Chapter 11 : Dipermainkan

1176 Words
"Aku minta pertunangan ini dibatalkan!" ujar Casey dengan isakan yang dibuat-buat. Semua orang di tempat itu terlihat terkejut terkecuali Sean, Sean bersikap sangat tenang, dengan lembut  ia menarik Casey dalam pelukan dadaa bidangnya, mendekatkan bibirnya pada wajah Casey. "Padahal aku tidak ingin terburu-buru, tapi yah kau yang memaksaku melakukan ini. Perlukah aku memberitahumu siapa yang mencuri artefak di lahan penggalian Mesir beberapa bulan yang lalu? Bahkan aku punya fotonya bersama kalung Ahmanet." ujar Sean berbisik menutup ucapannya dengan kecupan di telinga Casey. Tubuh Casey merinding seketika, terasa kaku seperti robot . Apakah merinding karena perlakuan Sean? Salah besar. Ia merinding atas apa yang dikatakan Sean di akhir ucapannga. Sean mengetahui tentang pencurian bahkan ia tahu siapa pencuri artefak itu, dan pencuri itu adalah Casey! "Kau menuduhku?!" Pekik Kyung-soo seraya berusaha melepaskan pelukan tangan Sean. Namun tangan pria itu terasa begitu kuat di tubuhnya. "Menuduh? Kau sepertinya paham sekali dengan apa yang aku maksud padahal aku tidak mengatakan bahwa Kaulah pencuri artefak itu. Aku tidak mengatakan apa pun soal kau mencuri." Sean menjauhkan wajahnya dari Casey lalu menatap netra gelap Casey yang berbayang bias lampu taman. Bunyi geraman terdengar dari bi Ir Casey, gadis itu bahkan mengepalkan tangannya. Sial! Siapa sebenarnya tuan muda Sean muda ini? Bagaimana ia bisa tahu bahwa Casey mencuri artefak itu? "Tapi aku harus mengatakan bahwa pakaian karet hitam mirip baju renang yang mencetak tubuh pas untuknya." Bisik Sean menggoda. "Oh ya ia juga terlihat je at saat  bergelantungan dengan tali, dan rambutnya diikat." ujar Sean lagi gantian berbisik di daun telinganya yang lain. dan kali ini Casey tak bisa menyembunyikan raut ketegangan di wajah ataupun tubuhnya. Karena apa yang dikatakan Sean terdengar seperti ancaman baginya. "Jadi haruskah aku membongkar- emhh" ucapan Sean terpotong dengan sumpalan bibir Casey di atas bibirnya. Casey sedikit pun tidak pernah berpikir untuk melakukan tindakan seperti ini, tapi kali ini ia negitu putus asa, panik dan kehabisan ide. Sean mengetahuinya! Bagaimana bisa ada yang mengetahui soal proyek pencurian artefak itu pada saat Casey dan Tom berpikir bahwa proyek itu adalah proyek yang paling berjalan lancar dan berhasil? Casey melepaskan sejenak ciuman itu dan menatap Sean dengan ragu, wajah Sean hanya bermandikan cahaya lampu temaram namun Casey dapat melihat seringai puas atas kemenangan telaknya. Dan saat Sean hendak kembali membuka mulutnya untuk bersuara, Casey kembali menyumpalnya. Bahkan Casey berani menghisap bibir bawah Sean secara rakus. Tidak, jangan berpikir Casey ketagihan atas bibir Sean, semua ini benar-benar Casey lakukan untuk menyumpal bibir Sean dalam makna harfiah. Tom, Lexie, tunangan Sky, dan Sky terlihat memalingkan wajah sementara Tuan Blaxton hanya tersenyum bijak. "Jadi ini hanya salah paham?" ujar Tuan Blaxton menaruh dua telapak tangan di atas tongkat kayunya. Sean menggoda bagian bawah perut Casey membuat Casey refleks Casey melepaskan ciumannya. "Ya kami salah paham, dari awal pertunangan ini-" "Aku salah, ma-maafkan aku sa-sayang! Aku hanya cemburu jika kau berhubungan dengan Ilene itu. Karena aku mencintai mu- be-begitulah." ujar Casey berharap bumbu drama yang ditaburkannya berhasil mengelabui semua orang di sana- terkecuali Sean tentu saja. Meskipun sebenarnya ia sendiri tidak yakin atas apa yang dikatakannya barusan. Casey meringis dalam hati. Bagaimana bisa ini terjadi? prediksinya benar-benar salah dan ia menyesal telah mengikuti permainan ini terlalu jauh, karena kini ia tak bisa kembali dan ia terlalu banyak mempertaruhkan dirinya di meja pertaruhan yang diciptakan Sean ini. Ia kalah telak dengan Tazza. Tazza?! Sean adalah seorang Tazza--seseorang yang sudah melihat kemenangan dari awal permainan dimulai. "Jadi?" Tanya Sean memecah lamunan Casey. "Aku tentu tidak akan membatalkan pertunangan ini. a-aku mencintaimu. Ki-kita bisa menyelesaikan ini dikamar bukan?" ujar Casey lagi. Ah sial ... kenapa jadi ia yang memohon seperti ini? "Tentu sayang, kita akan menyelesaikan ini di kamar. Tapi sebelum itu berjanjilah kau akan mengikuti arahan ku dan tidak-menantangku lagi." Sean kembali berbisik ditelinga Sean dan membuat seakan-akan bisikan itu merupakam ciuman di daun telinga. Dan Casey hanya bisa mengangguk patuh, Sean mengelus sekilas rambut Casey kemudian membawa bibirnya pada bibir Casey. Memagut bibir itu dengan cukup lembut dan menggoda hingga tanpa sadar gelenyar panas menyeruak di tubuh Casey, Vaseu tak bisa membedakan apakah gelenyar itu akibat rasa ketakutannya, atau justru disebabkan ciuman Sean yang Casey akui cukup membuatnya err- lemas hingga membuatnya tak kuasa untuk tidak membalas ciuman itu? "That's right my cat, my savannah--" Sean mengakhiri ciuman itu dengan kecupan sekilas sebelum detik selanjutnya ia membawa tubuh Casey pada pangkuan ala bridal style di lengan kekarnya dan meninggalkan lima orang lain yang menatap kepergian mereka dengan tatapan berusaha terlihat memaklumi. Casey menatap Sean yang terdiam menatap lurus ke arah jalanan di lorong rumah megah itu. "Kau merencanakan semua ini. Kau sudah mengetahuinya sejak awal tapi kau berpura-pura bodoh." ujar Casey menatap tajam Sean. Sean terdiam lalu menatap Casey dengan tatapan mata yang menyipit, namun gerak bibirnya tak berubah. Tak ada gumaman, dengusan atau apa. Namun dari sorot mata Sean yang menusuk, Casey merasa mendapatkan penghakimannya di sana. "Menurutmu begitu? Memangnya kapan aku memberimu intruksi untuk memotong semua kabel itu saat aku menikmati sesi berhubungan intim ku?" ujar Sean yang seketika membuat tubuh Casey terasa ditimpuk batu besar tak kasat mata. "Ma-maksudku pertunangan ini. Kau sudah mempersiapkannya agar aku terjebak dan terikat pada mu." Ralat Casey segera. "Jadi kau ingin aku me-reka ulang cerita ini dan mengatakan dari awal bahwa kau mencari ayahku untuk mencuri The Blue Moon Of Josephine atau batu permatanya yang lain? Aku pikir kau berhutang padaku karena aku dua kali menyelamatkan mu." ujar Sean masih dengan wajah tanpa ekspresinya. Alis Casey terlihat bertaut, tidak setuju. menyelamatkan?" Hentak Casey, "Kau hanya mengulurnya! Kau menjadikannya ancaman untuk ku agar menuruti perintah mu." ujar Casey membuat Sean akhirnta mau menatapnya dan Sean balas menatapnya dengan tatapan sengit. Sean merendahkan wajahnya hingga Casey bisa merasakan terpaan deru panas napas Sean di atas wajahnya. Dan tepat saat Casey menyadari bahwa tatapan Sean jatuh di bibirnya. Casey merasa jantungnya bertalu tak karuan layaknya ia tengah berlari marathon. Tanpa sadar Casey menahan napasnya. deg deg deg Bruukkkkkk "Argghhh!!" Casey meringis saat merasakan tulang ekornya mencium lantai lorong dengan tidak elitnya! b******n itu tiba-tiba menurunkan pangkuannya pada tubuh Casey tanpa pemberitahuan dan tak ada ekspresi bersalah yang tergurat di wajahnya sedikit pun. Sialan! "Sial!" Casey mengumpat dan meringis bersamaan. Lalu ia berusaha bangkit dan menatap Sean yang sudah melangkah jauh meninggalkannya. Dengan emosi yang menguap di ubun, Casey membuka kedua heellsnya lalu mengarahkan fokusnya pada bagian belakang kepala Sean sebelum ia melayangkan sepatu itu dengan kekuatan penuh grep namun sayangnya Vaseu harus mengakui bahwa saraf motorik Sean mempunyai kepekaan dewa, Sean memutar tubuhnya dan berhasil menangkap sepatu itu, tak menyerah Casey melemparkan sebelah sepatunya yang lain tanpa jeda dan kali ini tepat sasaran. Pletaakkkkkk Sepatu itu menyasari jidat mulus Sean Archer Blaxton hingga Sean hampir terjungkal. "K-KAUU!" geram Sean, menyadari ia dalam bahaya, Casey segera mengangkat kakinya, membawanya untuk berlari dalam kilat. Dan akhirnya malam itu entah Casey atau pun Sean menghabiskan malam mereka dengan aksi saling mengejar layaknya kartun legendaris di mana karakternya adalah tikus dan kucing. Di kejauhan sepasang mata menatap aksi dua orang berbeda gender itu dengan tatapan sarat akan makna. "Apakah kau menikmatinya, Sean?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD