Chapter 12 : Misi Sesungguhnya

1745 Words
“Sial kemana perginya gadis itu?!” Sean menggerutu melirik kanan kirinya mencari siluet tubuh wanita mungil yang tadi melemparnya dengan heels empat senti itu. Namun sayangnya Sean tidak menemukan apa pun di taman ini selain bunga dan lampu pijar taman yang menyala temaram. Sean mendengus, cepat sekali kaburnya tikus itu.       “Sial!” umpat Sean melempar sebelah dari sepatu milik gadis itu ke dalam air mancur lalu melangkahkan kakinya untuk memutar pergi, ia jadi melupakan Ilene. Ilene pasti bingung kenapa ia tidak kunjung kembali ke kamar, Oh astaga, semua gara-gara tikus putih berdadaa—penguin nakal berdadaa indah itu.       “Sial aku jadj lupa bahwa Ilene masih menunggu di kamar.” Ujar Sean menarik napas, mengusap wajahnya dengan sebelah telapak tangan lalu ia mendengus. Namun di langkahnya yang ke tiga tiba-tiba ia mendengar bunyi krasak rumput yang berada di seberang danaunya. Sean menyipitkan matanya tajam sedetik setelahnya Sean menyeringai saat melihat ujung gaun merah garnet terjuntai dibalik rumpun rumput itu.       ‘di sana kau rupanya’ gumam Sean. Tanpa menunggu, Sean segera melangkahkan kakinya menerjang rumput tinggi yang tumbuh bersama ilalang itu lalu menarik juntaian itu, namun sayangnya ternyata juntaian itu hanya sebatas sobekan kain, Sean mengusap sobekan itu hati-hati tentu Sean mengenali bahwa sobekan itu berasal dari gaun Casey. Jadi tikus wanita tadi memang di sini, kemana ia sekarang? Ia pasti bersembunyi di suatu tempat       “Aku tahu kau bersembunyi- duaghh”       BYUUUURRRRRRR       “HUAHH!! RASAKAN TENDANGANKU! HUH!” umpat Casey yang tiba-tiba muncul dan menendang wajah Sean hingga Sean terhempas ke danau taman. Casey menatap puas ke danau di mana Sean terlihat berkecipak di air karena terkejut namun beberapa menit setelah Sean tercebur, Sean tidak menunjukkan tubuhnya naik kepermukaan atau tanda pergerakan bahwa ia berenang. Air di danau itu menjadi hening dan tenang seolah tidak ada satu pun hal yang terjadi.       Senyum puas Casey yang tadinya tengah menikmati hasil dari rencananya menjebak Sean, luntur seketika. Dengan cepat ia merendahkan tubuhnya mengandalkan netranya yang bergerak cepat mencari kemana tubuh pria jangkung itu karena kecipak air tadi hilang digantikan kesunyian, yang terdengar hanya kepakan sayap jangkrik yang saling bersahutan. Casey menggerutu, kenapa lampu di taman ini begitu remang nyaris gelap? Dan lima menit berlalu dari saat Sean tercebur ke sungai. Casey menggigit ujung kukunya. Oh tidak, jangan katakan bahwa Sean tenggelam? Memangnya danau ini sedalam apa? Dan mustahil pria itu tidak bisa berenang, bukan?       Dengan panik Casey menggelung rambutnya asal lalu menurunkan sebelah kakinya untuk memeriksa kedalaman air itu.       Deg       Deg       Sean tak mungkin mati hanya karena tenggelam bukan? Ia baru saja dua kali selamat dari penjara karena tuduhan sebagai pencuri, tidak mungkin ia akan masuk penjara dengan tuduhan yang lebih parah, yaitu sebagai pembunuh putra taipan Blaxton?       Casey terus mendekatkan wajahnya pada air, netranya bergerilya berharap dapat menemukan banyangkan Sean di dalam danau.       Casey terbelalak saat tiba-tiba sesuatu menariknya masuk ke danau itu.       Pria menyebalkan itu menariknya!       BYUUURRRR       Casey merasakan gaun merah Garnetnya memberat karena volume air. Ia mendapatkan tangan Sean melingkari pinggangnya dan Sean menatapnya jengkel.       “Lepaskan aku!” Pekik Casey seraya memberontak berusaha melepaskan diri dari Sean.       “Lepaskan?!       Setelah kau membubarkan rutinitas malam ku, melempar sepatu pada jidat tanpa dosa ku, dan menceburkan ku ke danau ini?” Sungut Sean, namun sedikit pun tidak membuat Casey merasa bersalah. Bagi Casey, ia sudah melakukan hal yang benar.       “Itu semua salah mu! Kau memulai jebakan mu padaku tanpa aku tahu apa masalahku dengan mu, apa yang kau incar dariku, atau dendam apa yang kau miliki terhadapku! Padahal jika kau memperlakukanku dengan normal, kita bisa memulai pembicaraan kita dengan wajar!” ceramah Casey menatap Sean yang beberapa senti lebih rendah darinya karena posisi mereka di mana Sean sedang mengangkat pinggang Casey cukup tinggi dengan tangan kekarnya.       “Kaik, baik! Aku tidak akan bermain-main lagi dengan mu! Aku mengetahui semua tentangmu, kau bukan anak kandung pak tua Tom, kau mempunyai dua komplotan, nama asli mu adalah Candice Glover, dan kau seorang thief, apakah kau akan senang jika aku mengetahui nomor dua bukit mini mu itu?” ujar Sean yang seketika membuat tubuh Casey menegang, namun emosi di ubunnya meluap. Sial, sejauh mana pria ini tahu tentangnya? Sudah lama sekali menghapus nama Candice Glover dan semua hal tentangnya saat ia menjadi Casey Stone. Bagaimana pria ini bisa mengetahuinya?       “Aku akan menawarkan sebuah kerja sama. Bantu aku mendapatkan berlian termahal tahun ini. The openheimer, dan aku jamin semua datamu termasuk data seberapa banyak artefak yang kau curi akan aku musnahkan, aku juga akan memberimu banyak permata dan berlian.” Ujar Sean yang membuat Casey menengadahkan kepalanya. Tak lama gadis itu mendengus seraya mengumpat.       “Demi saus tar-tar dan mayonnaise! Aku kesini untuk mencuri dan aku disuruh kembali mencuri oleh orang yang memergokiku sebagai pencuri? Konspirasi macam apa ini?” Gerutunya. Ini semua gara-gara Tom!       “Ingat aku menyelamatkanmu dua kali dan akan menjadi tiga kali! Kau tidak bisa menolak” ancam Sean       Casey menyipitkan netranya, “Pemaksa, otoriter!”       “Dengar, kau hanya perlu mencurinya beberapa menit lalu meletakkannya kembali. Sederhanya kau hanya perlu menukar!” Ungkap Sean menjelaskan tugas utama Casey       “Menukar? Menukar dengan apa? Ah Kau pemalsu? Tunggu, sepertinya aku mengenal mu, jangan bilang kau –“ Casey teringat sosok misterius yang sedang ramai diperbincangkan oleh para informan       “Bukan. Percayalah aku tak mengenal penipu lain selain diriku sendiri. Dan aku menjadi pemalsu bukan untuk dibayar. Aku tidak suka diperintah dan dipekerjakan. Aku bekerja untuk diri sendiri.” Sean memotong ucapan Casey seraya berjalan ke tepian danau yang bisa dikatakan tidak cukup luas dan sepertinya tidak terlalu dangkal.       “Jadi sebenarnya kau membutuhkan bantuanku untuk menukar the openheimer? Tapi kau membuat rencana rumit seperti ini? Astaga. Orang normal akan langsung mengajak ku berbicara, bukan melakukan hal seperti ini.” Gerutu Casey menghela napasnya. Ia sungguh tidak habis pikir.       “Karena jika aku langsung mengatakan bahwa aku meminta bantuanmu kau tidak akan mau.”       Casey melirik pria itu, dalam hati ia membenarkan apa yang diucapkannya, “Kau benar. Aku hanya bekerja sesuai keinginanku, aku tidak suka diperintah.”       “Apakah kau baru saja mengutip kata-kataku?”       “Ha? Kau bodoh?” Tanya Casey tidak terima.       “Kau seorang wanita kasar dan kau tadi mengaku-ngaku sebagai seorang lady? Lucu sekali.” Kekeh Sean.       “Aku menolak membantumu.” Ucap Casey membuat Sean mengerutkan alis.       “Apakah kau pikir kau memiliki kartu untuk menolak?       “Di sini yang membutuhkan bantuanku adalah kau. Dan aku punya kuasa untuk menolak-“       “Lakukan, dan pantatmu yang bahkan tidak sintal itu akan mencium lantai penjara dimulai besok, tentu bersama pak Tua Tom dan dua temanmu yang lain.” Ujar Sean menatap Casey dengan tatapan menantang. Casey mengerang dan mengumpat dalam hati.       “Kapan?” tanya Caseu akhirnya, memilih menerima tawaran kerja sama Sean. Ah malang sekali kehidupannya karena ia selalu mendapatkan ancaman. Kemarin ia mendapatkan ancaman dari Tom dam sekarang ia mendapatkan ancaman dari Sean? Sepertinya bulan ini adalah rekor kesialannya.       “Saat pelelangan di Dubai.” Jawab Sean enteng.       Nett Casey membola, “kau Gila?!”       “Di mana letak kegilaanku?”       “Dubai?! Maksudmu saat premier pameran The Openheimer? Kau tahu penjagaan di sana pasti begitu ketat. Aku memang cukup ahli mencuri tapi mencuri sekelas kota adidaya Dubai yang berarti mencuri tingkat internasional bukan-“ gerutuannya terpotong ucapan Sean.       “Amerika masih menjadi kota adidaya-“ potong Sean       “Dubai akan menggesernya.” Yakin Casey.       “Kau bisa melaporkanku ke penjara di sini itu lebih baik. Aku tidak ingin berhubungan dengan hukum dan kepolisian internasional.” Ungkap Casey       “Kau bisa mencuri kalung Ahmanet dari Mesir, mustahil kau tidak bisa menukar-“       “Aku mencurinya bukan saat premier pameran. Wajar aku bisa mencu-“       “Dengar, banyak sekali yang mengincar Openheimer akan sangat merugikan jika kita bergerak lamban.” Ungkap Sean       “Ya, karena aku tahu banyak yang mengincar openheimer maka dari itu aku tak sanggup.”       “Inikah Thief terbaik di kota ini? Di mataku kau hanya tikus betina kecil yang penakut,”       “Sebaiknya kau menjaga ucapanmu. Kau pernah mendengar istilah mulutmu harimaumu?” ancam Casey yang malah membuat Sean terkekeh       “Itu hanya berlaku untukmu. Jika kau berani mengatakan sesuatu tentang pertunangan kita dihadapan ayahku, aku pastikan komplotan tikusmu itu dipenjara. Aku memiliki semua bukti” ujar Sean tersenyum seraya memainkan ujung rambut mCasey yang basah dan terus meneteskan air sementara Casey hanya bisa mengepalkan tangannya diatas tanah. Sial! Kenapa malapetaka ini terjadi padanya?!       Krrsskkkk       Krrsskkkkk       Tubuh Casey dan Sean menegang saat mereka mendengar bunyi langkah kaki yang menginjak rumput. Keduanya saling bertatapan sejenak sampai tiba-tiba Sean memberinya perintah tidak verbal agar Casey mengalungkan tangannya dieher Sean. Caseu tak bisa menolak selain menurut dengan membolakan matanya dan berdesah pasrah. Sean tersenyum lalu tangannya bergerak untuk menurunkan bagian depan dari gaun merah garnet Casey.       “Hei!” pekik Caseu tak suka lalu ia segera menutup bagian dadaanya dengan tangan.       “Menurut saja, ini hanya akting di hadapan ayahku.” Ujar Sean mendongakkan kepalanya.       “Tapi-“       “Menurut atau penjara?” Tukas Sean       “Hahh.. Baik! Baik!” Pasrah Casey setengah hati. Dan perlahan Sean menurunkan belahan dari bagian d**a gaun Casey hingga Sean dapat melihat korset tali berwarna putih gading yang menangkup dua bukit sintal namun juga menampilkan samar bentuk dan lekuk bentuk dari dua bukit itu karena basah. Tanpa ragu, Sean menarik tali korset itu, bahkan ia tampak tidak menemui kesulitan saat ia harus melonggarkan setiap helai tali pita dari korset itu. Sepertinya ia sangat ahli dan terbiasa bermain dengan korset.       Casey menahan napas, saat Sean berhasil menjatuhkan Korset itu dan menumpahkan dua bukit kembarnya yang masih lembab karena sisa partikel air danau. Casey yang tadinya menunduk memalingkan wajahnya yang memanas dan pasti memerah karena rasa malu yang membakarnya, ia sungguh menyumpahi Tom atas nasib buruk yang terjadi padanya hari ini.       Caseu berjengit tatkala tangan Sean menelusuri lehernya Casey dengan sebelah jarinya membentuk garis horizontal dari bawah dagu hingga perut, yang membuat tubuh Casey seketika merinding. Demi Tuhan ia tak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang selain memejamkan matanya rapat-rapat karena takut.       “Bukankah seharusnya kalian di kamar?”       Casey membuka matanya perlahan saat ia mendengar suara rendah seorang wanita, segera Casey menoleh dan didapatinya Gloria yang berdiri dengan membawa handuk kering di pangkuannya. Sementara Sean? Pria itu dengan tanpa rasa bersalahnya naik dari danau menghampiri dan menerima handuk yang diberikan Gloria. Casey segera menarik korset-nya dan menatap Sean yang menyeringai menahan tawa lalu berjalan pergi meninggalkannya dan Gloria.       Demi mumi ahmanet, apakah baru saja pria itu kembali membodohi Casey?                            
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD