Dua hari sebelum pesta topeng dan pameran Berlian di kediaman Tuan Blaxton.
Dan dua hari tepat sebelum kekacauan hidup Casey Stone dimulai.
***
Bunyi decitan kain lap mengelus permukaan keramik terdengar begitu mengganggu, membuat seorang gadis mendengus tak bisa menyembunyikan kekesalannya.
Gadis muda itu—Casey Stone, menatap tajam ke arah seorang pria tua yang tengah mengelap koleksi barang antiknya dengan hati-hati.
Sementara pria tua yang menjadi objek pandang Casey mengabaikannya.
Tak sedikit pun merasa kasihan, setelah membiarkan gadis itu dua jam menatapnya dalam diam, menunggu selesainya aktivitas lap-mengelap barang antik itu.
“Bisakah kau segera menuntaskan rutinitas membersihkan barang suci mu itu segera, dan menjelaskan agenda kita bulan ini? Semua orang sudah diberi tahu, kecuali aku.” setelah lama tak bersuara, akhirnya gadis itu menggerutu, menunjukkan kekesalannya dengan melipat tangannya di perut.
“Sabar lah Mon ange, aku sibuk dengan kekasih-kekasihku yang lain. Lagi pula itu salahmu sendiri yang terlalu sibuk.” Ujarnya seraya terkekeh m, membuat Casey kesal.
Ayolah, ia hanya mengambil liburan selama dua minggu, apakah itu berlebihan? ia sudah mngerjakan pencurian yang berat dan cukup beresiko karena ia menghadapi kecerdasan dari ras paling unggul di masanya--Mesir. di mana mereka menyelipkan banyak jebakan terselubung seperti racun dan kutukan. sedikit merayakan keberhasilannya sebelum misi lain di mulai adalah hal yang wajar, bukan?
“Aku mempunyai janji dengan beberapa temanku. Aku harus segera pergi.” ujar Casey terburu-buru.
“Aku tidak suka kau terburu-buru Mon ange, terburu-buru itu seduatu yang dibenci orang tua sepertiku.” Ujarnya menatap Casey dengan tatapan tajam dan seketika tenggorokan gadis itu tercekat. Ia baru saja, hampir membuat Tua Bangka itu marah. Membuat Tua Bangka ini marah bukanlah sesuatu yang bagus.
Casey mendesis, “Tapi aku sudah menunggu dua jam, menyaksikan mu membersihkan barang-barang tua mu nyaris-“
“Ini namanya antik, Mon Ange.” potong Tom dengan nada rendah tapi cukup menakutkan bagi Casey.
“Ya, ya, ya.” cemooh gadis itu memutar bola matanya jengah. Akhirnya, Pak Tua berambut putih dengan uban itu berjalan menghampiri sang gadis, lalu ia terduduk di samping kiri gadis itu.
“Jadi Mon ange, aku ingin kau-“
“Mencuri bukan?” timpal gadis itu. Mudah baginya menebak keinginan orang tua ini, karena selama ini memang itulah yang Casey lakukan untuknya.
“Ahh, Mon ange ku pintar sekali.” Puji pria tua itu dengan senyum.
“Kali ini artefak di mana lagi?” Casey bertanya langsung.
“Kali ini bukan artefak Mon ange ku yang cantik,”
“Emas? Berlian? Permata?” gadis itu menyipitkan matanya berusaha menebak.
“Berlian atau permata. Tepat sekali!”
“Oke, dimana?” Casey terlihat mulai bersemangat.
“Di kediaman Taipan Tuan Blaxton.” Jawab Tom, pria tua juga sekaligus orang yang Casey anggap sebagai orang tua karena memungutnya sepuluh tahun lalu dari pasar gelap.
Casey terkuhat mengerutkan alisnya penasaran, “Dan siapa Tuan Blaxton ini?” Casey memainkan kukunya sedikit, tak sabar menunggu jawaban Tom.
“Dia seorang pengusaha dan kolektor, sepertiku. Tapi di level yang berbeda.” Tom menatap Casey dengan tatapan tak terbaca.
“Jadi, Lexie akan mengalihkan perhatian Taipan itu, lalu aku mencuri berlian dan permata nya?” Tebak Casey.
“Kurang tepat Mon Ange. Kali ini kau bergerak sebagai Seducer dan Thief bersamaan.” Ujar pria itu menatap Casey seraya menganggu k satu kali menyatakan secara tidak langsung bahwa itu adalah perintah mutlak.
“A-apa? Kau sedang bercanda bukan? Aku tidak pernah menjadi Seducer! Dan lagi aku baru dua puluh tahun. Mana mungkin kakek-kakek seperti Tuan Blaxton menyukai seorang anak kecil seperti ku? Ia pasti menyukai wanita dewasa seperti Lexie.” Tolak Casey, menggenggam lengan pria tua itu meyakinkan, “Aku tidak mau menjadi Seducer, Aku selamanya ingin menjadi Thief!” kukuhnya.
“Kau harus tahu satu hal, Mon ange. Pria tua justru menyukai gadis bocah. Sepertiku yang menyukaimu. Jadi jika kau tidak tidak berhasil mendapatkan berlian itu, aku akan menikahi mu.” Ujar pria tua itu terkekeh dan seketika membuat Casey menegang.
“Itu candaan yang tidak lucu, kau terlihat seperti p*****l tua yang menjijikkan.” ujar Casey segera melepaskan genggamannya.
“Ya meskipun begitu, ingat bahwa kau berhutang padaku, menikahimu adalah harga yang wajar, dan aku tidak bercanda. Jadi coba pilih, lebih baik berakhir di ranjang dengan p*****l tua sepertiku? Atau mencuri berlian itu dan kau mendapatkan bonus liburan?” Tanya Tom memberi pilihan.
“Aku tidak mengatakan bahwa aku menolak untuk mencurinya. Tapi menjadi Seducer? Aku tidak berpengalaman!” elak gadis berambut coklat ikal itu terdengar menggerutu.
“Aku membayar semua perawatan mu. Jadi seharusnya kau percaya diri.” ujar Tom membuat Casey membuang wajah karena bukan itu jawaban yang dia harapkan.
“Cih... Baik, baik. Sekarang berikan foto Tuan Blaxton itu agar aku-“
“Tidak ada foto.” Potong Tom.
“Apa?” Tanya gadis itu tak percaya.
“Tidak ada foto, tidak ada yang memiliki fotonya karena memang tidak pernah dipublikasikan. Hanya orang-orang tertentu yang bisa menemuinya di pesta topeng khusus.”
Casey menganga tak percaya, “Kau gila? Lantas bagaimana aku mencarinya jika bahkan aku tidak tahu rupanya?”
“Haha … itu sederhana, Tuan Blaxton itu, pasti tampan sepertiku.” Ujar tua Bangka itu terkekeh sementara Casey mendengus sebal, ingin sekali ia melemparkan semua artefak atau mengikat pria tua ini bersama mumi agar ia tidak lagi gila pada barang antik. Namun, ia sadar itu hanya fantasi bodohnya.
Bagaimanapun, tua bangka inilah yang menghidupinya sampai ia sebesar ini, meskipun pria tua ini gila harta, barang langka dan artefak, tapi dari situ ia bisa menghidupi Casey dan dua gadis Stone lain, bukan? Ia harus menghargainya.
“Tak usah khawatir, aku akan memberi tahu cara kerjanya padamu. Tapi pertama kau harus meminta Lexie meminjamkan gaunnya padamu dan memintanya melatihmu menjadi Seducer.” Ujar pak tua itu dijawab Casey dengan anggukan malas.
“Dua hari ke depan, kau akan ikut dengan ku ke pesta Tuan Blaxton. Kau harus mencari Tuan Blaxton di pesta itu.”
“Apa? Kenapa mendadak sekali? Biasanya kau menyiapkan rencana matang. Ini persiapannya terlalu mendadak.” Ujar Casey terkejut.
“Sayangku Mon ange, aku suka tantangan. Jadi mari kita lihat tantangan apa yang akan kau dapat dengan rencana mendadak seperti ini.” Ujarnya terkekeh lagi lalu kembali berdiri memungut lap di atas meja.
Sepertinya ia hendak melanjutkan aktivitas lap-mengelap barang keramatnya. Casey hanya kembali mendengus lalu ikut berdiri hendak pergi.
“Ah Mon Ange, apakah kau tahu tentang Blue Moon of Josephine?”
“Ya, aku tahu. Berlian itu sempat menjadi berlian termahal, namun sekarang sudah terjual di pelelangan tahun lalu bukan? Sepertinya The Oppenheimer tahun ini akan menjadi yang termahal, karena berlian itu berlian dengan kisah misterius. Orang-orang terobsesi dengan sesuatu yang misterius.” jawab Casey teringat saat ia mengunjungi sebuah pelelangan berlian.
“Jawaban memuaskan, seperti biasanya.” Ujar pria itu sebelum membalikkan tubuhnya meninggalkan Casey yang menatapnya dengan tatapan bingung.
Orang tua itu menyebalkan, mungkin karena faktor usia, ia sering bertanya beberapa hal lalu setelah mendapatkan jawabannya, ia meninggalkan Casey tanpa berkata apa pun.
Casey mengedikkan bahunya tak peduli, ia sudah memakluminya jadi Casey memilih untuk melangkah ke kamarnya. Jika Pak Tua itu tidak mau memberikannya data Tuan Blaxton, maka ia akan mencarinya sendiri.
Coba kita lihat, benarkah data orang ini tak di miliki siapa pun? Bagaimana dengan para informan kelas kakap yang ia kenal di pasar gelap? Mustahil data orang sepenting ini tidak ada, bukan?