Casey menyipitkan netranya ke arah pria itu. Jadi Tuan Blaxton bukan seorang pria tua dengan perut buncit? Misi kali ini sungguh kacau. Casey merasa bahwa ia sedang memburu hantu.
Casey harus mencari seseorang yang Casey tidak tahu seperti apa dan bagaimana target yang dicarinya. Casey merutuk, mengingat usahanya mencari nama dan informasi mengenai Blaxton dari para orang di pasar gelap yang mengaku informan. Nyatanya, mereka hanya orang tak berguna yang mencoba peruntungan di pasar gelap. Tidak membantu sama sekali.
Casey tersadar dari lamunannya, saat mendengar pria itu terkekeh pelan.
"Jadi kau menolak kesempatan terbaik untuk melihat koleksi berlian keluarga Blaxton yang jarang sekali di pamerkan itu?" Tanyanya.
Casey terdiam seraya berpikir, benarkah ini tuan Blaxton yang dicarinya? Bagaimana bisa ia percaya bahwa orang di hadapannya ini adalah tuan Blaxton?
Dengan waswas, Casey melirik Tom, namun Tom sepertinya terlalu sibuk bercengkerama dengan para tua Bangka pencinta emas lain di pesta ini. Tua Bangka sialan itu, melupakan misinya!
Casey berjengit saat pria itu menariknya ke sudut Bar dengan gerakan cepat. Terlalu cepat hingga Casey tidak sempat menyiapkan pertahanan.
Casey ingin memekik, berteriak. Namun pria itu lebih dulu menyumpal bibirnya dengan ciuman panas, tak cukup di situ, tangan pria itu membelai pinggang Casey dari balik gaun satin nya. Tidak, tidak. Casey tidak bisa berkutik dalam situasi ini!
"Kau begitu menarik perhatianku dari awal kedatangan mu di balik pintu dengan tubuh indah mu. Dan kau semakin menarik saat kau menolak tawaranku untuk minum bersama di bar itu. Picik sekali." bisik nya dengan suara serak.
Casey berusaha memundurkan tubuhnya untuk melepaskan diri. Untungnya cengkeraman pria ini bisa sedikit mengendur, memberi kesempatan Casey untuk melepaskan diri.
"Beraninya kau melakukan itu!" umpat Casey.
Pria iti menatap Casey sekilas lalu kembali dengan kekehan nya yang menyebalkan di telinga Casey, "Kau seharusnya bersenang hati karena kau mendapatkan ciuman pewaris Blaxton tanpa usaha khusus. Dan kau, sepertinya wanita terhormat? Tidak ada kata gratis kalau begitu. Baiklah satu permata kecil itu hadiah atas kecantikan mu."
Ia menyelipkan sebuah cincin berbandul berlian biru gelap, namun begitu mempesona saat tersiram cahaya. Setelah melihat cincin itu, alangkah terkejutnya Casey, menemukan bahwa bandul itu adalah The Blue Moon Of Josephine. Itu adalah permata yang ia incar di misinya kali ini. Serius, ia mendapatkan The Blue Moon of Josephine sekarang, di jari manisnya?
"Seharusnya kini kau percaya bahwa aku adalah tuan Blaxton." gumam Tuan Muda itu bangga. Tuan Muda itu menarik salah satu lengan Casey dan mengaitkannya pada lengannya.
"Anda seharusnya tidak bersikap seperti ini. Bagaimana jika ada yang melihat?" bisik Casey dengan nada lembut yang dibuat-buat, ia membiarkan sang Tuan Blaxton itu menggiringnya ke suatu tempat tanpa perlawanan. Well, sepertinya aktingnya tidak terlalu buruk, ia hanya butuh bertahan lebih lama untuk mengikuti alur. Jangan mengacaukan kesempurnaan aktingnya malam ini hanya karena ketidak sabaran.
"Maka dari itu, kita harus bermain halus, sayang." bisiknya halus, menuntun Casey menuruni sebuah tangga rahasia di balik patung Hermest, ruangan itu berada di sudut ruangan gelap dan cukup sepi dari para tamu atau pelayan pesta ini.
Kini, keduanya memasuki lorong yang dipenuhi cahaya lampu terang. Saat Casey mengedarkan tatapannya, Casey terhenyak, menemukan puluhan berlian terjejer rapih dibalik frame kaca yang tebal.
"Oh my Godness!" seru Casey melihat kilauan di balik etalase kaca tebal itu. Terlihat indah seperti pantulan Kilauan cahaya di atas air, dalam bentuk yang nyata.
"Sekarang kau pasti senang menemukan tuan Blaxton yang sedang kau cari, bukan?" Tanya pria itu dengan nada renyah.
Tanpa sadar Casey mengangguk samar. Dalam hati, Casey mengiyakan namun detik selanjutnya tubuh Casey menegang, alarm di otaknya mengatakan bahwa bahaya sedang mendekatinya.
Casey bertanya pada dirinya sendiri, bagaimana ia tahu Casey mencari tuan Blaxton?
Perlahan Casey memutar tubuhnya lalu ia menatap pria itu waspada. Saat ia menoleh, ia mendapati ekspresi yang amat sangat ia takuti.
"Ahh ... menjebak Tikus dengan keju memang paling mudah ya," lanjutnya lalu ia menyeringai, membuka topengnya.
Pria itu menyindirnya. Jadi pria ini sudah tahu bahwa Casey mencari Tuan Blaxton?
"Tapi bagaimana pun, tikus tetaplah hama yang harus dimusnahkan bukan?" Pria itu menyeringai "Jadi, katakan. Bagaimana aku harus menghukum mu tikus?"
"A-apa maksud anda, Tuan?" Tanya Casey terlihat ketakutan, namun sebenarnya ia sedang menimbang dengan otaknya, ah sungguh menyebalkan. Ia tidak suka pekerjaan yang berantakan dan harus mengotori tangannya. Bagaimana sebaiknya ia menghadapi tuan muda yang berhasil mencium kedoknya ini? Haruskah ia menghabisi pemuda ini di sini? Atau adakah cara lain yang lebih aman untuk menyelamatkan diri?
Membunuh dalam situasi seperti ini sulit, apa lagi Casey terjebak di ruangan berteralis besi, lagi ia tak tahu peta rumah ini untuk kabur dengan selamat tanpa ketahuan. Salahkan Tom yang membuat rencana dengan payah! Tanpa foto wajah target, tanpa peta, tanpa rencana yang matang.
"Memilih berpura-pura tidak tahu? Sebenarnya tidak sulit mencari tahu kau komplotan siapa, aku memiliki daftar semua tamu yang datang ke pesta malam ini. Aku hanya memberimu kesempatan untuk membela diri dan meringankan hukuman mu." Tuan muda itu kembali berujar, sementara Casey masih terus berkutat dengan pikirannya. Menimbang apa yang harus ia lakukan. Sampai tiba-tiba ia mendengar robekan dan merasakan bahwa tubuh bagian depannya terasa lebih dingin karena hembusan angin, pria ini merobek bagian depan gaunnya, cukup parah hingga korset-nya terlihat jelas.
Casey mengepalkan tangan, sepertinya ia memang tidak memiliki pilihan lain untuk kabur. Casey menyusun rencana, ia akan meruntuhkan orang ini dan membuatnya tak sadar diri, membunuh terlalu beresiko. Casey mengangguk mantap dalam hati, itu pilihan terbaik yang bisa ia lakukan sekarang. Sisanya, ia akan menyerahkannya pada Tom nanti.
Casey mendekati Tuan Muda itu tanpa menunjukkan perlawanan, ia berusaha membuat dirinya terlihat lemah tak berdaya seperti seorang lady abad pertengahan yang akan berpura-pura pingsan untuk mencuri perhatian pria yang mereka suka.
Perlahan ia mendekati lalu mengalungkan tangannya pada leher Tuan Muda, secepat dan sekuat yang ia bisa, ia menarik kepala Tuan muda itu untuk bertemu dengan lutut kaki kanannya yang ia lipat melayang di udara. Sebelah kakinya lagi menahan dan menjadi titik tumpu seluruh tubuhnya.
Casey menargetkan hidung mancung pemuda itu. Tulang hidungnya mungkin akan sedikit retak karena berhadapan dengan tempurung lutut Casey yang keras.
Namun sayangnya, ternyata hasil tidak sesuai dengan harapan Casey, Pria itu dengan cepat menarik kepalanya, dengan gerakan cepat ia membawa kaki sebelah kanannya untuk menyapu titik tumpu Casey.
Tubuh Casey oleng seketika karena kehilangan titik tumpunya. Namun untungnya dengan kemampuan akrobatik yang ia latih sedari kecil, Casey dapat merubah situasi tubuh olengnya menjadi teknik penyerangan.
Saat wajah Casey hampir menyentuh lantai, dua tangan Casey menjadi tiang sementara dan memantulkan tubuhnya yang ringan dan luwes untuk memberi tendangan kaki di wajah Tuan Muda itu.
Sebenarnya ini gerakan yang ekstrim dilakukan dalam penampilannya sekarang yang sedang menggunakan gaun berbahan satin. Dalam gerakan pertarungan yang memaksanya membalik posisi tubuh seperti sekarang, Tuan Muda itu akan melihat paha mulus dan celana bagian dalam Casey.
Tapi Casey tak boleh ragu, keraguan akan membawa hasil yang setengah-setengah atau kegagalan. Meskipun itu akan mengekspos bagian bawah tubuhnya, tuh itu hanya sekilas dan orang itu seharusnya langsung pingsan dan akan melupakan apa yang ia lihat.
Tuan muda terkejut tak menduga bahwa Casey bisa memanfaatkan segala situasi bertarungnya, tapi ia juga bukan orang yang baru di dunia bertarung. Tuan Muda itu bergerak cepat meraih kaki Casey hendak membanting tubuh kecil dan kurus itu.
"Siapa di sana?" Tanya seseorang yang baru saja datang dengan nada tak ramah. Untungnya orang itu masih cukup jauh dari mereka, ditambah posisi mereka yang berada di perempatan lorong, memberi kesempatan bagi mereka untuk tidak terlihat secara langsung.
Casey dan Tuan muda itu tercekat bersamaan, mengerikannya, Casey masih dalam posisi terbalik di mana dua tangannya menopang tubuhnya di lantai dan gaun satin yang dikenakannya merosot menutupi hampir sebagian wajahnya. Demi saus tartar! Semua orang pasti akan melihat celana dalam Casey!
"Woahh!" Casey memekik saat kakinya di tarik turun lalu tangannya digenggam Tuan Muda Sean. Secepat kedipan mata, kini posisi Casey dan Tuan Muda Sean berubah.
Entah kapan dan bagaimana, kini tangan tuan muda sudah di pinggangnya, sementara sebelah tangannya yang lain menggenggam tangan Casey, membuat posisi seakan mereka sedang berdansa. Casey tercekat, ia tidak bisa mencerna apa yang baru saja terjadi kepadanya.
"Hei! Apa yang kalian berdua lakukan di sini?" Casey berjengit saat ia mendengar suatu suara menginterupsi.
Casey hendak melepaskan tangannya dari tangan Tuan Muda itu, ia hendak memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang datang. Namun Tuan Muda menyebalkan ini menahannya dengan menyampirkan jas nya ke tubuh Casey untuk membatasi gerak tangannya.
Saat akhirnya Casey bisa menoleh, alangkah kagetnya ia saat melihat bahwa seorang pria tinggi lain muncul dengan segelintir rombongan orang yang sedang berbisik-bisik.
"Sean?" Pria itu kembali bertanya kepada pria tinggi disamping Casey. Sementara Casey hanya bisa terus mengumpat sebanyak yang dia bisa.
Sial! Sial! Sial! Ia akan ketahuan, dan ia akan dihukum.
Jika benar itu sampai terjadi, demi Tuhan Casey bersumpah akan menyeret Tom untuk ikut masuk penjara bersamanya. Bukankah ia sudah mengatakan bahwa rencana ini terlalu mendadak dan riskan? Lihatlah apa yang terjadi sekarang!
"Ya ini aku." Jawab Tuan Muda Sean itu tenang.
"Sedang apa kau disini?"
"Aku sedang mengajaknya untuk berkeliling. Ia baru saja tertipu, ia membeli cincin Blue Moon of Josephine. Dan ternyata cincinya palsu, karena yah yang asli sudah dimiliki keluarga Blaxton" ungkap pria itu lalu mengangkat sebelah tangan Casey yang tadi disemati cincin oleh pria itu.
Casey seketika mengumpat dalam hati. jadi cincin yang diberikan pria itu palsu? Seharusnya ia meneliti terlebih dahulu sebelum menerima cincin itu. Casey sungguh tertipu habis-habisan. Dan itu membuatnya kesal.
"Kau lupa bahwa tidak boleh membawa sembarang orang ke tempat ini tanpa ayah?" Tanya pria itu memicingkan matanya.
"Ia-" Sean menggantung ucapannya dan itu membuat jantung Casey bertalu nyaring hingga membuatnya merasa bahwa ia akan meledak sekarang.
"Kau memiliki satu kesempatan terakhir. Apakah kau akan mengambilnya?" Sean memberinya kecupan sekilas di pipi sebelum melanjutkan pembicaraannya, "Atau kau ingin aku memburu kawananmu sekarang juga?"