“Dasar pria Gila. Pasti semua pria disini memang gila.” Gerutu Casey sebal. Gadis bergaun merah Garnet itu menghentakkan kakinya dengan kesal di setiap langkahnya, berusaha meredam bunyi desah dari sana-sini tepatnya dari setiap kamar yang di lewatinya dengan bunyi ketukan sepatunya yang ia hentakan keras-keras. Ini sungguh sulit dipercaya, bagaimana bisa ada orang yang menjadikan pesta gila seperti ini sebagai suatu kegiatan rutin?
Ah Casey seharusnya sudah memaklumi, bukankah ia sudah tahu bahwa Tom berteman dengan orang-orang aneh, gila harta, gila berlian dan lain sebagainya satu lagi berotak dangkal. Tak perduli usia mereka, tua atau muda. Ya kita ambil contoh saja seperti si Tuan Muda Sean itu. Setelah melakukan hal tak senonoh dengan merobek gaunnya di bunker berlian keluarga Blaxton, kemudian Sean menggodanya di atas ranjang.
Wajah Casey tiba-tiba memerah panas. Mengingat aksi memalukan di mana ia menjadi gadis bodoh yang malah menawarkan dirinya sendiri pada pria menyebalkan itu, padahal sedari awal ia sudah mengantisipasi sifat dari Tuan Blaxton ini—meskipun ia tidak mengantisipasi tentang kemungkinan adanya anak-anak dari Tuan Blaxton, sih. Kini mungkin ia memang harus mengakui bahwa ia adalah tikus yang baru saja terperangkap pada jebakam keju. Bodoh sekali dia.
Tanpa sadar wajah Casey memanas karena malu, mengingat bagaimana dengan memalukannya ia menawarkan diri pada Sean dan Sean malah menolaknya sambil mengatakan bahwa ia hanya bocah enam belas tahun?! Casey menghela napas, ia sudah berusaha melupakan kejadian itu. Namun dengan nakalnya adegan itu justru berputar-putar dengan berulang seperti sebuah film yang sengaja diputar berkali-kali.
Casey yang merasakan mood nya hancur, melirik malas ke arah sekelilingnya dan dilihatnya dua pria bersetelan seperti engineer dengan membawa tas perkakas muncul dari salah satu ruangan dibagian kiri melewatinya.
“Kau sudah memastikan semuanya aman?”
“Ya tentu, seharusnya tikus-tikus itu tidak akan menggrogoti kabel listrik lagi”
“Baiklah kita bisa kembali ke kamar”
Casey yang baru saja menguping pembicaraan dua engineer itu melirik ke arah pintu asal mereka tadi muncul ia menemukan ada logo tegangan listrik di pintu itu dan seketika sebuah ide briliant muncul di otaknya.
Bukankah Tuan Muda Blaxton itu bilang ia seekor tikus? Baiklah Casey akan menjalankan tugasnya sebagai tikus.
Lihat saja Tuan Muda Blaxton!
Sean tengah merasa senang dengan aksinya pada tubuh Ilene, baginya Ilene adalah maid favorit. Kepuasan melihat ekspresi Ilene menjadi hiburan terbaiknya, apalagi saat ia berhasil membuat Ilene menggila atas perlakuannya. Anehnya jika Sean sedang melakukan aksi ranjang, yang menjadi titik fokusnya bukanlah hubungan timbal balik di antara keduanya. Sean lebih senang jika ia mampu membuat lawan ranjangnya puas atas perlakuannya.
Sejauh mana ia berhasil membuat pasangannya mendesah dan menggeliat memuji aksinya. Ia tak mengizinkan lawannya mendominasi. Setelah selesai membuat lawannya sampai di badai kenikmatan Sean akan langsung menuju inti, setelah itu selesai. Ia mengeluarkan Ilene dari kamarnya. Untungnya Ilene bukanlah seorang yang melakukan hubungan dengan perasaan. Wanita yang benar-benar pas untuk kebutuhan Sean.
Saat Sean bersiap untuk aksi inti tiba-tiba lampu di ruangan itu mati, digantikan dengan alarm bising yang menandakan ada yang mengganggu pada sistem listrik mereka. Sean mendengus lalu kembali mengenakan pakaiannya dan menyabet laras panjang yang terpajang rapih di dinding kamarnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ada penyusup?
Bagaimana bisa ada penyerangan mendadak di malam sakral bagi ayahnya ini? Ilene bergerak gelisah saat menyadari bahwa Sean hendak meninggalkannya
“Tidak usah khawatir, aku akan segera kembali, selama itu.Jangan bersuara dan diamlah disitu” ujar Sean lalu meninggalkan Ilene yang mengatupkan mulutnya mengikuti perintah Sean.
Keadaan menjadi sedikit ricuh, para tamu yang juga mendapati lampu kamar mereka mati, terlihat sedikit panik dengan bising alarm tanda bahaya itu. Dengan cepat Sean menghampiri sang ayah yang terlihat anteng saja dengan menghisap cerutunya seraya bertumpu pada tongkatnya mengawasi kumpulan engineer yang tengah bekerja memperbaiki sistem listrik mereka.
“Ada seseorang yang memotong kabel-kabel listrik ini tuan, sehingga sistemnya terganggu dan sistem merefleksikannya dalam bentuk alarm. Tapi saya tidak mendeteksi adanya penyusupan, saya juga sudah memeriksa kamera pengintai dan semua aman. Dan yang memotong kabel-kabel –“ kepala keamanan mengggantung ucapannya menatap sang tuan dengan tatapan ragu.
“Siapa?” tanya tuan Blaxton sekali lagi. Namun bukannya menjawab sang pelayan malah menatap ke arah Sean, membuat Sean mengernyitkan alis hitamnya penasaran.
“Siapa?” Tanya Sean dengan nada menusuk.
“Dari rekaman kamera pengintai, pelakunya adalah, No-nona Casey Stone. Nona Caseymemotong semua kabel listriknya dengan pisau rumput, tuan.” Ujar pria tua yang menjabat sebagai kepala keamanan itu. Sean mengatupkan bibirnya lalu memutar tubuhnya meninggalkan kerumunan itu.
“Aku akan mencarinya.” Ujar Sean seraya melangkahkan kakinya menjauh.
Sementara itu Casey tengah terduduk disebuah bangku taman seraya menatap puas pada pisau rumput yang kebetulan ia temukan di bawah sebuah pohon di halaman kediaman Blaxton ini.
“Hahaha ... Pasti sekarang mereka tengah ribut. Ah tapi aku juga terlalu gegabah, bagaimana jika aku menarik perhatian?” ujar Casey senang, namun kemudian menarik napas sedikit menyesali aksi gegabahnya. Ia haru bersiap-siap untuk diceramahi Tom dan mungkin tuan muda Blaxton itu.
Casey menaruh kembali pisau itu di bawah pohon, lalu menyenderkan tubuhnya pada kursi besi yang berada tepat di samping pohon rindang dan besar itu. Casey jadi membayangkan kalau di siang hari, pastilah rasanya nyaman sekali meneduh di bawah pohon ini.
Casey memejamkan netranya sekilas lalu kembali menarik napas berat. Setelah ini, ia harus merangkai alasan kenapa ia memotong semua kabel-kabel itu dan membuat keadan menjadi ribut. Untungnyaia sudah menyiapkan ide yang bagus, sangt bagus dan cukup untuk membuat Sean menyadari bahwa ia tak bisa bermain-main dengan Casey. Tapi pertama ia harus menyiapkan sedikit air mata buaya dan mengeluarkan wajah polos andalannya. Ia sebenarnya membenci akting gadis sok polos dan lemah seperti ini, namun jika ini demi menyelamatkan diri? Casey mengibaskan tangannya didepan matanya yang sengaja ia pelototkan. Rasa panas menyerangnya namun ia berusaha bertahan untuk mengumpulkan air mata yang lebih banyak, fokusnya terjaga sampai tiba-tiba sebuah tangan hinggap di pundaknya. Secara refleks Casey menangkap tangan itu memutar dan membanting tubuh itu hingga hampir terjungkal namun usahanya terhenti saat ia melihat bahwa ternyata pemilik itu adalah putra Blaxton yang lainnya, ah siapa tadi namanya? Casey tidak memperhatikannya. Casey segera melepaskan genggaman tangannya dan meminta maaf.
“O-oh astaga, maafkan aku. Pelayan pribadiku yang mengajari itu, aku kira kau seorang penjahat yang mungkin menculik ku.” Ujar Casey merendahkan nada bicara seakan ia adalah seorang gadis bangsawan lemah yang rapuh seperti bunga. Cih, Casey membenci dirinya yang seperti ini.
“A-ah tentu. Aku malah sangat terkejut karena rupanya kau sangat kuat. Kau berbeda dari gadis lainnya” tuan muda Blaxton yang cukup tinggi itu tersenyum menampilkan giginya menutupi ringisannya. Casey hanya tersenyum.
“Jadi kenapa kau di sini? Bukankah seharusnya kau di kamar Sean? Kenapa kau tidak berada di satu kamar dengan tunangan mu?” ujarnya sedikit mengerungkan alis. Pupil Casey membesar, ini saatnya Casey memulai dramanya.
“Itu- aku tidak tahu apa yang membuat Sean begitu tidak tertarik padaku. Tadi kami memang di kamar, semuanya berjalan dengan sangat baik. Kami hendak melakukannya, tapi tiba-tiba Sean mengatakan bahwa ia tidak tertarik padaku dan dia lebih tertarik pada seorang maid-“ Casey menggantung ucapannya
“Ilene?” Tebak pria itu. Casey membolakan matanya, jadinpria ini juga tahu tentang Sean yang bersama Ilene?
“A-aku tidak ingat nama maid itu, tapi yang jelas Sean mengusirku dari kamar dan dia mengatakan aku boleh kemana saja asal saat breakfast tiba, aku muncul sementara ia having fun dengan maid itu. Ti-tidakkah itu jahat sekali?” ungkap Casey terlihat berusaha menghayati perannya sebagai protagonis. Dan yeah, sejauh ini ia bisa dikatakan berhasil, air mata buaya itu dengan mudahnya meluncur di pipi tembamnya dan suara nya berhasil ia buat seakan-akan teredam tangis.
“Astaga, dari awal aku memang sempat bepikir bahwa ia bertunangan denganmu karena-“ ucapan pria itu terpotong.
“Aku kira hanya wanita yang suka bergosip, atau sebenarnya aku memang memiliki kembaran wanita?”
Belum sempat sang putra Blaxton yang sepertinya kembaran Sean itu melanjutkan ucapannya Sean muncul dengan wajah dingin menghampiri keduanya.
“Aku pikir kakak ipar menunggumu di kamar. Apakah menurut mu tidak aneh, seorang yang mengaku sudah bertunangan malah berada di luar kamar dan berduaan dengan tunangan adiknya?” Sindir Sean pedas.
“Aku pikir Nona Stone juga menunggumu tapi kau malah bercinta dengan Maid? Jika ayah tahu—“
“Kau benar-benar menuruni sifat tua bangka itu.” Tukas Sean
“Lalu kau pikir kau tidak?” Balas pria itu, namun Casey memekik dalam hati karena akhirnya ia bisa mengingat nama dari saudara kembar Sean. Namanya adalah Sky! Kenapa ia bisa lupa?
Casey menatap bingung kedua pria yang sama-sama tinggi itu. Sampai tak lama terdengar ketukan tongkat, tuan Blaxton muncul dengan gadis bergaun tidur putih tipis, Liu Yunwei—tunangan Sky muncul, lalu Tom dan Lexie juga muncul dengan raut tak terbaca.
“Aku minta maaf atas keributan yang disebabkan putriku.” Ujar Tom berusaha menyelamatkan keadaan. Ia berbicara dengan nada ramah dan Lexie yang menggelendot manja di lengannya. Tuan Blaxton mengangkat sebelah tangannya lalu menggaruk dagunya.
“Tak apa, kita sudah mendengar alasannya. Jadi Sean, ternyata kau masih berhubungan dengan maid itu? Jika sedemikian kau menyukai maid itu, kau tidak seharusnya mempermainkan perasaan Nona Casey, bukan?” ujar Tuan Blaxton dengan nada rendah dan Tenang namun sepertinya memberi pengaruh besar pada Sean.
“Aku minta maaf, aku melakukan itu karena nona Casey tampak ketakutan saat aku mencoba melakukan um—panasan. Jadi aku melakukannya dengan Ilene, tapi sungguh aku tidak berniat untuk berselingkuh, aku begitu mencintainya.”
Ujar Sean menatap Casey dengan tatapan tak terbaca sementara Casey hanya bisa ternganga. Dugaannya meleset, ia kira Sean akan emosi dan saat Sean emosi Casey akan menuntut untuk memutuskan pertunangan ini.
“Tetap saja itu salah, kau lihat sendiri bahwa kau membuat nona Casey menangis?” ujar Tuan Blaxton melirik Casey, dan Casey kembali meneteskan air mata buayanya. Untung sekali sedari tadi ia sengaja tidak mengedip agar matanya memanas dan berair.
“Saya sungguh berterima kasih atas kebaikan anda. Tapi saya menyadari satu hal, bukankah sebaiknya pertunangan ini dibatalkan saja?”