Chapter 2 : Malam Aksi

1504 Words
Dua hari telah berlalu, akhirnya hari yang dinantikan tiba, di mana mereka akan menjalankan misi untuk mencuri sebuah permata atau berlian dari Taipan kaya Blaxton, yaitu The Blue Moon of Josephine. Berlian termahal tahun lalu. Casey sudah didandani dengan sangat cantik oleh Lexie, meskipun Lexie awalnya begitu kesulitan mendandani Casey karena Casey selalu menolak dan menolehkan wajahnya nakal, seperti bocah Lima tahun menyebalkan setiap kali kuas perona menyentuh pipinya yang cukup tembam. Namun akhirnya, Lexie berhasil juga mendandani Casey dengan hasil memuaskan. Meskipun ia sendiri malah jadi harus terlambat bersiap dan berdandan. Casey yang sudah siap sedang menyamankan kakinya dalam sepatu heels yang juga dipilihkan Lexie. Meskipun misi kali ini sedikit menyebalkan, tapi Casey bersyukur. Setidaknya untuk misi double roles perdananya ini, Lexie ikut ke pesta itu menemani Tom. Jadi jika Casey kesulitan dalam teknik merayu, ia tinggal meminta bantuan Lexie. Adanya Lexie membuat Casey lebih optimis. “Jangan menghapus lipstikmu lagi! Aku lelah mendandanimu, astaga Tuhan!” gerutu Lexie saat ia melihat diam-diam Casey mengelap lipstiknya dengan tissue. “Biarkan Lexie, mungkin ia penasaran bagaimana rasanya menghabiskan malam panas bersama pria tua sepertiku.” Balas Tom yang tiba-tiba sudah muncul dengan kemeja dan jas hitamnya. Lexie hanya menyeringai, lalu menatap Casey menakuti. “Ahh, baiklah jika itu yang kau mau, sini biar aku hapuskan lipstiknya untuk membantumu! Kau ingin memberikan dirimu pada ayah kita bukan?” ujar Lexie hendka menangkap Casey, namun dengan langkah cepat Casey berlari ke arah mobil hitam Tom yang terparkir menunggu sang pemilik masuk. “Bercinta dengan ayah sendiri? Itu gila!” pekik Casey seraya bergidik ngeri. Tak lama, Lexie masuk diikuti Tom yang memilih untuk duduk di depan bersama Emma yang menjadi supir mereka malam ini. Dari semua anak asuh Tom, Emma adalah yang paling ahli mengendarai semua jenis mobil. Saat membawa kendali mobil, Emma akan terlihat seorang penunggang kuda yang ahli dalam memacu kudanya. Emma juga yang selalu membuat komplotan Stone ini lolos dari kejaran polisi atau penjaga yang mengejar mereka. Meskipun kendala seperti itu hampir jarang terjadi karena mereka bergerak dengan sangat cepat dan tepat. “Kemarilah, gadis-gadis! Jadi beginilah kita akan bekerja, Lexie akan menyamar menjadi simpananku untuk mengalihkan tamu-tamu penting yang mayoritas adalah pria, dengan kecantikannya. Lalu Emma akan menunggu di mobil, sekaligus mencari rute terbaik pelarian kita nanti dan kau Mon ange-“ “Mencari Tuan Blaxton, menggodanya seperti kucing, miaw, membuatnya mau menunjukan di mana ia menaruh koleksi berliannya, lalu melapor padamu, atau aku bisa langsung mencurinya. Dan tadaa! Misi selesai. Tapi yang jadi pertanyaan, bagaimana caraku tahu bahwa lelaki tua yang aku goda itu adalah Tuan Blaxton?” Potong Casey sedikit bersemangat meskipun ia masih sedikit tak terima dengan perannya. “Kau memotong pembicaraan, Mon ange,” “I do apologize sir,” ungkap Casey tidak tulus. Tom hanya menatapnya melalui spion tengah jengah. Casey memang sedikit susah diatur, membuatnya lebih mudah lelah jadi ia membiarkan gadis itu seenaknya. “Tuan Blaxton akan menggoda wanita yang menurutnya menarik dengan memberikan perhiasan atau berlian mahal yang baru saja dilelangkan di pelelangan, malam ini mungkin ia akan menawarkan the-“ “Blue moon of josephine,” potong Casey. “Benar sekali. Kau pernah melihat the Blue Moon of josephine bukan?” Tom melirik Casey yang mulai semakin bersemangat. “Ya, saat pameran sebelum lelang. Jadi sederhananya adalah, jika saat aku menggoda tua bangka dan tua bangka itu memberiku the Blue Moon of Josephine maka dia adalah tua bangka Blaxton?” jawab Casey manggut-manggut. “Cerdas sekali! Tapi jika tidak ada tanda, maka kau harus menggoda semua tamu pria di sana. Dan ingat, misi harus selesai sebelum pertengahan malam. Lebih cepat, lebih baik.” Puji Tom lalu memperingatkan tenggat waktu yang mereka miliki. “Baik, baik, aku mengerti.” Jawab Casey tak sabar. The Blue Moon of Josephine adalah incarannya dari tahun lalu. Misi yang sedikit sulit namun setara dengan apa yang akan ia dapatkan. Tom hanya membalasnya dengan lirikan lalu mengangguk, dan Casey memutuskan untuk melamun seraya merefresh semua pelajaran seducing yang sempat diajarkan Lexie. Tanpa terasa, akhirnya mereka sampai di kediaman Blaxton. Casey dan dua orang gadis bawaan Tom, dibuat takjub saat melihat kediaman atau lebih tepatnya dipanggil kastil bergaya Eropa, setelah sebelumnya dari gerbang mereka disambut lorong hutan yang cukup panjang. Dari rumah ini saja, tercerminkan sekaya apa Tuan Blaxton itu, mungkin Casey sekarang bisa mengerti kenapa Tuan kaya ini bisa merahasiakan wajahnya dari publik. Apalagi ia mendengar dari Tom, rumah ini hanya satu dari koleksi rumahnya. Blaxton ini memang sungguh seorang Taipan! Saat sampai di pintu depan, kedatangan kelompok Tom disambut dengan deretan maid yang berderet dan membungkuk siap membantu mereka. Dengan sigap, mereka menawarkan untuk menyimpan mantel setiap tamu. Saat Casey masuk melewati pintu, netra Casey dimanjakan dengan furniture mahal dan deretan meja judi yang ditumpahi uang dollar dan dadu. Di setiap sudut, gouridon wine sudah tersedia lengkap dengan bartendernya. Terlihat beberapa garnish buah seperti lemon, nanas, dan ceri melengkapi penampilan Gouridon itu. Di dekat setiap jendela, terdapat pahatan es dan coklat berdiri megah dengan sangat artistik. Casey merasa bahwa ia sedang dalam novel klasik era Victoria. Setiap pelayan bergerak untuk memberikan kursi bagi tamu dan berkeliling untuk menawari makanan kecil pembuka seperti canave. Ini sungguh surga judi kelas orang kaya! Casey memutar pandangannya, menemukan bahwa Lexie dan Tom Sudah berbaur dengan para tamu.  Lexie memang sungguh berpengalaman, ia menarik pria semudah gula menarik semut. Para pria mengerumuninya dan terpesona pada kecantikannya. Berarti, ini juga saatnya Casey bergerak untuk mencari Tuan Blaxton. Kira-kira seperti apa dia? Pendek? Tinggi? Berhidung mancung? Tom mengatakan bahwa ia tampan dan dingin. Casey terus melangkahkan kakinya, sedikit menggerutu karena beberapa kali ia menginjak gaunnya sendiri dan gara-gara itu, ia hampir terjatuh. Casey memicingkan matanya, ia melihat Ada beberapa pria tua dengan balutan kemeja mewah nan mahal. Apakah itu dia si Tuan Blaxton? Ia cukup putih dengan senyum yang cukup seksi. Cukup mirip dengan Tom. Casey hendak melangkahkan kakinya untuk mendekati pria itu, namun ia merasa ada dua mata yang menatapnya dari lantai dua dekat balkon yang mengarah hall. Meskipun Casey tak melihatnya dengan jelas, Casey menyadari bahwa tatapan pria itu sedang menilai dari ujung kepala hingga gaun bawah Casey. Tapi yang menyebalkan, pria itu terfokus pada bagian depan tubuhnya. Pria muda yang kurang ajar! Dan semakin kurang ajar, karena pria itu menatapnya sedari tadi, dari pertama kali Casey muncul di balik pintu utama. “Wine or whisky Miss?” salah satu waiter menawarkan Casey minuman dari nampan kaca yang dibawanya. Casey menggeleng dengan senyum anggun. Meminum alkohol hanya akan mengacaukan rencananya. Tidak lucu jika ia mabuk di tengah acara bukan? “Adakah minuman yang lebih ringan?” tanya Casey dengan lembut. “Ah, kami memiliki mocktail. Dan mocktail ini, merupakan welcoming drink dari Tuan di sana.” Dengan lirikan mata waiter itu menunjuk seorang pria yang tengah terduduk di salah satu meja bar dengan topeng hitam yang amat sangat kontras dengan kulit putih pucatnya. “A-ah….” Casey bingung, haruskah ia menerima minuman ini? “Silahkan, Nona.” Pelayan itu menyerahkan gelas itu pada Casey hingga mau tak mau Casey menerimanya. “Tuan mengatakan jika Anda menerima minuman ini, berarti Anda menerima undangan Tuan untuk bertemu dengannya.” Ujar pelayan itu lagi. Casey yang baru saja hendak meneguk mocktail itu mengatupkan bibirnya terkejut, seketika ia melirik ke arah lelaki yang dipanggil waiter itu dengan sebutan Tuan. Lelaki itu tersenyum seraya mengangkat gelas mocktail yang sama dengan Casey, secara tidak langsung mengatakan bahwa memang ia yang memberikan minuman itu pada Casey. Ia harus bagaimana sekarang? Casey akhirnya menaruh minuman itu kembali di atas tray kaca yang dibawa si pelayan, meninggalkan pelayan itu dengan tatapan bingung. Casey tak tahu apa yang harus dilakukannya jadi ia memilih pergi. Casey terus berjalan lurus seraya sesekali menatap Tom yang tersenyum ke arah setiap tamu di hadapannya. Namun ditengah langkah fokusnya, Casey hampir saja menjatuhkan topengnya karena ia menabrak sebuah d**a bidang seorang pria dengan aroma citrus dan rempah yang menggoda indera penciumannya.  Casey enggan untuk menatap sang pria yang ditabraknya itu. Ia hanya meminta maaf pelan lalu melewati pria itu begitu saja. Namun pria itu menahan tangan Casey dengan menggenggamnya, lalu ia mencondongkan tubuhnya untuk berbisik di telinga Casey. “Kenapa begitu terburu-buru My Lady? Tak ingin bercengkerama sejenak dengan sang Tuan rumah?” Casey segera menolehkan kepalanya menatap kearah pria dengan tinggi lebih dari 180 senti itu. Ditemukannya senyum serta topeng hitam yang sama dengan yang ia lihat beberapa menit yang lalu. Dia adalah Pria yang duduk di meja bar tadi! Degup jantung Casey semakin bertalu saat ia menyadari bahwa tatapan ini, adalah tatapan yang sama dengan tatapan yang mengawasinya sedari tadi awal kedatangannya. “Jika berkenan, aku ingin kita bisa mengenal lebih dekat. Izinkan aku memperkenalkan diri, namaku Sean Archer Blaxton, pewaris Blaxton. Bolehkah kita sedikit berbincang sambil mengelilingi rumah ini, berdua?” tawar pria itu menarik pinggang Casey yang ramping karena korset yang digunakannya. Haruskah ia percaya dan menerima tawaran ini? Jika ia benar tuan Blaxton, bukankah ini terlalu mudah, apakah ini adalah sebuah keberuntungan? Atau ini adalah sebuah jebakan yang tidak Casey sadari?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD