“Sean menyuruhku memberikan mu paan tidur. Tapi kebanyakan yang ia miliki gaun atau lingerie, dan aku yakin kau akan menolak dua baju itu, jadi aku harap kau tidak keberatan mengenakan piyama tidurku.” Gloria menghampiri Casey yang duduk di tepi ranjang, sendirian. Lalu Sean? Casey akan merasa kesal dengan pria itu. Setelah perdebatan sengit tadi, Casey tidak memiliki memiliki kesempatan menang. Sean ternyata mengetahui banyak hal, terlampau banyak hingga bisa terus mengancamnya. Gloria menyodorkan set piyama tidur setelah ia membawa pakaian Casey yang sudah basah ke dalam roda berisi cucian. Casey menerima piyama itu tanpa menjawab, secara tidak sengaja ia menatap jendela, menemukan Sean tengah sibuk dengan Macbooknya di bangku taman. Ho ... Apakah dia sedang mengerjakan sesuatu? Pupil Casey tiba-tiba membelalak kaget. Apakah jangan-jangan pria itu sedang mempersiapkan hal lain untuknya? Hal yang dapat membuatnya terkejut lagi. “Ah atau kau ingin tetap menggunakan lingerie? Aku lihat di danau kalian-“ menyadari Casey yang fokus pada Sean, Gloria menggoda Casey. Casey lagi-lagi tercekat, apakah barusan Gloria bersikap santai padanya? “Jangan mengingatkanku kejadian di danau please. Dan tentu aku akan memilih piyama mu. Terima kasih, jika itu yang ingin kau dengar.” Potong Casey berpikir bahwa mungkin Gloria tersinggung karena tadi Casey tidak menyahuti obrolan Gloria. Casey menyadari itu tindakan yang tidak sopan. Casey segera memasuki kamar mandi bergaya eropa itu. Gloria sudah menyiapkan air hangat untuknya berendam. Casey untuk sesaat teoerangah, sebenarnya desain kamar ini sangat luar biasa elegan dan mewah, sedari awal kedatangannya Casey mengagumi arsitektur rumah ini. Namun, karena terlalu banyak kejadian yang membuat urat malunya terus menegang, ia menjadi malas dan memilih berdiam meratapi apa yang sudah terjadi padanya hari ini seraya berdoa agar sang fajar segera cepat datang menyingsing, jadi ia bisa segera meninggalkan tempat ini. “Sean bilang kau tidak boleh beristirahat duluan karena kita akan membahas rencana Oppenheimer.” Ungkap Gloria saat Casey selesai mengenakan piyamanya. Casey melangkah ke meja rias seraya mengangguk malas sebagai jawabannya, namun di detik selanjutnya Casey membolakan matanya dan menatap Gloria dengan tatapan terkejut. “Kau tahu rencana Openheimer?!” pekik Casey penuh keterkejutan. Casey menjawabnya dengan anggukan pelan sebelum detik selanjutnya ia melangkah ke arah pintu karena mendengar bunyi ketukan. “Itu pasti Sean dan Erick,” ujar Gloria melangkah ke arah pintu dan benar saja Sean muncul bersama seorang pria dengan garis wajah yang cukup menonjol tersenyum lalu menghampiri Gloria dan memberinya ciuman di bibir. Gloria mendengus lalu mendorong tubuh pria itu menjauh. “Sebaiknya kalian berdua menjaga etika kalian di hadapan Nona Casey Stone, Thief kita.” Ujar Gloria sinis dan menusuk. Casey kembali membolakan matanya bahkan Gloria juga mengetahui bahwa ia adalah seorang thief? Sean dan pria bwenama Erick itu bertukar senyum “Kau tahu, etika adalah sesuatu yang pria benci.” Ujar Erick yang dijawab Gloria dengan tatapan jengahnya. “Selamat datang Nona Caseey, aku Erick Barayef, tangan kanan Tuan Sean.” Ujar Erick menghampiri Casey dan mengulurkan tangannya. Casey membalas uluran itu dengan senyum canggung. “Dan ini Gloria Well, dia tangan kiri Sean sekaligus kekasih ku.” Ujar Erick menarik tangan kanan Gloria untuk bersalaman dengan Casey. Casey kembali menganga lalu menatap Gloria sekilas, jadi Gloria bukanlah seorang Maid? Casey tersenyum miris, Ah, setelah ini kejutan apalagi yang akan didapatkan Casey? Mungkinkah kejutan bahwa Sean adalah seorang manusia setengah iblis yang sangat pervert, atau fakta bahwa Sean adalah iblis yang menggoda Adam dan Hawa? “Aku sudah menduga kau bukan orang sembarangan,” ujar Casey menerima uluran tangan Gloria. “Erick adalah kuasa hukum ku. Dia yang mengatur semua hal berbau hukum. Dan Gloria, ia biasanya bergerak sebagai informan.” Ujar Sean yang sudah terduduk di atas sofa putih kamarnya. “Kau tidak mempunyai Hacker? Tidak ada ahli senjata? Atau ahli sejarah? Penerjemah bahasa asing? Bagaimana kau bisa sebegitu yakin kau akan mendapatkan the Openheimer saat anggota mu hanya bertiga?” “Ada satu orang lagi, kau akan bertemu dengannya nanti.” Ujar Sean menambahkan “Kalian menyiapkan rencana pencurian, api kalian tidak mempunyai Thief?” ujar Casey terdengar bukan seperti pernyataan ia melipat tangan di perut. Namun detik selanjutnya Sean terperanjat l, berdiri dihadapan Casey dan mengunci tatapan Casey dengan mata elangnya. “Karena mulai dari sekarang, kau lah thief kami,” bisiknya di daun telinga Casey, Caseu merasa bulu romanya meremang seketika. Ia ingin sekali mendorong wajah Sean menjauh darinya, tapi tatapan dan Aura Sean seakan menghipnotisnya hingga tangannya tak mampu bergerak, dan memberi keleluasaan Sean untuk memerintah nya dengan diktator. “Duduk.” Titah Sean dan kembali dengan mudahnya Casey menurut. Apakah Sean mempunyai kekuatan khusus hingga ia bisa menghipnotis Casey agar menurut padanya? “Jadi, saat pembukaan aku dan Casey akan menyamar sebagai tamu undangan. Peter akan mengatur kamera pengintai dan keamanan?” Ujar Gloria memastikan bahwa rencana mereka belum berubah. “Peter?” Tanya Casey yang merasa bahwa ia belum dikenalkan pada orang bernama Peter itu. “Peter Crouch, ahli IT kami.” Jawab Erick. “Gloria akan membantu Caaey menyelundup dan menukar the oppenheimer, lalu aku mengalihkan perhatian para peneliti, professor, dan tamu agar mereka tidak menyadari bahwa Oppenheimer sudah ditukar.” Sean menatap ketiga orang dihadapannya lalu ia membuka sebuah kertas yang ternyata merupakan denah sebuah lantai gedung “Ini adalah denah kemungkinan besar dimana berlian yang akan dipamerkan diletakan termasuk Oppenheimer-“ jari Sean bergerak menunjuk satu persatu gambar. Casey ikut memfokuskan tatapanya pada denah itu, namun tatapannya terhenti saat ia menemukan tulisan khas dari negara padang pasir itu. “Tunggu, ini Burj Khalifa?” pekik Casey menyadari bahwa ia cukup mengenal denah bangunan ini. “Burj Khalifa lantai seratus dua belas dari seratus enam puluh tiga lantai” Sean menjawab. Sementara Casey terdiam dengan mulut setengah terbuka. “Bagaimana kita bisa meloloskan diri dari seratus dua belas lantai jika rencana kita gagal?!” Tanya Casey tak yakin. “Sikap pesimis tidak seharusnya di miliki seorang thief.” Sindir Sean “Aku bukan pesimis, tapi aku itu logis, waras. Burj Khalifa apalagi saat sedang disewa untuk pameran bukan tempat yang bisa disusupi dengan mudah.” Casey memberi tahu informasi yang dimilikinya. Gloria dan Erick bertukar pandang lalu menatap Sean meminta konfirmasi. Menyadari situasi yang sepertinya berpihak padanya, Casey bersemangat untuk menggagalkan misi ini. “Lagi pula tentu kita harus memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi. Kau tahu Tuhan tidak suka dengan perbuatan mencuri, Tuhan bisa saja men-“ “Dan pastinya kau sudah sangat tidak disukai Tuhan karena selama ini kau mencuri, akhirnya kau tertangkap juga” balas Sean melirik Casey yang merasakan alisnya berkedut. “Jangan mencari alasan agar aku membatalkan rencana ini. Lagi pula, menurut mu untuk apa kita memiliki Peter?” sindir Sean yang membuat Casey menggigit bibirnya. Sepertinya ia harus menyesali lemparan dadunya. Seharusnya ia memilih memberikan keperawanannya pada tua bangka ayah angkatnya itu dari pada mempertaruhkan nasibnya menjadi pencuri kelas kakap. “Tapi apa yang aku- mmhh!” Casey kembali bersuara dan itu sangat membuat Sean kesal hingga Sean akhirnya memilih menyumpal bibir Casey dengan bibirnya. Ia terperanjat dari kursinya dengan tangan yang mengait tangan Casey, lalu ia menggiring Casey ke sebuah lemari besar. Braakkkkkk Sean membuka pintu itu dan menarik salah satu isi dari lemari itu “Smith & wessom, apakah itu tipe 500 Magnum?” Ujar Casey saat menyadari bahwa yang ditarik Sean adalah senjata api pistol berjenis revolver yang terkenal atas akurasi tajamnya dengan kecepatan hempasan peluru 2.075 perdetik. Sean tak bersuara dan memilih memencet sebuah tombol yang tersembunyi dibalik gagang pintu lemari itu, bunyi deritan mesin dan hempasan besi terdengar, samar Casey melihat tangga yang tertuju pada sebuah ruangan bawah tanah. Sean mengulurkan tangannya lalu membawa Casey turun ke ruang bawah tanah itu. Demi neptunus! Ruangan ini dipenuhi senjata api yang berbahaya, tidak hanya sepuluh atau dua puluh! Semua dinding di ruangan ini digantungi senjata api dari shoot gun, revolver, laras jarak jauh, bahkan Basoka! Casey merasa bahwa ia mungkin ada di museum senjata. “Kau seharusnya ditahan! Mana boleh rakyat memiliki senjata sebanyak ini!?” ujar Casey nyaris terdengar seperti ancaman. “Kalau begitu kita akan menikah dipenjara dan bercinta di sana. Aku jamin para penjaga di mantor polisi akan sangat iri mendengar suara nakal mu.” Canda Sean menatap Casey dalam jarak yang sangat dekat namun bagi Casey itu jelas menyebalkan. “Carilah yang kau inginkan dan cocok dengan mu.” Ujar Sean lalu mendorong tubuh Casey untuk masuk ke sana. “Kau gila-“ “Aku membayar pajaknya, jadi berhentilah menatapku seperti itu.” Ujar Sean melangkahkan kakinya ke sebuah lemari kaca di dekat tangga dan Casey kembali menganga saat melihat isi dari lemari, isi dari itu adalah puluhan pack peluru. Casey menutup mulutnya dengan sebelah tangan, akhirnya menyadari sesuatu tentang Sean—sesuatu yang membuatnya yakin bahwa ia sungguh dalam bahaya. “Kau seorang mafia.”