestinya.   Menyadari bahwa semua perhatian tertuju pada mereka,  dengan cepat Casey menghampiri Sean, berlutut di atas lantai berpura-pura khawatir.   “Oh astaga sayang, apa yang terjadi, kenapa kau bisa terjatuh seperti ini?” Tanya Casey dengan nada panik yang dibuat-buat.   Beberapa maid dengan sigap menghampiri Sean dengan membawa sarung tangan. Namun Sean mengangkat sebelah tangannya menyuruh Pelayan itu untuk berhenti di tempatnya.   “Calon istriku mengatakan bahwa ia yang akan mengganti pakaianku kami juga akan langsung ke acara puncak. Tolong bawa calon istri ku ke kamar kami. Sekarang juga.”    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD