Chapter 7 : Sesuatu yang Paling Dihindari

1463 Words
"Calon istriku mengatakan bahwa ia yang akan mengganti pakaianku kami juga akan langsung ke acara puncak. Tolong bawa calon istri ku ke kamar kami, sekarang juga." ujar Sean dengan nada cukup lantang yang Casey sangat tahu itu disengaja, dan mengenalkannya, pria itu tidak sedikit pun menunjukkan bahwa ia berpura-pura, ia benar-benar melakukan itu dengan secara terbuka, seolah menunjukan kuasanya sebagai Tuan pemilik rumah dan pewaris Blaxton yang luar biasa. Seketika Sean dihadiahi pelototan oleh Casey, namun pria itu tidak sedikit pun merasa terancam dan malah seolah menikmati aksinya. Tuan Blaxton yang masih berada di atas panggungnya dengan ekspresi ternganga, memekik mendapatkan fokusnya kembali, memecah keheningan setelah semua perhatian tamu di curi oleh jatuhnya Sean di atas lantai dengan tumpahan cokelat carving yang mahal. "Oh tentu! Ah ya mari ke acara puncak,  kalian bebas memilih kamar mana pun di lantai satu, dua, dan tiga. Ada banyak kamar yang bisa digunakan. Kalian tak perlu khawatir semua jenis pakaian ganti ada di sana,  beserta pengaman tentu saja. Silakan nikmati malam indah ini dengan sesuka hati." ujar Tuan Blaxton dari panggung itu bersama seorang wanita muda cantik dengan gaun tipis yang berpotongan dadaa rendah. Menyadari arti dari ucapan Tuan Blaxton, Casey memekik membulatkan netranya lalu mengangkat tubuhnya untuk menghampiri Tom segera. Ia ingin mengomeli Tom karena Tom juga tidak mengatakan acara puncak pesta laknat, judi dan foya-foya ini adalah permainan ranjang. Casey menerima misi dari Tom ini karena ingin menghindari seranjang dengan Tom. Dan sekarang ia malah harus diseret ke ranjang pria asing, pendendam, menyebalkan dan sok berkuasa? Yang benar saja! Casey menyiapkan langkah panjangnya dengan tangan mengepal menahan emosi. Namun belum sempat Casey berdiri, Sean menariknya dengan kuat hingga lututnya beradu dengan keras, kembali berlutut di lantai. "Menarik. Kau benar-benar menantangku, ya." ujar Sean dengan nada rendah, namun seketika membuat Casey menahan napas waswas. Ia benar-benar telah salah memilih langkah. "Apa maksudmu?" Casey berusaha menyelamatkan diri dengan kembali berpura-pura polos. Tapi Casey sepertinya tidak belajar dari kesalahannya, ia tidak mempelajari bahwa musuh tidak akan jatuh pada perangkap yang sama. Sean tidak menjawab pertanyaan Casey, tatapannya terlihat tajam dan dingin menusuk. Tak lama setelah mengatakan itu, Gloria muncul bersama dia maid yang menjadi bawahannya, membantu Casey berdiri dengan hati-hati seolah Casey adalah puteri kerajaan terhormat. "Siapkan gadis ini, lalu bawa ke kamarku. Dan kali ini, jangan membuat kesalahan, Gloria." Titah Sean lalu mengangguk, memberi tanda bahwa Gloria bisa membawa pergi Casey dari hadapannya. Casey seolah terkena hipnotis. Ia tidak bisa membantah ucapan Sean, rasanya aneh karena ia tidak bisa memberontak, melepaskan diri dari Gloria yang menuntunnya. Sebelum ia diseret semakin jauh, Casey melirik kembali Sean yang sedang mengelap noda cokelat di pakaian mahalnya. Casey merasakan perasaan menyesal yang amat dalam. Bukankah ia sudah mengatakan bahwa ia tidak bisa menjadi Seducer? Lihatlah apa yang sekarang terjadi! Casey mendengus samar, ia tak tahu haruskah ia mengalahkan Tom, atau menyalahkan dirinya sendiri yang selalu tidak mau di atur--menurut Tom, Lexie dan Emma, sih. Tapi harusnya jika Tom mengetahui itu, ia tidak memaksakan tugas ini pada Casey, bukan? Saat sedang sibuk berkutat dengan pemikirannya, Casey mendengar sebuah pekikan dari arah kanannya. Kimmy terbelalak, saat ia menoleh mendapati suara pekikan tertahan itu berasal dari Gloria. Pipi Gloria bahkan terlihat menggembung karena menahan tawa. Casey menoleh ke arah dua maid lain yang tetap berekspresi serius dan tegang. Jadi Gloria tertawa sendiri? Kemana ekspresi serius ala pemimpin desiplin yang tadi ia tunjukkan? Dan lagi, apa yang membuatnya tertawa? Apakah sekarang penampilan Casey terlihat lucu? Casey menatap Gloria cukup lama dengan sengaja. Ia memang ingin Gloria menyadari bahwa Casey mendengar tawa Gloria dan merasa aneh dengan pekikan itu. Untungnya usaha Casey tidak sia-sia, Gloria menyadari tatapannya dan sekarang menatap Casey kembali dengan tatapan serius, tatapan yang sama dengan tatapan saat Casey pertama kali bertemu dengannya. "Kami akan mempersiapkan anda, sebaik mungkin." Casey harus menelan kecewa karena reaksi Gloria tidak seperti yang ia harapkan. Pada akhirnya ia hanya bisa membiarkan maid ini membawanya kembali pada kamar di mana ia tadi dipersiapkan. *** Casey menggigit bibirnya menatap Tom dan Lexie yang terlihat cemas. Sekarang mereka bertiga berkumpul di kamar Casey. Untungnya Tom dan Lexie bisa membuat alasan yang membuat mereka bisa menemui Casey, Casey pun melakukan hal yang sama pada Gloria, untungnya meskipun wajah Gloria terlihat jutek, gadis itu tidak mempersulit izin Casey hingga akhirnya mereka bertiga bisa berkumpul. Dengan raut cemas, Tom meminta Casey menceritakan keadaan yang terjadi. Casey menggenggam ujung bajunya, tidak biasanya Tom terlihat panik. Dan itu membuat Casey tidak bisa merasa tenang selain berpikir benar-benar merasa bahwa nasib mereka berada di ujung tanduk. Wajah Lexie terlihat yang paling pucat saat Casey menceritakan semua yang terjadi saat diruang koleksi berlian dua orang itu, sementara Tom hanya terdiam, sibuk dengan pikirannya sendiri yang entah sedang terfokus pada apa. Mungkin ia tengah memikirkan cara terbaik untuk memperbaiki rencananya yang kacau balau ini. Tom tiba-tiba terperanjat menarik perhatian Lexie dan Casey tertuju padanya,"Kalau begitu, kau harus melakukannya Mon Ange" ujar Tom yang berjalan dari lemari lalu ia melemparkan satu lingerie hitam tipis bertali hitam ke pangkuan Casey. Iris Casey membola, "Kau gila?! Aku tidak pernah melakukan hubungan ranjang, astaga! Aku bersusah payah membuat alasan agar aku bisa kabur dari kamar laknat itu dan kau malah menyuruhku untuk kembali kesana?!" "Lalu? Kau ingin identitasmu sebagai pencuri terbongkar? Lagi pula bukankah bagus jika kau memiliki pengalaman malam pertama dengan pria tampan? Meskipun jelas masih tampan diriku." ujar Tom yang seketika mendapatkan delikan dari Casey. Bagaimana pria tua itu bisa memuji dirinya sendiri dalam keadaan genting seperti ini? "Kau gila? Meskipun yah aku setuju, lebih baik jika aku memberikan virginitas ku ke Tuan Muda Blaxton itu dari pada tua bangka sepertimu, tapi itu terlalu--" Casey kehabisan kata-kata. Ia sungguh tidak menduga rencana ini membawanya pada hal konyol yang ia hindari selama ia hidup. "Oh itu sungguh menyakitiku Mon ange, aku tahu kau tidak sungguh-sungguh mengatakan itu." Lexie hanya bisa menggeleng-geleng melihat kelakuan dua orang yang terpaut usia jauh itu dengannya itu. "Tapi aku masih ingin mempertahankan virginitas ku! Aku ingin memberikan itu pada orang yag aku cintai. Jadi aku akan memutar otakku untuk mencari ide," ujar Casey terlihat berpikir. Namun tak lama terdengar ketukan dari luar ruangan. "Itu pasti pewaris muda Blaxton itu! Mon ange cepatlah kau temui dia!" Titah Tom terburu-buru mendorong tubuh Casey. agar keluar dari kamar Casey mendesis, "Kau sungguh memaksaku melakukan ini? Dasar kau Tua Bangka--" Lexie membuka pintu dan Casey menemukan mata tajam Gloria menatapnya dengan tatapan menyeramkan. "Saya rasa waktu anda sudah habis, sebaiknya anda segera mempersiapkan diri ke kamar Tuan Muda, Nona. Oh ya, saya sudah menyiapkan baju anda." ujar Gloria dingin tanpa ekspresi selain ekpresi membunuhnya itu. Casey hanya bisa menarik napas gelap melangkah gontai mendahului Gloria. "Mohon bantuannya, maaf dia masih sangat polos jadi dia takut perihal hubungan intim." ujar Lexie pada Gloria dengan senyum terlihat seperti sosok ibu yang memaklumi anak gadisnya. Casey memutar bola matanya jengah, Lexie tidak pernah dalam aktingnya apa pun peran yang sedang ia lakoni. Lihat, seharusnya Lecie yang melakukan misi ini. "Itu bisa dimaklumi. Tak perlu khawatir, Tuan Muda seorang yang berpengalaman. Saya akan mengatakan padanya untuk memperlakukan Nona Casey dengan lembut." ujar Gloria, menunduk hormat untuk berpamitan lalu mengekori langkah Casey yang mencemooh ungkapan Gloria tadi. Tuannya seorang yang berpengalaman? Apakah itu halnyang patut dibanggakan? Ah jika ia memang seorang yang berpengalaman, seharusnya dia tidak tertarik pada amatir yang bahkan masih takut dengan ranjang dan pria bukan? "Apakah tuan mu suka gadis muda yang belum pernah melakukan itu?" tanya Casey tanpa menatap Minseok. Gloria tak menjawab dan terus menggiring Casey kembali masuk ke kamar Sean yang berada terpisah dari rumah utama Tuan Blaxton, Casey mungkin akan mengatakan bahwa ruangan terpisah ini lebih cocok disebut sebagai paviliun. "Tuan mengatakan pada saya bahwa Tuan sendiri yang akan membantu anda melepas gaun. Jadi saya hanya mengantar dan membantu anda sampai di sini. Selamat beristirahat, Nona." pamit Gloria setelah memastikan Casey memasuki kamar paviliun itu dan tak lagi kabur. Casey hanya bisa mengedarkan tatapannya seraya mengkrucutkan bibirnya tidak terima. Karena bingung, ia memilih untuk mendudukkan pantatnya di atas ranjang bernuansa serba hitam di ruangan itu. Kamar yang sangat pria sekali--monolog Casey mengomentari furniture dan desain ruangan itu. Casey melangkahkan kakinya ke deretan dinding yang berhiaskan deretan senjata api dilapisi perak, lalu tatapan Casey terhenti pada sebuah pintu yang sepertinya merupakan pintu rahasia karena ditutupi kertas dinding bercorak ilusi optik monokrom yang tidak akan terlihat jika tidak dilihat secara teliti. Melirik kanan kiri nya, Casey menghampiri pintu itu. Dengan was-was ia mendekatkan daun telinganya untuk memastikan tidak ada orang di dalamnya, setelah yakin, Casey hendak membukanya namun sebelum ia membukanya, tubuh rampingnya oleng karena pintu yang disenderinya itu tiba-tiba terbuka, dan Casey menabrak sesuatu! Caseu mengangkat wajahnya dan meraba sesuatu yang ditabraknya itu, namun tangannya menemukan titik-titik basah air dengan wangi shampoo khas pria. "Kau ingin mengintip ku humn?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD