Chapter 9 : Penjahat Wanita

1323 Words
“Kenapa memejamkan mata?” bisik Sean rendah, namun memberi efek luar biasa pada Casey. Seperti tersengat sesuatu, tubuh Casey seketika menegang entah karena takut atau apa Casey tak bisa membedakannya.       Casey menelan ludah kasar, seraya memantapkan hatinya. Pada akhirnya ia memilih untuk memasrahkan diri, ia tidak bisa bertahan pada prinsipnya dan menelan prinsip yang ia telah ia katakan, bulat-bulat. Tapi ia tidak peduli. Ia memang tidak boleh berada di dekat pria ini lebih lama. Ia merasa sesuatu yang berbahaya menantinya. Dan ia harus melakukan hal apa pun untuk dapat melepaskan diri.       “Kau akan memberikanku permata bukan? Aku pikir aku akan memberikan apa yang kau mau asal kau mau berjanji bahwa kau akan melakukannya dengan lembut, berikan aku permata yang cukup, dan lepaskan aku. Lupakan semua pertunangan konyol ini.” Ujar Casey masih menutup matanya. Sean terdiam sejenak seraya menatap ke arah bibir plum Casey yang tertoreh pewarna bibir berwarna deep wine. Bibir Casey terlihat cukup menggoda seakan ditumpahi wine, dan berharap ada seseorang yang menjilati wine itu di sana.       Merasa tak mendapatkan respon, Casey membuka sebelah matanya dan ia malah mendapati Sean yang tengah menahan tawa dan jujur, itu membuat Casey tersinggung. Adakah dari ucapannya yang terdengar bagai candaan lucu yang dilontarkan badut?       “Ekhem.. Itu menyinggungku—tawa mu seakan kau menertawakan badut. Dimana letak ucapan ku yang lucu?” tanya Casey sinis.       Sean masih terbahak, ia bahkan terlihat mengusap netranya yang berair, sebelum detik selanjutnya ia terdiam sejenak.       “Tawaranmu lebih menyinggungku.” Ujar Sean dengan ekspresi yang berubah serius.       Casey lagi-lagi harus mengerutkan alisnya, “Tawaranku? Apa yang membuat mu berpikir itu lucu? Aku serius! Aku tak bisa membayangkan bagaimana aku bertunangan dengan pria sepertimu. Jadi jika alasanmu menahanku dengan status pertunangan karena kau tertarik pada tubuhku, lakukan apa yang ingin kau lakukan sekarang! Lalu lepaskan aku.” Ujar Casey bersungguh-sungguh. Sean yang sempat menatapnya dengan tatapan meremehkan kembali mendekatkan wajahnya pada wajah Casey hingga hidung mereka bersentuhan kembali, entahlah melihat bagaimana sikap yang terasa plin-plan di mata Sean, membuat Sean semakin ingin mempermainkannya. Pupil Sean membola merasakan tarikan napas Casey yang berhembus dengan intensitas cepat. Gadis ini gugup.       Casey nyaris meloncat dari ranjang saat Sean secara tiba-tiba menarik pinggang Casey pada kuasanya. Perlahan menurunkan resleting gaun yang berada di punggung Casey dengan gerakan halus membuat Casey merinding seketika. Kini gaun itu telah diturunkan, menyisakan korset dengan yang rasanya menyatu warna kulit Casey yang putih.       Deg       Deg       Deg       Casey semakin dalam memejamkan matanya, ia tidak bisa menggambarkan bagaimana kabar jantungnya. Rasanya benda itu terus bertalu tak karuan dan memalukan hingga ia bahkan bisa mendengarnya, semoga saja lelaki dihadapannya ini tidak mendengarnya. Casey membeku, semula ia mendengar dengan jelas suara-suara dari aktivitas yang Sean lakukan, namun kemudian ia merasa suara pergerakan tangan Sean berhenti berganti dengan deritan ranjang, pria itu sepertinya bergerak sedikit mundur.       Penasaran dengan apa yang terjadi, Casey membuka matanya dan mendapatkan Sean yang tengah menahan tawa. Suhu wajah Casey meningkat seketika, dengan cepat Caseu mengedarkan pandangannya untuk mencari penyebab pria itu tergelak. Apa yang lucu? Apakah ada sesuatu yang salah dengan wajahnya? Gaunnya? Korsetnya? Casey terus meliukkan tubuhnya mencari apa yang salah dengan dirinya menyadari itu, Sean menatap Caseu dengan mata sedikit berair karena tertawa.       “Jika kau ingin tahu kenapa aku menertawakanmu, karena kau—oh astaga, anak enam belas tahun tengah menggodaku dan menawari tubuh yang belum matang itu. Oh astaga itu lucu sekali hingga mata ku berair.” Ungkap Sean masih berusaha mengusap netranya. Sementara Casey hanya bisa menatap Sean dengan tak percaya lalu berubah menjadi tatapan geram. Dengan pandangan yang menggelap ia menerjang tubuh Sean dengan sebelah kakinya berharap Sean terlempar dari kasur, namun Casey tak memperhitungkan kepekaan seorang Sean Archer Blaxton terhadap serangan musuh, bukannya mendapatkan Sean terlempar ke lantai, Casey malah mendapatkan sebelah kakinya dicekal oleh Sean. Posisi Casey yang berada di ujung samping ranjang kehilangan keseimbangan. Karena berontak berusaha melepaskan kakinya dari Sean, malah Casey kah yang terjungkal ke lantai bersama Sean yang juga tak sempat menyadari bahwa Casey akan kehilangan keseimbangan dan merosot ke bawah.       Brugh       Akhirnya kini Keduanya terjatuh dengan posisi saling bertumpuk dan kepala Sean yang mendarat dengan mulus di dua bukit sintal Casey yang kini hanya tetutupi korset       Casey membolakan matanya karena terkejut, lalu dengan emosi, Casey memukuli kepala Sean dengan kedua telapak tangannya, tak hanya memukul dengan tangan, Casey mengerahkan kakinya untuk menyerang Sean. Sean berusaha bangun, namun karena separuh tubuh panjangnya diatas ranjang sementara separuh lagi tertelungkup rendah di atas tubuh Casey, Sean sulit menyeimbangkan diri dan ia tak bisa bangun.       “APA YANG KAU LAKUKAN MENJAUH DARI AREA PRIVASI KU!”       PLAK PLAK PLAK       “H-Hentikan itu! ARGH!” Sean meringis saat sebuah tendangan mendarat di perutnya.       Tiba-tiba suara pintu yang dibuka terdengar. Namun Casey yang berada di atas lantai, dan kepala Sean yang menghadap ke samping karena si tampar Casey tak memiliki kesempatan untuk melihat siapa yang masuk ke kamar mereka.       “Kudengar kau meminta ku—oh astaga maaf aku mengganggu.” Seorang wanita berpakaian ala maid tiba-tiba masuk memecah atensi Casey dan Sean.       “Ilene kau sudah datang? Tunggulah di sofa” titah Sean dengan nada rendah namun lembut, maid itu hanya mengangguk lalu melangkah ke arah sofa, sesuai perintah Sean.       Casey hanya bisa terdiam seraya menatap pemandangan panas di atasnya. Sedari tadi Sean bertelanjang d**a dan Casey baru menyadari bahwa Sean memiliki pahatan otot yang begitu indah, dengan garis-garis keras dan tajam melengkung sempurna. Tunggu, bukankah ia tadi hanya menggunakan handuk? Kalau begitu bagaimana dengan bagian bawah tubuhnya—Casey mengalihkan tatapannya pada are bawah Sean. Untungnya ternyata Sean menggunakan celana pria pendek yang membuat area privasinya tetap tertutup meskipun handuknya sudah menghilang entah kapan.       Tanpa sadar Casey menelan ludahnya kasar sebelum Sean akhirnya berhasil mengangkat tubuhnya menjauh dari Casey lalu ia melangkahkan kakinya pada maid bernama Ilene yang duduk di sofa.       “Malam ini Ilene akan menemaniku. Kau terserah mau pergi ke mana, aku tak perduli yang penting saat break fast kau hadir dan tidak kabur. Jika kau berani kabur, ingat bahwa aku sudah mengetahui semua anggota keluarga mu. Mudah bagi ku menemukan tikus seperti mu.” Ancam Sean lalu mencium bibir maid itu sekilas. Casey hanya berdecih seraya memungut mengenakan gaunnya kembali.       “Dasar pria kurang ajar! Jadi kau suka sekali mempermainkan wanita huh?!” Gerutu Casey hendak berjalan keluar kamar dengan langkah sebal. Jadi dari awal pria ini hanya menggodanya? Ia memang tak tertarik padanya? Casey mendengus sebal, ia sungguh merasa otak dan hatinya panas karena kesal. Tapi jika pria kurang ajar itu hanya berniat bermain-main untuk apa ia sampai harus mengakuinya sebagai tunangan? Alasan itu tidak penting. Satu hal yang Casey tahu, jelas-jelas pria ini adalah pemain wanita yang sangat-sangat menyebalkan. Dan Casey berharap spesies pria seperti ini bisa musnah.       Sean memicingkan netranya, “Jadi kau benar ingin aku sentuh hah? Kita bisa bermain permainan three lalu some,  di sini.” Goda Sean terkekeh seraya melucuti pakaian atas Ilene.       Casey mendengus keras, “Ah ya, dan aku bisa belajar pada salah satu mainan mu itu?” Tanya Casey dengan nada yang terdengar cukup menjengkelkan bagi Sean, Sran tak mengacuhkan Casey dan masih terus asyik dengan aktivitas mengekspos tubuh maid-nya itu       “Lebih baik aku pergi dari tempat penuh dosa ini, meminta pada Tuhan agar spesies seperti segera musnah.” Ujar Casey pedas sebelum benar-benar menarik gagang pintu untuk keluar, dan membanting pintu dengan keras.       Sean menggelengkan kepalanya pelan, “Tck, gadis aneh dan menyebalkan.” Ujar Sean hendak kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda gara-gara kicauan gdis penggerutu itu.       “Ia terlihat begitu marah pada kita. Ingat ia tunanganmu Sean.”       “Aku sedikit menggodanya, salahnya sendiri terlalu naif dan berpikir aku benar-benar tertarik padanya.” Jawab Sean sekenanya.       “Ia memang mempesona dengan caranya sendiri, kau akan tertarik padanya,” ujar Ilene membuat Sean mengernyitksn alisnya mempertanyakan maksud ucapan Ilene.       “kau bukan seorang peramal” elak Sean.       “Memang bukan. Tapi bagaimana jika firasat ku mengatakan, mbahwa ia akan menjadi takdirmu, Sean?”                          
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD