Bab 11

1999 Words
 "Dasar lanang, bandel Yama tuh, Na. Dari kecil gak pernah mau diam di rumah, sekarang dimana dia aja gak ada yang tahu." Tiana diam, ia tidak tahu ingin menjawab apa kepada Budhe Sila. "Awas aja nanti kalau dia tinggalin kamu sendiri di rumah! Budhe marahin. Yama tuh, aduh.. Budhe udah kesal kalau Yama begini, Na." Budhe Sila mencak - mencak sambil memainkan ponselnya. Dan Tiana menebak bahwa wanita paruh baya itu tengah mencari kontak Yama untuk dihubungi. "Halo, assalamualaikum, Le'! Dimana toh kamu ini?!" ucap Budhe Sila sambil menyalakan speaker dipanggilannya, agar Tiana dapat mendengarnya juga. Dan tebakan Tiana benar. Sekarang terdengar suara bising dari telepon, entah itu apa, tapi sepertinya Yama sedang di tempat keramaian. "Maaf Budhe, Yama gak bisa pulang sekarang, ada urusan penting! Yama akan cepat pulang!" "Tapi, Le'—" Tut tut... "Yama, Ya Allah! Belum selesai Budhe bicara sudah dimatikan saja teleponnya!" geram Budhe Sila seraya menelepon kembali nomor Yama, namun tidak diangkat oleh lelaki itu. "Budhe, sudah. Nanti juga Kak Yama bakal pulang," kata Tiana. "Budhe jadi gak mau pergi tinggalin kamu, Na. Budhe ngerasa... ngerasa gak tega tinggalin kamu." "Budhe, sudah ah, Tiana udah berusaha buat ngerelain Budhe pulang sekarang, kenapa Budhenya yang khawatir sama aku jadinya? Tiana akan baik - baik aja, Budhe." Tiana mengelus pelan lengan wanita setengah baya itu. Budhe Sila mengusap - usap dadanya yang tertutupi hijab. "Budhe ngerasa khawatir, Na." "Ah, cuma firasat Budhe aja, itu sugesti dari pikiran Budhe, karena Budhe terlalu memikirkan aku." Pakde Haris keluar dari rumah sambil menggeret dua koper besar. Lalu pria yang masih gagah diusianya yang mendekati 50an itu memasuki barang - barangnya ke dalam bagasi. Setelah selesai, ia pun mendekati Tiana dan istrinya. "Kenapa toh pada gelisah gini?" tanya Pakde Haris. "Aku gak tau kenapa Mas, tapi aku ngerasa khawatir sama Tiana."  "Kenapa? Gara - gara Yama gak ada? Padahal udah sore ini, maklum La, dia main kali sama temannya." Tiana mengangguk pelan. "Iya, udah Budhe jangan khawatirin Tiana, inshaAllah aku bisa jaga diri aku sendiri." Budhe Sila tersenyum lembut. "Kamu tuh udah ayu, baik, kenapa ya Na, kamu bisa dapat cobaan besar begini? Masih muda tapi—" "La!" tegur Pakde Haris kepada istrinya. Pria itu tahu jika ucapan istrinya diteruskan pasti akan membuat Tiana menjadi kepikiran dan berbuat yang tidak - tidak. "Astaghfirullah, semua udah takdir Allah, Budhe percaya pasti kamu sama Yama akan bahagia nantinya, Nduk." Tiana yang tadinya terdiam, memunculkan sedikit senyuman. "Aamiin, Budhe." "Udah sore, Na, kalau gitu Pakde sama Budhe mau pamit pulang," ucap Pakde Haris. Tiana mengangguk, lalu gadis itu mencium tangan Pakde dan Budhenya. "Hati - hati di jalan, Pakde, kalau gak kuat, istirahat jangan lupa." "Iya, Na. Jaga diri ya, nanti jangan lupa mengabari kami kalau terjadi apa - apa."  "Iya, pasti." Setelah itu sepasang suami istri itupun memasuki mobil mereka. Tiana melambaikan tangannya sebentar ketika ia melihat Budhe yang tersenyum padanya. Lalu mobil itupun keluar dari pekarangan villa. "Kak Yama kemana ya? Dari pagi belum pulang," ujar Tiana. Sejujurnya ia merasa khawatir. Karena Yama itu termasuk orang yang susah ditebak. Dan lelaki itu bukan orang yang terbuka tentang masalah yang dia alami, kalaupun dia ingin menceritakannya pada Tiana, pasti itu sudah benar - benar membuat lelaki itu kepikiran sampai berhari - hari. ••••• Di sebuah gedung tua, di daerah Bogor. Terdapat beberapa lelaki muda tengah menghisap rokok yang ada di tangan mereka. Ada 10 orang lelaki di sana. Sebagian duduk di atas motor mereka dan sebagian lagi duduk di kursi usang yang ada di gedung tidak terpakai itu. Seorang lelaki berjaket kulit cokelat yang duduk di atas jok motornya mendesah pelan.  "Siapa yang telepon?" ucap salah satu dari mereka, lelaki itu memakai kaos hitam dengan jeans berwarna hitam dipadukan sepatu converse putih. "Budhe, Yan."  Kekehan terdengar dari mulut Rian, lelaki yang bertanya tadi. "Gila, masih ada yang peduli juga sama lo, Yam." "Dia udah gue anggap kayak nyokap gue sendiri." "Dan lo di sini, ikut kita, pasti dia gak tau kan? Kalau tau, abis lo pasti!" ucap salah satu dari mereka yang bernama Azis. "Berisik, lo!" jawab Yama dingin. Mereka semua berbeda, mulai dari sekolah, usia, hingga kehidupan sehari - hari. Ada Azis, Satria, Angga, dan Guntur yang berusia sama yaitu 23 tahun dan dari kehidupan yang kurang mampu hingga tidak melanjutkan pendidikan mereka. Sedangkan Yama, Rian, dan Yuda memiliki usia sama yaitu 19 tahun, hanya berbeda bulan saja, dan mereka bertiga termasuk lelaki muda yang beruntung karena terlahir kaya, dan mereka satu sekolah. Dan tiga orang terakhir, ada Ucep, Daus, dan Ical yang masih sekolah menengah pertama kelas sembilan. "Udah lama lo gak ikut nongkrong bareng kita, Yam, lo kenapa?" tanya Satria.  "Gue dateng ke sini, mau bilang sama kalian, gue udah gak mau lagi ikut - ikutan," ujar Yama tegas. Azis, Satria, dan Guntur tertawa. "Kesambet apa lo? Biasanya paling cepet kalau mau pesan barang, kenapa jadi gini sekarang?" ujar Guntur disela tawanya. Yama memejamkan matanya sejenak. Dia bisa mengenal mereka karena Rian dan Yuda yang mengajaknya, jadilah sekarang dirinya terjebak dalam lingkaran hitam yang membuat dirinya muak. "Gue nyesel, ada orang yang buat gue semangat kalau hidup gue harus baik lagi, gak seterusnya begini." Tiba - tiba dalam pikirannya, ia membayangkan wajah Tiana yang menangis, tersenyum dan tertawa ketika bersamanya. "Bacot lo! Baru hari ini lo bilang begitu, berarti orang itu spesial banget ya buat lo?" ucap Azis. "Banget, Bang." "Yam?" ucap Rian penasaran. Karena dia dan Yuda membawa Yama ke dalam lingkaran pertemanan ini atas dasar keinginan Yama sendiri yang sudah lelah pada hidupnya sendiri. "Gue nyesel, Yan. Seharusnya gue gak ada di sini, kalau dari dulu gue gak ikut - ikutan sama lo, mungkin sekarang orang itu gak akan terikat sama gue selamanya." "Lo ngomong apasih?!"  "Bukan urusan lo juga, gue balik." Yama langsung memakai helmnya, lalu lelaki itu pun mengendarai motornya keluar dari gedung tua itu. "Biarin, nanti kalau dia butuh juga dateng lagi ke sini." Azis menyenderkan tubuhnya ke bangku sambil menghisap rokoknya. ••••• Pukul 6 sore Yama memarkirkan motornya di halaman villa. Lalu ia berjalan masuk ke dalam sambil memainkan kunci motor di tangannya. "Darimana?" Yama tersentak kaget. Dilihatnya Tiana yang sedang berdiri di dekat tangga sambil menatap dirinya. "Abis main sama Abrar, Dirga sama Farid." Ucapan Yama benar adanya, lelaki itu menghabiskan waktunya dari pagi hingga sore untuk main dengan teman baiknya itu. Barulah ia pergi menemui kelompok Azis. "Kenapa Kak Yama gak bilang? Budhe khawatir banget tadi." "Iya, tadi penting banget soalnya. Udah ya Na, mau mandi dulu, gerah." Tiana mengangguk, membiarkan Yama berjalan melewatinya menaiki tangga. Daripada memikirkan Yama, lebih baik ia belajar untuk ujian kenaikan kelas yang akan dilaksanakan 2 minggu lagi. Dan tiba - tiba saja ia merasa sedih, setelah itu, ia akan berhenti sekolah. Tangannya menyentuh perutnya sendiri. Kamu kenapa hadir sekarang? Aku gak beniat punya anak usia segini, tapi udah takdir aku seperti ini, jadi... hidup tenang di sana, aku bakalan jagain kamu, batinnya. Kemudian Tiana berjalan menuju kamarnya sendiri yang berada di samping tangga. Baru saja ia ingin merebahkan tubuhnya, terdengar suara gaduh dari atas. Tiana kembali bangkit, dengan cepat gadis itu menaiki tangga dan mengintip dicelah kecil pintu kamar Yama. Ia menutup mulutnya sendiri karena kaget melihat kamar Yama yang berantakan. Memberanikan diri, Tiana membuka lebar pintu itu dan berjalan masuk. "Kak Yama?" ucapnya pelan. Lalu ia terkejut mendapati Yama yang seperti orang kesetanan tengah mengerang di samping ranjang. Tiana mendekatinya. "Kak Yama gakpapa? Kenapa ini?" ujarnya kalut. "KELUAR!" bentak Yama yang membuat Tiana terkejut. "Gak! Jangan, Yama tolong jangan lagi," ucap lelaki itu kepada dirinya sendiri. "Kenapa?" lirih Tiana bingung, gadis itu menyentuh lengan Yama, namun langsung ditepis oleh lelaki itu. "Keluar gue bilang!"  Yama yang sudah tidak kuat, beranjak dari tempatnya. Lelaki itu membuka laci kecil di dalam lemari. Tiana memperhatikan itu, sampai tiba - tiba Yama menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam. Tanpa aba - aba Yama mendekatinya, Tiana merasa cemas. Gadis itu mundur sedikit deki sedikit. "Sakit..." lirihnya ketika ia merasakan cengkraman tangan Yama di lengannya. Lalu Yama menariknya hingga depan pintu kamar lelaki itu, dan langsung mendorong keluar tubuh gadis itu sampai membentur tembok. Setelah itu Yama menutup pintu dan menguncinya. Membiarkan Tiana yang ketakutan sambil menangis di depan kamarnya. Ada apa ini? batin Tiana berbisik. •••••• Tiana berlari ke kamarnya. Tangan kanannya terus mengusap air mata yang berjatuhan. Lalu ia mengambil tasnya dari dalam lemari dan memasukkan semua pakaiannya dengan asal. Setelah itu, Tiana terduduk di lantai seraya menenggelamkan kepalanya di antara kedua kakinya yang menekuk. Kenapa Tuhan memberikannya cobaan begitu berat? Kenapa Tuhan tidak pernah membuatnya bahagia? Kenapa ia harus mengalami semua hal ini? Semua pertanyaan itu terpatri dibenak Tiana. Bolehkah Tiana menyerah? Kemudian gadis itu membaringkan tubuhnya di kasur. Lalu mulai memejamkan matanya, berharap hari esok adalah hari yang menyenangkan untuknya. •••••  Tiana menyiapkan makanan di atas meja makan dengan telaten. Ia memasak sarapan pagi ini dibantu oleh Bik Odah. Suara sepatu beradu dengan lantai terdengar jelas, Tiana lebih memilih duduk dan menyiapkan makanan untuknya sendiri. Yama datang dengan tas yang ada di bahu kirinya.  "Pagi, Na," ucap lelaki itu yang tidak digubris oleh Tiana. Yama mengernyit pelan, lalu ia duduk di samping Tiana, mengambil sarapannya sendiri. "Kamu gak sekolah?" tanya Yama. Tiana langsung tidak mood untuk melanjutkan sarapannya ketika mendengar suara Yama. Tiana berdecih pelan karena ia muak kepada Yama yang bersikap seolah - olah tidak terjadi apa - apa semalam. "Loh kok gak dihabisin makannya?" tanya Yama kepada Tiana yang kini sudah berdiri dan berjalan menuju dapur. Dia melihat piring Tiana yang masih banyak isinya. Yama yakin, gadis itu makan dikit sekali. “Udah kenyang,”  ucap Tiana.  Yama merasakan ada hal yang tidak beres. Biasanya Tiana paling bersemangat untuk sekolah, tapi kini gadis itu masih santai dengan baju rumahannya. "Assalamualaikum," ucap seseorang dari luar sambil memencet bel. Yama tahu suara itu, kemudian disusul oleh pekikan kegirangan Tiana. "Bapak!" Tiana langsung bergegas menuju pintu depan. Ia membukakan pintu dan bersalaman dengan Bapaknya. Yama yang sedang makan pun terkejut akan kehadiran mertuanya itu. Tanpa pikir panjang, Yama segera menemuinya. Dan segera menyalami mertuanya itu. Walaupun terlihat enggan, Pak Arif tetap bersikap tenang di hadapan Yama. Lalu ia diajak masuk oleh lelaki itu, kemudian mereka sarapan bersama. "Bapak mau ayamnya yang paha atau d**a?" ucap Tiana sambil mengambilkan sepiring nasi untuk Bapaknya. "Apa aja terserah," jawab pria setengah baya itu. "Mau pakai capcay juga? Sekalian sama tumis buncisnya ya?" Pak Arif mengangguk sambil tersenyum. Di sisi lain, Yama merasa sedikit iri, karena ia belum pernah diperlakukan seperti itu oleh Tiana. Lelaki itu hanya bisa menghela napasnya seraya melanjutkan sarapan yang tertunda tadi. "Bapak sarapan dulu, Tiana mau ke atas," ucap Tiana sambil meletakkan sepiring nasi dengan lauk pauknya di hadapan Bapaknya. "Jangan lama - lama, Bapak mau ke sawah." Tiana mengangguk. Lalu gadis itu dengan cepat menaiki anak tangga, dan semua itu tidak luput dari pandangan Yama. Sungguh, lelaki itu merasa bingung kenapa Bapak mertuanya tiba - tiba datang sepagi ini. Lalu keheningan terjadi antara mereka. Hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring. "Geus gawe?" (sudah kerja?) tanya Pak Arif dengan bahasa sundanya yang halus. "Teu acan, Pak." (belum, Pak.)  "Dari mana atuh dapat uang kalau kamu belum kerja!" ucap Pak Arif dengan nada sedikit ditekankan. "Oh, lupa Bapak teh, kamu anak orang kaya, pasti setiap bulan dikirim uang." Yama terdiam. "Sudah lama nggak, Pak. Tapi, saya masih ada tabungan." Baru kali ini Yama berbicara dengan Bapak Tiana berdua. Dan kali ini lebih mencekam karena raut wajah Pak Arif yang tidak bersahabat dengan dirinya. Yama merasa diintrogasi oleh pria setengah baya itu. "Geura teangan pagawean, ulah ngandelkeun tabungan wae, lamun se'ep eta duit arek dikasih dahar naon anak Bapak?" (cepat cari pekerjaan, jangan mengandalkan tabungan aja, kalau habis itu duit mau dikasih makan apa anak Bapak?) "Iya, Pak, ada niatan buat ngojek online." "Ayo, Pak." Tiana datang sembari menggeret tasnya. Gadis itu sudah memakai celana jeans dengan kaos berwarna biru muda, rambutnya pun sudah dikuncir rapi. Yama tiba - tiba berdiri, lelaki itu lantas menatap Tiana dengan tatapan bingung. "Mau kemana? Kok bawa koper?" "Aku mau pulang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD